
Setelah selesai makan siang bersmaa, Daniel dan keluarganya memutuskan untuk kembali kerumah. Karen beberapa kerabat jauh Mama dan Papa Daniel mulai berdatangan kerumah Mama Safira.
"Ma...ada yang harus Daniel ambil di apartemen. Kami akan menyusul kalian pulang kerumah" Ucap Daniel sebelum masuk kedalam mobil.
Sang mama menatap tajam putra bungsunya. Lalu pandangan nya beralih pada Danu.
Danu mengangguk kan kepalanya seolah memberi tahu jika mamanya perlu memberi ijin Daniel dan Medina.
"Baiklah...jangan terlambat datang untuk makan malam bersama" Ucap Mama Safira.
"Baiklah ibu Ratuku" Daniel mencium dahi sang mama.
Setelah saling peluk dan berpamitan, Mereka masuk kedalam mobil masing-masing.
Kak Danu melajukan mobilnya pulang kerumah dan Daniel kembali ke apartemen.
"Sayang...apa yang mau diambil dari apartemen?" Suara kecil Medina memecah keheningan didalam mobil.
"Tidak ada" Jawab Daniel singkat.
Medina menoleh Daniel dan mengernyitkan dahinya.
"Jadi...?"
"Aku ingin menghindari bertemu dengan kerabat mama dan papa" Jawab Daniel.
"Tapi kenapa?" Medina semakin bingung.
"Aku hanya malas menanggapi pertanyaan dan ocehan mereka semua. Aku yakin kamu juga tidak akan tahan" Daniel memberi alasan.
Medina menghela nafasnya. Ia memilih tidak bertanya lagi. Karena ia belum tahu bagaimana kerebat suaminya. Jadi ia tidak akan memaksa Daniel untuk bersikap bagaimana kepada kerabatnya.
"Tapi kasihan mama" lirihnya pelan.
"Jangan khawatir...kita akan datang saat makan malam. Aku hanya tidak ingin terlalu lama bersama mereka" Medina mengangguk dengan kelimat terakhir suaminya.
Mobil mereka telah sampai di apartemen. Keduanya langsung menuju lift yang akan mengantarkan mereka ke tujuan.
"Sayang...Kapan pakde Radiman akan datang?" Medina menatap suaminya.
"Mereka sudah ada disini, Honey. Mereka berada dihotel" Daniel mendekati istrinya dan menariknya agar masuk dalam dekapannya.
"Kenapa tidak bilang padaku jika mereka sudah sampai?" Tanya Medina dengan nada suara yang sedikit kesal.
Medina benar-benar kesal kepada suaminya. Segal sesuatunya yang berhubungan dengan dirinya kenapa Daniel tidak pernah mau mengatakannya.
"Lepaskan...aku mau mandi" Medina meronta dari pelukan suaminya.
Mendapati sikap istrinya yang mulai berubah, Daniel menyadarinya. Ia tahu pasti Medina sangat kesal. Tapi ia benar-benar tidak ingin sesuatu terjadi pada Medina jika mereka bertemu hari ini.
"Kamu kesal? Marah? Jengkel padaku? Akan aku terima. Tapi aku tidak akan membiarkan dirimu bertemu mereka kecuali saat pesta nanti" Ucap Daniel.
"Aku tidak ingin mereka menyakiti perasaan mu lagi, Honey. Apalagi...saat ini mereka sudah tahu jika kita telah mengetahui kebenaran dirimu" Medina membelalakkan matanya terkejut.
"Apa yang mereka katakan ketika mereka tahu?" Tanya Medina penasaran.
"Mereka sangat terkejut tentunya" Jawab Daniel singkat.
"Bukan itu maksudku...apa yang mereka katakan tentang diriku?" Daniel menyadari jika istrinya lebih paham sifat keluarga Pakde Radiman.
"Tidak ada yang mereka katakan. Karena aku membungkam mulut mereka semua"
__ADS_1
"Hanya adik kecilmu itu yang terlihat sangat sedih. Dia bahkan datang ke hotel tempatku menginap malam-malam hanya untuk meminta maaf atas perbuatan orangtuanya saat masih menampungmu. Dia juga shock karena baru mengetahui kebenaran ini" Jelas Daniel kepada istrinya.
"Billa memang berbeda dengan Salsa. Dia gadis polos yang baik" Seketika wajah Medina berubah sendu.
"Lalu apa yang kakak katakan pada Billa?"
"Aku tidak mengatakan apapun. Aku hanya sedikit memberi ancaman kepada Pak Radiman, Bu Tatik juga Salsa"
"Kamu mengancam mereka?" Pekik Medina.
"Hei...ini bukan ancaman sesungguhnya. Hanya gertakan kecil agar mereka tidak memanfaatkan istriku yang polos dan baik hati ini" Daniel mencium pipi Medina dengan mesra.
Membuat rona pipi Medina berubah seketika menjadi memerah.
"Tolong jangan sakiti mereka, Sayang" Lirih Medina menatap wajah suaminya.
"Suamimu bukan penjahat, Honey" Daniel mencium bibir Medina sekilas.
"Tapi aku akan terus mengawasi mereka karena aku tidak ingin sesuatu yang. buruk terjadi padamu, Honey" Daniel menatap istrinya lekat.
Medina melihat banyak kekhawatiran pada manik suaminya. Dan ia menyadari, jika suaminya pantas untuk mengambil sikap waspada kepada orang-orang yang pernah membuatnya hidupnya sulit. Tapi ia juga tidak ingin sikap Daniel berlebihan. Ia justru khawatir jika sikap suaminya akan membuat Daniel terbebani.
"Aku mohon jangan berlebihan. Aku tidak ingin, kamu terbebani dengan masalah diriku" Lirih Medina.
"Aku bahkan rela menyerahkan nyawaku untuk melindungi dirimu" Ucap Daniel bersungguh-sungguh.
"Jangan mencoba merayuku. Aku masih kesal karena kakak tidak pernah mengajakku untuk mendiskusikan hal apapun kepada diriku. Mulai dari persiapan pesta pernikahan, rencana bulan madu, bahkan tentang diriku sendiri. Apa kakak pikir aku tidak bisa diajak bertukar pikiran? Semuanya kakak yang mengambil alih. Apa aku terlihat begitu lemah? Dari kecil bahkan kehidupanku sudah sangat keras. Aku bisa menahannya dan melewati semuanya meski dengan derai air mata" Medina mengungkapkan semua kekesalan yang beberapa hari ini mengganjalnya dihatinya.
Bahkan saat ini cairan bening telah mengiringi kalimat yang sudah lolos dari bibirnya.
Daniel tersenyum mendengar semua kalimat yang diungkapkan Medina. Ia justru senang, Medina bisa mengungkapkan ganjalan dihatinya.
"Keluarkan semua kekesalanmu padaku. Aku akan menerimanya" Bisik Daniel.
"Aku tidak suka melihatmu sedih ataupun dalam keadaan susah. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kerasnya perjalanan hidupmu saat itu. Oleh karena itu, biar aku saja yang menghadapi mereka" Daniel meraih dagu Medina dan tatapan mereka bertemu.
Medina sangat terharu dengan kalimat yang diucapkan Daniel. Ia merasa sangat dicintai dan dilindungi.
"Maaf...." Lirih Medina.
"Maaf untuk apa?" Daniel menyeka air mata Medina.
"A_ku sudah marah-marah tadi" Medina menundukkan wajahnya.
"Aku memaafkanmu, Honey" Daniel menarik tubuh istrinya kedalam pelukan.
"Percayalah...apapun yang aku lakukan semuanya dengan pertimbangan agar dirimu tidak terlibat lebih jauh hingga membuatmu bersedih juga kecewa"
"Aku akan melakukan yang terbaik untukmu" Daniel mengecup dahi Medina dengan mesra.
"Terimakasih, Sayang" Ucap Medina sembari mengeratkan pelukannya.
"Aku tidak menerima ucapan terimakasih, Honey" Daniel menggendong Medina masuk kedalam kamar. Kedua tangan Medina melingkar cantik dileher suaminya.
"Kita akan terlambat datang makan malam" Ucap Medina saat tubuhnya sudah menyentuh kasur.
"Kamu benar, Honey. Tapi aku punya seribu alasan untuk tidak beranjak dari ranjang ini hingga besok pagi" Daniel mulai menciumi wajah Medina.
Makan malam bersama keluarga dan kerabat Daniel terlewat begitu saja. Medina yang semula merasa tidak enak hati, akhirnya menuruti saran Daniel untuk tidak perlu khawatir.
Medina yang bersikukuh agar Daniel mengabari mama Safira terlebih dahulu, dengan berat hati menyudahi kegiatan mencumbu istrinya dan bangkit dari ranjang. Mengambil ponselnya yang ia tinggal di meja ruang tamu.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Ma" Ucap Daniel saat telepon tersambung.
"Jangan menunggu kami. Mungkin kami akan terlambat datang makan malam"
"Medina tertidur...Daniel tidak tega membangunkannya" Daniel masuk kedalam kmara dan mendapati istrinya sudah terlelap tidur.
"Kami akan pulang jika Medina bangun nanti" Ucap Daniel sebelum mengakhiri sambungan telepon nya.
Daniel tersenyum melihat istrinya meringkuk. Bahkan tubuh bagian atasnya yang sudah telanjang karena perbuatan Daniel tadi tidak sempat ia tutupi.
Daniel menarik selimut menutupi tubuh Medina hingga leher. Menciumi seluruh wajah Medina sebelum Daniel beranjak keluar dari kamar. Tujuannya adalah ruang kerjanya.
Daniel sedang mencari ide untuk memberi kejutan kepada istrinya disaat pesta resepsi nanti. Sebuah kejutan yang tidak akan pernah Medina lupakan seumur hidupnya.
Kedua sisi bibir Daniel tertarik keatas saat sebuah ide muncul diotaknya. Meski tidak memiliki waktu banyak, Daniel tetap mencoba melatih dirinya agar tidak terlihat buruk dalam kejutannya nanti.
"Aku tidak peduli jika orang lain menertawakan ku, karena persembahan ini hanya untuk istriku tercinta" Ucap Daniel mantap.
*****
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam saat Daniel dan Medina pulang kerumah mama Safira.
Suasana rumah yang masih tampak ramai, membuat Medina merasa tidak enak hati karena tidak ikut datang makan malam bersama.
"Assalamualaikum..." Ucap Daniel dan Medina bersamaan.
"Wa'alaikumsalam"
"Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga" Ucap salah satu kerabat mama.
"Maafkan kami Om..." Sahut Daniel sembari menyalami semua orang yang berada diruang tengah. Diikuti Medina.
"Kenapa mama belum tidur?" Bisik Medina ditelinga mamanya.
"Sebentar lagi. Lagipula mama menunggu kalian datang" Jawab Mama Safira.
"Baiklah...kami sudah datang. Ayo, mama harus istirahat" Ucap Medina pelan tidak ingin semua orang disana mendengar nya.
Setelah berbincang-bincang sebentar mama Safira berpamitan dengan kerabatnya.
"Maaf semuanya...aku akan beristirahat lebih dulu" Pamit mama Safira.
"Kalian juga jangan terlambat beristirahat" Ucap Mama Safira.
Danu dan Rani yang berada disana hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Padahal sebelumnya mereka sudah meminta sang mama beristirahat namun selalu ditolak mama dengan alasan tidak enak meninggalkan tamu.
"Permisi semuanya" Pamit Medina sambil menggandeng tangan mama Mertuanya.
Semua orang yang berada diruang tengah menatap dengan kagum pada sosok Medina.
Sebelum Medina dan Daniel datang, Mama Safira sudah menceritakan awal mula pertemuan mereka dengan Medina. Hingga pada akhirnya Daniel pun menaruh hati pada mantan perawatnya itu.
_
_
_TBC
_
__ADS_1
_
_*Jangan lupa Vote dan komen ya guys*💞