Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 58


__ADS_3

Setelah mendapatkan makanan yang didapat, Bude Tatik dan yang lainnya berpamitan pulang. Daniel menatap wajah mereka satu persatu, batin Daniel mengatakan hanya Billa yang tulus menyayangi istrinya.


"Sampai ketemu lagi ya mbak..." Ucap Billa saat memeluk Medina.


"Sekolah yang rajin ya" Sahut Medina melepaskan pelukan mereka.


Setelah keluarga Pakde Radiman pulang, Medina dan Daniel pun beranjak menuju mobil yang telah disediakan Raihan.


"Mas Raihan, terimakasih banyak dan maaf selalu merepotkanmu" Ucap Medina sebelum ia masuk kedalam mobil.


"Jangan sungkan, Nona. Itu sudah tugas saya" sahut Raihan.


Daniel tersenyum dan melirik istrinya.


"Rai, sewa orang untuk mengawasi mereka. Laporkan kegiatan apapun yang mereka lakukan selama dikota ini. Aku tidak mau jika sampai mereka berulah dan membuat masalah lagi" titah Daniel sebelum masuk kedalam mobil.


"Siap, bos" Jawab Raihan singkat.


Daniel kemudian masuk kedalam mobil yang langsung melaju ke bandara.


Medina memeluk suaminya yang duduk disebelahnya.


"Sayang...kita tidak bawa oleh-oleh untuk orang dirumah?" Tanya Medina.


"Tenang, Honey. Semuanya sudah disiapkan Raihan"


"Apa??"


"Tapi aku mau memilih oleh-oleh sendiri untuk Mama dan Syifa" Medina mengerucutkan bibirnya kesal.


Daniel melirik jam tangannya. Masih ada waktu jika mereka mampir sebentar untuk membeli buah tangan yang diinginkan istrinya.


"Baiklah...tapi kita hanya punya waktu sedikit, Honey" Medina langsung berbinar senang.


Daniel memerintahkan supir untuk berhenti disebuah gerai yang menjual oleh-oleh kota itu.


Dengan senyum lebar Medina masuk kedalam gerai. Saking senangnya, hingga dirinya hampir terjatuh karena tersandung karpet yang berada didepan pintu masuk.


"Honey...hati-hati" Daniel menangkap tubuh Medina yang hampir oleng.


Medina hanya nyengir kuda. Membuat suaminya gemas dan mencubit hidung kecil istrinya.


"Maaf..."


Mereka berdua masuk kedalam gerai dan mulai memilih diselingi canda dan tawa kecil. Dan saat mereka sedang asyik memilih, seorang perempuan baya yang sedari tadi memperhatikan Medina mendekati mereka.


"Kamu Medina toh?" Tanya ibu paru baya itu ragu.


Medina menoleh dan menatap ibu paruh baya itu dengan intens. Ia menatap tidak percaya jika dirinya akan bertemu orang yang sudah seperti malaikat penolong baginya.


"Kamu Medina kan?" Tanya ibu paruh baya itu lagi.


Medina mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Tanda diduga Daniel, Medina langsung memeluk ibu itu dengan sangat erat. Tangisnya pun pecah seketika.


"Kamu masih ingat sama ibu?" Tanya ibu itu dengan suara bergetar.


Medina hanya mengangguk karena masih terisak.


Daniel yang melihat pemandangan dihadapannya hanya diam tersenyum. Ia meyakini jika perempuan yang dipeluk istrinya itu adalah orang yang pasti dikenal baik oleh Medina.


"Medina tidak akan lupa sama ibu sampai kapanpun" Ucap Medina disela tangisnya.


"Honey..." Daniel mengelus pundak Medina dengan lembut. Membuat Medina tersadar dan melepaskan pelukannya.


Medina menatap suaminya dan meraih lengan Daniel.


"Bu Bidan...kenalin ini suami Medina. Sayang...ini Bu Bidan Nurul. Aku pernah bekerja diklinik bersalin beliau. Beliau juga selalu menjadi malaikat penolong ku" Medina memperkenalkan suaminya kepada bidan Nurul.


Bidan Nurul mengulurkan tangannya dan tersenyum ke arah Daniel.


"Saya Daniel bu.." Daniel menyambut tangan Bidan Nurul.


"Bagaimana kabarmu, Nak. Ibu sangat mengkhawatirkan kamu setelah kamu dibawa Radiman dan istrinya" Kini suara Bidan Nurul bergetar. Ia sangat senang bisa bertemu dengan gadis yang beberapa tahun ini di carinya.


"Medina baik Bu...alhamdulillah. Apa ibu masih buka praktek?" Tanya Medina yang dijawab anggukan oleh Bidan Nurul.


"Kenapa tidak mampir ke klinik waktu kamu pulang?" Tanya Bidan Nurul.


"Emm..itu karena harus ada yang kami urus, Bu. Jadi tidak sempat mampir" jawab Medina.


"Jadi kalian yang mengeluarkan Radiman dari penjara? Orang sekampung geger, karena Radiman bebas dengan mudah" Ucap Bidan Nurul.


"Sebenarnya...pembebasan Pakde itu karena beliau akan menjadi walinikah Medina, Bu" Terang Medina.


"Hah? maksudnya?" Bidan Nurul bingung.


Kemudian Medina pun menceritakan semuanya kepada bidan Nurul. Tanpa ada yang terlewat sedikitpun.


"Apa kalian buru-buru?" Tanya Bidan Nurul setelah mendengar cerita Medina.


"Sebenarnya, kami harus segera ke bandara untuk pulang ke kota J setelah selesai membeli ini" Jawab Medina.


"Jika kalian tidak buru-buru, bisakah kita bicara sebentar? Sebentar saja. Ada yang mau ibu sampaikan sama Medina. Dan ini sangat penting" Bidan Nurul menatap Daniel seolah meminta ijin agar dirinya bisa bicara dengan Medina.


"Bicara penting apa Bu?" Tanya Medina penasaran.


Bidan Nurul kembali menatap Daniel. Ia benar-benar tidak bisa lagi menyimpan rahasia besar yang selama ini diembannya.


"Hanya setengah jam, Mas. Saya mohon" Bidan Nurul itu memohon kepada Daniel. Sementara Medina hanya menatap bingung dengan sikap Bidan Nurul yang terkesan memaksa.


"Sa__"


"Baiklah...tapi sebaiknya kita mencari tempat yang nyaman untuk bicara" Daniel memotong ucapan Medina.


"Aku akan membayar ini dulu. Kalian bisa tunggu didepan" Daniel meninggalkan Medina dan Bidan Nurul.

__ADS_1


Setelah Daniel pergi, Bidan Nurul dan Medina beranjak keluar gerai oleh-oleh. Dan menunggu Daniel selesai membayar belanjaan mereka.


Tidak butuh waktu lama, Daniel sudah keluar dengan menenteng beberapa kantong oleh-oleh yang dipilih istrinya.


Setelah menyimpan belanjaannya dibagasi, mereka pergi ke sebuah restoran yang tidak jauh dari Bandara. Daniel memilih demikian setelah mendapat saran dari Bidan Nurul.


"Ibu mau pesan minum atau makanan apa?" Tanya Medina setelah mereka sudah tiba direstoran dan memilih meja.


"Tidak perlu, ibu hanya ingin bicara dengan mu, Medina" Tangan Bidan Nurul menyentuh jemari Medina.


"Apa yang mau ibu bicarakan?" Tanya Medina penasaran.


Bidan Nurul menoleh kearah Daniel.


"Saya akan keluar sebentar, kalian bicaralah dengan santai" Seolah mengerti tatapan Bidan Nurul padanya, Daniel bangkit dari duduknya dan hendak pergi.


"Sebaiknya, kamu juga harus tahu tentang rahasia istrimu" Langkah Daniel terhenti sementara Medina mengernyitkan keningnya.


"Rahasia Medina?" Tanya Daniel dan Medina secara bersamaan. Keduanya saling pandang.


Bidan Nurul meraih tasnya dan mencari sesuatu didalam sana.


"Selama 22 tahun ini, ibu menyimpan ini dari ibumu. Ibu kandungmu" Bidan Nurul menyodorkan sebuah dompet kecil berbahan batik ke hadapan Medina.


"Ibu Kandung Medina??" Medina menatap bidan Nurul dengan tatapan bingung.


"22 tahun yang lalu, ibu pernah menolong persalinan seorang gadis yang dibawa ibu dan bapakmu ke klinik ibu. Dia melahirkan anak perempuan yang cantik. Tapi karena satu hal, ibu kandungmu meminta Agus dan Rahmi untuk membawamu dan membesarkanmu tanpa orang lain tahu" Jelas Bidan Nurul.


Medina yang mendengar cerita bidan Nurul hanya bisa terdiam dengan airmata yang bercucuran.


"Jadi siapa orangtua kandungku, Bu?" Tanya Medina dengan terisak.


"Ibu hanya tahu nama pendeknya, Nirmala. Dia datang dari ibukota dan sepertinya bukan dari keluarga biasa. Terlihat dari liontin yang ia titipkan pada ibu"


Daniel menarik tubuh Medina kedalam pelukannya.


"Jadi pakde Radiman bukan paman kandung Medina?" Tanya Daniel dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin melihat istrinya itrinya semakin sedih.


Bidan Nurul menggeleng cepat membuat Daniel sangat terkejut. Sementara Medina semakin terisak dipelukan Daniel.


"Maaf, ibu baru mengatakan semuanya kepadamu. Selama 2 tahun kamu dirundung malang karena kematian Agus dan Rahmi berturut-turut. Tentu ibu tidak tega untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi saat ibu datang ke rumahmu, tetangga disana mengatakan jika kamu dibawa Radiman dan istrina" Bidan Nurul menatap Medina yang masih dipeluk Daniel.


"Honey...kamu harus kuat" Ucap Daniel menenangkan Istrinya.


"Setidaknya, saat ini kita tahu kebenarannya. Dan kita akan mencari orangtua kandungmu sampai ketemu. Aku berjanji, Honey"


Medina mengangkat kepalanya dan menatap suaminya. Kemudian menatap Bidan Nurul.


"Maafkan ibu, nduk" Sesal bidan Nurul.


Medina menggeleng pelan dan meraih tangan Bidan Nurul.


"Jangan meminta maaf, ibu tidak salah. Mungkin semua ini adalah takdir yang harus Medina jalani. Dan terima kasih karena ibu sudah menyimpan rahasia ini dari semua orang. Tapi apakah pakde tahu tentang Medina?" Tanya Medina.

__ADS_1


"Tentu saja mereka tahu. Mereka sangat tahu jika Rahmi tidak bisa melahirkan anak karena Rahmi mandul" Jelas Bidan Nurul.


"Yang ibu khawatirkan...mereka akan menggunakan rahasiamu untuk memeras kalian" Daniel dan Medina terbelalak tidak percaya.


__ADS_2