
Dengan perasaan yang gugup dan takut Medina mengekori Daniel masuk kedalam kantor.
Daniel terus menggamit jemari istrinya hingga ia sampai dilobby kantor.
Para karyawan yang berada dilantai lobby mulai saling berbisik dan berdesas desus.
"*Apa itu, calon istri Bos Daniel?"
"Tapi mereka terlihat mesra sekali"
"Aku dengar mereka sudah menikah, dan menunggu pesta resepsi"
"Aku pikir, Bos akan menikah dengan wanita yang tipenya tidak jauh dari Mbak Farah, tapi ternyata...."
"Tapi yang ini lumayan cantik juga sih*,..."
"Ya ampun...ga ada kesempatan buat cari perhatian bos lagi hiks.....hiks"
"*Ehhh...tapi siapa wanita itu? sepertinya dari kalangan orang biasa?
"Iya ya..karena setelah kabar putusnya pertunangan Bos dengan Mbak Farah...Bos tidak pernah terlihat menggandeng wanita lain*"
Begitulah kira-kira bisik-bisik tetangga para karyawan yang melihat Daniel menggandeng tangan Medina dengan sangat mesra.
"Ehemm!!" Daniel berhenti didepan meja resepsionis.
"Selamat pagi, Pak" Sapa dua karyawan resepsionis secara bersamaan.
"Apa Arif dan Karin sudah datang?" Tanya Daniel kepada kedua resepsionis.
"Belum, pak.." Jawab keduanya bersamaan.
"Baiklah...sampaikan pada mereka untuk segera menemui ku setelah mereka sampai" Titah Daniel.
Daniel membawa Istrinya masuk kedalam lift khusus.
"Apa wajah kakak selalu seperti itu jika sedang dikantor?" Tanya Medina yang sedari tadi memperhatikan wajah dan sikap tegas suaminya. Ia baru pertama kali melihat sisi lain dari suaminya.
"Hahahaha.... memangnya kenapa dengan wajahku?" Daniel mendekatkan wajahnya pada wajah Medina. Hingga kedua ujung hidung mereka beradu.
"Wajah kakak seperti pemimpin otoriter" Jawab Medina pelan.
"Hahahaha..." Daniel kembali tertawa hingga memenuhi lift.
"Wajah kalem ku, hanya untuk istriku seorang" Daniel mengecup hidung istrinya.
"Apanya yang kalem? Yang ada ini wajah mesum!" Medina mengusuk-usuk hidungnya dengan hidung Daniel. Membuat Daniel semakin gemas hingga keduanya tertawa bersama.
****
Medina benar-benar bosan berada diruangan kerja suaminya sendirian. Sudah 2 jam Daniel pergi rapat dan belum kembali.
Tok..Tok..Tok..
"Permisi Bu" Karin masuk kedalam ruang kerja Daniel.
Medina menyambutnya dengan senyuman. Mereka sudah pernah bertemu ketika saat dibandara dan tadi pagi sebelum Daniel rapat.
"Maaf Bu...saya ditugaskan Pak Daniel untuk menemani ibu" Ucap Karin dengan sopan.
"Hhhmmm....saya bosan disini. Mbak Karin bisa temani saya jalan-jalan disekitar kantor?" Medina menyambut tawaran Daniel melalui sekretaris nya.
"Emmm...kalo itu saya harus bertanya dulu Bu?" Medina mengangguk paham.
Karin segera mengirim pesan kepada Arif untuk disampaikan kepada bosnya.
"Bagaimana?" Tanya Medina kepada Karin.
Karin terus memperhatikan ponselnya. Ia menunggu pesan balasan dari bosnya melalui Arif.
"Kata bos, jalan-jalannya diarea kantor. Tidak boleh keluar" Balas Arif diponsel Karin.
Karin kembali mengetikkan sesuatu diponselnya.
__ADS_1
"Oke" Balasnya.
"Maaf Bu...kata Pak Daniel...ibu hanya diijinkan jalan-jalan sekitar kantor saja. Tidak bisa keluar kantor" Karin menyampaikan pesan Daniel kepada Medina.
"Tidak apa-apa" Jawab Medina lembut.
Dengan ditemani Karin Medina berkeliling kantor. Banyak karyawan yang menyapa dengan hormat setelah Karin memberi tahu jika wanita yang bersamanya adalah istri bos.
Namun tidak sedikit yang bergosip membuat mata Karin panas saat melihatnya.
"Kalian berharap terlalu tinggi untuk bisa mendampingi Bos Daniel...Dasar tidak tahu diri!!" Umpat Karin kesal kepada karyawan yang bergosip.
"Apa ibu Medina lelah?" Tanya Karin.
"Jangan panggil saya ibu, panggil Medina saja" Ucap Medina dengan senyum manis nya.
"Ya ampun...pantas saja bos Daniel tergila-gila sama dia...Gadis ini sangat lembut dan juga manis" Puji Karin dalam hati.
"Itu tidak mungkin, Bu. Disini anda adalah istri bos kami. Dan sekarang kita berada diarea kantor. Jadi tidak sangat sopan jika saya hanya memanggil nama" Ucap Karin panjang lebar.
"Oh iya ya. Baiklah...tapi jika diluar kantor kita adalah teman. Jadi jangan sungkan memanggil nama saja" Medina lagi-lagi tersenyum dengan lembut. Membuat Karin kagum dengan sikap istri bosnya.
"Oke" sahut Karin singkat.
Mereka kembali berjalan-jalan dan Karin dengan telaten memberi tahu seluruh Divisi kantor.
"Honey.." Tiba-tiba suara yang tidak asing ditelinga Medina terdengar.
Medina menoleh ke arah suara dan benar saja...suaminya sedang berjalan menghampirinya.
"Sayang... Sudah selesai rapatnya?" Tanya Medina lembut saat suaminya sudah dihadapannya.
"Sudah" Daniel meraih pinggang Medina hingga tubuh keduanya saling menempel.
CUP!!
Daniel mencium pipi Medina. Membuat Medina membulatkan matanya tidak percaya sekaligus malu. Wajahnya seketika memerah karena menahan malu.
"Karin...terima kasih sudah menemani istriku" Karin mengangguk sopan.
"Ayo.. Honey" Daniel menggamit jemari Medina. Mereka berjalan meninggalkan Karin dan beberapa karyawan yang masih tertegun melihat kemesraan bos mereka.
"Sayang...apa kamu tidak mengundang semua karyawan dikantor ini?" Tanya Medina saat mereka sudah berada diruangan Daniel.
Saat ini Medina berada dipangkuan suaminya.
"Tidak...ada apa?"
"Ohhh pantas saja...Sepertinya banyak karyawanmu tidak tahu jika kita akan mengadakan pesta resepsi" Ucap Medina jujur.
"Aku hanya mengundang kepala divisi dan perwakilan nya" Jawab Daniel.
Medina hanya mengangguk dengan jemarinya yang terus memainkan telinga Daniel.
"Kamu berniat menggodaku? Hem?" Medina terkekeh melihat wajah suaminya yang memerah menahan diri.
"Jangan memancingku, aku tidak segan-segan melahapmu disini" Ancam Daniel dengan seringainya.
Medina tidak gentar dengan ancaman suaminya, ia justru semakin membuat sentuhan-sentuhan lembut untuk menggoda suaminya.
"Kamu hutang penjelasan padaku, Honey" Ucap Daniel menatap istrinya lekat.
"Hutang penjelasan apa?" Medina mengernyit bingung. Ia merasa tidak punya hutang penjelasan apapun kepada suaminya.
"Kemarin kamu membohongiku, jika dirimu belum selesai menstruasi" Tangan nakal Daniel mulai meraba bagian tubuh Medina yang masih tertutup rapat.
"Oohhh...i_itu...." Medina nyengir kuda hingga menampilkan deretan giginya yang putih.
"Katakan...kenapa membohongiku?" Medina merasa tatapan dan aura suaminya mulai berubah.
"Sayang...kamu ingat saat malam pertama kita dikota S? Saat itu aku baru selesai menstruasi dan langsung melakukan nya. Percaya atau tidak... melakukan itu ketika aku baru saja selesai menstruasi sangat membuatku tidak nyaman dan.....sangat perih. Dan gara-gara itu, kamu mengajakku ke dokter kandungan" Jawab Medina panjang lebar.
"Tapi semalam kamu sangat menikmatinya" Sanggah Daniel dengan senyum smirk nya.
__ADS_1
"Setidaknya...ada jeda waktu. Pagi aku selesei dan malamnya kita baru melakukan hal itu" Medina tidak mau disalahkan.
"Sayang...kamu marah?" Medina merangkum wajah suaminya.
"Tidak...Tapi lain kali kamu harus lebih terbuka padaku. Jangan menutupi apapun yang membuatmu tidak nyaman" Pinta Daniel.
Medina mengangguk pelan. Daniel mendekatkan wajahnya dan ketika akan menyatukan bibirnya, terdengar suara ketukan pintu didepan.
"Ck...!!! Mereka menganggu saja" Umpat Daniel kesal.
Medina segera turun dari pangkuan suaminya dan merapikan pakaiannya yang agak sedikit berantakan bkarena ulah tangan suaminya.
"Jangan marah bos...kita yang salah tempat" Sindir Medina dengan tawanya yang khas.
Setelah melihat istrinya selesai merapikan pakaian nya, Daniel menyuruh seseorang yang mngetuk pintu itu masuk.
"Apa aku menganggu kalian?" Tanya Gio ketika sudah masuk.
"Hai...Bro!! Ini kejutan. Kenapa tidak mengabariku dulu?" Daniel bangkit dari kursinya dan menyambut Gio.
"Aku tidak mau menganggu pengantin baru" jawab Gio santai.
"Tapi nyatanya kamu sudah menganggu" Sindir Daniel membuat wajah Medina merona karena malu.
Daniel mempersilahkan Gio duduk. Sementara Daniel duduk disamping Medina.
"Sebaiknya aku keluar" Medina hendak bangkit dari duduknya, namun dengan cepat Gio menahan nya.
"Tidak perlu, Medina. Aku kemari hanya ingin mengobrol santai dengan kalian"
"Kak Gio...terimakasih sudah mengijinkan kami menginap di villa kak Gio" Medina teringat dengan villa yang dipinjamkan Gio kepada mereka beberapa hari yang lalu.
"Jangan sungkan. jika kalian ingin kesana lagi...kabari aku"
"Iya" Jawab Medina singkat.
"Bagaimana persiapan pesta?" Tanya Gio kepada Daniel.
"Hampir seratus persen" Jawab Daniel.
Setelah hampir 1 jam mengobrol, Gio pamit pulang. Gio memang sengaja datang menemui sepupunya untuk menanyakan persiapan pesta resepsi Daniel. Jika ada yang perlu dibantu, Gio dengan senang hati akan membantunya.
Namun Daniel merasa semuanya sesuai dengan keinginannya. Dan belum memerlukan bantuan saudaranya. Apalagi, Daniel selalu dibantu Kak Danu yang terus memantau persiapan. Tentu saja ia tidak perlu bantuan orang lain.
"Bos...Pesawat sudah siap" Arif memberitahu bosnya agar bersiap untuk pergi ke bandara melalui sambungan telepon.
"Baiklah" Daniel menutup ponselnya dan berjalan mendekati istrinya.
"Sudah waktunya aku berangkat. Aku akan mengantarmu kerumah mama" Daniel memeluk Medina.
"Sebaiknya mang Jaka saja yang menjemputku kesini. Dan kamu tidak perlu mengantarku kerumah mama" Ucap Medina memberi ide.
"Kamu sepertinya lebih suka naik mobil dengan si Jaka dibanding diantar suamimu" Medina menghela nafasnya dengan ucapan suaminya.
"Bukan begitu, Tuan tampan. Aku tidak mau kamu terlambat bertemu rekan bisnismu" Jelas Medina takut suaminya salah paham.
"Ya sudah. Ayo kita pulang. Aku sudah sangat merindukan semua orang disana" Ucap Medina antusias. Membuat Daniel tertawa lebar.
****
Raihan tampak sibuk dengan semua berkas laporan perusahaan. Ia tidak ingin ada kesalahan ketika bos nya datang dan mengecek pekerjaannya.
Terlebih pekerjaan nya sekarang bertambah. Dengan terus mengawasi dan memantau segala gerak-gerik keluarga pakde Radiman.
Ditambah ia juga ikut penyelidikan tentang keluarga Medina melalui orang-orang suruhannya. Meski belum ada perkembangan baru, namun ia punya sedikit informasi yang didapat dari orang-orang nya. Dan ia akan menyampaikan kepada bosnya saat Daniel tiba dikota S.
Meski sedikit kewalahan mengurus semuanya, namun Raihan sangat bersikap profesional. Selain itu ia tidak ingin membuat bosnya kecewa.
Raihan bukanlah orang baru dalam lingkungan Daniel. Ayah Raihan adalah orang kepercayaan Papa Daniel dimasanya. Sang Ayah hanyalah seorang gelandangan sebelum bertemu dengan papa Daniel.
Papa Daniel yang saat itu sedang membuka cabang perusahaan dikota S, sengaja merekrut para gelandangan yang tidak punya pekerjaan dan rumah untuk dipekerjakan.
Melihat kinerja ayah Raihan yang sangat loyal, membuat Papa Daniel memutuskan untuk mengangkat nya menjadi tangan kanan Papa Daniel hingga perusahaan berkembang dan sukses seperti sekarang. Bahkan tigapuluh persen saham perusahaan dikota S, adalah milik keluarga Raihan.
__ADS_1