
Pak Sanjaya turun dari mobilnya dan masuk kedalam rumahnya dengan tergesa-gesa.
"Selamat sore, Tuan" Sapa Pak Darmin, pelayan senior rumah keluarga Sanjaya.
"Dimana nyonya kalian?" Tampak aura menegangkan dari wajah pak Sanjaya.
"Nyonya ada dihalaman belakang bersama Tuan muda, Tuan" Jawab Pak Darmin sambil menunjuk halaman belakang.
"Tuan...apa yang terjadi?" Pak Dirman menatap wajy tuannya.
"Darmin, jangan ijinkan siapapun masuk kedalam rumah hingga makan malam tiba" Titahnya sebelum meninggalkan pak Darmin tanpa menjawab pertanyaan.
"Sepertinya kejadian 24 tahun lalu akan terulang hari ini" Gumam pak Darmin saat melihat kemarahan pada diri Tuannya.
Pak Darmin yang telah lama bekerja di rumah Pak Sanjaya sangat hafal dengan sifat Tuannya.
"Ayah..." Ucap Fian saat melihat ayahnya datang.
"Mas...kamu sudah pulang?" Ibu Melani beranjak dari duduknya dan mencium punggung tangan suaminya.
Pak Sanjaya memaksakan senyumanya karena disana ada Fian. Ia tidak mau Fian melihat orangtuanya bertengkar.
"Fian...Ayah bisa minta tolong?" Pak Sanjaya menatap putranya.
"Jangan sungkan Ayah. Aku akan melakukannya untuk ayah" Jawab Fian.
"Hari ini Ayah sangat lelah karena baru saja bertemu klien di kota S. Tolong kamu wakili Ayah bertemu rekan bisnis Ayah di Singapura. Ayah sudah memberitahu Putu untuk menyiapkan segala sesuatunya. Kamu hanya tinggal menyiapkan diri sebagai wakil Ayah" Ucap Pak Sanjaya panjang lebar.
Meski sedikit terkejut, namun Fian mengiyakan. Ini untuk pertama kalinya Ayahnya meminta dirinya untuk menangani bisnis luar negeri mewakili ayahnya.
"Baik ayah...aku akan berusaha semaksimal mungkin" Fian menatap ayahnya dan tersenyum.
"Pergilah... Putu sudah menunggu dibandara" Pak Sanjaya menepuk pundak Fian.
Fian pun berpamitan kepada Ayah dan ibunya. Dan segera keluar dari rumah.
"Mas...kamu tumben sekali meminta Fian mengurus menemui rekan bisnis di luar negeri" Seloroh Ibu Melani kepada suaminya.
"Suatu saat aku juga harus melepasnya untuk memimpin perusahaan" Jawab Pak Sanjaya dengan tatapan tajam.
"Mas...ada apa?" Ibu Melani menyadari tatapan dan helaan nafas suaminya.
"Tidak ada. Satu Minggu lagi adalah hari peringatan kelahiran juga kematian putra kita" Pak Sanjaya menghela nafasnya dengan berat.
"Jika saja dia masih hidup..." Pak Sanjaya terdiam.
"Aku bahkan masih bisa merasakan rasanya menantikan kelahirannya" Lanjut pak Sanjaya.
"Mas...cukup!" Ibu Melani tidak kuasa menahan air matanya.
"Kenapa?" Suara pak Sanjaya tampak berbeda.
"Mas...."
"Apa kau tahu?? sampai detik ini aku masih menyalahkan diriku atas kematian putra kita" Ucap Pak Sanjaya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Mas....." Lirih Ibu Melani.
"Aku yang bersalah...kenapa kau minta maaf?" Pak Sanjaya terus memancing istrinya membuka suara.
"Kamu tidak salah mas....aku yang salah" Ucap Ibu Melani.
"Apa maksudmu?" Pak Sanjaya mulai tidak sabar mendengar kebenaran yang akan disampaikan istrinya.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Pak Sanjaya tampak tidak sabar.
"Mas....maafkan aku" Lirih Ibu Melani dengan berderai air mata.
Pak Sanjaya tidak bisa menunggu lagi. Ia sudah memancing istrinya untuk mengatakan kebenaran namun hanya kata maaf yang selalu keluar dari bibir istrinya.
"Kau ingin mengatakannya atau aku yang akan membongkar kebohonganmu 24 tahun yang lalu" Pak Sanjaya benar-benar tidak bisa menahannya lagi.
Ibu Melani terkejut dan menatap suaminya.
"Mas...."
"Aku memberimu kesempatan untuk mengatakannya, tapi kau....." Teriak pak Sanjaya marah membuat tubuh Ibu Melani gemetar.
"Aku sudah tahu semuanya....sekarang aku memberimu kesempatan untuk mengatakannya" Suara Pak Sanjaya nampak pelan namun penuh penekanan.
Matanya terus menatap Ibu Melani dengan tajam. Hatinya terasa sakit hingga menimbulkan sesak yang luar biasa.
Wanita yang sangat dicintainya, dengan tega sudah membohonginya dan bermain dengan kehidupan putrinya yang tidak berdosa.
Diusianya yang sekarang, ia tidak akan melakukan tindakan fisik kepada istrinya seperti yang pernah ia lakukan saat masih muda. Ia menyadari, Ibu Melani adalah sosok yang sabar dengan semua sikap dan perilakunya yang kasar. Dan hanya dialah wanita yang mampu bertahan dengannya selama menjalani rumah tangganya yang penuh duri.
"Kenapa kau lakukan ini padaku, Mel? Kenapa?" Suara pak Sanjaya memenuhi rumah.
"Mas Aku minta ampun...aku bersalah mas. Tolong maafkan aku" Ucap Ibu Melani sambil bersimpuh di hadapan sauaminya.
"Sekarang katakan padaku, mengapa kau melakukan hal sebesar ini padaku, sebelum aku berbuat sesuatu diluar batasanku" Ancam pak Sanjaya.
"Mas....Awwww!!!!" Pak Sanjaya menarik tangan Ibu Melani dengan sangat kasar menuju kamar mereka.
"Aku akan mendengarkan mu, Melani" Pak Sanjaya menutup pintu dan menguncinya.
"A_aku melakukan semua ini untuk melindunginya. Kalian selalu menekanku dengan meminta bayi laki-laki agar menjadi penerusmu. Mas tidak pernah pernah mendengarkanku dan memberiku kesempatan bicara" Ibu Melani mulai mengeluarkan suaranya.
"Kau bukan melindunginya!! tapi....." Bentak Pak Sanjaya.
"Kamu sudah berjanji memberiku kesempatan untuk berbicara, aku mohon...." Potong Ibu Melani cepat.
"Saat itu aku memberitahumu bahwa anak yang aku kandung berjenis kelamin perempuan, Tapi kamu dan keluargamu dengan lantang menolaknya. Mas juga mengancamku akan menceraikanku jika bayi yang aku lahirkan berjenis kelamin perempuan"
"Kalian lupa...jika kehadiran seorang bayi dalam rahim seorang istri adalah karunia Tuhan. Bukan buatan manusia yang bisa disesuaikan dengan keinginanmu" Meski dengan suara bergetar karena tangisnya, Ibu Melani berusaha meluapkan emosi yang selama ini mengganjal dihatinya.
"Aku takut kalian menyakiti bayiku, maka aku susun rencana dan mengatakan bahwa bayiku telah meninggal"
"Aku tahu aku melakukan kesalahan besar....sangat besar. Bahkan setelah menyerahkan putriku, aku tidak punya kesempatan untuk menjenguk atau melihatnya karena kalian terus mengawasi ku dan aku tidak ingin membuat putriku dalam bahaya"
"Kalian melupakan bagaimana kalian memperlakukan aku dengan tidak adil. Aku hanya berusaha melindungi putriku, apa aku salah??" Suara Ibu Melani terdengar pelan dan menyayat hati.
__ADS_1
"Asal mas tahu...selama 24 tahun aku memendam kerinduan dan rasa bersalah kepada bayiku" Tubuh Ibu Melani tersungkur tak berdaya. Tangisnya semakin dalam dan pilu.
Pak Sanjaya mendesah pelan. Ia sadar, sikapnya dahulu sangat tidak bisa diterima oleh siapapun. Dengan alasan apapun. Menolak bayi yang belum dilahirkan karena tidak sesuai harapannya.
"Maafkan aku...." Ucap Ibu Melani lirih.
Pak Sanjaya ikut berjongkok dan memeluk tubuh Ibu Melani.
"Jika hari ini Mas menemukan kebenarannya, aku mohon padamu....jangan sakiti dia. Jika Mas tidak menginginkan nya, biarkan dia hidup dengan layak" Ibu Melani mendongak menatap wajah suaminya yang sudah kacau.
"Apa kau bodoh??" Bantah Pak Sanjaya.
"Maafkan aku...aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti dulu. Aku tahu dirimu pasti sangat menderita, dan hari ini aku berjanji aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan membayar kesalahan ku dan akan mempertemukan kalian" Ucap Pak Sanjaya bersungguh-sungguh.
"Benarkah? Mas tidak marah padaku?" Pak Sanjaya mengangguk membuat Ibu Melani semakin menangis mendengar kalimat yang diucapkan suaminya.
Keduanya berpelukan dan saling meluapkan kegembiraan dan rasa haru.
"Mas sudah tahu tentang putri kita?" Tiba-tiba Ibu Melani melepaskan pelukannya.
"Aku belum yakin 100 persen jika putri kita adalah Medina istri Daniel. Tapi kalung yang dikenakan Medina adalah milikmu dan wajah nya sangat mirip denganmu. Apa kamu tidak merasakan apapun saat memeluknya?" Pak Sanjaya tampak sangat antusias.
"Apa??? Ya Allah....perasaan dan feelingku benar" Ibu Melani kembali menangis mengingat momen pertama kali bertemu Medina dan memeluknya dengan sangat hangat.
"Mas benar...aku melihatnya memakai kalung itu. Kalung itu satu-satunya benda yang aku berikan kepada Bidan itu sebelum aku benar-benar meninggalkannya"
"Mas.. aku ingin bertemu Medina, putriku. Aku ingin memeluknya dan meminta maaf padanya " Ibu Melani mengguncang tubuh pak Sanjaya.
"Tapi kita tidak bisa gegabah. Kita akan menanyakan hal ini kepada Daniel terlebih dahulu. Aku akan bicara pelan-pelan dengannya, karena sekarang dia saminya. Kamu mengerti maksudku?" Pak Sanjaya mencoba memberi pengertian kepada istrinya.
"Setidaknya kita tenang, putri kita mendapatkan laki-laki yang baik seperti Daniel dan mencintai putri kita" Ucap Pak Sanjaya lagi.
Keduanya kembali berpelukan dan tersenyum bahagia. Namun tiba-tiba saja sesuatu hal menganggu pikirannya.
"Mas....benarkah mas menerima bayi perempuan yang aku lahirkan?" Tanya Ibu Melani berhati-hati.
"Maaf... maksudku....."Ibu Melani sangat tahu dan menyadari sifat arogan suaminya.
"Sudah aku katakan, aku tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Aku sudah tua dan aku membutuhkan anak-anak ku menemani masa tua kita. Aku akan membayar setiap kesalahan yang pernah aku perbuat padamu dan putri kita" Ucap Pak Sanjaya penuh keyakinan. Airmatanya menjadi saksi bahwa dirinya telah berubah.
"Terima kasih, Mas...." Ibu Melani mencium pipi suaminya.
"Jangan berterima kasih padaku. Justru akulah yang harus mengatakan itu padamu. Terimakasih telah bertahan disisiku selama hampir 30 tahun ini. Entah seberapa banyak kesedihan yang aku berikan padamu. Tapi dirimu masih tidak beranjak dari tempatmu dan terus menemaniku. Terimakasih, sayang" Pak Sanjaya mencium kening ibu Melani dengan mesra.
Keduanya tak henti-hentinya merapal syukur karena masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dari kesalahan dan kekhilafan dimasa lalu.
_
_
_TBC
_
_
__ADS_1