Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 149


__ADS_3

Fian mengetuk pintu kamar orangtuanya saat tidak menemukan keduanya diruang keluarga dan taman belakang. Tempat favorit kedua orangtuanya dikala sore hari. Menikmati sore dengan secangkir teh seraya berbincang hangat.


"Apa Ayah sakit lagi?" Todong Fian saat pintu kamar terbuka dan senyuman Ibu Melani menyambutnya dibalik pintu.


"Tidak." Jawab Ibu Melani singkat. Membuka pintu lebih lebar agar putranya masuk kedalam kamar. Fian menyalami tangan ibunya lalu mencium kening wanita baya itu.


"Adikmu tadi video call saat Ayahmu sedikit pusing. Dia langsung meminta Ayahmu beristirahat dan tidak boleh keluar kamar. Dia mengancam akan datang sendiri jika Ayah tidak menurut." Ibu Melani terkekeh mengingat ancaman Medina melalui sambungan video call siang tadi.


"Padahal Ayah merasa pusing karena tidak melakukan apapun." Pak Sanjaya ikut menimpali sambil menggelengkan kepalanya pelan. Tidak habis pikir dengan putrinya yang selalu menelepon dan menanyakan kegiatan kedua orangtuanya.


"Itu karena dia sangat mencintai kalian." Fian kini menyalami pak Sanjaya dan duduk dihadapan sang ayah. Disusul ibu Melani yang duduk disamping Fian.


"Ada apa?" Tanya pak Sanjaya melihat gelagat anaknya.


"Ayah...Ibu..." Fian memberi jeda dan menatap kedua orangtuanya bergantian.


"Aku akan menikahi Donita besok." Ucap Fian dengan satu tarikan nafas.


"Apa?" Keduanya terkejut dan menyahut bersamaan.


"Aku tahu ini akan mengejutkan kalian...tapi nasib pernikahanku sedang dipertaruhkan." Fian menghela nafas lalu membuangnya dengan kasar.


"Ini bukan pernikahan yang seperti direncakan sebelumnya. Karena__aku dan Donita akan menikah dikantor KUA saja." Fian menatap Ayahnya seolah meminta persetujuan.


"Faisal mendesakmu untuk segera menikahi putrinya?" Tanya Pak Sanjaya.


"Ayah...aku memahami kegelisahan keluarga Donita. Makanya aku mengambil keputusan ini. Aku harap Ayah dan Ibu mengerti."


"Setidaknya aku dan Donita sah menikah secara Agama dan Negara. Dan masalah resepsi pernikahan...aku sudah memutuskan akan mengadakan resepsi di kota J. Agar Medina tidak perlu melakukan perjalanan jauh dengan kondisinya yang hamil besar." Jelas Fian. Tidak ada keraguan dalam setiap kata yang diucapkan pria berusia tiga puluh tahun itu.


"Aku mohon Ayah dan ibu bisa memaklumi dan mendukung keputusanku." Fian menatap lekat ayahnya yang masih diam membisu.


Pak sanjaya tampak berpikir atas penjelasan putranya. Sementara ibu Melani masih menunggu suaminya bersuara lebih dulu, sebelum dirinya memberi komentar.


"Ayah setuju denganmu, Nak." Pak Sanjaya menatap putranya dengan bangga.


"Kita sudah menunda lama pernikahan kalian. Dan pastinya menjadikan beban untuk keluarga Faisal terlebih untuk calon istrimu, Donita." Pak Sanjaya tersenyum ke arah Fian. Ada rasa bangga dihatinya, Fian kini sangat dewasa dan keputusan yang diambil putranya dianggapnya yang terbaik untuk dua keluarga.


"Ayah setuju denganmu." Fian berbinar ketika sekali lagi pak Snajaya memberi dukungan padanya. Ia pun bangkit lalu beranjak untuk memeluk Ayahnya. Ibu Melani melihat penuh haru. Ia juga tidak kalah bahagia.


"Terimakasih Ayah." Ucap Fian disela pelukannya.


"Apa calon mertua kamu setuju?" Suara ibu Melani langsung membuat Fian mengurai pelukan dari sang Ayah.


"Jika mereka tidak setuju, mereka bisa melupakan pernikahan ini." Ucap Fian asal membuat Ibu Melani membulatkan matanya.


"Husshh!!!" Ibu Melani memukul punggung Fian.


"Yang dikatakan ibumu benar. Apa mereka setuju dengan rencanamu?"


"Aku sendiri awalnya ragu. Lalu aku meminta Donita meyakinkan keluarganya."


"Dan akhirnya mereka setuju." Fian bernafas lega karena satu masalah akan terlesesaikan.


Persiapan pernikahan yang direncanakan memang telah rampung hampir delapan puluh persen. Membuat Fian dan Donita sedikit kewalahan untuk mengatur ulang jadwal bersama WO yang telah ditunjuk untuk membantu pesta pernikahan mereka.


"Medina pasti senang mendengar ini. Karena dia tadi sempat menanyakan hal ini kepada Ibu." Ucap Ibu Melani.


"Aku akan menghubunginya nanti." Sahut Fian.


****


Sesuai dengan kesepakatan, pasangan yang sedang diliputi gairah itu memutuskan untuk pulang ke apartemen yang memang tidak jauh dari kantor Daniel.


Keduanya langsung menempati ranjang besar mereka yang sudah lama tidak dihuni namun tetap bersih karena setiap dua kali seminggu, mang Jaka ditugaskan untuk membersihkan apartemen Daniel.


Medina terbangun dari tidurnya setelah pergulatan panas mereka beberapa jam yang lalu. Ia meraba sisi ranjang dan tidak mendapati suaminya disana.


"Sayang..??" Panggil Medina.


Medina meraih kemeja suaminya yang tergeletak dilantai untuk menutupi tubuhnya yang polos. Lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Medina mengira sang suami berada diruang kerjanya, namun saat melintasi ruang tengah terdengar suara dari balik dapur. Medina yang penasaran akhirnya membelokan kakinya menuju dapur.


Medina tersenyum dan sengaja tidak langsung menghampiri suaminya. Ia berdiri diambang pintu sambil memperhatikan suaminya. Apalagi dengan tubuh bagian atasnya yang polos dan hanya dibalut celana training panjang berwarna hijau. Tubuhnya yang kekar dan liat membuat jantung Medina kembali bertalu-talu.



"Selesai." Gumam Daniel.

__ADS_1


"Kini saatnya membangunkan putri tidur." Daniel membalikkan badan dan terkejut mendapati Medina sedang tersenyum diambang pintu dengan berbalut kemeja dirinya yang terlihat kebesaran ditubuh kecil istrinya. Dan entah mengapa terlihat menggemaskan dimata Daniel.


"Honey...? Sejak kapan kamu disitu?" Daniel tersenyum lebar.


"Sejak tadi." Medina tersenyum lalu melipat kedua tangannya kedepan. Jantungnya berdegup kencang saat melihat suaminya menghampirinya. Medina berdehem pelan untuk menetralkan degup jantungnya yang bertalu-talu.


"Kenapa dia terlihat sangat sexy sekali." Batin Medina. Ia pun sengaja mengerjapkan matanya beberapa kali untuk membuang pikiran kotornya. (Sebenarnya bukan aku yang punya pikiran begitu, tapi kakak authornya 😜. Medina).


"Kamu pasti sudah lapar." Daniel mencium kening Medina.


"Kakak memasak?" Tanya Medina penasaran karena setahunya tidak stok makan semenjak mereka meninggalkan apartemen.


"Aku memesan dari restoran langganan kita. Duduklah disana, aku sudah siapkan." Ucap Daniel hendak berbalik kedapur.


"Biarkan aku membantu." Ucap Medina.


"Tidak perlu. Tunggu saja di meja makan." Daniel menahan tubuh Medina.


"Baiklah...dan aku tidak suka menunggu terlalu lama karena aku sudah sangat lapar." Medina tertawa dan berlalu ke meja makan sambil tertawa kecil.


****


Mereka baru saja masuk kedalam kamar setelah makan malam ketika suara bel terdengar menggema di ruangan.


"Siapa yang datang malam-malam begini?" Tanya Medina.


"Gio." Jawab Daniel.


"Kak Gio?" Medina mengerutkan keningnya.


"Tumben sekali." Gumam Medina.


"Iya. Tadi dia mengirim pesan dan meminta bertemu diluar. Tapi aku menolak karena tidak bisa meninggalkan istriku sendirian dirumah." Daniel mencium pipi Medina.


"Apa sesuatu terjadi?" Medina penasaran karena tidak biasanya Gio meminta untuk bertemu suaminya.


"Mungkin dia ingin curhat masalah kejombloannya." Jawab Daniel dengan tawanya yang lebar. Hingga tawa itu menular kepada sang istri.


"Jangan begitu, harusnya kakak membantu mencarikan gadis yang baik untuknya." Ucap Medina manja.


"Nanti aku carikan." Daniel kembali tertawa.


"Tidak menemui tamu..itu tidak sopan." Medina memukul dada suaminya.


"Kamu sangat sexy, aku tidak bisa membiarkan istriku bertemu orang lain meskipun itu sepupuku sendiri." Medina membulatkan matanya. Saat hendak membuka mulut untuk bicara, bel rumah kembali berbunyi.


"Kasihan kak Gio menunggu." Medina mendorong tubuh Daniel keluar kamar.


Daniel segera membuka pintu dan mendapati sosok sepupunya yang berdiri membelakangi pintu. Suara pintu terbuka membuat Gio membalik badan.


"Maaf harus membuatmu menunggu." Ucap Daniel.


"Ck...." Daniel tertawa lebar saat mendengar sepupunya berdecak kesal.


"Ini pesananmu dan dimana Medina?" Gio memberikan paper bag kepada Daniel dan menanyakan Medina.


"Aku baru saja menidurkannya." Jawab Daniel absurb. Tentu saja ia sengaja melakukan itu karena ingin menggoda sepupunya.


"Apa?" Gio menggelengkan kepalanya. Tidak tahan dengan senyum mengejek Daniel, ia melempar bantal sofa ke arah Daniel.


"Cepat katakan ada apa?" Todong Daniel tanpa basa basi.


"Aku salah mendatangimu." Sungut Gio membuat Daniel tertawa terbahak-bahak.


"Pulanglah jika begitu." Goda Daniel kembali terbahak.


"Wajahmu kusut sekali." Daniel berhenti tertawa dan menatap lekat Gio.


"Apa ada masalah pekerjaan?" Tanya Daniel dan Gio menggeleng.


"Keluarga?" Tanya Daniel lagi. Dan Gio kembali menggeleng.


"Jadi_apa masalah wanita?" Tebak Daniel setelah beberapa pertanyaannya hanya mendapat jawaban gelengan kepala.


Dan Gio mengangguk dengan tegas. "Iya...dan kali ini aku benar-benar dalam masalah." Ucap Gio dengan wajah serius.


Daniel menegakkan tubuh yang sedari tadi tersandar disofa. "Kau serius, Gio?" Tanya Daniel memastikan.


"Aku merasa buntu dan tidak dapat berpikir. Makanya aku mendatangimu untuk meminta pendapatmu mengenai masalahku." Ucap Gio lemah. Gurat wajahnya menandakan bahwa ia sedang frustasi atas permasalahan yang terjadi padanya.

__ADS_1


Gio dan Daniel yang tumbuh bersama sejak kecil hingga kuliah membuat mereka sangat dekat. Kedekatan mereka membuat mereka selalu membagi apapun yang mereka miliki. Termasuk ketika satu sama lain sedang bermasalah.


"Katakan." Daniel menatap sepupunya lekat.


"Kau ingat saat malam pesta sebelum pernikahan Rhenata?" Daniel mengangguk serius.


"Malam itu...." Gio mengatur nafas dan mulai bercerita.


"Kau gila, Gio!!" Bentak Daniel tanpa sadar. Ia memekik dengan keras hingga Medina yang belum tidur langsung keluar kamar.


"Sayang...ada apa?" Medina menghampiri suaminya dan melirik ke arah Gio yang terduduk lesu.


"Kak...ada apa?" Tatapan Medina beralih kepada Gio yang menunduk. Berharap mendapatkan jawaban dari sepupu suaminya itu. Namun keduanya kompak mengunci mulutnya tidak memberi jawaban


"Gio...kenapa kau lakukan itu?" Rahang Daniel masih mengeras setelah mendengar semua yang diceritakan sepupunya.


"Kau tahu itu tidak benar, kan?" Daniel bersungut penuh amarah.


"Sayang...tenanglah." Medina memeluk suaminya yang berjalan mondar mandir.


"Aku mencintainya...Aku...mencintainya bahkan sejak pertama kali dia masuk universitas." Jawab Gio terbata.


"What?" Daniel membelalakkan matanya. Ia berjalan mendekati Gio dan menarik kerah sepupunya itu.


"Katakan sekali lagi." Ucap Daniel penuh emosi.


"Aku mencintai Farah sejak awal...hingga detik ini." Jawab Gio dengan jelas. Tatapannya kini beradu dengan tatapan Daniel. Saling menghujam.


Medina menutup mulutnya karena terkejut dengan apa yang didengarnya.


"What the fu*k!!" Tangan Daniel terkepal.


BUGH!!


Satu bogem mentah milik Daniel mendarat diwajah Gio. Hingga membuat tubuh Gio tersungkur ke lantai.


"Aakhhh!!" Medina terkejut dan panik saat suaminya meninju saudara sepupunya.


"Sayang...hentikan! Aku mohon." Medina memohon dengan terus memeluk suaminya.


"Jadi...selama ini kau_" Daniel tidak sanggup meneruskan ucapannya. Memorinya kembali pada kepingan saat-saat mereka masih menimba ilmu di universitas yang sama.


Dan yang membuat Daniel marah karena dirinya dan Gio mencintai orang yang sama dan Daniel tidak pernah mengetahuinya. Bahkan saat Daniel menjalin hubungan dengan Farah, Gio tidak pernah sekalipun terlihat cemburu atau menjaga jarak.


Pria itu mampu menutupi semua perasaannya tanpa satu orangpun yang tahu termasuk Daniel yang notabene orang terdekat Gio.


Dan yang membuat emosi Daniel meledak seperti saat ini adalah karena Gio selama ini menyimpan luka meskipun hubungan Daniel dan Farah berakhir dengan tragis. Tapi tetap saja Daniel merasa bersalah karena telah merebut wanita yang disukai Gio.


Dan kini....sepupunya itu justru bertindak bodoh untuk demi menyelamatkan Daniel dan rumah tangganya.


"Kau!! Pria paling bodoh didunia!" Maki Daniel dengan penuh emosi.


"Gionardo...!!!" Geram Daniel. Ia ingin kembali mendekati Gio namun tangannya dicegah oleh Medina.


Gio mengusap sudut bibirnya yang basah dan terasa perih. Ia tersenyum getir karena kisah percintaannya tidak seperti kebanyakan orang.


"Harusnya kamu tidak bertindak ceroboh hanya demi diriku."


"Wanita yang jauh lebih baik dari dia sangat banyak jika kamu mencari." Ucap Daniel lirih.


"Mengapa harus dia?" Daniel masih belum merima kenyataan jika Gio kini terjebak dengan gadis itu terlalu jauh.


Apalagi hubungan Daniel dan Farah bukan hanya sebatas mantan. Kini hubungan itu harus terjalin kembali karena Farah adalah sepupu dari istrinya.


Dan kini....Hubungan itu semakin rumit karena kini Gio berada disana. Kembali menarik Daniel yang justru ingin menjauh dari Farah Dan bahkan dari keluarganya. Dan yang sangat disesali Daniel, sepupunya itu telah melewati batas norma agama dan susila yang berlaku dimasyarakat.


Medina masih mencoba mencerna setiap perkataan yang keluar dari bibir Daniel dan Gio. Namun ia masih belum bisa menyatukan kepingan-kepingan pembicaraan keduanya dan mengambil kesimpulan.


"Apa yang harus aku lakukan?" Gumam Medina dalam hati. Ia hanya bisa menatap kedua pria dihadapannya dengan wajah bingung.


_


_


_


_


_ BERSAMBUNG

__ADS_1


MOHON MAAF SEBELUMNYA, CERITA BARU UNTUK GIO DAN FARAH BELUM BISA RILIS BULAN INI. KARENA SATU DAN LAIN HAL. 🙏🏻


__ADS_2