Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 9


__ADS_3

Menjelang makan malam tiba...Medina membantu Bi Inang didapur. Dengan cekatan ia membantu menata hidangan di meja makan.


"Bi...Aromanya harum sekali. Pasti rasanya enak benget" Medina mengendus aroma yang keluar dari masakan yang masih mengepulkan asap.


Bi Inang hanya mengulum senyum.


"Selesai..." Gumam Medina.


"Bi... aku akan panggil ibu Safira dan yang lainnya ya.." Teriak Medina pada BinInnag yang masih berkutat di Dapur.


Tetapi saat kaki Medina hendak melangkah menuju kamar Ibu Safira, tiba-tiba Risma datang dan mengganjal kaki Medina dengan sengaja hingga Medina jatuh terpelanting ke depan.


Brukkkkk...


Medina jatuh telungkup. Kepalanya membentur lemari pajangan yang ada ditengah ruangan.


"Awwww. Astaghfirullah" Medina berteriak. Merasakan sakit di kepalanya.


Bi Inang yang mendengar teriakan Medina langsung menghambur dari dapur.


Melihat Bu Inang datang, Risma berpura-pura akan membantu Medina.


"nduk...kamu kenapa bisa jatuh begini" Ucap Bu Inang sambil membantu Medina berdiri.


"Astaghfirullah..keningmu berdarah nduk"


Bi Inang berlari kecil mengambil kotak P3K dekat dapur dan segera kembali.


Medina meraba keningnya, dan meliha darah ditangannya.


"Ga pa-pa Bi, aku kurang hati-hati saat berjalan" Medina berbohong.


Medina melihat sekilas Risma yang memandang nya sinis. Ia bingung, mengapa Risma melakukan hal jahat kepadanya.


"apa salahku pada Risma?? mengapa dia melakukan ini padaku??" Gumam Medina lirih.


"sini bibi obati dulu nduk. Biar darahnya berhenti..takutnya nanti infeksi"


"ga pa-pa bi...aku bersihkan di belakang saja bi" Medina mengambil kotak P3K dari tangan Bi Inang lalu melangkah menuju taman dibelakang rumah.


"Ya sudah..Bibi panggil yang lain dulu untuk makan malam. Hidangan nya keburu dingin nanti ga enak" Bi Inang pun berjalan menuju Kamar Nyonya nya.


Tok...tok..tok..


"Nyonya...Aden..makan malam sudah siap" panggil bi Inang dari balik pintu.


Ceklek..


Daniel menyembul keluar kamar mamanya.


Maniknya memeriksa keluar dengan alis beradu. Yang ia cari tidak terlihat.


"Medina mana bi?" Tanya Daniel


"Anu den...Tadi sehabis membantu bibi di dapur dia terjatuh. Dan kepalanya terbentur lemari. Sekarang dia lagi mengobati lukanya ditaman belakang"

__ADS_1


"apaa!!!???" Daniel kaget dan langsung berlari mencari Medina ke taman dibelakang rumah.


Sementara Danu dan ibu Safira yang baru keluar kamar juga merasa heran karena Daniel berlari menuju taman belakang.


"Ada apa bi?" Tanya Danu.


"Medina tadi jatuh Den. Kepalanya terluka membentur lemari"


"kok bisa??" Danu dan ibu Safira terlonjak kaget.


"Saya kurang tau juga Den, pas bibi datang Medina sudah jatuh dengan kepala membentur lemari disana" jawab Bu Inang dengan tangan menunjuk lemari.


"Danu...coba kamu lihat Medina. Kalo lukanya parah bawa dia ke rumah sakit" titah ibu Safira kepada Danu.


Ibu Safira tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


"Den Daniel sekarang mungkin sudah bersama Medina...saat saya beritahu, den Daniel langsung berlari ke belakang" Ucap Bu Inang.


Danu dan Ibu Safira saling beradu pandang.


Ibu Safira tersenyum mendengar ucapan bi Inang. Entah mengapa Ibu Safira merasa hatinya bahagia dan lega.


"Daniel???" Tanya Danu heran.


Kening nya mengerut.


"Benarkah Daniel sangat menghawatirkan gadis itu? Baru beberapa hari gadis itu ada, tapi sangat mempengaruhi emosi Daniel" Danu bergumam.


"Mama akan sangat bahagia, jika Daniel sudah melupakan Farah. Dan mulai memperhatikan masa depannya" Ucap mama dengan senyum yang sedikit ia paksakan.


Setelah Danu membawa dan mendudukkan mamanya dimeja makan. Danu meminta ijin melihat kondisi Medina.


"mama tunggu disini sebentar ya"


Sementara itu Daniel yang sedang membantu membersihkan luka Medina tidak henti-hentinya mulutnya mengomeli Medina.


"kalo jalan tuh hati-hati. Jangan sembrono. Nih Hasilnya kan...? Lagian tugas kamu kan megurus mama..kenapa kamu malah bantuin bi Inang segala di dapur? Sudah ada Risma yang biasa bantuin. Mulai besok jangan pernah kerjakan pekerjaan yang bukan pekerjaan mu" titah Daniel membuat Medina hanya diam seribu bahasa.


"saya bisa obati sendiri kak" Medina mengambil kasa dan antiseptik dari tangan Daniel.


"Kamu ga akan bisa liat luka kamu. Biar aku aja" Daniel kembali mengambil kasa dan antiseptik dari tangan Medina.


Medina mwngendorkan jilbabnya agar lukanya terlihat.


"apa sakit sekali?" Daniel bertanya saat melihat wajah Medina yang meringis.


"Sedikit" Medina menggeleng.


"Sudah..." Daniel menutup luka Medina dengan kassa pada kening Medina dan menutupnya dengan plester.


"Makasih banyak kak.." Medina mengucapkan itu dengan wajah tertunduk malu.


Ini adalah kali pertama untuk Medina saat seorang laki-laki memberi perhatian lebih padanya. Bantuan kecil Daniel sudah sangat membuat wajah Medina merona. Dan dengan susah payah Medina menyembunyikan hal itu agar tidak terlihat Daniel yang masih duduk dihadapanya.


Sementara itu Danu terus memperhatikan dari belakang pintu yang menjadi penghubung antara ruang dalam dan taman belakang.

__ADS_1


"Jika kali ini Daniel benar-benar bisa membuka hati, Gw akan dukung kalian" Gumam Danu lalu kembali masuk menuju ruang makan.


"Dimana mereka? apa luka Medina parah?"


Danu mengulum senyum lalu duduk disebelah mamanya.


"Medina ga pa-pa, Ma. Bahkan Medina terlihat kikuk ketika Daniel membantunya" Danu Tergelak.


"jika kali ini Daniel benar-benar serius dengan seorang gadis, Danu pastikan dia tidak akan dikecawakan lagi" Janji Danu disambut anggukan mamanya.


"Nak..Kamu sudah mengabari Rani?" Danu menggeleng.


"Besok sore Danu akan berangkat langsung ke Bandung. Tidak apa kan ma? Mama tidak usah berangkat ke Bandung jika kondisi mama masih lemah"


"Mama tidak enak hati nak.." Ucap ibu Safira.


"Rani tahu kondisi mama...dia mengerti kok" Bantah Danu.


Hingga mereka menyelesaikan makan malam, Daniel dan Medina belum juga terlihat masuk ke dalam. Hal ini membuat Danu penasaran.


"apa yang mereka lakukan siiihh,,lama banget dari tadi ga masuk-masuk" Gerutu Danu.


Setelah mengantar mamanya ke dalam kamar, Danu beranjak ke taman belakang. Ketika hampir sampai, ide jail Danu pun terlintas. Danu akan mengerjai Daniel dan Medina.


"Eheemmm" Danu berdehem keras. Membuat Daniel dan Medina yang tengah mengobrol terlonjak kaget.


"Kaaaakk..." Daniel menggeram.


Danu tertawa terpingkal-pingkal. Medina yang melihat Danu tertawa, hanya menunduk malu.


"Niel...Kata Risma didepan ada tamu mau ketemu kamu" Ucap Danu setelah berhenti tertawa.


"tamu? siapa?" Tanya Daniel penasaran.


ia merasa tidak ada janji dengan sekretarisnya atau siapapun.


"mana kutau. cepetan dia nungguin diteras"


Meski merasa ada yang aneh, tapi Daniel tetap beranjak ke depan rumah.


Danu yang sedari tadi cekikikan, langsung terdiam ketika Medina menanyakan mamanya.


"kak..maaf. Apa ibu sudah makan?"


"mama sudah makan dan sekarang sedang istirahat dikamar" Jawab Danu.


"Kalo gitu, Medina masuk dulu ya kak" Pamit Medina.


"Med...kamu belum makan malam"


"Medina ga lapar kak...Medina mau langsung ke kamar aja nemuin ibu. Khawatir ibu butuh sesuatu" Ucap Medina lagi.


Danu mengangguk menatap punggung Medina yang menghilang ke dalam kamar mamanya.


###########

__ADS_1


__ADS_2