
Setelah melaksanakan sholat ashar, Danu dan Daniel berpamitan dengan sang mama.
"kalian hati-hati dijalan ya. Mama titip salam untuk pengantin dan keluarganya" Ucap mama Safira.
"iya ma" Jawab Danu menyalami mamanya.
Danu melirik Daniel sekilas yang sedang menatap lekat Medina.
"ehemm" Danu berdehem kencang lalu menarik tangan Daniel agar masuk ke mobil.
"kak...sebentar aja. Please.." rengek Daniel pelan.
Danu melepas tangan Daniel. Dan Daniel kembali mendekati mamanya dan Medina berdiri.
"selesai acara, Niel akan langsung pulang" Ucap Daniel memeluk sang mama.
Mama Safira mengangguk dan tersenyum hangat.
Daniel menatap Medina, yang berdiri dibelakang sang mama dengan wajah yang tertunduk. Perjalanannya kali ini entah mengapa terasa berat.
"Medina..." Medina kaget dan mendongak cepat.
"jaga mamaku...jangan kerjakan apapun kecuali untuk mamaku" pinta Daniel dengan wajah sendu.
"nak..kamu berlebihan sayang" Mama Safira mengusap punggung Daniel lembut.
"atau kamu mau, kami ikut serta?"
Sontak saja perkataan sang mama membuat Daniel melepaskan pelukannya. Wajah Daniel berubah seketika.
Mama Safira terkekeh kecil.
Tin...tin..tin..
Danu menekan klakson mobil beberpa kali.
Daniel memutar bola matanya malas.
"Daniel pamit ya ma,..Med___" kata-katanya menggantung karena mendengar bunyi klakson lagi.
"iya..iyaaa. Yang ga sabaran ketemu anak istri tercinta" Daniel masuk ke dalam mobil. Ia duduk dibelakang kemudi.
"Assalamualaikum" Danu dan Daniel melambaikan tangan.
"wa'alaikum salam" Jawab Medina dan Mama Safira bersamaan.
Medina langsung menggandeng tangan mama Safira masuk ke dalam rumah.
Dalam perjalanan ke dalam rumah, Medina hanya terdiam dan menunduk.
__ADS_1
"kamu kenapa nak?" Usapan halus tangan Mama Safira membuyarkan lamunan Medina.
Mereka sudah duduk di sofa diruang tengah.
"Ga pa-pa, Bu" Medina tersenyum tipis.
"ucapan Daniel jangan terlalu didengarkan. Dia suka asal bicara" mama Safira menenangkan.
"Cuma lagi keingetan pakde dan budhe...Medina belum kasih kabar sama mereka sejak 4 bulan lalu" Jawab Medina berbohong.
Wajah sendunya semakin nampak ketika ia menyebut pakde dan budenya di kampung.
Sebenarnya perasaannya saat ini entah bagaimana,, Medina juga bingung. Semenjak kepergian Daniel ke Bandung, perasaan yang dirasakan nya saat ini sangatlah campur aduk. Perasaanya menjadi tidak biasa setelah malam itu saat Daniel membantunya mengobati luka dikeningnya sembari mengomeli.
"Astaghfirullah...ada apa denganku?? Aku ga boleh seperti ini.. tidak...tidak..."
Medina menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Mencoba mengusir pikiran-pikiran tidak karuan yang bermain-main di kepalanya.
"ayo..ikut ibu..." Mama Safira yang sudah berdiri menarik tangan Medina yang duduk tidak jauh darinya.
Medina menurut mengikuti langkah pelan mama Safira didepannya. Hingga mereka sampai di suatu ruangan besar yang penuh dengan buku-buku yang tertata rapih di rak dan almari.
"Ibu punya perpustakaan?" Tanya Medina dengan manik yang membulat sempurna.
"Sebenarnya ini ruang kerja alm suami ibu, dan karena ibu hobbi membaca buku dan koleksinya sudah sangat banyak..jadilah ruang kerja ini juga dijadikan perpustakaan kecil-kecilan" ungkap Mama Safira dengan tangan memilah buku di rak.
"Bahkan buku-buku jaman SMP sampai kuliah anak-anak juga masih disimpan rapih disini"
"Masyaa Allah" Ucap Medina.
"Bolehkah Medina pinjam buku-buku disini?" Tanyanya dengan senyum merekah.
"Tentu saja nak..."
"oya nak...boleh ibu bertanya?" Mama safira menghampiri Medina yang sedang membaca salah satu buku.
Medina menoleh lalu mengangguk pelan.
"apa yang membuatmu tidak melanjutkan jenjang pendidikan SMA mu?"
Medina tersenyum sendu. Mengatur nafas yang mulai terasa berat.
"Saya masih kelas 2 SMU, saat bapak saya kecelakaan dan menyebabkan kondisi tubuhnya lumpuh total. Sementara ibu tidak bisa berbuat apa-apa karena harus mengurus bapak. Lalu saya memutuskan untuk berhenti sekolah dan memilih menggantikan bapak ditempat bapak bekerja sebelumnya. Meski ibu menentang keputusan saya tapi akhirnya ibu menyetujuinya. Karena Bagaimanapun, kehidupan kami harus tetap berjalan dan pengobatan bapak tidak boleh berhenti"
Medina terdiam. Air matanya tanpa dikomando mengalir deras membasahi pipi yang bersih tanpa jerawat.
Mengingat masa lalunya yang membuat dadanya sesak.
Memutuskan untuk berhenti sekolah karena keadaan yang tidak bisa ia elak. Menjadi tulang punggung diusia belia dan harus meninggalkan bangku sekolah yang sangat ia cintai. Mengubur cita-cita yang sudah ia ukir sedari kecil demi kelangsungan hidup keluarganya dan pengobatan bapaknya.
__ADS_1
Meski harapan nya akan kesembuhan bapaknya kala itu sangatlah tipis, tapi bagi Medina perjuangan untuk mengobati tidak pernah berhenti. Hingga bapaknya tutup usia setelah hampir satu tahun tidak berdaya dengan sakitnya.
Tak sampai disitu, setelah sepeninggal bapaknya, Medina kembali harus menelan duka kehidupan ketika sang ibu juga didiagnosa terkena penyakit komplikasi. Medina yang kala itu masih harus bekerja di dua tempat harus pandai mengatur waktu agar bisa mengurus ibunya yang sakit keras.
Dibenaknya hanya punya satu keinginan dan tujuan yaitu melaksanakan tanggung jawab nya sebagai tanda bakti seorang anak kepada kedua orangtuanya.
Duka memdalam semakin dirasakan Medina, 1 tahun ibunya berjibaku melawan sakit, akhirnya beliau dipanggil Sang Khalik.
2 tahun berturut, Bapak dan ibunya pergi menghadap sang Khalik. Iman nya kepada Allah SWT membuatnya menjadi gadis yang tegar dan kuat.
"Allah SWT lebih menyayangi Bapak dan ibu" Kata-kata penyemangat itulah yang selalu ia gumamkan untuk mengusir dukanya yang mendalam.
Medina sesegukan didalam pelukan mama Safira.
"Lalu siapa bude dan pakde itu? Kemana mereka saat kalian kesusahan?" Tanya mama Safira.
"Mereka kerabat jauh dari bapak. Mendengar bapak meninggal akhirnya mereka datang dan mengajak saya ikut mereka dan pindah kota.
Tapi...." Medina tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia semakin mengeratkan pelukannya.
"apa yang mereka lakukan?"
Medina melepaskan pelukannya dan mengangkat wajahnya yang sudah merah karena menangis.
"Awalnya Medina membantu usaha mereka membuka rumah makan kecil-kecilan. Hampir 2 tahun Medina bersama mereka. Tapi..Medina kecewa dengan mereka karena diam-diam telah menerima lamaran dari anak seorang kepala desa tanpa sepengetahuan Medina"
"saat itu Medina merasa Medina menjadi alat pembayaran untuk hutang-hutang mereka. Karena itulah Medina memilih kabur daripada harus menikah dengan orang yang tidak Medina kenal..apalagi tidak Medina Cintai"
Mama Safira kembali memeluk Medina dengan erat. Suara tangis mama safira semakin terdengar kencang. Membuat Medina semakin tidak bisa menahan tangisnya dan mengeratkan pelukannya.
"Apa cita-cita kamu?" Tanya ibu Safira melepas pelukan.
Medina menyeka air mata yang membanjiri pipi mama Safira.
"Dulu Medina pengen jadi pengacara. Medina ingin sekali membuat badan hukum dan Membantu orang-orang dikampung yang selalu terjerat dan terjebak kasus hukum yang selaku merugikan mereka" Ucap Medina menerawang.
"apa kamu mau melanjutkan sekolahmu yang tertunda?" Mama Safira menangkupkan kedua tangannya diwajah Medina.
Medina menggeleng.
"Kamu bisa ikut kelas paket nak"
"jika kamu mau, kita akan cari sekitar sini dan mendaftarkan kamu" ucap Mama Safira.
Medina terdiam.
Sebenarnya ia sangat sengat dengan tawaran ibu Safira, tapi dia juga harus bekerja menjaga ibu Safira.
"Kalo kamu khawatir dengan pekerjaanmu menjaga ibu..Kamu bisa ambil kelas diweekend saja" Mama Safira seolah mengerti raut wajah Medina.
__ADS_1
"ibu tidak mau dan tidak suka ada anak secantik dan sebaik kamu sampai tidak lulus sekolah" Canda mama Safira.
Medina mengangguk lalu mengulum senyum nya yang semakin menambah ayu wajahnya.