Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 60


__ADS_3

Daniel saat ini sedang berbicara dengan Danu melalui sambungan telepon.


Danu terbelalak kaget saat Daniel menceritakan semuanya kepada kakaknya.


"Bagaimana Medina sekarang?" Tanya Danu khawatir. Bahkan ia belum menceritakan tentang mamanya kepada Daniel yang saat ini tergolek lemah.


"Dia sangat terpukul dengan kenyataan yang baru diketahuinya"


"Dan kau tahu? Mama memeliki feeling yang sangat kuat terhadap Medina" Ucap Danu.


"Maksud kakak?"


"Tadi siang Mama pingsan" Info Danu kepada Daniel.


"Apa??" Pekik Daniel terkejut.


"Mama terus menanyakan istrimu. Dia menangis mengkhawatirkan Medina. Mama merasa sesuatu telah terjadi kepada menantu kesayangannya. Dan apa yang dirasakan Mama benar adanya"


Daniel mengingat ucapan istrinya saat dibandara. Medina juga sangat mengkhawatirkan kondisi mama mertuanya jika kenyataan dirinya sampai ke telinga mama.


"Dan kakak tahu? Medina juga sangat mengkhawatirkan kondisi mama. Ia takut kenyataan tentang dirinya akan berimbas pada kesehatan Mama. Dan merasa dirinya tidak layak" Ucap Daniel.


"Lalu bagaimana keadaan mama sekarang?" Tanya Daniel khawatir.


"Mama dirawat dirumah. kondisinya tidak separah itu"


"Maafkan Daniel, Kak" Ucap Daniel merasa bersalah.


"Lalu apa rencanamu?"


"Aku meminta Raihan untuk menambah orang agar terus mengawasi Pakde Radiman dan keluarganya. Bukan tidak mungkin, jika rahasia Medina akan menjadi senjata mereka untuk memanfaatkan Medina dikemudian hari"


"Kamu sudah melakukan hal benar"


"lalu kapan kalian pulang? Mama tidak akan berhenti menanyakan Medina"


"Aku akan segera membawa Medina pulang" Ucap Daniel seraya menatap Lekat istrinya yang tertidur pulas diatas ranjang karena kelelahan setelah lama menangis.


"Untuk kenyamanan kalian, gunakan pesawat sendiri"


"Aku tahu, kak. Terimakasih dan tolong jaga mama"


"Baiklah. segera pulang jika kondisi istrimu sudah lebih baik"


"Iya" Jawab Daniel singkat sebelum mereka menutup ponsel mereka masing-masing.


Daniel meletakkan ponselnya diatas meja dan berjalan mendekati istrinya. Daniel membungkuk dan mencium kening istrinya dengan lembut.


"Aku merindukan senyum manis mu, Honey" Ucap Daniel pelan karena ia tidak mau membuat istrinya terganggu.


"Dan kamu tahu, Honey? Mama sangat menyayangimu. Kalian terikat bathin yang sangat kuat dan dalam melebihi keterikatan diriku dengan mama. Sehingga kesedihan yang kamu rasakan, mama juga akan merasakannya. Kalian adalah sumber kekuatan dan kebahagiaan ku. I love you, Honey" Daniel kembali mencium kening istrinya dan mengecup bibir Medina. Kemudian ia bergabung dengan istrinya untuk mengistirahatkan diri.


****


Danu kembali masuk kedalam kamar mamanya setelah selesai menelepon Daniel.

__ADS_1


"Mereka belum kembali?" Todong mama saat Danu baru saja masuk.


"Mereka akan pulang terlambat. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan Daniel di cabang sana" Bohong Danu.


Danu dan Rani saling pandang melihat reaksi mama setelah mendengar ucapan Danu.


"Jangan membohongi mama, karena mama bisa merasakan kesedihan yang gadis itu rasakan saat ini" Lirih mama dengan tatapan tajam kepada Danu.


Danu menarik nafas panjang dan dalam. Ia sedikit terkejut dengan reaksi sang mama. Awalnya ia ingin menutupi kenyataan tentang Medina dengan berbohong soal pekerjaan Daniel demi menjaga kesehatan sang mama. Namun ternyata ia salah, feeling sang mama justru lebih kuat dari apapun. Dan akhirnya Danu menyerah. Toh cepat atau lambat, mamanya harus tahu rahasia Medina.


"Baiklah...tapi berjanjilah mama tidak akan syok dan bersedih setelah mendengar ini" Pinta Danu dengan hati-hati.


"Apa yang tejadi?" Tanya mama dengan tidak sabaran.


"Ternyata Medina bukan keponakan kandung Pakdenya" Jawab Daniel dengan satu kali tarikan nafas.


"A...apa?" Mama dan Rani berteriak bersamaan.


Danu mengangguk dan melanjutkan ucapannya:


"Ternyata orangtua kandung Medina bukanlah orang tua yang selama ini merawatnya. Mereka hanya pernah menolong seorang gadis saat hendak melahirkan. Kemudian memintanya untuk membesarkan Medina. Sementara Ibu kandung Medina pergi entah kemana"


"Gadis yang malang...." Gumam mama lirih dengan air mata yang terus menerus mengalir.


"Saat ini Medina merasa dirinya tidak layak menjadi menantu rumah ini karena dilahirkan dari seorang ibu yang tidak jelas asal usulnya"


"Mama ingin bicara dengan Daniel" Ucap Mama pelan namun penuh penenakan.


"Ma...." Danu khawatir dengan keadaan mama nya.


"Baiklah..." Danu mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong celananya dengan menghubungi Daniel.


"Assalamualaikum, kak. Mama baik-baik saja kan?" Tanya Daniel dengan suara sedikit serak.


Ia baru saja terlelap sebelum akhirnya ia mendengar suara deringan diponselnya. Ia juga meraba ranjang disampingnya dan tidak menemukan istrinya disana.


"Wa'alaikum salam"


"Mama..." Pekik Daniel tidak percaya saat mendengar suara yang menjawab salamnya.


"Dimana putriku?" Tanya mama tanpa basa basa-basi.n


"Dia...Euummm...Mama....bagaimana kabar mama?" Daniel mencoba mengalihkan pembicaraan dengan mamanya.


Daniel mengedarkan pandangannya keseluruh kamar dan tidak menemukan sosok wanitanya.


"Mama sudah tahu, Nak. Jadi katakan bagaimana keadaan putriku?" Kali ini suara mama terdengar lembut.


"Mama sudah tahu?" Suara sang mama mengagetkan Daniel yang sedari tadi mencari keberadaan istrinya. Kemudian tubuhnya melompat turun dari atas ranjang dan berjalan kearah kamar mandi.


"Hemmm" Jawab mama singkat.


"Berikan ponselmu pada Medina" Titah mama kepada Daniel.


"Medina sedang dikamar mandi. Daniel akan menghubungi mama kembali jika dia sudah selesai" Jawab Daniel setelah mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Ia yakin istrinya berada didalam sana.

__ADS_1


"Baiklah. Sampaikan kepada putriku, jika sekarang mamanya sedang sekarat karena merindukan dan mengkhawatirkan dirinya"


"Mama...!!" Pekik Daniel refleks karena mendengar kata "sekarat" dari mulut sang mama.


"Jangan berbicara seperti itu, Ma"


"Jika kamu mau mama sehat...cepatlah bawa istrimu kembali" Ancam mama.


"Iya..Ma" Jawab Daniel singkat tanpa mengatakan apapun lagi.


Ceklek!! Suara pintu kamar mandi terbuka dan saat itu pula Medina keluar dari sana.


"Kakak...sudah bangun? Mau ke kamar mandi juga?" Tanya Medina heran saat melihat suaminya berada didepan pintu kamar mandi.


Daniel menggeleng dan tersenyum lebar saat mendapati wajah istrinya sudah tidak sendu lagi. Tanpa aba-aba ia memeluk dan mengecupi wajah dengan perasaan bahagia.


Medina terkekeh geli dengan perlakuan suaminya.


"Sayang...kamu kenapa?" Medina menahan wajah suaminya dan menatap dalam manik suaminya.


"Aku bahagia, Medina ku kembali ceria" Jawab Daniel tanpa melepas tatapan matanya. kemudian ia menunduk dan mencium bibir istrinya dengan lembut.


"Aku sangat bingung dan tidak bisa berpikir saat melihat istriku bersedih" Lirih Daniel saat melepas bibirnya dari bibir ranum Medina.


"Sayang...aku minta maaf. Aku sangat egois hanya memikirkan diri sendiri. Tanpa memikirkan perasaan kalian yang selama ini sudah begitu menyayangiku dengan tulus" Ucap Medina dengan manik berkaca-kaca.


"Aku senang, istriku menyadari kebodohannya" Daniel mengulum senyum.


"Iya...aku memang bodoh" Jawab Medina dengan ekspresi wajah yang sedih.


"Hei..buka seperti itu maksudku, Honey. Setelah mengetahui kenyataan dirimu yang sebenarnya, dan kau sangat bersedih dengan waktu yang sangat lama itulah kebodohan sesungguhnya" Daniel menarik dagu Medina dan kembali mendaratkan bibirnya di bibir Medina.


Mereka berciuman dengan mesra dan lama hingga keduanya kehabisan nafas.


"I love you, Honey" Bisik Daniel mesra membuat Medina tersenyum manis dan membalasnya dengan ucapan yang sama.


"I love you too"


"Oh ya Honey...Kita harus segera kembali kerumah. Kondisi mama___"


"Mama kenapa?" Potong Medina cepat dengan wajah panik.


"Hei...tenang Honey. Mama hanya kelelahan dan kurang memperhatikan waktu istirahatnya" Bohong Daniel.


"Apa tidak ada yang memperhatikan mama dirumah?" Suara Medina tampak kesal.


"Kamu tahu sendiri bagaimana mama? Mama hanya akan menurut denganmu saja, bukan?" Medina tidak membantah ucapan Daniel karena selama keberadaan dirinya dirumah itu, mama Safira hanya mendengarkan perkataan nya saja.


"Baiklah kita pulang sekarang" Medina meninggalkan Daniel dan memakai hijabnya.


"Oh ya...bagaimana dengan pakde dan yang lainnya? Apa yang kakak lakukan nanti kepada mereka?" Tanya Medina dengan tatapan tajam kepada suaminya. Ia teringat perkataan terakhir Bidan Nurul tentang Pakde Radiman. Dan itu membuatnya menjadi tidak tenang.


"Jangan pikirkan itu, yang jelas suamimu ini sudah menyewa orang-orang bayaran untuk mengawasi mereka selama 24 jam penuh" Daniel memeluk Medina dari belakang dan mengecup pucuk kepala Medina dengan mesra.


"Aku tidak akan memberi kesempatan mereka untuk bisa menyakiti kamu lagi, Honey" Bisik Daniel pelan namun tegas.

__ADS_1


__ADS_2