
Mama Safira baru saja meletakkan ponselnya diatas nakas saat Danu baru saja pulang dan masuk ke dalam kamar mamanya.
"Kamu sudah pulang, Nak?" Danu menghampiri dan mencium punggung tangan dan kening sang mama.
"Kamu tahu adikmu dimana sekarang?" Tanya mama dengan raut wajah yang sedikit kesal.
Danu terkekeh melihat reaksi sang mama yang cemberut karena ulah Daniel.
"Ma....mereka pengantin baru. Wajar jika mereka ingin menghabiskan waktu berdua saja, kan?"
PLAKK!!!
Mama Safira memukul bahu putra sulungnya.
"Kau ini....sama saja!!" Sungut mama.
"Gio memberi mereka hadiah pernikahan dengan mengizinkan mereka menginap di Villanya" Ucap Danu masih dengan tawa kecilnya.
"Kenapa mama yang kesal?" Tanya Danu dengan menahan tawanya.
"Mama kasihan sama Medina. Pestanya tinggal menunggu hari, harusnya dia dipingit dan melakukan perawatan"
"Mama akan meminta Medina tinggal disini sampai pesta resepsi tiba" Tukas mama Safira sebelum Danu mengeluarkan pendapatnya.
"Mama akan memisahkan mereka?" Tanya Danu yang terkejut dengan ide sang mama.
"Jika tidak begitu, adikmu akan terus menyiksa Medina. Medina harus tinggal disini dan biarkan adikmu tinggal di apartemen nya sendirian. Hahahaha" Mama Safira tertawa membayangkan reaksi putra bungsunya nanti saat dirinya akan memingit menantunya.
Danu yang mendengar pun langsung ikut tertawa lebar. Ia tidak menyangka mamanya akan punya ide demikian.
"Danu akan dukung mama" Mereka berdua mengangkat tangan kemudian bertos ria.
****
Sementara itu dikantor Daniel, Arif masih memeriksa dokumen yang akan ia laporkan pada bosnya, melalui email.
"Permisi pak" Karin mengetuk pintu dan masuk kedalam ruangan Arif.
Saat ini sudah jam pulang kantor. Banyak karyawan yang sudah meninggalkan kantor.
Arif melirik Karin sebentar dan kembali memeriksa dokumen.
"Ada apa, Rin?" Tanya Arif tanpa menatap lawan bicaranya. Ia masih sibuk mengetik email di laptop dihadapannya.
"Kok ada apa, sih? Kamu tadi siang ngajak aku nemenin kamu cari kado buat bos, kan?" Karin menjatuhkan tubuhnya diatas sofa yang tidak jauh dari meja Arif.
"Ya ampun...aku hampir lupa" Arif seketika mendongak dan menepuk keningnya.
Karin memutar bola matanya.
"Kebiasaan" Gumam Karin kesal.
"Bentar ya. Ini tinggal kirim satu email lagi ke bos" Arif nyengir kuda hingga deretan giginya nampak dengan jelas.
__ADS_1
Karin hanya mengangguk. Sesekali ia melirik arlojinya yang melingkar dilengan kirinya.
"Oke, beres. Yuk!!" Arif bangkit dari duduknya dan menyambar jaket kulit yang ia gantung di sandaran kursi. Ia berjalan keluar ruangannya diikuti Karin.
"Mau pake mobil kamu atau motor aku nih?" Tawar Arif kepada Karin.
Arif memang lebih suka naik motor untuk memudahkan dirinya.
"emmmm...pake motor kamu aja deh biar cepet. Lagian ini jam pulang kantor pasti jalanan lagi macet-macetnya" Jawab Karin membayangkan padatnya jalanan ibukota dijam sibuk seperti sekarang.
"Beneran nih? Terus besok kamu berangkat ke kantor naik apa?" Arif menatap gadis bersurai hitam sebahu itu.
"Yaaa...kamu jemput akulah..." Jawab Karin dengan polos.
Arif sedikit terkejut dengan ucapan gadis itu namun entah mengapa hatinya merasa senang.
"Hhhhmmm...oke" Sahut Arif tanpa basa basi lagi.
Mereka berjalan menuju parkiran dan Arif langsung tancap gas saat mereka sudah berada diatas motor. Setelah sebelumnya memberikan helm kepada Karin.
Membelah jalanan ibukota dengan lalulintas yang sangat padat menuju Mall yang sudah mereka sepakati.
****
Gio sedang duduk diruang kerjanya dengan menatap ponselnya. Meski sudah waktu jam pulang kantor, namun dirinya masih betah berlama-lama disana.
"Aku sangat merindukanmu" Gumam Gio pelan dengan tatapan lembut pada ponselnya. Jemarinya terus mengusap lembut foto gadis diponselnya.
Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk. seketika ia langsung memasukkan ponselnya kedalam kantong jas dan mempersilahkan sang tamu masuk kedalam ruangannya.
"Hei...Ada apa kesini? Aku baru saja akan pulang" Tanya Gio heran dengan kehadiran adiknya.
"Tadi habis ketemuan sama dosen pembimbing deket sini, sekalian deh mampir" Ucap Renata yang sangat tahu kebiasaan sang kakak akan berlama-lama didalam kantornya meskipun sudah jam pulang kantor.
"Kapan kamu sidang?" Tanya Gio.
"Beberapa bulan lagi" Jawab Renata yang saat ini sedang menyelesaikan S2 nya disalah satu universitas terbaik ibukota.
Gio hanya menganggukkan kepalanya.
Renata berjalan ke arah lemari pendingin dan mengambil 2 kaleng soft drink. Ia kembali ke sofa dan melempar satu kaleng soft drink ke arah Gio.
"Eitsss....!!! Kau ini...." Gio menangkap kaleng soft drink yang dilempar Renata dengan sigap.
"Yeeeaayyy!!! Sempurna" Renata bertepuk tangan karena kali ini Gio berhasil menangkap kaleng soft drink dengan sempurna.
Renata menyesap minuman itu hingga tandas. Sementara Gio hanya menatap adik kesayangannya dengan menggelengkan kepalanya.
"Apa abang ga mau nikah?" Gio terkejut dengan pertanyaan adiknya.
"Apa?"
"Ayolah bang...sampai detik ini kita ga ada yang tahu sosok gadis pilihan hati Abang bahkan semenjak kuliah Abang ga pernah membawa gadis ke rumah"
__ADS_1
Renata berdecak kesal karena memang selama ini ia tidak pernah melihat kakaknya tidak pernah menggandeng seorang wanita. Apalagi untuk mengenalkan nya kepada keluarganya. Kakaknya benar-benar menutup hal privasinya dari orang lain termasuk keluarganya.
"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu?"
Gio beranjak dari kursinya dan berdiri menghadap dinding kaca yang memperlihatkan suasana ibukota yang padat.
"Emang Abang mau kalo sampe nanti Mami dan Papi menjodohkan Abang sama gadis yang Abang ga kenal?" Pertanyaan Renata berhasil membuat Gio merasa sesak.
"Apa?? Dijodohkan?? Yang benar saja..." Gio bergumam dalam hati.
"Ini pasti karena mami melihat Daniel telah menikah dan memiliki istri yang manis seperti Medina. heheheh" Lanjut Gio dengan garis lengkung dibibirnya.
"Atau Abang sedang menunggu gadis pujaan Abang?" Tanya Renata yang selalu saja penasaran dengan sosok wanita pujaan sang kakak.
"Aku ingin melihatmu menikah lebih dulu" Ucap Gio mengalihkan pembicaraan.
"Mungkin aku tidak akan pernah menikah" Sahut Renata asal membuat Gio segera memalingkan tubuhnya dan ikut duduk disamping adiknya untuk memberikan sentilan panas dijidatnya.
"Awww...!!!! Sakit bang" Renata mendesis kesakitan.
"Jaga bicaramu!! Ucapan adalah doa" Pekik Gio kesal. Membuat Renata menundukkan kepalanya dan seketika wajahnya berubah sendu.
"Lupakan Daniel. Kamu gadis yang cerdas, cantik juga modern. Kamu bisa mendapatkan laki-laki baik lebih dari Daniel" Nasehat Gio dengan membelai kepala adiknya penuh sayang.
"Lagipula usia kamu sudah hampir 27 tahun. Kamu mau orang-orang mengataimu perawan tua?" Renata melotot saat kakaknya mengatainya perawan tua.
Renata mendengus kesal dan memalingkan wajahnya. Gio tertawa terbahak-bahak.
"Atau aku akan memilihkan pria mapan dan tampan untuk dijodohkan denganmu?"
"Noooooo!!!" Tolak Renata dengan suaranya yang mengisi seluruh ruangan.
"Tapi gue mau berkarir dulu. Membangun perusahaan sendiri dengan ilmu dan pengalaman yang gue dapet selama bekerja dengan Papi" Ucap Renata dengan penuh keyakinan.
"Hei...untuk apa membangun perusahaan baru lagi? Saat ini mungkin kamu hanya diperbantukan di kantor Papi. Tapi suatu saat perusahaan itu akan menjadi milikmu" Kali ini suara Gio terdengar lembut.
"Mau kukenalkan dengan pengusaha muda yang sudah menjadi sahabatku?" Tawaran Gio membuat Renata menatapnya tidak percaya.
"Hei...Coba jalani saja dulu. Jika tidak kenal tidak akan pernah sayang, kan?" Ucap Gio dengan tawanya yang mengejek.
Renata terdiam sejenak mencerna tawaran sang kakak. Hatinya saat ini masih dipenuhi oleh sosok laki-laki yang masih menjadi sepupunya. Namun ucapan kakaknya saat ini benar-benar mengoyak pertahanan yang membendung hatinya. Setidaknya ia akan mencobanya. Toh laki-laki yang akan dikenalkan dengan dirinya adalah sahabat kakaknya sendiri.
"Akan gue pikirin tawaran Abang" Renata tersenyum manis.
"Aku akan segera mengenalkannya padamu" Gio tersenyum sambil mengacak rambut adiknya dengan gemas.
"Ya sudah, ayo kita pulang" Gio bangun dari duduknya dan mengambil kunci mobil diatas meja.
"Kita mampir ke cafe langganan ya? Gue kangen makan ice cream waflle disana" Ucap Renata dengan menunjukan wajah manjanya.
"Ck....sudah kuduga ternyata kamu kesini ada maunya" Gio berjalan lebih dulu dan membuka pintu. Renata mengikuti dari belakang dengan tawanya yang lebar.
Mereka masuk ke dalam lift khusus yang mengantarkan ke area gedung parkir VIP.
__ADS_1
Mereka berjalan beriringan dengan diselingi canda gurau. Mobil sport berwarna hitam melaju membelah padatnya jalanan ibukota. Cafe langganan menjadi tujuan pertama mereka sebelum kembali ke rumah.