
Sesuai janji, pagi-pagi sekali Daniel membawa Medina ke suatu tempat.
"Sayang....kita mau kemana?" Tanya Medina dengan pandangan yang terus memperhatikan jalanan.
"Kamu akan tahu nanti." Jawab Daniel dengan senyum manis.
Medina mengerucutkan bibirnya. Ia menunduk untuk menyapa si jabang bayi. "Sayang...papamu mulai main rahasia-rahasiaan dengan mama." Ucapnya pada sijabang bayi.
Daniel menoleh sekilas dan terkekeh melihat istrinya yang sedang mengajak bicara calon bayi mereka.
Daniel mengulurkan satu tangan nya untuk ikut menyentuh perut Medina.
"Ini kejutan, sayang..Bukan main rahasia." Ucap Daniel dengan senyuman yang meneduhkan.
Hingga mobil yang dikendarai Daniel masuk ke sebuah tempat wisata yang terkenal di ibukota.
"Kita akan jogging disini, dipinggir pantai." Ucap Daniel saat sudah memarkirkan kendaraannya.
"Baby.... nikmati kahir pekan kita." Daniel menunduk untuk mengecup perut istrinya lalu beralih mengecup bibir Medina dengan lembut.
Medina langsung menyunggingkan senyumnya. Ia tahu maksud dari suaminya yang mengajaknya kesini.
"Aku baik-baik saja, Kak." Medina menahan tangan suaminya yang hendak keluar dari mobil.
"Tapi aku melihatmu tidak baik-baik saja, Hon." Daniel menatap istrinya lekat.
Dan saat ditatap seperti itu, Medina langsung mengalihkan pandangannya.
"Ayo turun." Medina membuka pintu mobil lalu keluar meninggalkan Daniel yang masih didalam mobil.
Daniel menghela nafasnya karena istrinya malah menghindar darinya.
"Waahhhh..." Cicit Medina saat melihat pemandangan laut dengan pasir putih didepannya. Sepoi angin pagi yang senjuk menayapa wajahnya hingga membuat hijab dan pakaiannya bergerak tertiap angin.
"Ayo sarapan dulu." Daniel memeluk Medina dari belakang dan membuat usapan halus diperut istrinya.
Daniel sudah membuat reservasi disebuah restoran disana.
Medina tersenyum dan mengikuti langkah suaminya.
"Lihat sayang....papa memberi kita kejutan." Medina berbicara pada calon bayinya sambil mengusap perutnya. Wajahnya berbinar dengan senyum menggoda Membuat Daniel tersenyum dan gemas hingga ia tidak tahan untuk mengambil ciuman dibibir ranum Medina.
"Jangan mencium sembarang tempat." cicit Medina setelah ciuman suaminya terelpas.
"Kamu sangat menggemaskan, Honey." Daniel mendudukkan Medina pada kursi yang ada disana.
Setelah sarapan Daniel mengajak Medina berjalan santai dipinggir pantai. Daniel terus menggenggam tangan Medina hingga Medina merasa jika suaminya sangat berlebihan. Dan ia ingin menggoda suaminya.
"Awww...!!!" Pekik Medina dengan menganggkat satu kakinya yang bertelanjang ke udara.
"Honey....Ada yang menusuk kakimu?" Daniel berjongkok memeriksa kaki Medina.
Medina hanya tersenyum dengan semua perhatian suaminya. "Mungkin kulit kerang yang sudah kosong." Bohong Medina
"Sudah aku bilang...pakai sandal saja. Lihat kan akibatnya jika kamu terus membantah." Medina terkekeh mendengar ocehan suaminya.
"Ayo duduk dulu disana." Daniel menggandeng tangan Medina ke tepian dengan pasir yang masih kering.
"Sebaiknya kita pulang." Ucap Medina.
"Apa kamu lelah? Kita bisa beristirahat dulu dihotel." Daniel memperhatikan wajah istrinya.
"Aku kekenyangan saat sarapan tadi, makanya sedikit mengantuk." Medina tertawa geli.
Daniel terdiam menimbang. Rencana untuk berdua dengan istrinya seharian tidak mungkin harus berantakan.
"Oke...kita istirahat dihotel saja." Daniel mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi hotel yang berada diarea wisata itu.
"Kenapa di Hot__"
CUP!!
Daniel membungkam bibir istrinya dengan sebuah kecupan. Maniknya mengisyaratkan agar Medina tidak membantah lagi. Medina langsung mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
Daniel yang sedang bicara dengan pihak hotel, langsung memeluk istrinya.
Setelah melakukan reservasi, Daniel mengajak Medina ke hotel. Tidak jauh dari tempat mereka jogging, hanya sekitar 300 meter. Daniel sudah mengantisipasi ini, jika istrinya kelelahan ia bisa langsung memesan hotel terdekat..
Saat sampai di hotel, Medina langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang besar dan empuk. Ia tidak kuat lagi menahan kantuk. Bahkan dua kakinya masih terjuntai dilantai.
Daniel melihat istrinya dan mengingat sesuatu. "Hon...kamu belum minum vitamin." Ucap Daniel sambil mencari-cari vitamin ibu hamil di tas milik istrinya.
"Hmm." Sahut Medina dengan mata yang masih terpejam.
"Minum vitaminmu dulu, baru tidur." Daniel memeluk punggung Medina lalu menegakkan nya hingga Medina membuka matanya.
"Hehehe...maaf merepotkan mu, sayang." Medina menelan 2 butir vitamin untuk kesehatan diri dan bayinya.
"Istirahatlah." Daniel kembali membaringkan Mdina setelah selesai..
"Terimakasih, sayang." Medina tersenyum dan mengalungkan kedua tangannya pada leher Daniel.
Kedua mata mereka bertemu. Daniel menatap wanitanya dengan dalam. Mencoba menggali sesuatu yang tengah disembunyikan oleh istrinya.
"Temani aku." Pinta Medina dengan suara manja.
"Kamu ingin bercinta?" Daniel mengambil ciuman dengan rakus. Membuat Medina terkejut.
"Aku hanya ingin ditemani, siapa bilang ingin melakukan itu." Gerutu Medina saat ciuman mereka terlepas.
"Ohh....baiklah Tuan Putri. Dengan senang hati hamba menemani Tuan Putri." Daniel merebahkan tubuhnya disamping Medina.
Medina langsung memeluk tubuh suaminya. Dan melakukan kebiasaan mengusuk-usuk wajahnya pada dada bidang suaminya.
"Jangan pergi sampai aku bangun." Ucap Medina dengan mata terpejam.
"Tidak akan." Sahut Daniel sambil mengusap punggung istrinya dengan lembut..
Dengan sabar Daniel tidak beranjak dari samping Medina hingga istrinya terlelap dengan nyenyak.
Ponsel Daniel berdering dan saat itulah Daniel baru beranjak dari ranjang.
"......"
"Aku mengajak Medina jalan-jalan."
"....."
"Mama dirumah? Kenapa tidak mengabari?"
"...."
"Kami akan pulang jika Medina bangun."
"....."
"Putri mama baik-baik saja. Mama tidak perlu khawatir. Aku tidak tega membangunkannya, kami akan kembali setelah dia bangun." Daniel menutup telepon nya.
"Siapa menelepon?"
Tiba-tiba Medina memeluk suaminya dari belakang. Membuat Daniel sedikit terkejut.
"Honey...kamu sudah bangun?" Daniel membalik tubuhnya menghadap wanitanya.
"Hmmm..." Sahut Medina tanpa melepas pelukannya.
"Apa suaraku membangunkan mu?" Daniel mencium kepala istrinya dengan mesra.
"Aku lapar." Medina terkekeh dengan ucapannya sendiri. Ia membenamkan wajahnya pada dada Daniel.
Daniel tersenyum melihat istrinya yang seolah malu.
"Wahhh....anak papa sudah lapar lagi rupanya." Daniel mengelus perut istrinya penuh sayang. Ia juga melirik jam tangan dipergelangan nya. Hampir jam 12 siang.
"Baiklah....Kita pesan makanan."
"Aku mau pulang." Cicit Medina. Ia mengadahkan wajahnya menatap suaminya.
__ADS_1
"Aku ingin makan masakan mama." Lanjut Medina dengan senyum cantik membuat Daniel tidak tahan untuk mengambil ciuman bertubi-tubi pada seluruh wajah Medina.
"Hentikan...." Ucap Medina manja. Ia menyembunyikan wajahnya lebih dalam pada dada Daniel.
"Hei....aku belum puas mencium istriku yang cantik ini." Daniel merangkup wajah Medina hingga membuatnya mengadah.
"Sayangnya kita tidak membawa pakaian." Gumam Daniel menahan sesuatu yang bergejolak didalam tubuhnya.
"I love you so much." Daniel ******* bibir Medina dengan rakus dan mendapat balasan manis dari Medina.
"Baiklah....ayo pulang." Daniel menyudahi ciuman panas mereka. Ia membawa Medina masuk untuk bersiap pulang kerumah mama Safira.
****
Sore harinya Daniel dan Medina hendak pamit pulang. Namun ditahan mama Safira. Karena ada yang ingin dibicarakan nya dengan Daniel. Bahkan mama Safira meminta keduanya untuk menginap.
"Ada yang harus mama tanyakan padamu." Ucap Mama Safira menatap tajam putranya.
Saat itu Medina tengah bersama Rani dipaviliun sehingga mama Safira bisa dengan leluasa menanyakan yang ingin diketahuinya.
"Jadi Medina sudah bertemu Farah?" Tanya Mama Safira yang terlihat santai.
"Mama tahu?" Daniel justru balik bertanya.
"Oh...aku lupa." Daniel menggaruk kepalanya. Tentu saja mamanya pasti sudah tahu. Syifa pasti sudah mengadu kepada semua orang.
"Mama sudah memprediksi ini. Kalian pasti bertemu saat Farah kembali dan itu tidak bisa dielakkan. Benar?"
"Iya. Hanya saja... pertemuan kami sangat tidak terduga. Tiba-tiba Daniel menjadi emosi dan mengabaikan Medina." Jujur Daniel.
"Jadi kau mengakuinya? Kau menyakiti hati Putri mama?" Manik Mama Safira kini berkaca-kaca.
"Ma...Aku dan Medina sudah membahasnya. Bahkan Medina memintaku untuk memaafkan Farah dan memberi kesempatan bicara."
"Tapi kau meninggalkan putriku." Mama Safira memukul pundak Daniel.
Daniel tahu dirinya bersalah dan ini pasti menyakiti hati sang mama.
"Daniel minta maaf ma." Lirih Daniel.
"Makanya hampir setengah hari ini Daniel mengajak Medina jalan-jalan untuk menebus kesalahan Daniel."
"Sudahlah....Kali ini mama memaafkanmu. Tapi lain kali tidak." Potong mama Safira.
"Jaga Medina untuk Mama. Maka itulah hal terbaik yang bisa kamu berikan kepada mama." Mama Safira mengusap kepala putranya dengan sayang.
"Pasti ma." Jawab Daniel bersungguh-sungguh.
Mama beranjak lalu pergi meninggalkan Daniel yang masih duduk ditempatnya. Hingga Medina datang, Daniel menyambut nya dengan penuh cinta.
Daniel langsung menarik pinggang istrinya dan mendudukkannya dipangkuan.
"Ayo makan malam diluar." Ajak Daniel sambil memeluk Medina.
"Apa ini kencan?" Medina tersenyum menggoda.
"Hah....benar. Ini ajakan kencan romantis dari sang pangeran untuk Tuan Putri." Daniel mencium leher Medina dengan gemas hingga Medina terkekeh kegelian.
Keduanya menghabiskan waktu berdua di halaman belakang dengan saling menggoda. Sementara itu ada wajah yang tersenyum bahagia melihat pemandangan dua sejoli itu.
"Semoga kalian selalu bahagia." Mama Safira menghapus airmata yang mengalir dipipinya.
Kebahagian dan kedamaian rumah tangga anak2 dan menantunya adalah hal terindah yang di idamkan setiap orangtua. Rumah tangga yang harmonis dan saling mengisi satu sama lain. Saling mendukung danTidak saling menuntut.
_
_
_
_
_Tbc
__ADS_1