
Dengan perasaan yang jauh lebih baik, tanpa takut dan ragu Medina memantapkan langkahnya masuk kedalam kantor Polisi. Apalagi kini disampingnya ada sosok laki-laki yang sudah mengikrarkan dirinya akan selalu menemani dan melindunginya.
Raihan dan seorang pengacara berdiri dari duduknya saat Daniel dan Medina menghampiri mereka.
"Apa kalian sudah bicara dengan pihak kepolisian mengenai tujuan kita kemari?" Tanya Daniel kepada Raihan dan Pengacara.
"Sudah...semua berkas jaminan sudah selesai dan hanya menunggu anda" Jawab Sang pengacara.
Daniel mengangguk paham.
"Bagaimana dengan pihak pelapor?"
"Kebetulan mereka juga berada disini. Mereka menuntut Pak Radiman untuk mengembalikan uang beserta bunganya 10x lipat dari jumlah yang telah dipinjam" Jelas Raihan.
Medina yang sedari tadi hanya menyimak dan mendengarkan, sontak terkejut dengan yang disampaikan Raihan.
"Apa???"
"Be..berapa jumlah hutang Pakde yang harus dibayar?" Tanya Medina dengan suara terbata.
"Totalnya 300 juta, Nona" Ujar Raihan.
"Apa??? Ti...Tiga ratus juta?" Medina membulatkan matanya tidak percaya.
Medina menatap suaminya dengan sendu. Ia sungguh sangat malu, jika harus suaminya yang menanggung semua hutang Pakde nya.
"Bagaimana uang sebanyak itu___" Ucapan Medina menggantung. Tidak sanggup meneruskan karena tubuhnya mulai lemas.
"Honey...tenanglah. Aku akan menyelesaikan semuanya" Tangan Daniel mengusap pipi Medina yang sudah basah karena air mata.
"Duduklah disini. Sebaiknya Kita bertemu Pakde setelah masalah berkas ini selesai dan keluar dari penjara. Aku akan urus semuanya. Kamu mau menunggu sebentar disini, Honey?" Medina mengangguk kemudian Daniel membawanya duduk dikursi tunggu.
"Rai...tolong jaga istriku. Aku akan masuk dengan pengacara ku" Daniel beranjak meninggalkan Medina dan Raihan.
Setelah hampir 1 jam...Daniel dan pengacara keluar dari ruangan. Nampak seseorang yang ikut Keluar dari ruangan itu dan berjalan mengikuti Daniel ke arah Medina.
Medina menoleh dan tersenyum ke arah Daniel. Namun senyumnya memudar ketika maniknya menangkap sosok laki-laki yang pernah akan dinikahkan paksa oleh Pakdenya.
"Mas Zaldy..." Gumam Medina.
"Ndak nyangka, kita bisa ketemu lagi Medina" Ucap Zaldy dengan senyum nakalnya.
Medina langsung mengalihkan pandangannya. Ia kembali menatap suaminya yang terus memperhatikan Zaldy.
"Seharusnya aku lakukan ini sejak dulu. Supaya aku bisa mendapatkan dirimu. Tapi sayangnya, pria kota ini lebih beruntung daripada diriku" Zaldy terus mengoceh.
Medina hanya diam dan menunduk dalam. Hatinya kembali sakit jika mengingat kejadian sebelum ia kabur ke kota beberapa bulan lalu. Sekelebat bayangan buram mampir dan membuat tubuhnya gemetar dan berkeringat dingin.
Sementara Daniel terus menahan emosinya. Tangannya mengepal. Rasanya ingin membogem pria bernama Zaldy. Namun Ia khawatir jika dirinya bertindak gegabah maka akan merusak semua yang sudah disepakati.
"Dengar bung...urusan kita sudah selesai. Aku harap tidak akan pernah berurusan lagi denganmu" Ucap Daniel tegas.
__ADS_1
"Honey...sebaiknya kita segera pergi" Daniel mengambil jemari Medina dan segera membawanya keluar dari sana.
"Rai...urus semuanya dan lakukan sesuai rencana kita. Kita bertemu lagi di hotel" Ucap Daniel sebelum beranjak.
"Baik..bos"
Raihan dan pengacara Daniel masih berada dikantor polisi untuk menyelesaikan berkas-berkas pembebasan Pakde Radiman bersama Zaldy dan pihak kepolisian.
Daniel sudah merencanakan ini sebelumnya bersama Raihan saat dihotel. Setelah berkas pembebasan Pakde Radiman selesai, Raihan akan membawa serta Pakde dan keluarganya ke hotel tempat Daniel dan Medina menginap. Kemudian membawa serta mereka ke kota. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan akan mengacaukan rencana pernikahan Daniel dan Medina.
"Kak...Aku mau bertemu Pakde" Ucap Medina saat mereka sudah berada didalam mobil dan siap untuk melaju.
"Kita akan bertemu dihotel nanti. Raihan akan membawa keluarga kamu ke sana" Jawab Daniel tanpa menoleh ke arah Medina.
Medina mengangguk pelan.
"Apa yang kakak sepakati dengan Mas Zaldy waktu didalam ruangan itu?" Tanya Medina penasaran.
"Ini urusan laki-laki, Honey" Jawab Daniel singkat.
"Dia orang yang sangat licik, jangan pernah berurusan lagi dengannya" Pinta Medina dengan wajah sendu nya.
"Tenang Honey, dia laki-laki licik yang bodoh. secara tidak langsung aku sudah mengurungnya didesanya sendiri melalui kesepakatan yang berkekuatan hukum. Heheheh" Daniel terkekeh mengingat kesepakatan yang ia lakukan dengan pria bernama Zaldy itu.
_Flasback On_
Daniel dan pengacaranya masuk kedalam ruangan seorang perwira polisi yang bertugas menangani kasus Pakde Radiman.
Didalam sudah menunggu Zaldy dan beberapa orang dari pihak kepolisian.
"Selamat pagi Pak Daniel, silahkan" Sahut sang Perwira polisi dan menyalami Daniel.
Daniel mengambil duduk yang sudah disediakan berdampingan dengan sang pengacara.
Sementara dihadapannya, Zaldy terus menatap Daniel dengan tatapan tajam dan sinis.
"Mohon maaf sebelumnya pak, mungkin saya akan langsung ke inti pembicaraan. Karena saya harus segera kembali ke kota J" Ucap Daniel tidak bertele-tele.
Sang perwira polisi itu mengangguk.
"Sebaiknya masalah ini memang diselesaikan secara kekeluargaan. Oleh karena itu, kami sengaja memediasi pihak pelapor dan pihak keluarga terlapor.
Kali ini Daniel mengangguk. Kemudian memalingkan wajahnya ke arah sang pengacara dan memberinya kode.
"Saudara Zaldy, kami sudah membaca tuntunan anda kepada pak Radiman. Oleh karena itu, kami memiliki kesepakatan yang bisa anda lihat dan tanda tangani" Pengcara itu memberi map coklat kepada Zaldy.
Zaldy membuka dan membacanya. Raut wajahnya bahkan berubah-ubah saat point demi point berkas kesepakatan itu ia baca.
Daniel terus memperhatikan Zaldy dengan wajah datar.
"Ck...Membaca berkas tipis seperti itu saja kenapa harus lama sekali. Sangat membuang waktu" Suara Daniel mengejutkan Zaldy yang masih membaca berkasnya.
__ADS_1
Zaldy tertawa hambar.
"Tentu saja saya harus jeli. Siapa tahu, anda mau menjebak saya" Sahutnya sinis.
"Maaf...tapi itu bukanlah cara berbisnis saya, Bung" Jawab Daniel ketus.
Zaldy menyerahkan berkas yang ia pegang kepada pengacara Daniel.
"Aku mau nominalnya ditambah jika aku harus menyetujui point-point lainnya" Ucap Zaldy seraya tersenyum menyeringai.
"Baiklah...Tambahkan 2 kali lipat nya pak" Perintah Daniel kepada Pengacara nya.
Pengacara mengangguk dan segera mengganti nominal yang tertera.
Sementara beberapa orang polisi yang berada disana terus menyaksikan dan ikut menandatangani berkas kesepakatan kedua belah pihak sebagai saksi. Daniel sudah memperhitungkan segala sesuatunya agar tidak ada dampak buruk yang akan mengganggu keluarganya.b
"Terimakasih atas waktu dan bantuannya, pak" Daniel menyalami semua perwira polisi disana.
"Saya senang berbisnis dengan anda, Bung Daniel" Ucap Zaldy dengan senyum lebarnya.
Daniel tidak menanggapinya dan bergegas keluar dari ruangan itu. Ia tidak ingin istrinya menunggu terlalu lama dan membuatnya khawatir berkepanjangan.
Bagaimana Zaldy tidak tersenyum lebar. Tuntunan yang ia ajukan semula hanya 300 juta kini menjadi 2 kali lipatnya. Dan diluar dugaannya sang rival setuju tanpa harus bicara alot. Tentu ia sangat senang. Ia menang banyak dan kaya mendadak. Hutang yang semula hanya 30 juta menjadi puluhan kali lipat.
Namun dibalik itu semua tanpa Zaldy sadari dipoint terakhir yang dibuat Daniel.
_Flashback Off_
Daniel melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia ingin menikmati waktu berduanya dengan sang istri.
"Honey...kamu tidak mau ke suatu tempat?" Tanya Daniel memecah keheningan.
"Sayang...apa urusan Pakde benar-benar sudah selesai?" Suara Medina terdengar khawatir.
"Kamu tidak percaya suamimu bisa membereskannya dengan mudah, Honey?"
"Bukan...begitu. Hanya saja aku sangat penasaran dengan kesepakatan yang kalian buat. Aku takut mas Zaldy akan terus mengganggu Keluarga kita setelah kejadian ini" Medina menghela nafasnya.
Dadanya begitu terasa sesak jika harus mengingat masa lalunya. Ia tidak ingin, masalah sekecil apapun menghampiri suami dan keluarga barunya.
"Sayang..kapan kita pulang?" Tanya Medina.
Ia sudah sangat merindukan mama mertua dan si gemas Syifa.
"Kita pulang setelah bertemu keluarga Pakde Radiman" Medina mengangguk.
"Aku sangat lapar, Honey" Daniel melirik jam tangannya.
Sudah pukul 11.30 siang. Saat melihat sebuah restoran, Daniel membelokkan kemudinya ke sana.
"Kita istirahat makan dan sholat, lalu kita kembali ke hotel" Ucap Daniel sebelum keluar dari mobil lebih dulu.
__ADS_1
Medina tersenyum dan mengangguk. Ia membuka sabuk pengaman yang masih melekat ditubuhnya.
Melihat rona wajah suaminya buang tampak biasa dan justru terlihat tenang dan bahagia, membuat Medina sedikit merasa lega. Seharusnya ia tidak pernah meragukan suaminya dalam hal apapun.