
Didepan meja resepsionis, Arif menyambut ramah Daniel dan Medina.
Meski sedikit terkejut melihat Medina, namun Arif mencoba menutupi nya dengan senyum ramahnya. Ia ingat kejadian saat di Bandara.
"Selamat pagi, bos" Arif melirik Daniel sebentar lal mengalihkan pandangannya ke arah Medina.
"Selamat pagi, Bu"
Kening Medina berkerut dalam, namun ia segera menyadari bahwa dirinya sedang berada didalam kantor suaminya.
"Pagi" Sahut Medina akhirnya.
Melihat situasi kantor yang sudah ramai, merek bertiga langsung melangkah menuju lift khusus untuk para petinggi perusahaan.
Melihat situasi aman, Medina yang hendak menyapa Arif harus terpotong karena Daniel lebih dulu menyapa Arif.
"Apa persiapan rapatnya sudah selesai?"
"Sudah, bos" Jawab Arif singkat.
Ketiganya kemudian terdiam sampai pintu listf berfsnto dan terbuka.
"Selamat pagi pak" Sapa Karin dari meja kerjanya.
"Pagi" Jawab Daniel sambil terus melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Bos kenapa?" bisik Karin ditelinga Arif.
Arif yang memang tidak tahu menahu mengangkat kedua bahunya keatas.
"Aku langsung keruang rapat. Jika bos keluar dan mencari ku, katakan padanya aku disana" Ucap Arif kepada Karin.
Sementara Karin yang mrasa bingung dengan tingkah ketiga orang yang baru ditemuinya, menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Ada apa dengan mereka?" Tanyanya dalam hati.
Sementara itu didalam rumah kerja Daniel sedang mengganti pakaiannya diruang khusus yang terdapat disana dibantu Medina. Meski dalam kondisi kesal Medina tidak melupakan kewajibannya.
"Kenapa dari tadi diam?" Tanya Daniel pura-pura.
Medina melirik dengan ekor matanya dan kembali menyelesaikan tugasnya memasang kancing kemeja Daniel.
"Oh...aku ingat. Karena dua wanita itu ya?" Daniel dengan senyum smirk nya terus menggoda Medina.
Medina masih saja diam hingga selesai membantu Daniel bersiap. "Sudah selesai. Aku bisa pulang sekarang?". Medina menatap wajah suaminya. Meski ada rasa sakit dihatinya ketika suaminya mengakui jika ada dua wanita spesial yang mengisi hidupnya.
"Pulang?" Kening Daniel berkerut.
"Iya." Jawab Medina singkat dan pelan.
Medina membalik badan dan membereskan pakaian kotor milik Daniel dan memasukkannya kedalam tas miliknya.
Saat hendak melangkah keluar ruang ganti, Daniel menarik pinggang Medina dan memeluknya dengan sangat erat.
"kamu tidak ingin tahu, siapa dua wanita spesial dalam hidupku?" Tanya Daniel sedikit berbisik.
"Aku tahu" Jawab Medina ketus.
"Benarkah?" Daniel menjauhkan wajahnya namun tetap memeluk Medina.
"Mereka pasti mantan-mantan terindah kamu" Ucap Medina dengan suara bergetar.
Medina melepaskan pelukannya suaminya, berjalan keluar ruang ganti dan duduk disofa.
Daniel tersenyum melihat istrinya yang cemburu. Ia sangat senang, Medina mwncemburuinya. Karena itu tandanya Medina sangat mencintainya.
Daniel berjongkok dihadapan Medina. Tangannya mengangkat dagu Meidna yang sedari tadi tertunduk.
"Dua wanita itu adalah kamu dan mama. Kalian adalah wanita spesial dalam hidupku" Daniel menyeka airmata yang membasahi pipi Medina.
"Apa?"
"Tapi kakak bilang akan bertambah..." Airmata Medina semakin deras.
"Tentu saja bertambah...jika ada anak-anak yang lahir dari rahim mu dan mengisi rumah kita dengan tawa riang mereka" Seketika Medina langsung memeluk tubuh suaminya. Ia merasa sangat malu karena sudah terbakar cemburu.
Medina yang kesal karena sudah dikerjai, memukuli punggung suaminya untuk meluapkan kekesalannya.
"Pergilah!" Medina mendorong tubuh Daniel secara tiba-tiba lalu memalingkan wajahnya.
"Aku tidak akan pergi sebelum melihat senyum mu" Bukannya menuruti permintaan suaminya, Medina justru kembali menangis.
Melihat istrinya kembali menangis, Daniel kembali memeluk Medina dan menenangkannya.
"Aku mencintaimu dan terimakasih karena sudah cemburu" Ucap Daniel.
"Aku tidak cemburu" Medina melepaskan pelukannya.
Melihat sikap manja istrinya Daniel tertawa dan terus menggoda Medina hingga sebuah senyum terukir manis di wajah Medina.
"Kakak akan rapat bukan? pergilah" Medina mendorong tubuh kekar suaminya saat Daniel hendak mencium bibirnya.
"Tapi aku belum minum vitamin ku" Daniel mengusap bibir Medina dengan jarinya.
__ADS_1
"Kakak anggap bibirku apa?" Medina memekik saat tahu maksud perkataan suaminya.
"Mood booster" Ucap Daniel sebelum akhirnya bibir Daniel dan Medina menyatu dan saling ******* dengan lembut.
Dan saat mereka masih asyik berciuman, pintu ruang kerja Daniel terbuka tanpa mereka sadari.
Melihat pemandangan didepannya, Danu menutup pintu kemudian berdehem untuk memberitahu penghuni ruangan.
"Ehemmm!!"
Mendengar suara yang dikenalnya keduanya langsung melepaskan pagutan bibir mereka. Dan menoleh ke arah suara.
"Kakak?" Pekik Daniel sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
Sementara Medina, jangan ditanya bagaimana keadaannya saat tahu seseorang memergokinya sedang berciuman dengan suaminya.
Wajah merah Medina menandakan ia sedang menahan malu. Bahkan dirinya tidak berani menyapa kakak iparnya.
"Maaf jika aku mengganggu kalian, tapi rapat sudah akan dimulai" Ucap Danu mengingatkan agenda rapat yang segera dimulai.
"Aku segera kesana"
"Medina...maaf aku tidak tahu jika kamu juga disini. Tapi aku harus membawa pangeranmu ke ruang rapat" Danu merangkul bahu adiknya dan menyeretnya keluar ruangan.
"Kak...tunggu dulu" Daniel menghentikan langkahnya.
"Honey....jika kamu membutuhkan sesuatu kamu bisa meminta bantuan Karin" Ucap Daniel sebelum akhirnya ia dibawa pergi oleh kakaknya.
Medina langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Merasa tidak nyaman karena sudah kepergok bermesraan didalam kantor. Dan itu pertama kalinya ia lakukan dan sangat memalukan.
Medina merebahkan tubuhnya disandaran sofa, ia tahu menunggu suami bekerja pasti tidaklah mengenakan juga membosankan. Tapi apa mau dikata, suaminya tidak mengizinkannya pulang.
Saat hendak membuka tasnya, pintu ruangan terbuka.
"Permisi, Bu" Karin tersenyum ke arah Medina.
"Mbak Karin...Ayo masuk" Medina meletakkan kembali tasnya.
"Pak Daniel meminta saya menemani Bu Medina" Ucap Karin saat sudah mendekat.
"Tidak ada orang disini, jangan lupa kesepakatan kita" Medina tersenyum cantik.
"Kamu perlu sesuatu?" Tanya Karin melihat istri bosnya terlihat bosan.
"Bisakah kamu membawaku jalan-jalan? Aku sangat bosan disini" Medina bangkit dari duduknya.
"Tapi sekarang masih jam kantor" Karin duduk disamping Medina.
"Ah....kamu benar" Medina kembali menghempaskan tubuhnya disofa.
"Apa kamu lapar?" Karin terkekeh.
"Aku ingin makan es buah atau salad atau rujak buah" Medina menelan salivanya sambil membayangkan semua makanan yang disebutnya.
"Aku akan memesannya" Karin bangkit duduknya dan hendak keluar ruangan.
"Kenapa kita tidak makan disana saja?" Medina memberi ide.
"Hhhmmm...aku akan meminta ijin bos melalui Arif" Karin mengeluarkan ponselnya dan langsung mengirim pesan kepada Arif.
Sambil menunggu balasan pesan dari Arif, Medina menghubungi Mama Safira yang sempat tertunda. Meski sebentar namun sudah sangat mengobati rasa rindu Medina kepada mama mertuanya.
"Baiklah...nanti akan Medina sampaikan" Ucap Medina diakhir obrolannya dengan mama Safira diponsel.
Baru saja mengakhiri sambungan teleponnya, ponsel Medina kembali berdering.
"Ibu Melani" Gumam Medina.
"Assalamualaikum Bu"
"........"
"Iya... Medina masih dikantor kak Daniel"
"......."
"Baiklah...sampai bertemu nanti siang" Medina menutup ponselnya dan menatap Karin.
"Apa sudah ada balasan?"
"Arif bilang...Bos tidak mengijinkan" Jawab Karin sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Medina.
"Apa?" Medina menggeleng pelan.
"Aku sudah pesankan makanan yang kamu inginkan" Ucap Karin.
"Ya ampun....suamiku benar-benar sengaja mengurungku" Gumam Medina membuat Karin tersenyum.
"Bos Daniel sangat mencintai kamu" Karin tersenyum penuh arti membuat Medina tersipu.
"Apa kamu dan Kak Arif tidak ada hubungan khusus?" Tanya Medina penuh selidik.
"Apa??" Karin membulatkan matanya.
__ADS_1
"Jangan pura-pura terkejut dengan pertanyaanku. Kalian sangat serasi, kau tahu?" Medina sangat antusias.
"Dia pria yang tidak peka" Lirih Karin membuat Medina melongo.
"Jadi benar kamu menyukai kak Arif?" Medina menyentuh pundak Karin untuk memastikan pendengaran nya.
Karin mengangguk pelan. Dan seketika itu Medina memeluk sekretaris suaminya yang kini menjadi sahabatnya.
"Tapi aku mohon padamu, jangan ceritakan hal ini kepada siapapun. Ini hanya rahasia kita berdua" Ucap Karin dengan wajah memelas.
"Memangnya kenapa? Bukannya justru bagus jika kak Arif tahu perasaanmu?" Medina sedikit bingung.
"Aku takut dia menolakku" Karin menunduk.
"Lagipula...aku dengar dia sedang mendekati salah satu karyawan wanita disini. Aku tidak mau kecewa karena terlalu berharap" Medina tidak tega melihat wajah sendu Karin.
"Jangan berkecil hati, masih ada kesempatan sebelum janur kuning melengkung didepan rumah" Medina mencoba menghibur sahabatnya.
Karin tertawa renyah mendengar ucapan Medina.
"Terimakasih".
"Jangan berterima kasih dulu sebelum kamu berusaha dan berhasil" Medina menyemangati.
Hampir dua jam keduanya mengobrol sambil menikmati makanan yang tersedia. Bahkan ini sudah pesanan yang ke 4, namun rapat belum usai.
Daniel sempat menemui Medina sebentar saat break rapat dan kembali ke ruang rapat untuk melanjutkan rapat.
Medina sudah menyampaikan pesan ibu Melani kepada suaminya bahwa saat makan siang Pak Sanjaya dan ibu Melani akan mampir ke kantor Daniel. Dan Daniel menyetujui.
"Hampir waktu makan siang" Karin melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Iya...tapi perut kita sudah banyak menampung makanan" Medina tertawa kecil.
"Baiklah...aku keluar sebentar untuk mengecek jadwal bosku selanjutnya" Pamit Karin.
"Terimakasih sudah menemaniku" Ucap Medina sebelum sahabatnya keluar ruangan.
"Sama-sama". Karin tersenyum dan meninggalkan ruangan.
Medina mengusap perutnya yang sudah terasa kenyang karena banyak makanan yang ia makan.
"Sepertinya selera makanku naik drastis setelah pulang honeymoon" Gumam Medina merasa jika berat badannya naik.
"Tapi hampir semua makanan yang aku makan rasanya luar biasa enak. Mana bisa aku menolaknya" Medina membayangkan semua makanan yang ia santap hari ini dan beberapa hari ke belakang.
Sambil menatap pemandangan luar jendela ruangan suaminya Medina mencoba mengusir rasa bosan dan jenuhnya.
Hingga suara pintu ruangan terbuka, ia belum sadar karena saking asyiknya.
"Honey...." Panggil Daniel melangkah masuk.
Daniel meletakkan Tablet diatas meja kerjanya dan mendekati istrinya. Tidak ingin membuat istrinya terkejut, Daniel berbisik lalu memeluk Medina dari belakang.
"Kamu melamun?"
"Sayang....apa rapatnya sudah selesai?" Tanya Medina.
"Hmmm". Jawab Daniel sambil mengendus aroma wangi Medina.
"Lepas...nanti kak Danu masuk dan melihat kita" Medina mencoba melepaskan tangan Daniel yang melingkar di pinggangnya.
"Kak Danu sudah kembali ke kantornya, dia titip salam untuk kamu" Jawab Daniel masih menahan tubuh istrinya.
"Sayang....pak Sanjaya...." Belum juga Medina menyelesaikan ucapannya, ponsel Medina berdering.
"Itu pasti ibu Melani" Medina berhasil melepaskan diri dan langsung mengangkat sambungan ponselnya.
"Assalamualaikum Bu"
"......."
"Ah...baiklah. kami akan turun" Ucap Medina sambil menatap Daniel.
"......"
"Wa'alaikumsalam"
"Sayang....Mereka sudah dilobby" Medina merapikan tas nya.
"Mereka mengganggu saja" Gumam Daniel pelan. Ia berjalan gontai keluar ruangan bersama Medina untuk menemui pak Sanjaya dan istrinya.
_
_
_**TBC
_
_Terus dukung cerita ini dengan cara vote, like dan komen positif nya. Terimakasih 😊😘**
_
__ADS_1
_