Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 95


__ADS_3

Selesai makan malam, kedua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu kini menikmati suasana dan keindahan alam pulau Fesdhoo.


Daniel terus menatap Medina tanpa beralih sedikitpun.


"Sayang...kenapa melihatku seperti itu?"


"Aku sangat beruntung bertemu dan menikah denganmu" Daniel memeluk Medina dari belakang dan menyandarkan dagunya pada bahu Medina.


"Aku juga bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga kak Daniel" Tangan Medina menyentuh pipi Daniel.


"Jika suatu saat aku salah jalan hingga menyakitimu, tarik tanganku dan hukum diriku. Tapi satu hal yang aku minta padamu, jangan pernah meninggalkanku" Daniel semakin mengeratkan pelukannya.


Medina membalik tubuhnya menghadap suaminya. Ia menatap lekat pria yang telah sah menjadi suaminya. Pria yang sudah mengucap janji untuk selalu bersama-sama dalam keadaan suka maupun duka hingga maut memisahkan raga mereka.


Medina merangkum wajah Daniel dengan kedua tangannya.


"Aku tidak akan meninggalkanmu kecuali takdir maut menjemputku. Terimakasih kasih atas cinta dan semua hal yang telah kakak berikan padaku. Aku akan belajar menjadi istri yang setia dan mendukung suamiku dengan sepenuh hati. Aku tidak membutuhkan apapun lagi, selain berharap rumah tangga kita menjadi rumah tangga yang sakinah, Mawaddah, Warrohmah" Ucap Medina panjang lebar.


Senyum cantik terukir dibibir mungilnya. Mata bulatnya menatap suaminya penuh cinta.


"Aku mencintaimu, suamiku...pangeranku...belahan jiwaku..." Lanjut Medina dengan mata berkaca-kaca.


Mendengar semua kalimat yang terucap dari bibir Medina, Daniel tersenyum bahagia.


Daniel merangkum wajah Medina dengan kedua tangannya. Bibirnya langsung mampir tak permisi membuat Medina sedikit terkejut.


Bukan karena tidak suka dengan ciuman suaminya, namun karena Daniel menciumnya ditempat umum.


"Sayang...kita ditempat umum" Ucap Medina disela ciumannya membuat Daniel terkekeh.


Daniel lupa jika istrinya bukanlah wanita yang suka mengumbar kemesraan dihadapan banyak orang apalagi ditempat umum seperti ini.


"Baiklah...kita lanjutkan dikamar" Daniel tersenyum dan menarik tangan Medina meninggalkan restoran.


Dengan langkah cepat bahkan setengah berlari Daniel membawa istrinya. Api gairah terus membuat tubuhnya memanas, dan butuh tempat pelampiasan secepatnya.


Saat mereka sudah berada dikamar, Daniel mendorong tubuh Medina ke dinding dan menghimpitnya penuh nafsu.


Tanpa menunggu aba-aba, Daniel kembali mencium dan ******* bibir Medina dengan sangat rakus.


Hampir dua hari ia tidak menyentuh tubuh istrinya membuatnya benar-benar sudah tertutup kabut gairah.


"Sayang...pelan-pelan" Pinta Medina saat aktifitas suaminya terasa kasar saat Daniel membuka pakaian Medina.


"Maaf....aku sudah tidak tahan" Gerakan tangan Daniel memelan seiring dengan cumbuan bibirnya pada leher dan dada Medina.


"nnggghhhh...." Medina melenguh nikmat saat bibir Daniel menyesap kedua buah dadanya secara bergantian.


Tangan Medina kini beraksi membuka kemeja dan celana Daniel hingga meninggalkan celana dalam yang membalut juniornya yang sudah menegang sejak tadi.


Daniel masih betah dengan aksi bibirnya yang mengeksplore tubuh istrinya dan meninggalkan jejak di tiap sudut tubuh Medina.


Desahan dan lenguhan Medina terdengar merdu dan indah ditelinga Daniel semakin membakar gairahnya.


Puas dengan posisi berdiri kini Daniel berjongkok untuk menyapa bagian inti Medina dengan bibirnya. Membuat tubuh Medina menggelinjang hebat dan mencapai puncak pertamanya.


Menyadari tubuh istrinya lemas setelah pelepasan pertamanya, Daniel menggendong tubuh Medina dan merebahkannya diranjang.


Daniel menyeka keringat yang membasahi wajah Medina. Dengan gerakan lembut ia kembali ******* bibir Medina dan menjamah setiap inci tubuh Medina dengan bibir dan juga tangannya.


Setelah tadi bibirnya bermain di pusat inti Medina, kini Daniel mencoba menjamah bagian dalam inti istrinya dengan jeri tengahnya.


Daniel memainkan jari-jarinya didalam sana. Memberi sensasi kenikmatan yang berbeda yang belum pernah Medina rasakan sebelumnya.

__ADS_1


"Ooouuuuhhh....aaahhhh...aaahhhh...sssshhh" Medina mendesis dan tubuhnya bergetar.


"Aahhh...aaahhh...aaaaaahhhhhh" suara teriakan Medina memenuhi kamar. Ia kembali merasakan pelepasan untuk kedua kalinya.


Sementara Daniel masih sengaja menahan juniornya. Sebab ia ingin melayani sang istri dengan sentuhan yang membawa kenikmatan.


Daniel mengeluarkan jarinya dan menatap istrinya dengan lembut. Ia memberi jeda untuk istrinya yang masih menetralkan nafasnya sebelum ia melanjutkan aksinya.


Medina mencoba tersenyum kepada suaminya meski nafasnya masih memburu. Medina menatap tubuh bagian bawah Daniel dan melihat sang junior sudah berdiri tegak menantang sempurna siap berperang dalam goa.


Daniel membelai wajah Medina memberi rasa tenang dan nyaman.


Medina memejamkan matanya saat Daniel menggesek juniornya tepat didepan inti Medina.


"Aaahhhhh!!" Medina mendesah saat sang junior suami masuk kedalam goa.


Daniel mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur. Bibirnya kembali bermain di area gundukan kembar Medina.


Medina merasakan kenikmatan yang luar biasa hingga ia mendesah kuat. Namun sebelum suaranya terdengar keluar, Medina menutup mulutnya dengan satu tangan. Khawatir suaranya terdengar hingga keluar villa mereka.


"Mendesalah honey...." Bisik Daniel.


Keduanya terus berpacu merengkuh nikmat. Tak mengindahkan waktu yang semakin larut. Malam yang mengharuskan semua insan beristirahat dengan lelap.


Dinding kamar menjadi saksi hebatnya desahan demi desahan dari kedua pasangan halal.


Entah berapa kali keduanya beristirahat dan kembali melakukan hubungan intim kembali. Hingga waktu hampir pukul 1 dini hari keduanya baru menyelesaikan aktifitasnya.


Daniel menggendong tubuh Medina masuk kedalam bathroom untuk membersihkan diri.


Setelah selesai keduanya sepakat untuk menjalankan sholat malam berjamaah.


Dan setelah selesai, Daniel dan Medina mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah lelah. Agar tubuh mereka segar saat bangun besok pagi.


Pagi hari dikota B, aktifitas di rumah keluarga Sanjaya tidak seperti biasanya.


Sepulang dari acara resepsi pernikahan Daniel dan Medina, Pak Sanjaya membordir istrinya dengan banyak pertanyaan atas kejadian yang dilihatnya.


FLASHBACK ON


"Aku sudah mengeceknya jika Kalung itu hanya ada satu-satunya di negara ini. Tapi kenapa istri Daniel bisa memakai kalung yang sama?" Pak Sanjaya gelisah dalam perjalanan pulangnya dari gedung resepsi.


Hingga tiba dihotel tempat mereka menginap, Pak Sanjaya masih terus berpikir keras.


Ia melihat istrinya juga terdiam semenjak perjalanan pulang dari acara.


"Ada apa?" Tanya Pak Sanjaya kepada istrinya.


"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa lelah" Jawab ibu Melani.


Ibu Melani terus menghindar dari suaminya. Ia khawatir suaminya akan menanyakan kalung yang sama persis dipakai Medina.


Saat hendak berjalan ke kamar mandi, Pak Sanjaya menahan tubuh ibu Melani.


"Bantu aku membuka kemeja"


"Hah?"


"Kamu tidak dengar aku meminta kamu membukakan kemejaku" Pak Sanjaya menatap tajam pada ibu Melani.


Mendapati aura suaminya yang tegang, ibu Melani langsung mendekat dan membukakan kemeja yang dikenakan suaminya.


"Ada yang mau aku tanyakan padamu. Aku harap kamu jujur padaku" Ucap Pas Sanjaya penuh penekanan.

__ADS_1


Ibu Melani terkesiap dengan kalimat dan tatapan suaminya. Membuatnya sedidit gugup.


"A_apa yang mau Mas tanyakan?" Ibu Melani benar-benar gugup.


"Aku baru teringat hal ini ketika melihat istri Daniel memakai kalung yang sama persis dengan kalung yang pernah aku berikan padamu saat kamu sedang mengandung putra kedua kita yang meninggal di kota S"


"Dan sejak saat itu aku tidak pernah melihat kalung itu. Bahkan aku tidak pernah melihatmu memakainya"


"DEG!!!"


Jantung Ibu Melani seolah berhenti. Tubuhnya mendadak kaku dan bibirnya tidak mampu berucap sepatah katapun.


"Apa kamu menyimpannya?" Tanya Pak Sanjaya penuh selidik.


"Aku ingin melihatmu kembali memakai nya" Ucap Pak Sanjaya seolah tahu kebenaran bahwa kalung itu sudah tidak bersama istrinya lagi.


"Mas..." Lirih Ibu Melani.


"Ka_kalung itu sebenarnya telah hilang" Bohong Ibu Melani.


Tak ada cara lain untuk mengatakan jika kalung itu telah diberikan kepada putrinya yang ia tinggalkan bersama Agus dan Rahmi.


"Hilang??" Pak Sanjaya tampak terkejut dan sangat marah.


"Kapan?"


"Saat aku melahirkan putra kedua kita dikota S"


"Kenapa selama ini aku tidak mengetahuinya? Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?" Marah pak Sanjaya membuat ibu Melani ketakutan.


"Waktu itu aku sangat sedih dan bingung. Hingga kalung itu lepas begitu saja dan aku tidak menyadarinya" Jelas Ibu Melani mencoba mengalihkan pemikiran suaminya.


Pak Sanjaya mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak sanggup mengingat saat dirinya mendengar kabar jika anak yang diharapkannya meninggal karena lahir prematur. Dan pada saat itu, mereka sedang mengalami masalah besar. Sehingga membuat Ibu Melani pulang ke kampung halamannya dan melahirkan tanpa persiapan apa-apa.


"Kamu tidak berbohong bukan?" Tanya Pak Sanjaya penuh selidik.


"Aku tidak bodoh, Melani. Kau tahu diriku dengan sangat baik. Aku akan mencari tahu kebenaran hilangnya kalung itu. Karena kau sangat tahu jika kalung itu sangat berarti untuk kita" Ucap Pak Sanjaya penuh amarah.


Pak Sanjaya mengambil ponselnya bdan menghubungi asistennya agar menyiapkan kepulangan mereka.


Mereka pulang malam itu juga dengan membawa kemarahan pak Sanjaya dan kesedihan pada Ibu Melani.


Fian dan calon istrinya yang sedikit bingung, hanya bisa mengikuti keputusan ayahnya yang datang secara tiba-tiba untuk pulang ke kota B malam itu juga tanpa bertanya apapun.


FLASHBACK END


Bahkan selama dua hari ini, pak Sanjaya memilih tidak pulang kerumahnya. Dan menginap di hotel miliknya.


Fian yang merasakan ketegangan antara kedua orangtuanya ikut merasa bingung dan sedih. Apalagi setiap kali ia bertanya kepada Ayah dan Ibunya tidak pernah mendapatkan jawaban apapun.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" Fian merasa frustasi karena tidak berhasil membujuk ibunya untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi.


"Aku harus mencari tahu sendiri jika Ayah dan Ibu tidak ada yang mau membuka suara" Fian meninggalkan rumah dengan tergesa-gesa.


Ia berjanji akan menyelesaikan permasalahan antara kedua orangtuanya bagaimana pun caranya.


_


_


_TBC


_

__ADS_1


_Jangan lupa vote, like dan komennnya kakak cantik dan tampan... Makasih.


__ADS_2