Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 27


__ADS_3

Setelah sekitar 1 jam Daniel berkonsultasi dengan guru pembimbing disekolah penyetaraan Medina, akhirnya Medina diijinkan untuk mengikuti kelas dari rumah. Dimana nantinya akan ada guru pembimbing yang datang secara khusus untuk memberikan pelajaran kepada Medina dan saat ujian akan digabungkan dengan peserta yang lain.


Beberapa orang guru pembimbing yang berada diruang itu langsung menghampiri Medina saat Medina dan Daniel akan beranjak keluar ruangan.


"Medina...Selamat atas pernikahannya ya. Semoga Samawa dan bahagia ya" Ucap salah seorang dari mereka. Diikuti semua orang yang disana.


"Terimakasih semuanya" Jawab Medina membalas jabat tangan mereka dengan memasang senyum terbaiknya.


Saat hendak kembali melangkah, suara seorang guru laki-laki seumuran Daniel menghentikan mereka.


"Medina..." Panggil sang guru.


Medina berbalik dan melihat sang guru yang sering mengantar Medina pulang.


"Pak Rizal..." pekik Medina.


Guru yang bernama Rizal itu menghampiri Medina. Oh..jangan lupakan wajah Daniel saat ini. Posisi ia berdiri bahkan hampir menempel dengan Medina. Seolah ingin mengungkapkan, bahwa Medina sudah ada yang punya.


Medina melirik sekilas Daniel yang meringsek mendekat.


"Selamat atas pernikahan mu..." Ucap Rizal


"Terimakasih banyak pak. Mohon maaf kalo Medina sering merepotkan pak Rizal" Ucap Medina sedikit gugup. Bukan gugup karena ia sedang bicara dengan gurunya. Lebih karena Daniel yang berdiri sangat dekat dengannya. Bahkan Medina bisa mencium aroma Parfum maskulin milik Daniel yang membuatnya seperti orang mabuk.


Rizal mengangkat tangannya hendak menyalami Medina. Namun langsung disambut cepat oleh Daniel.


"Terimakasih atas perhatian dan bimbinganya" Ucap Daniel datar.


Medina melihat Daniel bingung.


"Ayo..Honey" Daniel menarik tangan Medina keluar dari ruangan menuju mobil.


Medina merasakan aura Daniel berbeda setelah bicara dengan Rizal. Ia memutuskan untuk diam dan membuka pembicaraan selama perjalanan.


"Kak...kenapa kita kesini?" Tanya Medina saat mobil Daniel berbelokkan kendaraannya kearah parkiran Sebuah Mall terkenal.


"Ikut aja...nanti kamu akan tahu" jawab Daniel singkat.


Mendengar jawaban singkat Daniel, Medina mengira Daniel sedang marah padanya.


Daniel tidak ingin memberitahukan Medina jika tujuan mereka kesini adalah untuk mengambil pesanan cincin pernikahan yang sudah Daniel pesan seminggu yang lalu.


Daniel menggandeng tangan Medina saat mereka masuk ke dalam mall. Medina mengikuti langkah Daniel memasuki sebuah gerai yang menjual perhiasan.


"Untuk apa kita kesini kak?" Medina masih belum tahu maksud Daniel mengajaknya ke sana.


"Selamat datang Tuan Daniel..." Sapaan seorang manager toko perhiasan membuat Daniel tidak menjawab langsung pertanyaan Medina.


"Siang pak Ronald" Balas Daniel.


Mereka berjabat tangan dan saling melempar senyum.


"Silahkan duduk Tuan, Nona"


"Apa pesananku sudah siap?" Tanya Daniel setelah duduk disofa yang tersedia di ruangan manager itu.


"tentu saja, sebentar saya ambilkan" Manajer toko itu langsung beranjak ke sebuah lemari kaca yang berada di ruangan tersebut dan mengambil kotak perhiasan kecil berwarna soft pink.


"Ini tuan..pesanan anda. Silahkan dilihat dulu" Manajer itu memberikan kotak itu kepada Daniel.


Daniel menerimanya dan langsung membuka kotak perhiasan itu.

__ADS_1


"Sangat cantik..." Ucap Daniel setelah membuka kotak dan melihat isinya.


Medina yang sedari tadi diam kini semakin penasaran.


"Bagaimana menurut mu honey?" Daniel menyodorkan kotak yang masih terbuka itu kepada Medina.


"Masyaa Allah...Cantik sekali kak" Medina memuji isi kotak kecil itu dengan wajah takjub. Baru kali ini Medina melihat dengan mata kepala sendiri, sebuah cincin bertahta berlian kualitas nomer Wahid.



"Apa kakak membelinya untuk mama?" Tanya Medina penasaran.


Daniel menggeleng dan tersenyum.


"Hei...aku akan menikah. Tentu saja aku membelinya untuk calon istriku" Ucap Daniel sedikit menggoda.


Medina terkejut dan tersipu malu.


Tingkah keduanya tidak luput dari perhatian sang manajer. Sang Manajer hanya tersenyum dan melontar sedikit komentar.


"Anda sangat beruntung Nona.."


Daniel mendongak mendengar ucapan manajer.


"Anda salah pak...Saya adalah pria yang sangat beruntung karena mendapatkannya" Bantah Daniel tanpa memalingkan wajahnya yang menatap Medina.


Medina kembali tersipu malu. Wajah putih ayu nya kini berubah pink kemerahan.


"Baiklah..kami harus pergi. Terimakasih Pak Ronald" Daniel bangkit dari duduknya dan menyalami pak Ronald dengan diikuti Medina.


"Terimakasih selalu memberi kepercayaan kepada kami. Semoga Tuan dan Nona bahagia selalu" Balas sang manajer tulus.


"Aamiin...Terimakasih" Kali ini Medina yang menjawab dengan lembut.


Medina yang tiba-tiba menjadi pendiam penurut..hanya pasrah mengikuti langkah Daniel. Ia sadar...meski mencoba menolak, Daniel tetap akan bersikeras menggandengnya.


Daniel memilih tempat duduk yang nyaman untuk mereka berdua. Melambaikan tangan kepada pelayan. Dalam hitungan detik pelayan datang ke meja mereka dengan membawa sebuah buku menu.


"Kamu mau makan apa, Honey?" Daniel menatap Medina setelah membuka buku menu.


Medina menggelengkan kepala. Tatapan matanya seolah mengisyaratkan bahwa ia tidak mengerti menu yang terpampang dibuku. Ia tidak mau asal sebut dan pesan, khawatir yang ia pesan tidak sesuai dengan seleranya. Dan justru akan menjadi mubazir jika tidak dimakan.


"Karena kakak yang mengajakku, maka aku akan makan yang kakak suka dan pesankan untukku" Daniel tersenyum puas atas jawaban Medina.


Ia faham maksud ucapan Medina.


"Gadis pintar" Puji Daniel dalam hati.


Setelah menyebutkan beberapa menu, pelayan pergi meninggalkan meja mereka.


"Jangan khawatir...Kamu akan ketagihan makan makanan disini" Ucap Daniel setelah meneguk air minum miliknya.


"Benarkah?" Tanya Medina tidak percaya.


"Baiklah..Medina akan coba dan memberi nilai nanti" Ucap Medina dan disambut gelak tawa Daniel.


"Kak...aku permisi ke toilet sebentar" Daniel mendongak ketika Medina pamit untuk ke toilet restoran.


"perlu ku antar Honey?" Mata Medina langsung melotot ke arah Daniel.


"Hahahaha..." Daniel kembali tergelak.

__ADS_1


Medina sudah beringsut dari duduknya. Saat hendak melangkah tangan Daniel mencegahnya hingga membuat Medina kaget.


"jangan lama dan hati-hati" Pesan Daniel sebelum benar-benar pergi.


Medina menggeleng-gelengkan kepalanya. Calon suaminya benar-benar posesif akut.


***


Saat Daniel dan Medina telah menyelesaikan makan siangnya. Tiba-tiba seorang pria paruh baya menghampiri meja mereka.


"Daniel....??" Pekik pria itu.


Seketika Daniel mendongak dan menatap wajah pria itu. Medina yang duduk dihadapan Daniel juga ikut menoleh ke arah suara.


"Om Harry ...???" Daniel tidak kalah kaget setelah menatap wajah pria itu. Daniel langsung berdiri dan mengulurkan tangannya.


"Apa kabarmu, Niel?" Tanya Om Harry. Tangannya bahkan menepuk-nepuk pundak Daniel.


"Aku baik. Om apa kabar?" Daniel balik bertanya.


"Seperti yang kamu lihat..." Ucap Harry seraya merentangkan kedua tangannya kesamping.


Kini maniknya menatap Medina yang juga sudah berdiri.


"Siapa dia??" Tanya Harry penasaran.


Daniel tersenyum lebar dan beranjak mendekati Medina.


"Kenalin om...Ini Medina. Dia calon istri Daniel" Ucap Daniel tegas.


"Medina kenalin. Ini om Harry...Papa nya Farah." Lanjut Daniel.


Medina dan om Harry saling tatap. Harry tidak percaya, mantan tunangan putrinya sudah memiliki calon istri.


"Assalamualaikum om...Saya Medina" Sapa Medina sopan.


Harry tampak melongo tidak merespon sapaan Medina. Daniel melihat itu dan tersenyum puas.


"Lama tidak bertemu. Kau banyak berubah. Termasuk seleramu" Manik Om Harry menatap sinis Medina yang menunduk.


Daniel tahu kemana arah ucapan mantan Calon Mertuanya.


"Om benar. Aku memang sudah banyak berubah. Dan pengalaman pahit banyak memberiku pelajaran berharga" sindir Daniel. Bahkan wajahnya kini berubah sinis dan datar.


Om Harry terdiam mendengar perkataan Daniel.


"Baiklah om, kami harus pergi. Banyak yang harus kami urus dan persiapkan untuk pernikahan kami. Benarkan Honey?? Sampai bertemu lagi om" Daniel menatap Medina dan segera menarik tangan Medina meninggalkan Om Harry yang masih berdiri disana.


Harry tidak bergeming dan hanya Menatap punggung Daniel dan Medina keluar meninggalkan restoran.


"Aku tidak yakin kau telah melupakan putriku begitu saja. hahaha..Aku bahkan kasihan melihat gadis itu. Ejek Om Harry.


"Tapi....rasanya aku tidak asing dengan wajah gadis itu. Ah...sudahlah. Gadis dengan wajah kampungan banyak dijumpai dimana-mana." Batin nya dalam hati.


_


_


_


_

__ADS_1


_


_


__ADS_2