Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 94


__ADS_3

Daniel dan Medina sudah berada di dalam mobil yang akan mengantar mereka ke bandara.


"Selama aku pergi, aku tetap bisa mengawasimu. Jadi jangan macam-macam" Ancam Daniel kepada Arif yang duduk disamping mang Jaka.


"Siap bos" Sahut Arif nyengir kuda.


"Den...pak Arif ini orangnya setia dan punya loyalitas tinggi, jadi den Daniel tidak perlu khawatir. Aden sama Nona bisa berbulan madu dengan nyaman" Seloroh Mang Jaka nimbrung obrolan mereka.


"Wahhhh...mang Jaka...terimakasih atas pujiannya" Arif tersenyum lebar mendengar pujian mang Jaka untuk dirinya.


"Mang Jaka belum tahu sisi lain dari Arif. Jadi mang Jaka bisa memuji kamu" Sahut Daniel tidak terima.


Medina yang mendengar tiga laki-laki didekatnya mengobrol seru hanya bisa tersenyum. Sesekali ia mengelus lengan suaminya jika Daniel mulai meninggikan suaranya.


"Kirim email penting yang masuk kepada kak Danu. Selebihnya aku serahkan padamu" Titah Daniel lagi.


Arif hanya mengangguk tanpa menatap bosnya. Seminggu kedepan urusan kantor Daniel akan dipegangnya, dan itu pasti akan menyita seluruh waktu bebasnya meski dihari weekend.


"Gagal lagi cari jodoh" Gumamnya dalam hati.


Setelah beberapa menit, mobil yang ditumpangi Daniel dan Medina telah sampai di bandara.


Daniel membukakan pintu untuk istrinya dan menggandeng tangan Medina dengan mesra.


"Selamat bersenang-senang, Bos" Ucap Arif sebelum Daniel dan Medina masuk kedalam bandara.


"Terimakasih kak Arif dan mang Jaka sudah mengantar kami" Ucap Medina tersenyum.


Keduanya berlalu meninggalkan Arif dan mang Jaka melalui pintu khusus untuk para pemilik pesawat pribadi dan setelah melalui proses pemeriksaan yang lumayan ketat akhirnya mereka bisa menaiki pesawat pribadi milik keluarga Daniel.


Seorang pramugari cantik menghampiri mereka dan menyapa mereka dengan ramah.


"Senang bertemu anda kembali Pak Daniel dan Ibu Medina. Pesawat sebentar lagi akan berangkat, silahkan pakai sabuk pengamannya dan selamat menikmati perjalanan anda" Ucap Pramugari yang pernah melayani keduanya ketika perjalanan pulang dari kota S.


"Terimakasih" Jawab kedua pasangan itu bersamaan.


Daniel berdiri dari tempat duduknya untuk memasangkan seat belt ditubuh istrinya.


"Terimakasih, sayang" Medina mencium pipi Daniel sekilas.


"Aku akan meminta bayaranku nanti. Jadi persiapkan dirimu" Bisik Daniel dengan seringainya.


Medina yang mendengar ucapan suaminya langsung merinding. Ia hanya membalasnya dengan senyuman tipis dibibirnya.



Dan disinilah pasangan pengantin itu berada. Villa terbaik di pulau Fesdhoo, Maldives.


Villa yang berada diatas laut menampilkan pemandangan yang luar biasa indah. Membuat Medina terus bergumam kagum atas maha karya Tuhan yang sangat luar biasa.


"Apa kamu suka, Honey?" Daniel memeluk tubuh Medina dari belakang.


"Sangat suka, terimakasih sayang" Medina menolehkan wajahnya hingga kedua hidung dan bibir mereka beradu.


Daniel tidak ingin melewatkan satu kesempatan apapun bersama istrinya langsung melahap bibir ranum Medina yang sudah menjadi candu baginya.


"Apa kita di New Zealand?" Tanya Medina setelah Daniel melepas ciumannya.


Yang Medina tahu, suaminya akan membawanya berbulan madu ke negara tempat mantan tunangannya sedang menimba ilmu.


"Hahaha...bukan Honey. Sekarang kita berada di salah satu pulau di Maldives"


"Maldives?" pekik Medina dengan wajah terkejutnya.


"Jadi kita tidak akan bertemu......?" Medina menatap wajah suaminya.


"Hei...kenapa terburu-buru? Kita akan menikmati waktu kita berdua dengan berkeliling ke tempat-tempat indah" Daniel mengecup bibir Medina.

__ADS_1


"Dan sekarang lebih baik kita segera mandi sebelum makan malam tiba" Daniel menggendong Medina masuk kedalam bathroom.


****


Malam pun tiba. Daniel hendak memberi kejutan makan malam romantis untuk istrinya.


Kini keduanya telah siap. Medina mengenakan gamis berwarna biru Dongker dan hijab warna peach. Medina tampak cantik meski dengan riasan tipis natural. Sementara Daniel juga terlihat tampan dan gagah, dengan mengenakan jas berwarna senada dengan gamis Medina.


Daniel memang sengaja membeli semua pakaian mereka dengan yang baru untuk pergi honeymoon kali ini. Memilih pakaian dengan warna senada untuk setiap moment mereka selama disana.


Medina sampai tidak habis pikir suaminya menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat sempurna.


"Kamu sangat cantik, Honey" Daniel mengecup bibir istrinya.


"Masyaa Allah...kamu juga sangat tampan, Sayang" Balas Medina memuji Daniel.


Sebelum makan malam, Medina meminta Daniel untuk mengabari keluarganya.


"Sayang...aku ingin menelpon mama" Pintanya pada Daniel.


Daniel melirik arlojinya dan masih pukul tujuh malam waktu Maldives, berarti di Indonesia sekitar pukul sembilan malam.


"Apa disana sudah larut?" Tanya Medina yang tidak tahu jarak waktu antara Indonesia dan Maldives.


"Hanya berbeda waktu dua jam dari waktu disini" Terang Daniel sambil mencoba menghubungi keluarganya.


"Assalamualaikum, ma" Sapa Daniel saat sambungan teleponnya terjawab.


Mereka berdua bicara sebentar sebelum Daniel menyerahkan ponselnya kepada istrinya dan mengubah mode panggilan menjadi video call.


"Halo ma..." Medina menyapa ibu mertuanya dengan senyum merekah.


Setelah berbicara dengan ibu mertuanya, kini bergantian dengan kakak iparnya ,Rani yang mengobrol bahkan Syifa pun ikut antusias menyapa Medina dengan celotehnya yang membuat Medina gemas.


"Mama Niel...akan membawa adik bayi kan saat kembali kerumah?" Pertanyaan polos Syifa membuat Medina gelagapan untuk menjawab.


"Tentu saja sayang...doakan papa dan mama agar bisa pulang membawa adik bayi dalam perut mama" Ucap Daniel dari belakang tubuh istrinya.


"Sayang...." Gumam Medina pelan.


"Baiklah, kami akan makan malam. Sampai jumpa lagi" Daniel memutus sambungan teleponnya.


"Jangan menjanjikan apapun kepada Syifa...aku takut dia akan kecewa jika..." Wajah Medina terlihat sendu.


"Oleh karena itu, kita harus terus berusaha agar harapannya menjadi kenyataan" Daniel mengecup pipi Medina.


Medina mengangguk dan tersenyum cantik.


"Bukan hanya Syifa yang ingin segera menggendong baby. Aku juga sangat ingin menimang anak kandungku sendiri" Ucap Daniel dengan tatapan penuh harap.


Medina bisa merasakan jika suaminya sangat berharap ingin memiliki anak. Medina merasa bersalah karena pernah sempat ingin menunda kehamilannya karena ingin menyelesaikan sekolah paketnya lebih dulu.


"Aku minta maaf" Lirih Medina.


"Kita akan berusaha dan berdoa...semoga secepatnya ada kehidupan lain di dalam sini" Daniel mengelus perut Medina bahkan ia membungkuk dan menciumnya.


Medina hanya tersenyum. Dalam hatinya ia berdoa agar Allah segera mengabulkannya.


"Ayo..." Daniel menggandeng tangan Medina dengan mesra.


Daniel dan Medina berjalan keluar villa untuk makan malam di restoran yang tidak jauh dari villanya.


Suasana malam pantai yang sangat indah dan sarat akan suasan romantis membuat Medina melupakan permintaan perasaan bersalahnya.



Menatap pemandangan indah didepannya mata Medina mulai berkaca-kaca dengan senyum indah terukir dibibirnya.

__ADS_1


Seorang pramusaji mempersilahkan keduanya dengan sopan dan ramah. Ia berjalan mengikuti pasangan itu dari belakang.


"Sayang...kapan kamu menyiapkan ini?" Medina masih memperhatikan sekelilingnya.


"Aku hanya memesan tempat spesial untuk makan malam kita" Ucap Daniel sembari menarik kursi untuk Medina.


"Terimakasih" Ucap Medina saat sudah mendudukkan tubuhnya.


Pramusaji memberikan buku menu kepada Daniel. Sebenarnya Daniel sudah memesan makanan kesukaan istrinya yaitu Steak daging dengan kentang dan tambahan salad, namun Daniel berpikir untuk menambah menu jika Medina menginginkannya.


"Apa yang ingin kamu makan?"


Medina berpikir sejenak sambil membaca buku menu dihadapannya.


"Tidak ada menu nasi sama sekali" Gumam Medina dalam hati.


Sedari pagi, ia belum makan nasi. Bahkan saat makan siang dipesawat, juga tidak tersedia nasi. Itu berpengaruh pada tubuhnya yang terbiasa makan makanan pokok masyarakat Indonesia itu.


"Aku pesan yang ini saja. Tapi dagingnya harus matang dan dipotong kecil" Tunjuk Medina pada salah satu menu dibuku.


Daniel tersenyum. Dugaannya benar jika istrinya akan memesan makanan itu.


"Ada lagi?"


Medina tampak terdiam sejenak.


"Apa ada nasi?" Tanyanya pelan membuat Daniel teringat jika istrinya sejak pagi belum makan nasi. Berbeda dengan dirinya yang sudah terbiasa tidak makan nasi jika bepergian keluar kota atau keluar negeri.


"Does this restaurant serve rice?" Tanya Daniel kepada pramusaji.


"Sorry sir, for orders outside our restaurant menu, you have to order in advance 3 hours before" Jawab sang pramusaji sopan.


Daniel melirik istrinya. Ia merasa bersalah karena tidak memperhatikan menu makanan yang dimakan istrinya.


Melihat wajah datar suaminya, Medina tahu apa yang dikatakan pramusaji itu.


"Tidak apa-apa. Aku akan makan yang tersedia saja" Ucap Medina pelan.


Daniel mengangguk dan tersenyum tampan. Lalu ia menambahkan menu nasi untuk setiap menu yang disajikan selama mereka berada disana.


"Thank you" Ucap Daniel.


"You're welcome" Pramusaji itu membungkuk dan meninggalkan keduanya.


"Maafkan aku...tidak memperhatikan makanan mu" Ucap Daniel.


"Aku harus belajar menyesuaikan diri agar terbiasa" Medina terkekeh.


"Mulai besok pagi, kamu bisa sarapan dengan nasi. Aku sudah memesannya" Daniel mengambil jemari istrinya dan mengecupnya penuh cinta.


Pipi Medina merona merah. Ia sangat tersanjung dengan semua hal romantis yang suaminya berikan untuknya.


"Terimakasih, Sayang" Medina juga mengecup jemari Daniel.


"Kamu tahu, kata-kata itu tidak pernah aku terima. Aku hanya menerima dengan tindakan nyata" Daniel mengerlingkan matanya Dangan senyum menyeringai.


"Dasar mesum!" Medina menampik tangan Daniel.


Dan saat makanan tersaji, keduanya langsung menikmati karena perut yang sudah berbunyi.


Ditemani semilir angin laut yang sepoi-sepoi dan suara ombak yang lembut memecah keheningan malam yang terus beranjak larut.


_


_


_TBC

__ADS_1


_


_Yukk ahhh vote nya dikencengin.,🤗🤩


__ADS_2