Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 164


__ADS_3

Medina dan Daniel sampai diapartem6 ketika waktu menjelang sore. Sebenarnya Daniel masih memiliki pekerjaan yang harus dikerjakan, namun melihat istrinya yang mulai tidak merasa nyaman, ia langsung memutuskan .menyudahi pekerjaannya dan pulang ke apartemen sesuai rencana mereka.


"Istirahat lah...kamu pasti lelah seharian berada diluar rumah." Ucap Daniel saat melihat istrinya keluar dari kamar mandi.


"Aku lapar." Kekeh Medina sambil mengusap perutnya. Handuk yang melilit tubuh Medina terlihat tidak sempurna menutupi area perut yang membesar. Dan itu membuat Daniel menelan ludahnya susah payah. Meski hampir setiap hari ia melihat tubuh istrinya.


"Baiklah, pesan sesuai keinginan mu dan ingat hanya porsi kecil. Dan kita akan makan malam dirumah saja." Ucap Daniel mengingatkan sang istri lalu beranjak ke kamar mandi dan Medina mengangguk setuju. Ia sudah sangat lelah meski tidak melakukan aktifitas berat.


Ibu Hamil itu berjalan ke arah walk in closet setelah menghubungi restoran langganan mereka. Manik bening itu mencari pakaian yang cocok untuknya. Lama tidak menempati apartemen membuatnya ragu ketika membuka lemari pakaian. Meski ada beberapa pakaian yang ia tinggal namun semuanya pasti sudah tidak sesuai ditubuhnya karena kondisi nya yang tengah hamil besar.


"Mencari apa?" Daniel masuk dan langsung memeluk istrinya dari belakang. Handuk yang dikenakan Medina hampir terlepas karena pelukan yang erat dan mengejutkan.


"Mencari pakaian yang pas untuk perut besarku." Kekeh Medina sambil mengusap perutnya.


"Kamu tidak terlalu gemuk untuk ukuran ibu hamil." Daniel mencium leher Medina dan mengendus aroma wangi yang membuatnya bergairah.


"Benarkah? Hhmmm.. tapi tetap saja aku harus memakai baju yang cukup longgar agar aku nyaman." Jemari medina masih mencari-cari pakaian di dalam lemari.


"Pakai bajuku saja." Tangan Daniel meraih satu baju diantara tumpukan baju miliknya. Kaos dengan ukuran besar akan mampu menutupi sebagian atas tubuh istrinya.


"Lalu bawahannya aku pakai apa?" Medina menatap kearah bawah tubuhnya. Dan manik suaminya langsung mengekori.


"Sepertinya kita salah rencana untuk menginap disini." Kekeh Medina mengambil baju dari tangan suaminya.


"Anggap lah kita sedang babymoon." Daniel mengecup hidung Medina lalu menatapnya penuh damba.


"Hmm..." Medina langsung merona saat mendengar perkataan suaminya.


"Jadi...Tanpa pakaian dalam bukankah akan membuat suasana semakin..." Mulut Daniel ditutup rapat dengan kedua tangan Medina sebelum menyelesaikan ucapannya.


"Jangan menggodaku." Ibu hamil itu menunduk dengan wajah merona.


"Masih ada waktu sambil menunggu makan malam datang." Bisik Daniel lalu menggigit cuping istrinya. Membuat gelenyar indah pada tubuh keduanya. Hormon ibu hamil langsung terpancing dengan mudah karena sentuhan dan kecupan penuh cinta.


"Ah..." Medina yang sejak tadi menahan ******* akhirnya tidak mampu lagi untuk meloloskan suara indahnya. Apalagi dengan gerakan tangan Daniel yang terus menyusuri setiap lekuk tubuhnya. Membuat ******* dan lenguhan menjadi nada indah yang mengantarkan mereka pada kenikmatan surgawi.


*****


Daniel menyelesaikan percintaan nya dengan Medina dengan cepat. Karena mengingat istrinya kelaparan dan daniel tidka ingin menjadi suami dan papa yang kejam dengan meneruskan pergulatan panasnya tanpa memikirkan keadaan sang istri.


Kini keduanya duduk diruang tengah dengan saling memeluk sambil menonton televisi setelah makan malam yang sedikit terlambat .


"Sayang..." panggil Medina lembut.


"Yes, My honey...." sahut Daniel dengan senyumnya.


"Ada apa?" Daniel mengurai pelukannya dan menatap istrinya dengan tatapan cemas.


"Honey...." Panggil lagi Daniel karena medina masih belum menjawab.


"Sepertinya... perutku mulai kontraksi..." Jawab Medina pelan tidak ingin membuat suaminya panik.


"Apa?" Pekik Daniel menjauhkan tubuhnya.


"Sayang....tolong jangan panik." Pinta Medina dengan tenang sambil memegangi perutnya.


"A_apa sakit? Mulas? Perlu ke rumah sakit?" Bukannya tenang, Daniel semakin panik menjadi-jadi.


"Sayang... Sekarang sudah berkurang mulasnya." Medina merasakan perutnya yang tadi kencang dan sakit kini mereda.

__ADS_1


"Ingat yang dikatakan dokter?" Medina mengusap pipi Daniel, mencoba menenangkan sang suami.


"Ya...tapi aku tetap tidak bisa tidak khawatir." Daniel mengusap perut Medina yang terasa kencang dari biasanya.


"Sebaiknya kita masuk ke kamar dan istirahat." Daniel mencoba menenangkan dirinya sendiri.


"Hhhmmm." Medina menerima uluran tangan Daniel dan keduanya masuk kedalam kamar.


****


Kumandang adzan subuh dari ponsel Medina terdengar mengalun indah dan membangunkan pemilik ponsel. Calon ibu itu langsung beranjak dari ranjang besar yang membuat tidurnya merasa nyaman. Ditambah dengan pelukan lelaki yang berada disisi ranjangnya. Medina tersenyum bahagia, tidak ada hal yang lebih ia inginkan selain ketenangan dan keharmonisan dalam rumah tangga dan keluarga.


Semalaman, ia mendapati suaminya terjaga dan entah pukul berapa Daniel tertidur dengan memeluknya seperti sekarang.


"Maaf, semalam membuatmu panik." Medina mengusap pipi dan mencium kening suaminya.


Ibu hamil itu beranjak ke kamar mandi dengan hati-hati. Perut yang besar dan telah kontraksi membuat setiap aktifitasnya, ia lakukan secara perlahan. Apalagi sang suami selalu mewanti-wanti dirinya agar bergerak dengan hati-hati.


"Sayang...bangun." Medina mengusap kepala Daniel dengan lembut. Membangunkan calon ayah yang masih tertidur lelap.


"Hmmm..." Daniel menggeliat dan membuka matanya.


"Kamu sudah mandi?" Tanya Daniel saat mencium aroma wangi menguar dari tubuh istrinya.


"Sudah." Medina tersenyum cantik membuat Daniel betah berlama-lama menatap istrinya.


"Apa masih terasa? Apa sudah ada tanda-tanda?" Tanya Daniel sambil mengusap perut buncit Medina.


"Belum. Mungkin beberapa hari lagi...bayinya sedang memberitahu kita agar kita bersiap-siap menyambutnya." Kekeh Medina.


"Cepat bangun dan mandi. Aku sudah siapkan air dan pakaian kakak. Kita harus segera sholat." Medina mengecup pipi Daniel sebelum beranjak menjauh dari ranjang.


****


"Mereka menginap di apartemen?" Mama Safira menggelengkan kepalanya saya tahu anak dan menantunya semalam menginap di apartemen.


"Daniel bilang ingin babymoon." Kekeh Danu sambil menyantap sarapannya.


"Apa? Dasar anak itu..pantas saja semalam mama telepon, ponsel keduanya tidak ada yang aktif."


"Mama ingin menanyakan hasil pemeriksaan Medina kemarin. Medina ingin meyakinkan adikmu, bahwa kondisi Medina dan bayinya sehat sehingga bisa melakukan proses melahirkan secara normal." Jelas sang mama.


"Memangnya kenapa?" Tanya Danu penasaran.


"Adikmu tidak menyetujui jika Medina melahirkan normal. Ia ingin Medina menyetujui sarannya agar dilakukan proses operasi caesar saat melahirkan nanti. Alasannya dia tidak tega melihat Medina kesakitan dan takut terjadi sesuatu." Kekeh mama Safira mengingat permintaan konyol sang anak.


"Nanti aku akan menghubungi nya." Danu mengeluarkan ponselnya dan hendak menghubungi adiknya.


"iya... selesaikan sarapanmu." Cegah mama Safira.


"Baiklah."


Selesai sarapan Danu menghubungi Daniel yang ternyata masih di apartemen.


"Kamu tidak ke kantor?" Tanya Danu pada adiknya.


"Hari ini ada pertemuan diluar kantor dengan klien. Aku akan langsung ke tempat itu." Jelas Daniel kepada kakaknya.


"Medina ikut?" Seketika Daniel melirik istrinya saat mendengar pertanyaan itu dari sang kakak.

__ADS_1


"Seperti nya aku akan mengantarkan Medina pulang lebih dulu." Akhirnya Daniel memutuskan. Medina juga tidak bisa berlama-lama berada di apartemen karena hampir semua perlengkapan mereka di dalam apartemen tidak sekomplit saat mereka baru menikah.


"Baiklah. Sampai bertemu nanti." Ucap Danu.


"Jangan lupa menghubungi mama." Lanjut Danu mengingatkan sang adik.


"Iya, aku langsung menghubungi mama." Sahut Daniel sebelum menutup sambungan telepon dengan sang kakak.


Setelah sambungan telepon dengan Danu berkahir, Daniel langsung menghubungi mama Safira yang memang sedang menunggu telepon darinya.


"Halo, Ma." Sapa Daniel saat suara seseorang diseberang ponsel nya terdengar.


"Mama ingin bicara dengan Medina." Tukas sang mama membuat Daniel tertawa lebar. Ia menyadari kesalahannya karena seharian kemarin tidak mengabari siapapun.


"Baiklah...baiklah...putrimu baik-baik saja dan bahagia." Daniel menutupi kenyataan jika semalam istrinya mengalami kontraksi. Ia sengaja melakukan itu agar sang mama tidak merasa cemas.


Daniel berjalan menghampiri Medina yang sedang menyiram tanaman di balkon kamarnya.


"Siapa?" Tanya Medina saat Daniel menyodorkan ponselnya koepada dirinya.


"Ibu Ratu." Kekeh Daniel lalu mengecup pipi istrinya sebelum mengambil teko air yang digunakan untuk menyiram dari tangan Medina.


"Assalamu'alaikum, Ma." Sapa Medina penuh semangat.


"Wa'alaikumsalam, sayang." Hati Medina selalu saja menghangat ketika mendengar suara lembut mama mertuanya.


Keduanya mengobrol panjang lebar dengan santai hingga Daniel memberi kode pada istrinya jika ia harus ke bekerja.


Dan saat itulah Medina mengakhiri panggilannya dengan sang mertua setelah bertukar janji akan bertemu dirumah Mama Safira.


"Kita pulang sekarang?" Tanya Medina.


"Kamu keberatan jika kita pulang sekarang?" Tanya balik Daniel membuat Medina memukul lengan suaminya.


"Kita akan pulang ke rumah mama. Aku akan meminta ibu dan ayah juga kesana. Bagaimana?" Ucap Medina memberikan ide.


"Sayang...tapi aku tidak bisa menemani ayahmu. Ada pertemuan dengan klien jam 11 siang nanti." Jelas Daniel.


"Tidak apa-apa, kak. Aku sekalian pulang kerumah dengan ayah dan ibu setalah dari rumah mama. Jadi kakak tidaj perlu menjemput ku kerumah mama lagi." Ucap Medina membuat suaminya mengangguk tanda setuju.


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_

__ADS_1


_


__ADS_2