
Selesai Sholat subuh, Medina dan Daniel sudah bersiap untuk berangkat.
"Honey...Kamu semakin cantik" Daniel memeluk Medina dari belakang saat Medina sedang mengenakan hijabnya didepan cermin.
"Kaakk...kita akan terlambat" Medina sedikit menjauhkan kepalanya saat bibir Daniel akan mengecup pipinya.
Daniel menautkan alis.
"Kok menghindar? Aku mau kasih morning kiss. Ga macem-macem kok" Ucap Daniel dengan terkekeh.
Medina masih menjaga jarak kepalanya. Ia khawatir Daniel meminta jatah setelah menciumnya.
"Aku tidak akan minta jatah, Honey" Ucap Daniel lagi seolah tahu yang sedang dipikirkan istrinya.
Medina membalikkan badannya menghadap suaminya. Hingga jarak dirinya dengan Daniel begitu dekat.
Namun seringaian senyum suaminya, membuat Medina sedikit takut.
"Kak...kita sudah batal berangkat kemarin sore. Jika hari ini kita gagal lagi...ba____" Daniel membungkam mulut Medina dengan bibirnya.
Mereka berciuman lama, hingga nafas mereka tersengal.
"Sudah...sudah..." Medina mengibas-ibaskan tangannya.
Daniel terkekeh melihat tingkah istrinya.
"Satu ciuman lagi..." Pinta Daniel.
Medina menggeleng cepat.
"Ya Ampun...suamiku benar-benar berubah mesum" Bathin Medina. Ia tidak menggubris permintaan suaminya. Ia kembali berbalik menghadap cermin dan melanjutkan memakai hijabnya.
Daniel sedikit kecewa namun ia tidak bisa memaksa. Karena tak bisa dipungkiri jika ia akan menuntut lebih, sementara mereka harus segera berangkat.
"Baiklah...setelah perjalanan ini. Aku tidak akan melepasmu, tuan putri"
Daniel menjauh dan duduk disisi ranjang. Kemudian mengeluarkan ponselnya yang sedang berdering.
"Halo..."
"Mobil sudah siap bos" Suara Raihan terdengar diujung telepon.
"Baiklah..kami segera turun" Daniel menutup teleponnya.
"Dari Raihan?" Tanya Medina yang mendekati suaminya.
"Iya..."
"Ayo...tunggu apalagi?" Tanya Medina saat melihat Daniel belum beranjak.
"Satu ciuman lagi, Please!?" Daniel merajuk seperti anak kecil yang minta dibelikan permen.
Medina memutar bola matanya. Ia tidak mengira, suaminya akan berubah manja dan mesum.
CUP!!
Medina mengecup singkat bibir suaminya. Dan segera beranjak meninggalkan suaminya.
"Honey...aku minta ciuman, bukan kecupan" protes Daniel.
__ADS_1
Medina terkekeh geli. Ia meraih handle pintu dan menariknya. Namun belum juga tubuhnya keluar, Daniel sudah menarik tangannya.
"Kamu mulai nakal ya?" Mereka meninggalkan kamar hotel sambil terkekeh.
***
Sementara itu, setelah berpamitan Danu segera berangkat menuju bandara dengan diantar Jaka.
"Terimakasih Jaka..Tolong jaga keluarga ku selama aku pergi" Ucap Daniel saat mobil yang ia naiki telah sampai di bandara.
"Siap den Danu..." Sahut Jaka.
Danu segera masuk ke dalam antrian. Pesawatnya akan berangkat 30 menit lagi.
Saat menunggu antrian, ponsel Danu berdering. Menatap sekilas layar ponselnya membuat keningnya mengerut.
"Halo...Iya Rif?"
"Selamat pagi pak. Maaf menganggu anda pagi-pagi. Hari ini ada rapat penting yang harus dihadiri anda sebagai pengganti pak Daniel" Danu memijit pelipisnya. Ia lupa jika hari ini ia ada rapat dikantor Daniel. Dan dia sudah berjanji untuk menggantikan Daniel selama Daniel tidak ada.
"Kenapa aku bisa lupa?"
"Halo pak...Anda masih disana?" Panggil Arif karena Danu belum merespon.
"Jam berapa rapatnya?" Tanya Danu.
"Jam 10 pak. Anda bisa datang?"
"Rif...Aku minta maaf. Sebenarnya aku ada urusan mendadak yang harus aku selesaikan diluar kota" Danu keluar dari antrian para calon penumpang yang sedang melakukan boarding pass.
"Apa bisa reschedule? Bagaimana jika rapatnya besok pagi?" Tawar Danu.
"Baiklah...aku akan datang. Siapkan semuanya. Aku akan datang 1 jam lagi" Danu memutus panggilan.
Danu masih menatap ponselnya kemudian menghubungi seseorang.
"Assalamualaikum kak..." Suara Daniel diseberang telepon.
"Wa'alaikum salam...Dimana kalian?" Tanya Danu.
"Kami diperjalanan. Kakak dirumah? Bagaimana kabar mama dan lainnya? Maaf Daniel belum sempat menghubungi kalian"
"Ck...!!! Kamu membuat kesalahan, Kid" Danu mendengus kesal.
"Ayolah kak. Kakak pernah menjadi pengantin baru bukan?" Sahut Daniel pelan.
"Apa aku perlu menyusul kalian?" Danu benar-benar frustasi. Ia tidak bisa meninggalkan rapat dikantor Daniel tapi ia juga tidak tenang jika tidak bisa memantau keadaan dikota S.
"Tapi kakak harus menghadiri rapat pagi ini. Kakak tidak lupa bukan?"
"Aku tahu"
"Kabari aku jika kalian sudah sampai" Lanjut Danu kemudian memutuskan panggilan telepon setelah Daniel menyahut.
Ia mengingat Jaka yang baru mengantarnya. Danu berpikir jika Jaka masih berada diarea bandara. Dengan cekatan Danu menghubungi Jaka dan benar dugaannya. Jaka masih berada diarea Lobby Pintu keberangkatan Domestik.
Sedikiut bingung, Jaka menjemput majikannya kembali.
"Jaka...kita ke kantor Daniel" Titahnya pada Jaka setelah masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Siap Den!" Jawab Jaka semangat.
Jaka segera mengantar majikannya tanpa bertanya. Ia sudah sangat tahu, jika putra sulung majikannya sangat sibuk karena putra bungsu majikannya sedang pergi.
****
Mobil Daniel telah sampai disebuah area pemakaman umum desa sekitar pukul 8 pagi.
Daniel masih memeluk Medina yang tertidur dipelukannya. Ia ingin membangunkan Medina namun tidak tega.
Raihan keluar dari kursi kemudi. Pandangannya tajam tertuju pada penjaga pemakaman yang sudah ia temui beberapa kali.
"Selamat sore Tuan Raihan" Sapa penjaga pemakaman yang bernama Suryo.
"Sore pak.."
"Sampean datang lagi?" Tanya Pak Suryo.
"Iya pak....Tapi untuk mengantarkan seseorang" Raihan menunjuk ke arah mobil dimana Daniel dan Medina berada.
Pak Suryo tampak manggut-manggut. Maniknya terus memperhatikan mobil terparkir. Penasaran dengan penumpang yang berada didalamnya.
"Honey..." Panggil Daniel setelah mengecup bibir istrinya.
Medina menggeliat dan mengerjakan matanya.
"Apa kita sudah sampai?" Medina memicingkan matanya ke arahuar jendela mobil.
"Kita sudah sampai hampir setengah jam yang lalu" Jawab Daniel dengan terkekeh.
Mulut Medina menganga tidak percaya. Ia tertidur dengan sangat nyenyak hingga tidak menyadari mereka sudah sampai.
"Kenapa ga dibangunin?" Medina memberi pukulan kecil dipaha suaminya.
Medina mengedarkan pandangannya. Wajahnya berubah sendu seketika maniknya menatap area yang tidak asing untuknya. Ia tidak menyangka Daniel akan langsung membawanya ke pemakaman orangtuanya.
Medina menatap Daniel dengan mata yang berkaca-kaca.
"Minumlah dulu" Daniel menyodorkan botol air mineral kepada Medina.
Medina menerima dan langsung meminumnya.
"Terimakasih kak"
"Kamu sudah siap?" Medina hanya mengangguk.
"Tunggu dulu!" Daniel menahan tangan Medina saat hendak membuka pintu mobil.
Medina memutar badannya kembli ke arah Daniel.
Daniel menangkupkan kedua tangannya diwajah Medina.
"Jangan pernah merasa sendiri, sekarang ada aku yang akan selalu bersamamu hingga maut memisahkan kita" Ucap Daniel penuh perasaan.
Medina tersenyum penuh haru. Hatinya merasa hangat dan lebih bahagia dari sebelumnya.
"Aku mencintaimu, Honey" Ucap Daniel lembut
"Aku juga mencintaimu, Sayang" Balas Medina.
__ADS_1
Mereka saling menatap hangat lalu berciuman dengan mesra sebelum turun dari mobil.