
Medina kembali merasa kesepian setelah keluarga Daniel kembali pulang kerumah dengan sedikit adegan drama melankolis karena Syifa menangis tersedu-sedu tidak mau berpisah dengan Medina.
Mereka akan berpisah untuk sementara waktu karena Medina dan Daniel akan melakukan perjalanan ke kampung halaman Medina untuk berziarah ke pusara kedua orangtuanya. Dan tentu saja untuk meminta restu pakde agar mau menjadi wali nikah bagi Medina.
Medina yang sedang asyik membersihkan dapur tidak menyadari jika Daniel sedang berdiri didekatnya dan menatapnya.
Daniel melihat istrinya telah selesai berbenah dan langsung memeluknya dari belakang.
"Astaghfirullah!!!โ pekik Medina kaget. Tangan Medina terangkat dan menyentuh dadanya.
"Kamu kaget ya? Maaf Honey" Daniel menyadari perbuatannya. Lalu menciumi puncak kepala Medina sebagai permintaan maaf.
"Sudah aku bilang tidak usah dikerjakan sendiri. Aku tidak mau melihatmu kesakitan lagi" Ucap Daniel lirih.
"Aku ga papa, kak"
"Kak...kamu sudah mandi?" Tanya Medina karena mencium aroma wangi dari tubuh suaminya.
"hu'um"
"Aku belum mandi. Jangan peluk, aku bau keringat" Medina berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya. Ia merasa tidak pede.
Sementara Daniel semakin memeluk erat. Tidak mempedulikan ucapan Medina.
"Kak...aku susah nafas kalo kamu peluk kayak gini" Akhirnya Daniel mengalah dan melepaskan pelukannya.
Medina berbalik badan menghadap Daniel. Tangannya melingkar erat dileher Daniel.
Medina terseyum lembut saat menatap suaminya.
Entah mengapa berdekatan dengan suaminya dan menghirup aroma parfum suaminya membuat Medina selalu kehilangan rasa malu dan canggungnya. Aroma parfum Daniel seperti obat bius yang membuat dirinya tidak sadar diri untuk menyentuh bahkan mencium Daniel lebih dulu.
"Honey...Apa kamu udah selesai?" bisik Daniel lirih ditelinga istrinya.
Tangan Daniel terangkat dan menyelusup ke dalam baju rumahan yang dikenakan Medina.
"Maaf....Belum. " Medina paham arah pembicaraan suaminya. Dengan gerakan cepat Ia mencoba menghentikan aktifitas tangan suaminya namun tidak bisa.
Medina memaklumi Hasrat dan gairah suaminya karena belum mendapatkan hak sepenuhnya sebagai seorang suami.
"Kak..." Medina menelan kasar ludahnya. Dia terdiam sejenak sebelum mengungkapkan isi hatinya.
"Hemm"
Daniel hanya berdehem..karena bibirnya yang sibuk memberi kecupan di leher dan tengkuk Medina.
"Mmmm....Mau aku bantu keluarin?" Tanya Medina hati-hati.
Sungguh ia sangat malu. Tapi rasa bersalahnya mampu mengalahkan segalanya. Ia hanya tidak ingin membuat suaminya kecewa karena dirinya belum memberikan yang terbaik untuk suaminya.
__ADS_1
"Hah?" Daniel mendongak menatap Medina.
Mendapat tatapan suaminya, Medina menunduk malu.
"Kamu serius, Honey?" Tanya Daniel serius. Karena ia tidak ingin memaksa istrinya untuk berbuat lebih dari sekedar ciuman dan bercumbu.
Medina mengangguk pelan dengan wajah yang masih tertunduk.
Daniel tertawa bahagia. Ia langsung menggendong istrinya melangkah masuk ke dalam kamar dan mendudukkan Medina a di atas ranjang.
"Sayang...Aku belum mandi" Medina menahan dada Daniel yang sudah membungkuk untuk menciumnya.
Daniel terkejut dengan ucapan istrinya.
"Apa?? Coba ulangi?"
"apanya? Ga ada pengulangan" Bantah Medina malu-malu.
"Tadi panggil aku apa?" Goda Daniel sembari mengelus pipi Medina dengan buku jarinya.
Medina tertawa kecil.
"Sayang..." Jawab Medina pelan. Kemudian ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia tidak ingin Daniel melihat wajahnya yang merah karena malu.
Senyum Daniel semakiin mengembang. Ia meraih dagu Medina dan mengangkat wajah istrinya. Tatapan mereka bertemu. Tatapan dalam dan menghanyutkan.
Daniel menunduk untuk mengambil ciuman dibibir merah istrinya. Menyatukan kembali bibirnya dengan bibir merah istrinya yang selalu menjadi candu. Ciuman hangat dan penuh gairah. Hingga keduanya kehabisan nafas.
"Aku mau ke kamar mandi" Medina langsung menjauh dari tubuh Daniel dan berlari masuk ke kamar mandi.
Daniel tersenyum lebar dan membanting dirinya diatas ranjang besar mereka yang empuk.
Setelah 10 menit, Medina sudah keluar dari kamar mandi. Menuju Raung pakaian dan mengganti baju.
Medina mendekati Daniel yang sudah berbaring diatas ranjang. Ia terlihat cantik sederhana dengan balutan daster tanpa lengan dengan panjang selutut.
Daniel segera menarik tubuh istrinya ke atas ranjang.
"Kak...Bersihkan dirimu dulu" pinta Medina saat Daniel sudah mengambil posisi di atasnya.
Daniel memutar bola matanya malas.
"Aku sudah mandi, Honey" sahutnya.
"Aku tahu. Tapi kamu tetap harus mengambil air wudhu sebelum tidur" Jelas Medina.
"Sebaiknya anda bergegas tuan suami tampan, sebelum istrimu berubah pikiran" Ancam Medina karena Daniel belum beranjak dari posisinya.
Daniel membuka mulutnya tidak percaya.
__ADS_1
"Honey...kamu sudah berani mengancamku Sekarang" Medina terkekeh. Ia mendorong tubuh Daniel agar masuk kedalam kamar mandi.
Keduanya tertawa karena tingkah konyol mereka sendiri.
Tidak lama Daniel keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk dipinggang.
Medina menoleh seketika saat pintu kamar mandi terbuka Ia tahu suaminya telah selesai dan ia sudah menyiapkan dirinya.
Namun alangkah terkejutnya Medina ketika ia melihat suaminya yang berjalan mendekat ke ranjang hanya membalut handuk ditubuhnya.
"Sa..sayang. Ka..kamu...man..di lagi...??" Suara Medina terbata-bata karena ia sangat terkejut.
Medina menelan ludahnya dengan susah payah. Tiba-tiba saja tubuhnya mendadak menjadi kaku dan tegang. Padahal dirinyalah yang sudah menawarkan diri untuk membantu Daniel meraih pelepasannya malam ini.
"Kamu kenapa honey?" Goda Daniel. Ia sadar istrinya sedang menegang dan gugup.
"Kamu tidak melupakan tawaranmu bukan?" Tangan Daniel sudah meraih tengkuk Medina. Sedikit menariknya agar menepis jarak dan kesempatan itu tidak lagi disia-siakan Daniel. Ia menyatukan bibirnya dan bibir Medina yang kenyal dan terasa manis baginya.
Berawal ciuman lembut namun lama kelamaan ciuman lembut itu berubah ciuman panas yang cepat dan menuntut.
"Kak...pela___" Daniel tidak memberi jeda sedikitpun. Otak dan pikirannya tidak dapat berpikir jernih karena sudah diselimuti gairah yang memuncak.
"Maaf...Honey" Daniel menghentikan aktifitasnya saat Medina berteriak kesakitan akibat ulah Daniel yang menggigit p***ng buah dada istrinya.
Daniel hendak beranjak dari atas tubuh Medina untuk menyudahi aktifitas mereka namun Medina menahan lengan kekar suaminya.
"Sayang...pelan-pelan. Oke??" Ucap Medina pelan.
Daniel menatap wajah istrinya lekat. Kemudian ia tersenyum menyeringai.
"Kamu tidak menyesal?" Medina menggeleng.
"Aku sudah bilang. Jadi...aku akan melakukannya"
Daniel tersenyum lebar dan bahagia. Ia tidak menyangka istri pemalu nya kini berubah menjadi berani dan percaya diri.
"As you wish, Honey"
Daniel kembali melancarkan aktifitasnya. Kali ini ia bermain lembut sesuai permintaan sang istri.
Meski tidak mendapatkan hak sepenuhnya, namun Daniel merasakan dirinya meraih puncak kenikmatan yang luar biasa hingga mengerang dengan kuat.
Medina yang menjadi penyeimbang permainan suaminya, kini terkulai lemas. Ia hampir kehabisan tenaga karena butuh waktu 1,5 jam untuk membuat suaminya meraih puncak dan melepaskan tembakannya.
"Terimakasih Honey" Daniel mengecup bibir dan wajah Medina dengan lembut dan penuh perasaan.
Medina tersenyum sekilas dan terlelap seketika karena sudah merasakan kantuk yang luar biasa.
Daniel menggeser tubuhnya dan memeluk Medina erat. Tangannya terangkat menarik selimut untuk menutupi tubuh bagian istrinya yang polos. Kemudian mendaratkan kecupan diwajah dan kepala Medina. Hingga akhirnya ia ikut terlelap dalam buaian cinta yang hangat.
__ADS_1
Maaf ya gaesss, Authornya ga ahli bikin kata seksi gurih nyos soal adegan ranjang. Biasanya sih author langsung ke praktek๐๐makanya bingung waktu nulis chapter ini. Jadi hasilnya begitu yaa.๐๐