Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 76


__ADS_3

Setelah kembali dari villa, Daniel benar-benar disibukkan dengan pekerjaan nya. Bahkan duanhari ini ia berangkat sangat pagi dan pulang sudah larut. Itu ia lakukan semata-mata untuk mengerjakan pekerjaan lebih awal sebelum ia melakukan perjalan bulan madu bersama istrinya.


Meski Medina merasa kesepian namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Yang ia lakukan hanya mendukung sebisanya.


Hari ini hari Sabtu, dan Daniel tidak pergi ke kantor. Namun ia sangat sibuk diruang kerjanya. Bahkan dari selepas sarapan ia masuk kedalam Raung kerjanya dan hingga pukul 12 siang belum keluar dari sana.


Biasanya setiap weekend mereka menghabiskan waktu berdua didalam kamar atau pergi kerumah mama Safira atau sekedar pergi ke supermarket untuk berbelanja. Namun kali ini Daniel mengabaikan itu semua demi pekerjaannya yang ingin cepat ia selesaikan. Karena ia ingin moment honeymoon nya tidak terganggu apalagi masalah pekerjaan.


"Sayang....Boleh aku masuk" Medina membuka sedikit pintu ruang kerja suaminya.


Daniel menoleh ke arah suara dan tersenyum tampan.


"Tentu saja, Honey" Daniel menutup laptop dimeja kerjanya. Dan mengulurkan tangannya menyambut Medina.


"Berhentilah sebentar dan istirahat. Aku tidak mau kamu sakit" Medina duduk dipangkuan suaminya dan memeluknya manja.


"Kamu tahu aku melakukan ini semua agar tidak ada pekerjaan yang mengganggu kita saat honeymoon nanti" Daniel mencium pipi Medina.


"Baiklah...aku sudah siapkan makan siang. Ayo...makan selagi masih hangat" Ucap Medina lembut.


"Baiklah....perutku sudah sangat lapar" Daniel menggendong Medina keluar ruang kerjanya. Tujuan mereka ke ruang makan.


"Wow...sup iga?" Daniel bersemangat melihat makanan kesukaannya tersaji dimeja makan.


"Dua hari ini kakak makan sangat sedikit dan tidak teratur, makanya aku sengaja masak ini supaya selera makan kakak meningkat lagi" Ucap Medina sambil menuangkan sup iga ke dalam mangkok dan menyodorkan nya kehadapan Daniel.


"Terimakasih, Honey" Daniel mengecup bibir Medina sekilas lalu meraih pinggang istrinya agar duduk dipangkuannya. Seperti kebiasaan, mereka makan dalam satu kursi, satu piring, satu sendok, dan satu gelas dan diakhiri ciuman panas sebagai makanan penutup. Tentu saja semua atas permintaan konyol Daniel tanpa bisa Medina punya kesempatan menolak. Hahahha...Romantis banget pasangan ini.


****


Menjelang sore hari, apartemen Daniel kedatang tamu. Tamu itu adalah Sabahat sekaligus sekretaris Daniel. Medina sudah diberitahu oleh Daniel jika Arif akan datang.


"Hai, Medina" Sapa Arif saat kakinya melangkah masuk kedalam apartemen.


"Ucap salam kak jika masuk kerumah" Protes Medina dengan senyum kecilnya.


"Ohh iya...sorry. Assalamualaikum" Arif merasa tidak enak karena ditegur Medina.


"Wa'alaikumsalam" Jawab Medina.


"Dimana Daniel?" Tanya Arif sambil mendudukkan dirinya diatas sofa.


"Kakak sedang mandi. Mau minum apa, kak?" Tanya Medina.


"Medina punya jus mangga, mau?" Tanya Medina lagi .


"Waahhh boleh. pas banget panas-panas gini minum jus. Cocok!" Jawab Arif mengiyakan.


"Oke. Tunggu sebentar ya!" Medina berlalu meninggalkan Arif menuju dapur.


Dan pada saat itu Daniel keluar dari kamarnya.


"Kapan datang, Rif?" Tanya Daniel sambil mengambil posisi duduk disofa.


"Baru sampai, bos" Jawab Arif.

__ADS_1


Saat Daniel melihat istrinya membawa nampan berisi minuman dan makanan, ia langsung berdiri menghampiri Medina.


"Kamu tidak perlu repot-repot, Honey" Daniel mengambil alih nampan dari tangan Medina.


"Kak Arif kan tamu kita. Wajar kalo kita menjamunya. Tidak repot sama sekali" Ucap Medina lembut.


"Dia kemari bukan untuk bertamu, tapi buat kerja" Daniel menatap tajam sahabat nya.


"PLAKK!"


Medina memukul punggung lebar suaminya.


"Hussshhh!!"


Daniel meletakkan nampan diatas meja. Lalu duduk disofa.


"Suamimu memang suka menganiaya saya, Medina. Ngasih banyak kerjaan setiap hari. Sampai saya tidak punya kesempatan mencari pasangan untuk dibawa ke pesta resepsi kalian nanti" Keluh Arif sengaja. Membuat Daniel melototi nya.


Medina terkekeh kecil. Lalu ikut bergabung duduk disamping suaminya.


"Kak Arif...maafkan suami Medina ya. Tapi suamiku bilang, dia mau memberi bonus besar kok untuk kak Arif" Ucap Medina membuat Daniel seketika menoleh istrinya dan melototinya.


"Honey....Kapan aku mengatakan itu?"


Arif yang mendengarnya ucapan Medina langsung menegakkan tubuhnya dan bersorak gembira.


"Benarkah?" Arif masih ragu.


"Sayang...Kak Arif sudah bekerja keras membantu mu. Jadi dia berhak mendapatkan itu" Medina menatap wajah suaminya dan mendaratkan kecupan singkat dibibir Daniel.


"Hei.... apa-apaan kalian ini? Sengaja sekali membuat jiwa jombloku semakin meronta-ronta" Gerutu Arif melihat kemesraan pasangan pengantin dihadapannya.


"Kamu benar, Honey. Aku akan memberinya bonus besar" Kini giliran Daniel mencium bibir ranum istrinya. Bahkan ciuman Daniel lebih lama dari ciuman yang Medina lakukan sebelumnya.


"Ck...aku tidak percaya ini!! Kalian pengantin mesum!!" Arif beranjak dari duduknya sambil membawa nampan minuman. Ia berjalan menuju ruang kerja Daniel sambil terus menggerutu.


Sementara pasangan pengantin mesum itu justru tertawa terbahak-bahak melihat tingkah sahabatnya yang mulai kesal.


"Kamu mulai nakal, Honey" Daniel mencubit ujung hidung istrinya dengan gemas. Sementara Medina masih belum bisa menghentikan tawanya.


"Aku belajar darimu, Sayang" Jawab Medina jujur. membuat mereka kembali tertawa.


"Baiklah...aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu" Daniel mencium kening dan bibir Medina sebelum menyusul Arif ke ruang kerja.


Medina mengangguk dan mulai berhenti tertawa.


"Hahahaha...ada apa denganku? Bisa-bisanya aku mengerjai kak Arif" Medina menggeleng-gelengkan kepalanya.


Ia beranjak dari sofa dan masuk kedalam kamarnya. Ia ingin menelepon mama mertuanya.


****


"Aku pikir kalian akan meneruskan adegan panas kalian" Ucap Arif ketus saat melihat Daniel masuk kedalam ruang kerja.


"Hei....justru kami membantu mu untuk segera menemukan pasangan" Sahut Daniel sambil berjalan ke kursinya.

__ADS_1


"Karwayan wanita dikantor kan banyak? Kenapa tidak satupun wanita yang menyukaimu?" Sindir Daniel dengn menahan senyum.


"Hei...bukannya tidak ada yang menyukaiku. Kamu yang selalu membuatku sibuk. Jadi aku tidak punya kesempatan melakukan pendekatan dengan mereka" Sanggah Arif tidak terima sindiran Daniel.


Setelah berdebat panjang dan berakhir dengan tawa bersama. Mereka kembali fokus mengerjakan pekerjaan yang akan mereka tangani 4 hari kedepan. Karena Jumat berikutnya Daniel sudah mulai mengambil cuti untuk persiapan pesta resepsi pernikahannya.


"Rif...Kenapa ada rapat ditanggal ini?" Daniel menyerahkan buku agenda yang diserahkan Arif sebelumnya.


"Kalian membuat kesepakatan itu sebelum kamu menikah. Aku hanya mencatatnya" Jawab Arif singkat.


"Jadwal ulang rapatnya, karena tanggal itu aku sedang honeymoon" Titahnya dengan mimik serius.


"Hei..kau tahu bagaimana cara kerja Tuan Sanjaya. Ia tidak akan merubah jadwal rapat semudah itu" Daniel tampak berfikir ucapan sahabatnya.


"Baiklah....Aku yang akan datang ke kantornya Senin nanti" Ucap Daniel.


"Kau tidak sedang mengigau, kan bos??" Arif mengernyitkan keningnya.


"Kenapa?"


"Kau akan Kota B untuk menemuinya?" Tanya Arif yang masih ragu dengan keputusan bosnya.


"Tidak ada cara lain selain mendatanginya dikantornya. Daripada dia kecewa saat aku membatalkan rapat penting dengannya" Daniel sudah membuat keputusan.


"Siapkan semua berkasnya. Aku tidak akan menundanya lagi. Lagipula aku belum mengundangnya secara resmi" Arif hanya mengangguk dengan perintah Daniel.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Daniel mengajak Arif untuk sholat Maghrib berjamaah karena sudah masuk waktu. Setelah itu mereka beristirahat sebentar dengan mengobrol santai diruang tengah sambil menunggu Medina yang sedang memasak makan malam untuk mereka.


"Semoga dikota ini msih menyisakan wanita seperti dirimu, Medina" Ucap Arif penuh harap.


"Hei...tidak boleh ada yang menyamai istriku. Medinaku hanya satu" Protes Daniel dengan tatapan tajamnya.


"Kau sungguh beruntung, Bos!" Puji Arif membuat Daniel tersenyum penuh kemenangan.


"Berhenti bicara jika sedang makan. Itu sangat tidak sopan!" Ucap Medina tegas. Membuat kedua lelaki dewasa itu langsung diam dan melanjutkan mengunyah makan.


Setelah selesai makan, Arif membereskan berkas-berkas yang tadi ia kerjakan bersama bos-nya. Lalu berpamitan pulang saat waktu menunjukkan pukul 9 malam.


"Bos....benar kau tidak ingin keluar malam mingguan?" Sindir Arif didepan Medina. Membuat wanita berhijab itu langsung memberi pertanyaan.


"Apa kalian selalu menghabiskan waktu diluar setiap malam Minggu ?" Tanya Medina penasaran.


"Tidak setiap minggu, Honey. Hanya jika ada acara saja" Sangkal Daniel cepat. Sorot matanya bahkan seolah memberi kode kepada sahabatnya untuk segera pergi dari rumahnya.


"Benar. Hanya jika ada acara saja. Dan hampir setiap Minggu kami mendapat undangan" Celetuk Arif membuat Daniel melayangkan tinju dilengnnya.


Arif tertawa lebar melihat reaksi Daniel yang tidak ingin ketahuan kebiasaannya sebelum menikah.


"Kakak bilang, setiap weekend selalu pergi kerumah mama?" Ucap Medina dengan keningnya yang berkerut.


"Eemmm...itu..." Daniel tergagap.


"Sepulang acara malam Minggu biasanya dia langsung pulang ke rumah Tante Safira" Potong Arif.


"Oh.."

__ADS_1


Daniel bernafas lega Medina percaya. Karena jika istrinya tahu, kebiasaannya malam mingguan berkumpul dengan teman-teman saat kuliahnya dulu. Mungkin jatah malamnya bisa dikurangi. Meski tidak menyentuh alkohol dan wanita j****g, namun ditempat mereka berkumpul tetap saja menyediakan dua hal itu. Dan mau tak mau Daniel ikut menyaksikan teman-temannya yang mabuk dan bermain wanita.


"Baiklah...aku pulang. Terima atas jamuan makan malamnya" Arif menatap Medina dengn senyuman khas Arif.


__ADS_2