Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 87


__ADS_3

Sementara itu disebuah kamar hotel keluarga pakde Radiman sedang duduk menonton televisi.


Suasana weekend di ibukota yang ramai, membuat keluarga itu ingin menikmati waktu diluar hotel. Namun hal itu tentu saja tidak mendapat ijin dari Raihan atas perintah Daniel.


Bahkan untuk bisa terus mengawasi mereka, Raihan hanya menyewa 1 kamar hotel untuk keluarga Pak Radiman. Sementara Raihan memilih kamar yang berada tepat didepan kamar mereka.


Keluarga Pakde Radiman benar-benar tidak bisa berkutik dan hanya bisa menuruti semua perintah Raihan. Karena Raihan mengingatkan ancaman Daniel tempo hari jika mereka sampai bertindak yang macam-macam.


"Salsa bosan Bu, Pak!!!" Pekik Salsa memekakkan telinga yang mendengar nya.


"Kamu harus tahan, nduk" Ucap Bude Tatik sambil mengelus punggung putri sulung nya.


"Lebih baik kamu tidur tuh seperti Billa" Titah pak Radiman.


"Pak....kenapa bapak ndak minta bertemu dengan Medina? Jika kita menemui nya, kita bisa membujuk Medina agar memperbolehkan kita jalan-jalan keluar" Bude Tatik memberi ide.


"Daniel pasti melarang Medina bertemu kita, Bu. Buktinya bapak telepon tadi, yang mengangkat suaminya. Bapak malah dapat ancaman lagi" Seru pak Radiman mengingat saat dirinya mencoba menghubungi Medina, namun justru Daniel yang mengangkat.


"Sudahlah Bu. Sebaiknya kita istirahat saja" Pak Radiman beranjak dari sofa menuju ranjang.


Akhirnya Bude Tatik hanya bisa mengikuti perintah suaminya. Merebahkan tubuhnya disamping suaminya namun dengan isi kepala yang masih berkeliaran kemana-mana.


****


Sabtu pagi pun tiba. Keluarga Daniel kini mulai sibuk dengan persiapan mereka untuk berangkat ke hotel tempat Resepsi pernikahan Daniel dan Medina dilangsungkan malam nanti.


Ya!! Tepat malam nanti pukul 19.00, perhelatan pesta resepsi pernikahan mewah akan berlangsung. Hal ini tentu saja membuat sang pengantin merasa sangat bahagia dan juga gugup dalam waktu bersamaan terutama Medina.


Ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Hingga membuat Daniel yang terus memperhatikan wanitanya mulai dari saat istrinya tidur, hingga bangun tidur. Daneil menyempatkan diri menghampiri Medina dan memeluknya.


"Aku melihatmu sangat gelisah sejak semalam" Bisik Daniel mesra.


"Aku sangat gugup" Medina ikut melingkarkan kedua tangannya diatas tangan Daniel yang melingkar diperutnya.


"Tidak perlu khawatir, aku akan selalu berada di sisimu" Bibir Daniel mulai menyusuri tengkuk dan leher Medina. Bahkan kedua tangan Daniel mulai bergerak ke area favoritnya.


Yang mana membuat Medina melenguh pelan sambil memejamkan mata. Daniel tersenyum dengan reaksi Medina terhdap sentuhan dan ciumannya.


"Aku tidak mau terlambat untuk sarapan bersama" Ucap Medina saat Daniel membalik tubuh istrinya.


Medina sangat tahu kemana arah sentuhan suaminya yang mulai melucuti pakaiannya.


"Ini masih sangat pagi, Honey. Masih bisa untuk kita bergulat satu Ronde" Bisik Daniel membuat Medina terkekeh dengan rona merah diwajahnya.


"Aku harus menemui mama dan mengecek persiapan nya, Sayang. Karena semalam aku tidak sempat melakukannya" Medina beralasan agar Daniel melepaskannya.


Namun sepertinya Daniel tidak mendengar dan justru semakin bergairah dalam mencumbu istrinya.


Dan Medina tidak mampu menolak semua sentuhan yang terasa begitu lembut dan membwa nikmat. Mereka bergantian mencumbu satu sama lain. Dan ketika mereka hendak melakukan penyatuan, tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk.


"Shit!!" Umpat Daniel diiringi tawa kecil istrinya.


"Daniel..." Suara Kak Danu memanggil dibalik pintu.


"Itu kak Danu, Sayang" Ucap Medina menegakkan tubuhnya. Ia berlari masuk kedalam kamar mandi sebelum Daniel membuka pintu.


Daniel pun turun dari ranjang dan memakai pakaiannya. Kemudian ia berjalan membuka pintu.


"Kau kenapa?" Tanya Kak Danu sat melihat wajah adiknya sedikit ditekuk.


"Kakak pikir apa?" Jawab Danu kesal.


"Dimana Medina? Mama sudah menunggunya sejak tadi" Danu melongok kedalam kamar mencari sosok adik iparnya.


"Medina sedang mandi" Jawab Daniel.

__ADS_1


"Hei...kalian habis berolah raga pagi?" Ledek Danu saat melihat ranjang dengan selimut yang berantakan.


"Kami baru saja mau memulai ketika kakak datang" Ucap Daniel ketus membuat Danu tertawa terbahak-bahak.


"Sorry kid....aku tidak tahu jika kalian sedang berolah raga panas" Ucap Danu masih dengan tawanya.


"Baiklah...beritahu Medina, Mama sudah menunggunya dikamar" Ucap Danu lagi sebelum meninggalkan kamar Daniel.


****


Setelah sarapan mereka mulai menaiki mobil masing-masing.


Danu yang masih qmengerjai adiknya, kini meminta para pria untuk memisahkan diri dari rombongan para wanita.


"Apa?" Daniel sangat terkejut dan kembali kesal. Ia yang berniat akan pergi berdua dengan istrinya harus merelakan rencananya gagal begitu saja.


"Mereka akan baik-baik saja. Lagipula hotelnya tidak jauh" Ucap Danu tanpa mempedulikan wajah adiknya yang menahan kesal.


Akhirnya mereka berkonvoi menuju hotel. Dengan mobil yang dinaiki para wanita melaju lebih dulu. Dan diikuti mobil para pria dibelakang. Dan Setelah menempuh waktu 35 menit, rombongan telah sampai di pelataran hotel.


Semua kerabat jauh, sudah berada dihotel dengan satu kamar suite room untuk masing-masing keluarga. Semua tidak lepas dari bantuan Tante Latifah dan Gio. Mereka berdua bahkan menolak tamu dari luar yang akan menginap di hotelnya selama dua hari kedepan.


"Terimakasih banyak tante. Tapi Ini sangat berlebihan" Ucap Daneil saat bertemu tantenya dilobby hotel.


"Tidak perlu berterimakasih. Ini tidak berarti apapun jika dibandingkan dengan kebahagiaan kakakku saat ini" Tante Latifah menatap Mama Safira dan Medina secara bergantian lalu memeluk mereka dengan erat.


"Aahhh..kau ini" Mama Safira menepuk punggung adik iparnya yang sudah seperti adik kandungnya sendiri.


Suasana hotel sangat hangat dengan berkumpulnya semua kerabat dari pihak mama dan papa Daniel. Kali ini mereka mengucap syukur karena pernikahan Daniel benar-benar akan berlangsung. Karena sebelumnya mereka semua tahu, sebelumnya keluarga Daniel ditimpa kemalangan karena calon tunangan Daneil meninggalkan acara pertunangan tanpa ada kabar. Bahkan acara pertunangan itu diadakan dengan sangat mewah.


Dan semua anggota keluarga tahu, setelah acara pertunangan gagal itu, Daneil sangat terpuruk terutama Mama Safira yang langsung jatuh sakit.


Semua kerabat yang mengetahui cerita awal pertemuan Daniel dan Medina, sangat terkejut juga kagum dengan sosok Medina. Bahkan tidak sedikit kerabat yang mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Medina karena sudah mengembalikan kebahagiaan kepada Keluarga mama Safira.


"Setelah acara selesai, apa rencanamu?" Tiba-tiba Tante Latifah membisiki Daniel.


Medina tidak mau menginap di hotel karena dirasa tidak perlu. Medina berpikir jika mereka lebih baik pulang ke apartemen mereka dan berisitirahat disana sebelum mereka melakukan perjalanan Honeymoon.


"Baguslah. Tante punya kejutan untukmu. Ayo...ikut Tante" Tante Latifah menarik tangan Daniel.


Mereka berdua berjalan menuju tempat kejutan yang disiapkan Tante Latifah.


"Ini...!!! Bukalah" Tante Latifah memberikan akses card kepada Daniel.


Daniel sedari tadi terdiam mengikuti langkah sang Tante.. langsung mengambil kartu itu dan menempel kannya.


"Wow...," Daniel berdecak kagum saat melihat dekorasi kamar hotel yang telah disiapkan oleh Tantenya.


"Kamu dan Medina bisa beristirahat disini selama yang kalian mau. Tante sudah menyuruh management hotel untuk melayani kalian dengan service luxury"


Daniel segera menghambur memeluk adik perempuan satu-satunya dari Alm Papanya.


"Thank you, Mami" Ucap Daniel terharu.


"Kau sudah seperti putraku. Jadi...jangan berterima kasih seperti orang lain" Tante Latifah membalas pelukan keponakan kesayangannya.


"Seandainya papamu masih ada...dia akan sangat bahagia melihat keluarganya bahagia" Gumam Tante Latifah dalam hati.


Setelah itu mereka luar kamar dan kembali berkumpul dengan kerabat yang lain. Karena semua sudah menunggu untuk makan siang.


****


Ditempat lain, Pakde Radiman dan keluarganya juga tengah menyantap makan siang dikamar hotel.


Mereka masih belum diperbolehkan keluar kamar sebelum perhelatan pesta dimulai.

__ADS_1


Billa yang sedari pagi tadi menahan diri pun akhirnya mendatangi kamar Raihan.


"Ada apa?" Tanya Raihan datar.


"Mas...A_apa boleh aku keluar? Aku mau mencari minimarket atau warung. Ada yang harus aku beli" Jawab Billa.


"Apa yang mau kamu beli?" Tanya Raihan lagi.


"Hhhmmm...ini urusan wanita Mas" Ucap Billa malu.


"Jangan membuat teka-teki. Jelaskan padaku apa yang mau kamu beli. Atau jangan-jangan....ini hanya alasanmu saja? Agar kalian bisa keluar kamar dan membuat ulah? Hah?" Tegur Raihan.


"Ya ampun Mas Raihan ini....." Gerutu Billa.


"Maka jelaskan padaku, apa yang mau kamu cari di minimarket?" Tanya Raihan lagi dengan wajah penuh selidik.


Billa yang merasa kesal dan juga malu..akhirnya dengan berani ia menarik tengkuk Raihan agar tubuh pria tegap itu sedikit membungkuk.


"Aku mau beli pembalut!" Bisik Billa ditelinga. Raihan.


"Apa????" Pekik Raihan terkejut.


Billa mengangguk kan kepalanya.


"Aku tidak tahu jika aku akan PMS ditanggal segini. Makanya aku tidak punya persiapan".


"Bahkan sekarang ini, Billa memakai tisu toilet untuk me___"


Raihan menutup mulut Billa dengan telapak tangannya. Ia sangat malu dan juga canggung mendengar kalimat gadis dihadapannya. Karena ini pertama kalinya bagi Raihan.


"Aku akan mengantarmu...tunggu disini" Raihan kembali masuk kedalam kamar hotelnya untuk mengambil jaket dan dompetnya.


"Ayo..."Raihan berjalan didepan mendahului Billa.


Mereka berjalan berdua menuju lobby. Raihan yang sudah hapal dengan kondisi disana tidak perlu banyak bertanya. Ia langsung mengajak Billa ke sebuah supermarket yang berada di seberang jalan hotel.


Setelah mendapatkan apa yang dicarinya dan membayarnya, mereka berdua kembali ke hotel.


"Mas Raihan...Apa aku bisa bertemu mbak Medina?" Tanya Billa memecah keheningan.


"Tidak bisa sampai kalian bertemu nanti malam" Jawab Raihan datar.


"Aku sangat merindukannya" Lirih Billa.


"Sudahlah...turuti saja semua yang sudah aku perintahkan. Jangan membuatku repot" Ucap Raihan sebelum ia masuk kedalam kamarnya.


"Ya Ampun....dasar beruang kutub" gerutu Billa menatap pintu kamar Raihan yang sudah tertutup rapat.


Billa pun kembali ke kamarnya. Dan mendapati keluarganya tengah asyik menonton TV.


"Dari mana kamu?" Tanya Salsa dengan sinis.


"Kan aku sudah bilang tadi mau Beli pembalut" Jawab Billa sambil berlalu menuju ke kamar mandi.


Sementara bapak dan ibunya hanya diam sambil terus memperhatikan layar televisi.


_


_


_TBC


_


_

__ADS_1


_


__ADS_2