
Setelah menempuh perjalanan darat hampir 4 jam, Daniel dan Medina akhirnya sampai ditempat tujuan tepat pukul 7 malam.
Daniel mematikan mesin mobil setelah memarkirkan mobilnya. Ia menoleh ke samping dan menatap wajah Medina yang terlelap dengan penuh cinta.
Tak tega membangunkannya pujaan hatinya, Daniel menggendong Medina dan masuk kedalam villa.
Ya. Disinilah Daniel memutuskan untuk menyembunyikan istrinya dari tangan-tangan jahat yang dimaksud ayah mertuanya.
Daniel terus melangkah hingga ia masuk kedalam kamar yang cukup luas. Daniel merebahkan tubuh Medina diatas ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Permisi, Tuan." Penjaga villa datang dengan membawa 2 koper yang diambilnya dari dalam mobil.
"Letakkan saja disana, Kang Dadang." pinta Daniel sambil menunjuk sisi lemari.
"Apa tuan ingin makan malam?" Tanya Kang Dadang setelah menaruh koper majikannya.
"Siapkan saja. Saya ingin membersihkan diri dan beristirahat sebentar sambil menunggu istri saya bangun." Jawab Daniel dengan senyum nya.
"Apa saya perlu siapkan air hangat untuk mandi Tuan?" Kang Dadang hendak melangkah ke kamar mandi namun Daniel menolaknya.
"Tidak perlu kang. Terimakasih."
"Saya pamit Tuan. Jika butuh sesuatu, saya ada di dapur. Permisi." Pamit Kang Dadang yang melangkah keluar lalu menutup pintu.
Daniel mengembuskan napas nya lalu tatapannya beralih pada wanita yang terlelap tidur.
"Aku mencintai kalian." Daniel mencium kening dan perut Medina sebelum ia melangkah masuk ke kamar mandi.
Medina menggeliat pelan dan mengerjapkan matanya.
"Aku dimana?" Medina menegakkan tubuhnya yang masih terasa lemah karena tubuhnya belum sepenuhnya pulih dan ditambah dengan perjalanan yang cukup lama hingga ia kelelahan.
Sejenak Medina memejamkan mata dan menghirup udara mengisis rongga dadanya sebelum akhirnya ia melihat sekeliling nya.
"Aku sangat lapar." Medina mengelus perutnya.
Medina menyibak selimut dan hendak menurunkan kakinya namun terhenti karena ia terkejut dengan suara Daniel yang baru keluar dari kamar mandi.
"Kamu sudah bangun?" Medina langsung memegang dadanya yang berdebar karena terkejut. Bukan karena suara suaminya, tapi karena ia yang baru saja bangun tidur dan masih belum fokus.
"Kenapa?" Daniel berjongkok dihadapan Medina yang duduk ditepi ranjang.
"Masih marah?" Tanyanya karena Medina yang tidak menjawab. Daniel mengambil kedua tangan istrinya dan membawanya ke bibirnya lalu menciumnya berkali-kali.
Setelah puas menciumi tangan, bibir Daniel beralih pada perut Medina. Dan saat menciumi perut istrinya, Daniel mendengar suara dari perut Medina.
"Waaahhh...anak papa lapar ya?" Daniel terkekeh geli.
"Mom...anaknya lapar ya?" Daniel memiringkan kepalanya hingga membuat wajahnya terlihat lucu.
Awalnya Medina ingin sekali menahan senyumnya saat Daniel mendengar suara perutnya, namun saat Daniel bertingkah lucu, tawanya terlepas begitu saja.
"Aku lapar, kak." Ucap Medina tidak ingin suaminya menggoda lebih lama.
"Baiklah diam disini, aku akan mengambilnya."
"Kita makan diluar saja." Medina menahan tangan Daniel. Ia merasa bosan jika harus makan didalam kamar.
"Aku cuci muka dulu." Medina meninggalkan Daniel agar tidak berdebat lagi dan berakhir Medina yang kalah.
Daniel tersenyum dan menggelengkan kepala. "Hhmm....pasti semua kalang kabut." Daniel tersenyum sendiri mengingat rencana ayah mertuanya yang tidak ia turuti.
Daniel menggandeng Medina keluar kamar. Medina yang tidak merasa asing tempat itu menatap suaminya.
"Kenapa?"
"Sepertinya kita pernah kemari." Medina masih terus mengedarkan pandangannya.
"Seperti villa milik kak Gio." Gumam Medina.
"Selamat malam Tuan, Nyonya." Sapa kang Dadang.
"Kang... kenalkan istrinya saya." Daniel merangkul Medina.
"Selamat datang, Nyonya. Saya Dadang dan ini istri saya Imah." Kang Dadang memperkenalkan diri dengan ramah.
__ADS_1
"Terimakasih, kang Dadang dan teh Imah." Sahut Medina dengan senyumnya yang menawan.
Daniel menarik kursi untuk istrinya kemudian ia duduk disampingnya. "Anak papa mau makan apa?" Daniel menunduk dan mengelus perut istrinya.
"Sayang...malu dilihat mereka." Bisik Medina.
"Kenapa harus malu?" Ucap Daniel dengan santai.
"Kang...Teh mari makan bersama." Ajak Medina.
"Terimakasih nyonya. kami sudah makan tadi dibelakang. Selamat menikmati, kami permisi dulu."
"Aku rasa...."
"Makanlah dulu...nanti baru bicara lagi." Potong Daniel sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut istrinya.
Medina yang terkejut dan hendak marah mengurungkan niatnya karena rasa lapar yang meronta. Keduanya makan dalam satu piring dengan saling menyuapi. Malam yang dingin namun penuh kehangatan.
****
Sementara itu, anak buah pak Sanjaya yang bertugas mengawal mengabarkan jika Daniel dan Medina tidak pernah sampai di bandara saat pak Sanjaya meminta laporan.
"Apa? Kerja kalian tidak becus!! Mengawal dua orang saja tidak bisa!!" Sungut pak Sanjaya. Ia marah besar ketika mengetahui jika Daniel dan Medina tidak mengikuti rencana nya.
"Ada apa, Mas?" Ibu Melani yang mendengar teriakan suaminya langsung datang menghampiri.
"Daniel membawa kabur putri kita." Kesal pak Sanjaya.
"Membawa kabur?" Heran ibu Melani.
"Orang-orang kita mengabari jika Daniel tidak mengikuti rencana kita."
"Apa? lalu kemana Daniel membawa Medina, mas?" Ibu Melani langsung memeluk suaminya dan menangis.
"Kamu tenang dulu Bu. Aku akan mencari tahu." Ucap Pak Sanjaya menenangkan.
****
Pukul dua dini hari ponsel Danu berdering berkali-kali. Membuat tidur lelapnya terganggu.
Dengan setengah memejamkan matanya, Danu meraih ponselnya yang berada diatas meja.
"Halo." Sapa Danu.
"........"
"What?" Danu melebarkan matanya saat mendengar suara diseberang sana.
"........"
"Jadi...kalian...??"
"........"
"Hm....baiklah. Jaga diri kalian dan tetap berhati-hati."
"Siapa?" Tanya Rani setelah Danu mematikan ponselnya. Ia sangat penasaran dengan orang yang bicara dengan suaminya.
Danu menatap istrinya, menimbang apakah ia akan menceritakannya atau tidak.
"Aku akan tutup mulut dengan rapat seperti biasanya." Kesal Rani melihat suaminya ragu untuk mengatakan siapa penelpon tadi.
"Daniel membawa Medina ke Villa." Danu mengembuskan napasnya.
"Mereka ke villa? bukan ke pulau B?" Rani memajukan wajahnya dan Danu mengangguk.
"Oh my God." Rani menutup mulutnya tidak percaya.
"Apa pak Sanjaya tidak tahu?"
"Tentu saja. Semua berubah ketika mereka dalam perjalanan ke bandara. Medina hampir-hampir membuat pertahanan Daniel jebol. Karena Medina banyak bertanya." Ucap Danu seperti yang dikatakan Daniel saat di telepon tadi.
"Kamu akan memberitahu Pak Sanjaya keberadaan mereka?" Tanya Rani.
"Alasan apa yang harus aku berikan?" Danu balik bertanya kepada istrinya.
__ADS_1
"Katakan saja jika kondisi Medina drop dalam perjalanan." Usul Rani dengan mimik serius.
"Tidak. Itu semakin membuat pak Sanjaya mencari pertanyaan lainnya. Cari alasan lain saja." Danu turun dari ranjang dan melangkah ke dalam kamar mandi.
"Oh my God, kenapa semua jadi serumit ini?" Gumam Rani. Ia kembali merebahkan tubuhnya dan menarik selimut.
"Sudah dapat ide?" Danu sudah keluar dari kamar mandi dan kembali ke atas ranjang.
Rani menggeleng. "Kita pikirkan besok aja." Rani hendak menarik selimut namun tangan oleh tangan kekar Danu.
"Apa?" Rani menatap suaminya dalam remang lampu kamar.
Danu tidak menjawab dengan bibirnya, namun tangannya yang mulai bergerilya menyusup kedalam piyama Rani sebagai jawaban.
Rani tersenyum dan membelai pipi Danu dengan lembut. Kedua mata mereka bertemu saling mendamba. Sentuhan lembut jari-jari Danu membuat Rani memejamkan mata untuk menikmatinya.
Meski bukan sentuhan untuk yang pertama kali, namun sentuhan Danu mampu membuat Rani tidak berdaya.
"Sudah. Ayo tidur."
Suara Danu seketika membuka mata Rani yang sedari tadi terpejam menikmati setiap sentuhan bibir dan tangan suaminya.
"Apa?" Mata Rani membulat tidak percaya saat melihat suaminya sudah berbaring membelakanginya.
"Keterlaluan...Papa menyebalkan." Sungut Rani karena dirinya sudah merasa basah dengan segala bentuk sentuhan Danu.
Rani membalik badan dan merebahkan tubuhnya. Ia bahkan memasang guling ditengah-tengah antara dirinya dan Danu.
"Awas saja...kalau sampai melewati batas ini." Ucapnya sedikit berapi-api.
Danu mendesah, ia salah strategi. Ia menyesal karena sudah mengganggu ibu hamil dengan segala kesensitifannya akibat hormon kehamilan.
"Baby...." Bujuk Danu sambil mengangkat guling dari hadapannya.
"Diam atau papa tidur di sofa." Ancam Rani tanpa menoleh ke belakang.
WADUH!!!
Bathin Danu menjerit. Tidak ada bujuk rayu yang mampu menggoyahkan kemarahan ibu hamil satu ini. Danu paling berpengalaman akan hal ini. Saat istrinya tengah hamil Syifa dulu.
"Ayo jika masih mau dilanjut." Danu terus berusaha, mungkin kehamilan ini berbeda, pikirnya.
"Tidak lagi." Ketus Rani.
"Berarti besok pagi yaa...." Bujuk Danu.
"Tidak ada sekarang ataupun besok. Sudah....aku mau tidur." Rani benar-benar marah.
Danu hanya bisa menghela nafasnya panjang. Menyesal dengan sikap menggoda yang hanya sebuah prank.
Danu bergeser ke tempatnya semula sambil menatap pungung istrinya.
"Jangan lupa gulingnya." Danu terkejut karena tanpa menoleh istrinya tahu jika guling sudah berpindah.
"Baik bunda cantik." Danu tersenyum kecut.
"Padahal aku sering memeringatkan Daniel tentang hormon wanita yang sedang datang bulan dan ibu hamil...tapi aku sendiri melakukan kesalahan." Danu menertawakan dirinya sendiri akibat kesalahannya.
Danu merebahkan tubuhnya lagi setelah memasang guling ditengah ranjang. Membatasi area dirinya dan istrinya.
"Istirahatlah, aku akan meminta jatahku besok pagi." Bisik Danu membuat Rani tersenyum tipis meski meski masih kesal
*TBC*
Mohon maaf tidak up setiap hari. love you all
_
_
_
_
_
__ADS_1