Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 118


__ADS_3

2 BULAN KEMUDIAN


Medina menatap pantulan dirinya di dalam cermin sambil meraba perutnya yang terasa kencang dan sedikit membuncit.


"Mama tidak sabar untuk bertemu dengan kamu, sayang." Ucap Medina sambil terus mengusap-usap perutnya. Medina terus mengajak bayi dalam perutnya bercerita hingga tidak menyadari kedatangan Daniel yang baru saja pulang dari kantor.


Daniel tersenyum sambil terus melangkah menghampiri Medina yang masih asyik dengan kegiatan yang hampir setiap hari istrinya lakukan.


"Apa yang kalian bicarakan tanpa papa, hah?" Daniel memeluk Medina dari belakang dan mencium leher istrinya dengan gemas.


"Papa sudah pulang?" Tanya Medina dengan suara menirukan suara anak kecil.


"Kalian terlalu asyik." Tangan Daniel mengusap perut Medina yang terhalang gamis.


"Hehehe...maaf sayang." Medina berbalik dan mengalungkan kedua tangannya dileher Daniel.


"Aku sudah siapkan air untuk mandi." Medina mengusap pipi suaminya yang terlihat lelah setelah bekerja seharian.


Daniel menggeleng cepat membuat Medina terkekeh. Ia tahu jika suaminya belum akan beranjak mandi jika belum menyapa bibirnya.


Baru saja bibir Medina hendak menempel pada bibir Daniel, suara ketukan pintu membuat adegan itu harus terhenti. Itu membuat Daniel memutar malas bola matanya dengan gerutunya.


"Sebentar sayang." Medina mengelus pipi suaminya dengan menahan senyum.


"Ada apa, bi?" Tanya Medina setelah membuka pintu.


Namun belum juga dijawab, teriakan Syifa sudah memenuhi ruangan.


"Mamaaaa..." Gadis kecil itu berlari menghampiri Medina lalu memeluknya.


"Sayang...kamu sudah datang?"


"Ifa bosan dirumah." Seloroh gadis kecil itu dengan mimik yang sangat lucu.


"Baiklah...ayo kita makan es krim." Keduanya berjalan menuju dapur. '


"Es krim home Made?" Syifa berjalan sambil berjingkrak. Moodnya kembali setelah bertemu Medina dan mendengar kata es krim.


Daniel mengintip keluar kamar dan mendengar percakapan antar istrinya dengan keponakan kesayangannya. Ia mengusap wajahnya dengan frustasi.


Daniel melirik jam yang berada di pergelangan tangan nya. "Dia pasti kabur dari rumah?" Daniel kembali masuk kedalam kamar untuk membersihkan diri.


"Kemana mereka?" Daniel mengedarkan pandangannya mencari istri dan keponakannya. Ia sudah selesai mandi.


Daniel berjalan ke arah dapur dan bertemu mang Jaka yang sedang mengambil air minum.


"Maafkan saya, den. Non Syifa merengek terus minta diantar kemari. Nona kecil juga mengancam akan kabur naik taksi jika saya tidak mengantarkan " Ucap Mang Jaka saat mereka bertemu.


"Tidak apa-apa, Jek. Aku akan mengabari orang dirumah." Daniel mengeluarkan ponsel dari dalam kantong celananya dan menghubungi Danu.


"Kemana istriku?" Tanya Daniel setelah menutup percakapannya dengan Danu.


"Nyonya ada ditaman belakang, den." Jawab pelayan itu.


"Terimakasih."


"Seharusnya kamu tidak kabur seperti itu, sayang. Itu tindakan tidak baik." Daniel mendengar istrinya tengah menasehati keponakannya.


"Princess cerewet ini kabur dari rumah lagi?" Timpal Daniel yang sudah berada disamping Medina.


Kedua wanita itu menoleh. "Papa akan kena marah nenek lagi." Ucap Daniel pura-pura memasang wajah sendunya.


"Maaf..." Lirih Syifa sambil menundukkan kepalanya.


Medina yang menatap suaminya menggelengkan kepalanya memberi kode agar suaminya tidak membahasnya lagi.


"Sudah mengabari kak Danu?" Tanya Medina dan Daniel mengangguk.


"Habiskan es krim mu atau besok tidak akan mendapat jatah es krim lagi." Daniel mengangkat tubuh Syifa dan mendudukkannya diatas pangkuannya.

__ADS_1


"Oh ya ampun...predikat princessmu akan memghilang jika kamu semakin gendut."


"Mama Niel selalu membuatkanku makanan yang enak, Ifa tidak bisa menolaknya." Seloroh gadis kecil itu membuat Daniel dan Medina seketika tertawa.


Malam harinya setelah makan malam dan bersantai sebentar menonton televisi, Medina mengantarkan Syifa ke kamarnya. Ya...bahkan gadis kecil itu memiliki kamar sendiri dirumah mewah Daniel.


Setelah Syifa tidur, Medina meminta pengasuh Syifa masuk kedalam kamar untuk menemaninya.


"Kamu bisa istirahat."


"Terimakasih, Bu." Jawab pengasuh Syifa.


Medina berjalan menuruni anak tangga dan tidak menemukan suaminya diruang tengah.


Medina berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.


"Ibu butuh sesuatu?" Tanya pelayan Medina saat memergoki majikannya tengah sibuk didapur sendirian.


"Tidak ada bi. Hanya mengambil air dan beberapa buah-buahan." Medina tersenyum cantik.


"Biarkan saya yang membawanya ke kamar." Pelayan itu mengambil alih botol minum dan buah yang dipegang Medina.


"Terimakasih, bi."


"Aden ada di ruang kerjanya. Saya lupa menyampaikan pesan kepada Nyonya." Ucap pelayan sebelum ia beranjak.


"Apa dia marah dan akan lembur lagi?" Medina mendesah pelan.


Medina tidak ingin mengganggu suaminya. Ia berjalan masuk kedalam kamarnya.


Setelah membersihkan diri, Medina duduk di sofa sambil memakan buah-buahan yang ia bawa tadi sambil menonton film.


Dan saat itu, ponselnya berdering.


"Ibu Melani." Gumam Medina. Tangannya menyentuh ikon hijau diponselnya.


"Assalamualaikum Bu. Apa kabar?" Sapa Medina hangat.


"Kami sehat, alhamdulillah." Jawab Medina.


"Sayang..."


"Ada apa bu? katakan saja" Ucap Medina tatkala ibu Melani ragu untuk meneruskan ucapannya.


"Ibu ingin mengajakmu ke hotel besok. Ada acara disana dan ibu hanya ingin....."


"Medina akan coba meminta ijin Kak Daniel. Medina akan mengabari ibu lagi nanti. Bagaimana?"


Ibu Melani terdiam sesaat saat Medina mengatakan akan meminta ijin Daniel.


"Baiklah...ibu. menunggu kabarmu." Ucap Ibu Melani sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon.


"Siapa yang telepon malam-malam?" Suara Daniel membuat Medina terkejut.


"Seorang penggemar." Sahut Medina tersenyum menggoda.


"Apa?" Daniel berpura-pura terkejut. Ia mendekati istrinya lalu memeluknya erat.


Medina tertawa lebar dan membalas pelukan suaminya. Rasa hangat dan nyaman langsung melingkupi hati Medina. Bahkan saking nyamannya, Medina menggesek-gesekkan hidungnya didada Daniel yang tertutup kaos. Daniel tersenyum dan mngusap punggung istrinya dengan sayang.


"Ibu Melani mengajakku untuk ikut ke hotelnya besok." Ucap Medina tanpa melepaskan pelukannya.


"Lalu?"


"Besok kita sudah ada janji dengan Syifa akan mengajaknya ke tempat bermain." Medin mengadahkan wajahnya lalu kembali menyelusup kan ke dada suaminya.


"Kenapa tidak sekalian mengajak Syifa bermain disana?" Daniel memberi ide.


"Itu agenda mingguan kita. Tapi aku tidak ingin mengecewakan ibu Melani. Dia sangat baik padaku." Medina mendesah panjang.

__ADS_1


"Batalkan saja dua-duanya. Dan kita akan habiskan waktu seharian berdua saja didalam kamar." Bisik Daniel menggoda. Tangannya bahkan sudah mulai meraba paha Medina.


"Apa?" Medina membultkan matanya tidak percaya.


"Mesum." Medina mengerucutkan bibirnya.


"Tapi cintaku tidak pernah menolak kemesumanku, bukan?"


Medina tersenyum kaku. Penyataan suaminya sangat benar dan membuat pipinya meron. Ia sangat malu.


"Sudah jangan bahas lagi." Protes Medina mengakhiri percakapan panas suaminya.


"Jam berapa acara nya." Daniel menuruti permintaan istrinya.


"Jam sepuluh pagi." Jawab Medina.


"Sampai selesai?"


"Ya... mungkin selesai setelah jam makan siang." Ucap Medina.


"Baiklah...kita bisa mengajak Syifa setelah acara itu. Bagaimana?" Daniel memberi ide kepada istrinya.


"Benar juga!" Medina melepas pelukannya dan menatap Daniel dengan wajah berbinar.


"Aku dan Syifa akan menjemputmu setelah makan siang." Daniel tersenyum menggoda.


"Terimakasih, sayang." Medina mencium pipi Daniel lalu turun ke rahang hingga bibir merah itu menyapa bibir Daniel.


Keduanya hanyut dalam penyatuan bibir yang menimbulkan gejolak gairah. Alunan sesapan terus mengalun meski kini Daniel membawa tubuh mungil istrinya didalam gendongannya dan membaringkannya diranjang.


Masih tanpa melepas ciuman, merangkak naik diatas tubuh Medina. Merasa oksigen istrinya terbatas, Daniel melepaskan ciuman panas itu. Tangannya terulur menyentuh pipi Medina yang merona.


"I love you, My honey." Ucap Daniel dengan suara beratnya.


"I Love you too, My Prince." Medina mengangkat tangannya lalu melucuti kaos suaminya.


CUP


CUP


CUP


Medina memberi kecupan bertubi-tubi pada tubuh Daniel. Memberi sensasi yang luar biasa dan menggelora pada tubuh Daniel.


"Women on top, oke?" Daniel tersenyum lebar mendengar permintaan istrinya dalam bisikan.


"As you wish honey." Daniel mengubah posisi, ia berbaring disamping Medina.


Medina tersenyum menggoda. Ia mulai merangkak naik ke atas tubuh Daniel yang gagah dan bidang. Memberi usapan halus nan menggoda sebelum akhirnya bibir mungilnya kembali mengecupi tubuh suaminya mulai dari wajah hingga mendekati area sensitif suaminya.


Daniel menikmati setiap sentuhan yang Medina ciptakan ditubuhnya. Namun merasa terlalu lama menunggu eksekusi sang istri, Daniel meraih tubuh Medina yang masih menggunakan baju tidur.


Medina sempat terkejut dengan tindakan suaminya. Namun kemudian ia tersenyum penuh kemenangan.


"Kamu sengaja?" Daniel tersenyum penuh arti menatap istrinya yang juga menatapnya dengan wajah memerah.


"Siapa yang mengajari istri kecilku?" Wajah Daniel mulai mendekat membuat Medina gugup. Ia ketahuan jika sedang menggoda suaminya.


"Maafkan aku...." Medina menabrak tubuh Daniel yang separuh telanjang. Menyembunyikan wajahnya pada leher Daniel.


"Tidak ada maaf bagimu, Honey." Daniel yang sudah terbakar gairah langsung membaringkan tubuh istrinya dan membuka pakaiannya.


Kini Daniel mengambil alih. Tidak seperti Medina yang berlama-lama dalam memberi sentuhan. Dengan gerakan lembut, Daniel langsung melakukan penyatuan. Hingga keduanya menggapai kenikmatan surga dunia bersama-sama.


_**To be Continue


_


_

__ADS_1


_


_Maaf Pendek ya.😀❤️**


__ADS_2