Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 155


__ADS_3

Sepasang suami istri masih terlelap dalam tidur dengan saling meluk dengan nyaman dikamarnya. Meski matahari sudah memperlihatkan eksistensinya.


Sementara itu Mama Safira sudah bersantai sendiri di halaman belakang rumah sambil menikmati secangkir teh herbal dan cemilan sehat yang disediakan oleh bi Nur.


Bi Nur yang bersempatan bertemu dengan majikannya, langsung menceritakanq jika semalam majikannya sempat mengalami kontraksi. Mama Safira hanya tersenyum mendengarnya. Beliau sudah paham alasan yang dibuat anaknya hanya untuk mengelabui para asisten dirumahnya.Entah apa yang akan dikatakan sang asisten rumah nya jika tahu kedua majikannya sedang perang dingin.


"Anak itu...bisa-bisanya dia mengarang cerita Medina kontraksi palsu." Mama Safira menggelengkan kepalanya tersenyum geli.


Dan pada saat bi Nur hendak pamit kembali ke dapur, datang kedua orangtua Medina dan langsung menghampiri mama Safira.


"Mereka tidur bersama?" Ibu Melani tidak bisa tidur memikirkan putrinya. Mendapati besannya mengangguk ada perasaan lega dihati wanita cantik yang kini mengenakan hsijab itu.


"Mereka bahkan belum bangun. Entah apa yang terjadi semalam, setelah aku tidur." Mama Safira terkekeh.


"Mereka benar-benar bertengkar?." Tanya Pak Sanjaya yang penasaran sejak diberitahu istrinya. Karena sejauh ia melihat, Daniel sangat memanjakan Medina. Hampir tidak ada celah pada diri menantunya, namun tetap saja ia khawatir jika Daniel menyakiti putri kandungnya.


"Bagaimana lagi...wanita hamil sangat sensitif. Dan itu tidak dibuat-buat." Sahut sang istri sambil melirik besannya.


"Jadi semalam mereka tidak tidur terpisah?" Kepo sang besan laki-laki.


"Iya." Mama Safira mengangguk.


"Ya ampun__aku tidak menyangka putriku akan mengikuti saran kita." Ibu Melani menatap suaminya yang sejak tadi hanya menjadi pendengar.


"Lalu bagaimana mereka bisa tidur satu kamar lagi?" Ibu Melani tampak penasaran dengan cerita besannya. Karena ide para wanita lah yang meminta Medina yang sedang kesal agar tidak mudah dibujuk oleh suaminya.


Akhirnya mama Safira menceritakan semua kejadian tadi malam. Bahkan semua obrolanmya dengan Bi Nur, tidak luput dari rentetan cerita sang besan.


"Hahaha...ya ampun. Mereka benar-benar__" Ibu Melani menutup mulutnya agar tidak kelepasan tertawa.


"Putrimu anak yang baik. Dia tidak akan bertindak sejauh itu jika bukan kita yang turut andil memprovokasinya." Mama Safira tidak bisa menahan tawanya.


"Hatinya sangat lembut." Lanjut Mama Safira.


"Kamu benar besan, dia__berhati berlian. Terima kasih atas semua cinta dan kasih sayang yang luar biasa yang selama ini kalian berikan pada putriku." Ucap Ibu Melani dengan mata berkaca-kaca.


"Besan...dia juga putriku sebelum menjadi menantuku. Jadi tidak perlu berterimakasih untuk semua yang telah kami lakukan untuk putri kita." Mama Safira menggenggam tangan ibu Melani.


"Apapun itu...aku akan tetap berterimakasih." Ibu Melani selalu sedih jika menyangkut dengan Medina.


"Baiklah...kita semua akan mencintai dan menyayanginya." Mama Safira tersenyum pada ibu Melani dan pak Sanjaya.


"Sebenarnya kami akan pergi ke hotel untuk melihat persiapan pesta resepsi Fian dan hendak mengajak Medina." pak Sanjaya mengalihkan pembicaraan. Tidak ingin suasana sedih berlangsung lama.


"Jika begitu, aku akan membangunkan mereka." Mama Safira beranjak dari tempat duduknya dan berjalan kedalam. Tujuannya adalah kamar anak menantunya.


"Kalian memprovokasi apa?" Pak Sanjaya penasaran dnegan istri dan besannya.


"Oh ya ampun...dia benar-benar seperti kamu, Mas. Sangat mudah diprovokasi." Sindir Ibu Melani sambil menatap suaminya lalu tertawa lebar.


"Kenapa aku?" Protes pak Sanjaya.


"Ya...karena banyak sifatnya yang menurun dari kamu." Ucap Ibu Melani membuat pak Sanjaya terdiam.


****


"Sayang....ada yang mengetuk pintu kamar kita." Medina yang mendengar ketukan pintu langsung terbangun. Namun karena Daniel memeluknya, Medina tidak bisa langsung beranjak dari ranjang.


"Hhhmmm...biarkan saja." Sahut Daniel masih dengan mata terpejam.


"Sayang...mungkin itu mama." Medina berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya.


"Sayang...biarkan aku bangun. Aku juga ingin ke kamar mandi."


"Lagi?" Daniel membuka matanya.


"Iya, aku sudah tidak tahan. Cepat lepaskan." Daniel langsunh melepas pelukannya saat mendengar istrinya pergi ke toilet. Entah sudah berapa puluh kali istrinya bolak-balik ke kamar mandi sejak mereka masuk kedalam kamar. Bahkan jika dihitung, mereka baru saja tidur nyenyak selepas subuh.

__ADS_1


Daniel sempat khawatir karena takut sesuatu terjadi dengan kehamilan istrinya, teringat yang dikatakan sang mama. Namun setelah mencari tahu, Daniel merasa sedikit lega karena hal demikian sudah biasa terjadi kepada ibu hamil di trimester ketiga.


Daniel menatap punggung istrinya yang masuk kedalam kamar mandi. Dan suara ketukan pintu, membuat Daniel berdecak kesal dan mau tidak mau ia turun dari ranjang. Ia menyambar kaos oblong yang tergelatak disofa kamar.


"Selamat pagi, Ma." Sapa Daniel saat melihat wajah sang mama.


"Selamat pagi apa? ini hampir siang." Omel mama Safira melihat muka bantal putranya.


"Apa Medina sakit? Semalam bi Nur bilang Medina mengalami kontraksi palsu." Mama Safira masuk kedalam kamar ingin mengecek keadaan Medina.


"Tidak seperti itu, dia melihat aku tidur disofa dan langsung menangis. Dan saat itu bi Nur datang dan aku membuat alasan." Jelas Daniel.


"Dan setelah masuk kamar dia justru terus mondar mandir ke kamar mandi." Raut wajah Daniel berubah khawatir.


"Buang air kecil?" Tebak sang mama.


"Iya."


"Itu hal biasa terjadi pada ibu hamil menjelang persalinan. Jangan khawatir, itu normal." Sang mama tahu jika Daniel pasti panik.


"Iya yang aku baca juga seperti itu." Daniel menngangguk.


"Sudah...cepatlah bersiap. Mertuamu sudah disini, jangan membuat mereka menunggu." Mama Safira memukul pundak Daniel yang terkejut.


"Mereka diteras belakang." Mama Safira


"Kenapa mama tidak bilang sejak tadi?" Daniel tercengang karena tidak menyangka mertuanya akan datang sepagi ini.


"Baiklah...aku akan memberitahu Medina." Daniel menutup pintu dan bergegas ke kamar mandi menyusul istrinya.


*****


Medina merasa senang karena kedua orangtuanya dan mertuanya bisa sarapan bersama dirumahnya. Ini pertama kalinya sejak ia tinggal dirumah itu


"Ayah dan ibu akan pergi ke hotel untuk melihat persiapan kakakmu." Ucap Pak Sanjaya.


"Boleh aku ikut?" Medina menatap suaminya yang sudah bersiap berangkat ke kantor.


Daniel tidak langsung menjawab. Ia tidak yakin memberi ijin untuk istrinya ikut, mengingat semalam Medina kurang tidur karena harus bolak balik ke kamar mandi.


"Sayang...Aku ikut ya?" Medina kembali menanyakan kepada suaminya.


"Sejujurnya aku tidak tenang jika Medina harus ikut. Karena semalam dia kurang tidur dan terus-terusan ke kamar mandi." Daniel menatap ketiga orang tua yang sedang menunggu jawabannya.


"Aku baik-baik saja." Sela Medina sambil mengusap perutnya yang besar.


"Lagipula aku kesepian dirumah." Ucap Medina lagi.


"Honey...aku__"


"Jangan khawatir, kami akan menjaganya dengan extra." Ayah Sanjaya memahami kegelisahan dan kekhawatiran menantunya.


"Ayah...maaf bukan maksudku__" Daniel merasa tidak enak hati.


"Aku faham, Nak." Ayah Sanjaya menepuk pundak menantunya.


"Jadi...aku boleh ikut?" Seperti anak kecil yang akan diajak ke taman bermain, senyum Medina sudah terukir manis.


"Tapi janji harus menjaga diri dengan baik." Pinta Daniel seperti seorang ayah yang akan melepas putrinya bermain.


"Iya, iya...aku akan duduk manis saja." Medina memeluk lengan suaminya.


Akhirnya semua orang pergi ke tempat tujuannya masing-masing. Daniel pergi ke kantornya, Mama Safira harus pulang karena siang nanti harus menjemput Syifa disekolahnya. Karena Danu tidak bisa menjemput. Dan terakhir, Medina dan kedua orangtuanya pergi ke hotel milik Ibu Melani.


Acara yang akan dihelat besok malam membuat pihak hotel membuat kebijakan hanya akan menerima tamu hotel setengahnya saja. Tentu saja itu merupakan keputusan Ibu Melani sebagai pemilik hotel tempat berlangsungnya acara resepsi pernikahan Fian. Karena beberapa undangan yang merupakan kolega bisnis dari luar kota akan diberikan akomodasi menginap disana selama dua hari.


"Hotel ini akan segera ibu berikan padamu." Bisik ibu Melani saat keduanya berjalan beriringan ke dalam lobby hotel.

__ADS_1


"Apa?" Pekik Medina membuat pak Sanjaya langsung menoleh kedua wanita disampingnya.


"Kenapa terkejut begitu?" Kekeh ibu Melani melihat reaksi putrinya. Ketiganya masuk kedalam lift khusus yang hanya digunakan untuk pemilik hotel.


"Ayah..." Medina melihat ayahnya yang juga hanya tersenyum penuh arti padanya.


"Hotel ini seratus persen milik ibumu. Kamu berhak memiliki semua yang Ayah dan ibu miliki. Ayah tidak bisa melarang atau menghalangi keinginannya. Begitu juga sebaliknya." Ucap Ayah Sanjaya membuat Medina terdiam.


"Kami memiliki orang-orang kepercayaan yang setia dan loyal yang akan membantu kamu mengelola semuanya." Jelas pak Sanjaya


"Aku tidak bisa apa-apa." Tolak Medina.


"Memangnya kamu harus apa?"


"Ada suami dan kakakmu yang akan membantu." Pak Sanjaya mengusap kepala Medina.


"Mereka akan semakin sibuk dengan pekerjaan. Aku dan kak Donita akan kesepian." Kekeh Medina.


"Selama jni ibu juga hanya memantau dari jauh. Hanya sesekali datang untuk rapat dan meninjau. Alhamdulillah pekembangannya bagus." Timpal ibu Melani.


"Apa waktu itu ayah melarang ibu bekerja?" Tanya Medina sambil menatap ibunya.


"Iya." Jawab ibu Melani singkat.


"Ayah tidak ingin ibu melampaui kesuksesan bisnisnya." bisik Ibu Melani.


"Jangan suka memprovokasi anak kita. Dia akan percaya jika aku suami dan ayah yang jahat."


"Ayah...tidak begitu. Mungkin ibu hanya bercanda saja." Medina tidak tega melihat kedua orangtuanya harus mengingat masa lalu yang kelam.


"Lihat...kamu mudah terprovokasi, mas. Dan putri kita menuruni sifatmu." Canda ibu Melani membuat ketiganya tertawa.


Lift berdenting lalu terbuka. Ketiganya keluar dan menuju ballroom. Dan dalam perjalanan singkat itu keduanya masih terus merayu Medina.


"Ayah dan Ibu tidak akan punya apa-apa lagi." Medina mengingat hampir sebagian besar aset Ayah dan ibunya telah beralih kepemilikan atas namanya.


"Kamu salah." Sela ibu Melani dengan senyum cantiknya.


"Kamu harta ibu dan ayah yang paling berharga saat ini dan selamanya. Kami tidak membutuhkan apa-apa lagi." Tangan ibu Melani menggenggam erat tangan Medina. Maniknya berkaca-kaca menampilkan rasa haru dan bahagia bersamaan.


"Ibumu akan bermain bersama cucu-cucu saja." Gurau Ayah Sanjaya.


"Bukankah itu juga keinginan ayah juga?" Ibu Melani tak ingin kalah dari suaminya. Kedua orang tua itu saling berbalas gurauan.


"Kami hanya ingin sibuk dengan cucu dan cicit yang akan meramaikan rumah kami." Pak Sanjaya mengusap kepala Medina dengan segenap rasa cinta dan sayang.


"Insya Allah. Yang penting kalian sehat.


"Tapi aku belum bisa menerimanya. Aku harus bicara dengan kak Daniel."


"Semua harta bahkan nyawa kami tidak akan bisa menebus waktu yang hilang selama puluh dua tahun."


"Ibu...jangan memulai lagi." Ketiganya berpelukan hingga semua orang yang berada di ruangan ballroom tampak sungkan bekerja karena ada bos besar mereka disana.


"Kalian sudah datang?" Pak Faisal menghampiri ketiganya.


"Dimana yang lain?" Tanya pak Sanjaya.


"Pengantin tentu saja masih dikamarnya." Pak Fasal tergelak disusul yang lainnya.


_


_,


_


_

__ADS_1


_


Maaf kalo masih ada typo. Nulis bab ini harus beberapakali tulis dan hapus. ngerasa kurang cocok atau alurnya tidak sesuai keinginan saya. mohon maaf kalo jarang up...karena real life sangat menguras waktu dan tenaga saya.


__ADS_2