Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 82


__ADS_3

Di kota B, Daniel sudah bersiap untuk bertemu klien pentingnya. Sang klien adalah pengusaha besar yang sukses dan berdomisili dikota B.


Daniel sudah menghubungi kliennya untuk bertemu dikantornya. Namun sang klien menolak, dan akan menemui Daniel di hotel tempat ia menginap.


Daniel menyiapkan berkas-berkas yang akan ia berikan kepada rekan bisnisnya. Daniel kembali memeriksa berkas yang sudah tersusun rapi dalam sebuah bussines file.


Daniel melirik arlojinya saat dirinya baru saja duduk disebuah ruang VVIP sebuah restoran.


"Aku harap pertemuan ini langsung menuju kata sepakat, agar aku bisa langsung ke kota S setelah makan siang" Gumam Daniel penuh harap.


Tidak lama kemudian, dua orang laki-laki paruh baya berusia sekitar 55 tahun dan pemuda berusia 28 tahun menghampiri meja Daniel.


"Apa anda menunggu lama, Pak Daniel?" Daniel mengarahkan kepalanya ke arah suara.


Daniel segera berdiri dari duduknya dan langsung menyambut kedua pria beda usia itu.


"Selamat datang, Pak Sanjaya" keduanya berjabat tangan.


"Aku baru sampai juga" Ucap Daniel dengan senyum diwajahnya.


Pak Sanjaya pun tersenyum hangat.


"Oh iya...perkenalkan. Ini putra tunggalku Alfian Sanjaya" Pak Sanjaya mengenalkan sosok pemuda yang datang bersamanya.


"Oh..halo. Saya Daniel rekan bisnis pak Sanjaya" Daniel menjulurkan tangannya ke arah Alfian.


"Saya Alfian...Panggil Fian saja. Selamat datang dikota kami" Sahut Fian menyambut jabatan tangan Daniel.


Daniel mengangguk tanpa melepaskan senyumannya.


Mereka kemudian mengambil posisi duduk dan memesan makanan. Selesai menyantap makanan yang disajikan pihak restoran, mereka langsung membicarakan kerja sama yang akan mereka sepakati.


"Maaf jika pertemuan ini sangat mendadak. Karena jadwal yang kita sepakati diawal pertemuan, saya berhalangan hadir. Oleh karena itu...saya meminta pertemuan itu dimajukan hari ini" Ucap Daniel memberi alasan pertemuan nya hari ini.


"Tidak apa-apa pak Daniel. Saya tahu, anda pasti sangat sibuk" Sahut pak Sanjaya santai.


"Terimakasih, pak Sanjaya. Ini sebuah keberuntungan bagi saya bisa bekerjasama dengan perusahaan Sanjaya Grup" Ucap Daniel lagi setelah keduanya memanda tangani kesepakatan kerjasama.


"Saya sudah menerima undangan pernikahan anda. Saya akan datang bersama keluarga" Ucap Pak Sanjaya.


"Suatu kehormatan bagi kami, anda dan keluarga bisa hadir. Terimakasih" Daniel menyalami ayah dan anak itu secara bergantian.


Karena kesibukan lainnya, Pak Sanjaya dan Fian langsung berpamitan kepada Daniel.


Daniel menghela nafas lega, karena pertemuannya dengan CEO PT. Sanjaya Grup berjalan tanpa hambatan.


Waktu menunjukkan pukul dua siang ketika Daniel memutuskan untuk melakukan check out dari hotel. Ia akan segera terbang ke kota S untuk menemui keluarga pakde Radiman dan tentu saja untuk meminta informasi hasil penyelidikan keluarga kandung Medina kepada Raihan.


Daniel memakai kata mata hitamnya dan duduk dikursi penumpang mobil hotel yang akan mengantarnya ke bandara.


Daniel tidak ingin membuang waktu dengan berlama-lama berada dikota B. Karena tujuan awalnya sudah ia dapatkan. Dan saatnya ia harus pergi ke kota S. Dan kali ini pun Daniel berharap urusannya dikota S berjalan tanpa hambatan. Karena ia ingin segera pulang menemui istrinya.


Pesawat telah mendarat dibandara Kota S. Raihan nampak benediri dengan gagah menunggu kedatangan bosnya.


"Selamat datang, Bos" Sambut Raihan dengan sopan.


"Bagaimana kabarmu, Rai?" Daniel melirik Raihan.


"Kabar saya?" Raihan mendadak menghentikan langkahnya. Tumben sekali bosnya menanyakan kabar dirinya.


"Hei...kenapa kau terlihat terkejut? Apa aku salah bertanya?"


"Emm...ti_tidak bos. Kabarku baik" Jawab Raihan dengan terbata.


"Hahaha...kau ini masih saja kaku. Bagaimana ada wanita yang mendekatimu jika sikapmu masih seperti robot?" Ledek Daniel disertai tawa lebarnya.


Raihan tidak menjawab pertanyaan bosnya. Ia berjalan sedikit lebih cepat agar bisa membukakan pintu mobil untuk Daniel.


"Terimakasih" Ucap Daniel sebelum masuk mobil.

__ADS_1


Mobil segera melaju ke kantor cabang yang dipimpin Raihan.


Saat Daniel menginjakkan kakinya disana, semua karyawan menyapa dengan hormat.


Daniel terus melangkah hingga ia masuk kedalam ruangan kerjanya diikuti Raihan yang setia dibelakang nya.


Dengan sigap Raihan menyerahkan seluruh berkas laporan perusahaan yang sudah ia siapkan jauh sebelum Daniel mengabarinya akan datang.


Daniel tersenyum puas saat matanya dimanjakan dengan isi laporan yang menjelaskan perkembangan perusahaan yang pesat dan tentu saja provit yang meningkat tajam.


"Kerja bagus, Rai. Bagikan bonus untuk seluruh karyawan tanpa terkecuali. Apa kau setuju?" Daniel yang memahami saham perusahaan nya juga milik keluarga Raihan, meminta pendapat Raihan sebagai pemegang saham.


"Saya setuju, bos" Jawab Raihan singkat.


"Terimakasih. Dan kau bisa pergi berlibur setelah pesta Resepsi pernikahan ku" Daniel tersenyum menatap Raihan dengan wajah datarnya.


Raihan hanya mengangguk menanggapi ucapan Daniel. Dalam bathinnya ia berkata:


"Bagaimana aku bisa pergi berlibur dengan tenang, jika hampir 24 jam anda selalu menghubungi ku"


****


Medina masih disibukkan dengan acara perawatan yang kakak iparnya sarankan. Kali ini, Rani meminta Medina untuk memotong rambut panjangnya.


"Model rambutmu terlalu biasa, sayang. Jadi harus ada sentuhan sedikit supaya Daniel semakin pangling menatap mu diranjangnya" Goda Rani disertai kekehan.


Sebenarnya Medina tidak keberatan jika harus memotong rambut hitam panjangnya. Namun karena kini telah bersuami, ia akan meminta ijin kepada Daniel terlebih dahulu.


"Medina akan menelepon kakak dan meminta ijin" Ucap Medina dengan senyum cantik.


Rani hanya mengangguk mengiyakan. Ia tidak terkejut dengan sikap adik iparnya itu. Rani malah memuji sikap Medina yang selalu meminta ijin suaminya jika ingin melakukan apapun. Sementara dirinya, sering sekali tidak meminta ijin suaminya walau sekedar untuk melakukan hal sepele.


"Assalamualaikum, sayang"


"Wa'alaikumsalam...istriku" Jawab Daniel diseberang telepon.


"Apa aku mengganggumu?" Tanya Medina berhati-hati.


Medina tersenyum bahagia meski apa yang diucapkan suaminya terdengar berlebihan.


"Sayang...aku ingin meminta ijin memotong rambutku. Apa boleh?" Tanya Medina pelan.


"Apa? Memotong rambut?"


"Iya....Aku merasa rambutku sudah terlalu panjang jadi menyebabkan mudah lembab dan cepat bau" Ucap Medina memberi alasan.


Diseberang sana Daniel terdiam sejenak. Baginya rambut istrinya sangat indah saat tergerai.


"Sayang...." Panggil Medina.


"Baiklah...potong sedikit saja. Aku tidak terlalu suka jika rambutmu terlalu pendek"


"Aku tahu. Aku hanya merapikannya sedikit. Terimakasih sayang, aku merindukanmu....Mmmmuuuuaaaccchhhh" Ucap Medina pelan sebelum ia mengakhiri sambungan teleponnya.


"Honey...A_...." Daniel mendengus kesal karena Medina sudah menutup panggilan bahkan sebelum ia membalas ciuman jauh yang istrinya berikan.


"Baiklah...kamu seperti nya sengaja membuatku gelisah dalam kacau. Tunggu aku,..Honey" Daniel tersenyum sambil menatap wallpaper ponselnya.


****


Sore hari saat semua karyawan mulai pulang kerja. Raihan memanggil Pak Radiman dan Salsa masuk kedalam ruangannya.


Mereka berdua tidak tahu jika Daniel sedang berada disana.


"Apa kalian bekerja dengan baik disini?" Suara Daniel mengejutkan Ayah dan anak itu.


"Nak Daniel...." Gumam Pakde Radiman. Diikuti wajah Salsa yang juga tidak kalah terkejut melihat suami sepupunya berada diruangan Raihan.


"Jika kalian tidak bekerja dengan baik, aku akan meminta Raihan memecat kalian" Ucap Daniel dengn nada yang datar.

__ADS_1


"Ka_kami bekerja dengan baik, Pak" Ucap Salsa dengan terbata.


Daniel merasa jengah dengan kedua ayah dan anak dihadapannya. Mereka sangat pintar berakting manis.


"Malam nanti aku akan mampir kerumahmu. Ada yang ingin aku sampaikan kepada kalian semua. Jadi siapkan telinga kalian untuk mendengarku dengan baik" Ucap Daniel dengan sorot mata yang tajam.


"Anda akan kerumah kami?" Tanya pakde Radiman dan hanya dijawab Daniel melalui anggukan.


"Kalian bisa pulang sekarang" Perintah Daniel kepada keduanya.


Keduanya langsung keluar dari ruangan dan berpapasan dengan Raihan yang sejak tadi menunggu diluar.


Sungguh Daniel menahan amarahnya karena mereka yang mengaku bagian keluarga istrinya namun tidak menanyakan kabar Medina sama sekali.


Hal ini membuat Daniel semakin ingin segera memberitahu mereka jika mereka tidak memiliki kesempatan apapun untuk bisa dekat dengan istrinya. Karena mereka bukanlah keluarga kandung Medina.


"Rai..." Panggil Daniel.


"Saya bos" Raihan masuk kedalam dan duduk dihadapan Daniel.


Tangan Raihan menyerah beberapa lembar kertas ke hadapan Daniel.


"Ini...hasil penyelidikan yang orang-orang ku lakukan selama dua bulan ini. Meski tidak banyak informasi yang didapat tapi informasi ini sangat membantu kita melakukan penyelidikan berikutnya" Ucap Raihan menjelaskan.


Daniel mulai membuka amplop besar diatas meja dan membacanya.


Setelah beberapa saat, Daniel melihat sebuah foto yang menampilkan seorang wanita muda cantik dan anggun dengan memakai kalung yang sama dengan yang dimiliki istrinya.


"Kalung ini...."


"Iya Bos. Kalung ini yang menjadi satu-satunya pentunjuk kita. Maka dari itu aku mulai mencari beberapa orang penting yang memiliki kalung itu. Dan hanya wanita yang didalam foto itu saja yang memiliki kalung yang sama persis dengan yang dimiliki istri anda" Raihan menjelaskan.


"Tapi siapa wanita dalam foto ini?" Daniel mulai memperhatikan wajah wanita didalam foto. Sekilas ia mengingat istrinya.


Alangkah terkejutnya saat Daniel menyadari jika wajah wanita itu mirip dengan wajah Medina.


"Wajahnya sangt mirip dengan wajah istriku" Ucap Daniel.


"Anda benar" sahut Raihan membenarkan.


"Apa kau tahu, dimana wanita ini sekarang tinggal? Siapa dia? Apa dia orang penting?" Daniel memburu Raihan dengan banyak pertanyaan.


"Itu yang masih kita selidiki bos. Karena keberadaan nya yang sulit dilacak. Berikan kami waktu" Jawab Raihan.


"Baiklah... lakukan dengan baik dan jangan sampai ada yang tahu jika kita sedang menyelidiki ini"


"Baik Bos"


Meski informasi yang Daniel dapat hari ini terbilang minim, namun ini sangatlah penting.


"Siapa wanita itu? Sangat mirip dengan Medina dan seperti nya dia bukan dari kalangan orang biasa. Jika benar demikian, berarti Medina....." Daniel berbicara dalam hati.


Daniel menyandarkan tubuhnya disandaran kursi kerja. Melihat wanita dalam foto itu membuatnya teringat dengan Medina. Daniel sangat merindukan istrinya. Jika bukan karena ingin mengatakan hal penting kepada keluarga pakde Radiman, ia pasti sudah berada di pesawat pribadinya dan kembali kerumah.


****


Setelah makan malam dihotel tempatnya menginap, Daniel bersiap untuk pergi kerumah pakde Radiman.


Raihan yang sedari sore setia menamani bosnya di hotel, sudah berdiri disamping mobil menunggu bosnya.


Dalam perjalanan kerumah Pakde Radiman keduanya telah menyusun rencana untuk mempersempit ruang gerak keluarga pakde Radiman.


Sejak awal Daniel dan Raihan melihat gelagat yang tidak beres dari Istri dan anak sulung Pakde Radiman. Untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan kepada istrinya, Daniel dan Raihan sudah membuat rencana.


_


_


_

__ADS_1


_ To be Continue 💞


Yang sudah mampir ke novel ini, Author ga bosen2 selalu mengingatkan ya... selalu tinggalkan jejak kebaikan kalian dinovel ini. Agar makin semangat nulisnya. Thanks you All 🤗😘


__ADS_2