
Meski baru mengistirahatkan tubuhnya beberapa jam saja, namun tidak membuat kebiasaan Medina terabaikan. Ia tetap bangun ketika waktu menunjukkan pukul empat pagi.
Medina menoleh ke samping tempat tidurnya, dan melihat wajah suaminya yang masih tertidur dengan lelap.
Dengan perlahan ia memindahkan tangan Daniel yang memeluk tubuhnya. Mendaratkan satu kecupan di dahi suaminya sebelum Medina turun dari ranjang menuju bathroom.
Melihat suaminya masih berada dalam mimpi, Medina memutuskan untuk sholat subuh sendiri.
Selesai dengan kewajibannya, Medina mendekati ranjang untuk membangunkan suaminya.
"Sayang...bangunlah. Waktunya sholat subuh" Medina membelai rambut coklat Daniel.
Tak mendapat respon, Medina membelai rahang kokoh Daniel dengan sentuhan menggoda.
"Sayang...."
Daniel yang sebenarnya sudah bangun sejak Medina membelai rambutnya, berusaha sekuat tenaga agar tidak terangsang saat jemari Medina terus menyentuh wajahnya.
Daniel hanya menggeliat kecil untuk menstabilkan suhu panas ditubuhnya.
"Sayang...Aku lapar" Bisik Medina manja setelah berusaha membangunkan suaminya namun nihil.
Mendengar istrinya kelaparan, Daniel langsung membuka matanya lebar-lebar.
"Kamu lapar?" Daniel mendudukkan dirinya dan menatap Medina.
Daniel mengingat aktifitas mereka semalam, wajar jika itu sangat menguras tenaga istrinya dan membuat perut istri nya sudah kelaparan sepagi ini.
Medina mengangguk dan tersenyum cantik.
"Apa didapur kecil itu aku bisa menemukan makanan?" Tanya Medina sambil menunjuk arah mini pantry.
"Aku akan melihatnya" Daniel menyingkap selimutnya dan turun dari ranjang.
"Aku bisa mengeceknya, sekarang lebih baik kakak mandi dan sholat" Medina menahan lengan suaminya.
"Baiklah" Daniel mencium kepala Medina dan berlalu menuju ke kamar mandi.
Setelah menyiapkan baju ganti untuk Daniel, Medina berjalan menuju dapur kecil.
Tangan Medina langsung meraih gagang kulkas dan membukanya. Hanya ada minuman ringan dan beberapa kotak susu.
Medina mengambil kotak susu dan menuangnya ke atas panci kecil. Ia akan membuat dua gelas susu hangat sebagai pengganjal perut.
Saat sedang menuang susu, Daniel datang dari belakang dan langsung memeluk Medina.
Tubuh bagian atasnya dibiarkan polos dan hanya memakai celana pendek. Ia pikir akan akan melakukan gerakan pemanasan dan berolah raga melatih ototnya sebentar.
"Kamu menemukan apa?" Daniel mengecup kepala Medina.
"Hanya ada susu" Jawab Medina dengan terkekeh.
"Aku akan menelpon restoran dan meminta mereka membawakan roti" Daniel melepas pelukannya.
"Tidak perlu, aku bisa minum ini saja" Medina memberikan satu gelas susu hangat kepada suaminya.
"Lagipula, aku tidak benar-benar lapar ingin makan makanan, tapi...." Medina menutup wajahnya dan menunduk malu.
Jujur saja, permainan suaminya semalam membuat Medina ketagihan dan Medina menginginkan lagi dan lagi. Tubuhnya seakan tersengat aliran listrik tegangan tinggi karena permainan yang ditimbulkan suaminya.
Daniel menyeringai, ia tahu kemana arah kalimat yang baru saja diucapkan istrinya.
"Tapi....?" Daniel mengulang dan memberi penekanan pada kata akhir yang diucap Medina.
Daniel menarik pelan tubuh istrinya dan menggodanya hingga membuat wajah Medina semakin memerah.
"Kamu lapar sentuhanku, hah?" Daniel terus menggoda dan tanpa sadar Medina mengangguk mengiyakan.
Daniel meletakkan gelas susu yang dipegangnya lalu menggendong Medina masuk kedalam kamar.
Keduanya kembali mengulang aktifitas mereka, merengkuh kenikmatan bersama. Desahan dan erangan kenikmatan terdengar mengalun indah mengiringi penyatuan dua insan yang saling mencinta dalam ikatan halal yang diridhoi.
Deburan ombak laut pulau Fesdhoo menambah romantika suasana bulan madu yang menjadi dambaan setiap pasangan yang telah menikah.
****
__ADS_1
"Apa sudah ada perkembangan baru?" Tanya Pak Sanjaya kepada orang kepercayaaannya.
"....."
"Apa?" Suara pak Sanjaya tampak terkejut dan menahan amarah.
"......"
"Aku akan datang kesana. Pastikan bidan itu tidak pergi keluar dari desa itu" Titahnya sebelum memutuskan sambungan telepon.
Pak Sanjaya mendesah berat. Otaknya memutar kembali memori kejadian 24 tahun yang lalu. Saat dirinya dan Ibu Melani sedang mengalami masalah yang cukup pelik. Hingga menyebabkan ibu Melani meninggalkan dirinya dalam kondisi hamil besar.
Kehamilan yang ditunggu-tunggu keluarga besarnya. Karena sebelumnya Ibu Melani pernah mengalami keguguran saat usia kandungannya berjalan 3 bulan. Dan harapan mereka kehamilan kedua ibu Melani akan menjadi penerus bisnis keluarga Sanjaya Grup.
Namun ditengah masalahnya yang belum terselesaikan, justru kabar buruk datang dari istrinya yang mengabarkan jika anak dalam kandungannya telah meninggal karena lahir prematur.
Saat itu Pak Sanjaya dan keluarga besarnya nampak sangat terpukul. Dua kali istrinya mengandung dan tidak ada satu keturunan pun yang terselamatkan.
Hingga akhirnya atas saran keluarga besar, Pak Sanjaya dan Ibu Melani memutuskan mengadopsi seorang anak laki-laki dari sebuah panti. Seorang anak laki-laki yatim piatu berusia 4 tahun. Anak itu adalah Alfian yang saat ini berdiri teguh disamping Pak Sanjaya dan ibu Melani selama puluhan tahun.
Pak Sanjaya mengusap wajahnya dengan kasar. Kemudian ia memanggil asistennya yang bernama Putu.
"Putu...siapkan perjalanan ku ke kota S satu jam lagi" Titah pak Sanjaya kepada asistennya.
Putu nampak terkejut dengan perintah bosnya.
"Tapi pak...."
"Batalkan semua janji dan rapat hingga dua hari kedepan" Potong Pak Sanjaya sebelum Putu menyelesaikan kalimatnya.
"Waktumu hanya satu jam, Putu" Ucap Pak Sanjaya penuh penekanan.
Putu yang paham dengan sifat bosnya langsung undur diri dan segera melaksanakan perintah bosnya meski dalam benaknya ia bertanya-tanya. Ada apa dengan bosnya?
Jika ini perjalanan bisnis, dirinya pasti lebih tahu. Namun sepertinya ini bukanlah perjalanan bisnis. Pikir Putu mengakhiri kebingungan dalam otaknya.
****
Saat sedang menikmati sarapannya, seseorang mengetuk pintu kamar villa Daniel.
Medina mengangguk.
"Excuse me sir. This is your flower bouquet order" Seorang pegawai villa menyerah buket bunga mawar nan cantik kepada Daniel.
"Ah....thanks. And this is for you" Daniel memberikan 2 lembar uang kertas kepada pegawai itu.
"Thank you. Have a nice honeymoon" Ucapnya sebelum pergi.
Daniel menutup pintu dan kembali masuk menemui istrinya.
"Siapa sayang?" Tanya Medina.
Daniel membawa masuk bunga itu ke kamar. Ia ingin memberi kejutan untuk istrinya setelah sarapan.
"Pegawai villa" Jawab Daniel singkat.
"Sayang...sarapanmu belum habis" Ucap Medina setengah berteriak. Karena dirinya sedang sarapan di halaman belakang yang langsung menghadap laut.
"Honey....selera makanmu sangat bagus" Daniel menatap piring makanan yang sudah berkurang banyak.
"Maaf....selain karena sangat lapar, makanan disini sangat enak" Ucap Medina sambil terkekeh.
Daniel menatap istrinya lalu keduanya tertawa bersama.
"Dan berat badanku akan naik fantastis setelah pulang dari sini karena tidak diimbangi olah raga" imbuh Medina membuat Daniel menghentikan tawanya.
"Setelah ini kita akan berolah raga, Honey"
"Benarkah?" Medina sangat antusias karena ia pikir suaminya akan mengajaknya olah raga yang sesungguhnya.
"Ya" Daniel telah menyelesaikan sarapannya.
"Baiklah aku akan bersiap-siap" Medina hendak berjalan masuk namun ditahan Daniel.
__ADS_1
"Tidak perlu bersiap-siap. Karena kita akan berolah raga diatas ranjang" Daniel sudah menggendong Medina dan membawanya ke kamar.
Medina tidak bisa menolak. Karena dirinya pun sangat menikmati olah raga yang satu ini.
Keduanya sangat menikmati waktu berdua didalam kamar bahkan saat makan siang dan malam pun mereka lakukan didalam kamar.
"Sayang...aku ingin jalan-jalan" Medina sedang bermanja dipelukan Daniel.
"Kita akan jalan-jalan sambil melihat sunset. Sekarang istirahat dulu" Daniel mencium kepala Medina.
Medina mengeratkan pelukannya dan berusaha memejamkan matanya. Namun entah mengapa tiba-tiba ia teringat dengan sosok Ibu Melani.
"Sayang....apa benar wajahku mirip dengan ibu Melani?"
Medina mendongak dan menatap suaminya dan Daniel hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Entah mengapa aku merindukannya. Aku sangat merindukan pelukan hangatnya" Lirih Medina mengingat pertemuan pertamanya dengan Ibu Melani.
Daniel hanya terdiam, teringat jika dua hari ini ponselnya sengaja ia nonaktifkan karena tidak ingin diganggu. Namun pertanyaan Medina barusan mengusik ketenangan nya.
"Aku sedang mencari tahu, aku mohon bersabarlah" Ucap Daniel.
Medina mengiyakan dan mulai memejamkan matanya. Ia percaya suaminya akan mencari tahu tentang keluarganya. Namun ia tidak bisa terlalu menuntut suaminya. Karena ia tahu pasti semuanya tidak mudah.
Daniel menatap wajah Medina yang kini sudah terlelap. Daniel menciumi wajah istrinya sebelum ia turun dari ranjang.
"Aku harus menanyakan kabar terbaru kepada Raihan" Daniel meraih ponselnya dan segera menghubungi Raihan.
Daniel berjalan keluar kamar agar pembicaraan nya tidak didengar Medina.
"Halo, Rai"
"Bos....Syukurlah anda menelepon" Suara Raihan terdengar khawatir.
"Ada apa?" Tanya Daniel penasaran.
"Orang-orang kita mengatakan ada beberapa orang yang terlihat mondar-mandir didepan klinik Bidan Nurul"
"Apa?? Siapa mereka?" Daniel semakin penasaran.
"Bos...anda tidak akan menyangka hal ini" Ucap Raihan.
"Rai...jangan membuatku bingung dan penasaran. Katakan yang jelas!!!" Daniel mulai emosi.
"Aku belum yakin 100 persen, tapi Pak Sanjaya baru saja meninggalkan klinik Bidan Nurul"
"Apa???" Teriak Daniel sangat keras membuat Medina terbangun.
"Sayang ada apa? Apa sesuatu terjadi dengan mama?" Medina menatap suaminya dengan lekat.
"Kak...apa mama baik-baik saja? Tolong katakan sesuatu" Cairan bening mulai keluar dari mata indah Medina. Ia takut sesuatu terjadi dengan ibu mertuanya.
Daniel yang masih shock dengan kabar yang disampaikan Raihan, belum bisa mengatakan apapun.
"Kak..." Medina mengguncang tubuh Daniel.
Daniel tersadar dan melihat istrinya usdah berderai airmata.
"Honey...." Daniel memeluk Medina.
"Apa sesuatu terjadi? Aku ingin menelepon mama" Isaknya.
"Hei...mama baik-baik saja. Aku baru saja mendapat telepon dari Raihan. Aku terkejut saat Raihan mengatakan jika ada masalah dikantor cabang Kota S. Maaf jika suaraku mengejutkanmu" Bohong Daniel. Ia tidak bisa mengatakan hal sebenarnya karena Raihan belum yakin. Daniel menciumi Medina.
"Aku pikir...terjadi sesuatu dengan mama" Medina semakin terisak.
"Sebaiknya kita sholat dan tenangkan diri dulu. Setelah itu kita video call mama" Daniel menggendong Medina dan membawanya masuk kedalam kamar.
_
_
_TBC
_
__ADS_1
_