
Medina masih menangis dengan memeluk kakinya yang ditekuk. Dan membenamkan wajahnya disana. Bujukan Raihan bahkan tidak mempan membuat posisi gadis itu bergeming.
Sampai datang seseorang yang keluar dari pintu restoran dengan setengah berlari.
"Honey..." Panggilnya.
Seketika Medina menengadahkan kepalanya untuk menatap sosok pria yang memanggilnya.
"Kakak..." Ucap Medina lirih. Kemudian ia kembali membenamkan wajahnya dan menangis tersedu.
"Hei...Honey. Maafkan aku" Ucap Daniel yang sudah berjongkok dihadapan Medina dan memeluknya.
"Maafkan saya, Bos. Nona...."
"Kalian boleh pergi" Potong Daniel saat Raihan bicara.
Raihan dan supir yang membawa Medina segera meninggalkan mereka.
"Maaf membuatmu bingung. Aku hanya____"
Bughh! Bugh! Bugh!
Medina memukuli Daniel untuk mengeluarkan rasa kesal dan marah yang membuat dadanya sesak.
"Jangan sentuh...Jangan peluk!!" Pekik Medina dengan meronta.
"Maafkan aku, Honey" Hanya ucapan itu yang mampu keluar dari mulut Daniel. Setidaknya bisa menenangkan istrinya yang sedang diselimuti amarah, pikirnya.
Daniel kemudian menggendong Medina dan membawanya masuk kedalam restoran.
"Sebenarnya aku menyiapkan kejutan untukmu, lihatlah" Daniel menurunkan Medina dari gendongannya, namun Medina justru enggan melepaskan pelukannya.
"Honey..."
"Jangan meninggalkanku seperti tadi sore. Jangan pernah lagi. Meski kakak meminta ijin padaku untuk pergi, aku tidak akan mengijinkannya" Ucap Medina lirih.
"Aku hanya meninggalkan mu selama tiga jam, Honey" Daniel terkekeh.
"Tapi bagi diriku tiga jam seperti tiga bulan" Medina yang masih berada dalam pelukan suaminya kembali terisak.
"Apa kamar kita yang bocor juga salah satu rencanamu?" Daniel terkekeh mendengar pertanyaan istrinya. Dan membuat Medina melayangkan cubitan kecil diperut Daniel.
"Awwww....!! Itu sakit, cinta" Bohong Daniel.
Alih-alih meminta maaf Medina justru melayangkan cubitan kembali hingga Daniel merasa geli.
"Honey...kamu tidak mau melihat kejutan yang suamimu buat dengan susah payah?" Daniel mengendurkan pelukannya.
Medina melepas pelukannya. Daniel membalikkan tubuh istrinya dan menutup mata Medina dengan tangannya.
"Kenapa mataku malah ditutup?" Protes Medina.
"Aku akan membukanya, Honey..." Bisik Daniel.
Medina tersenyum lebar saat tangan Daniel tidak lagi menghalangi maniknya.
"Sayang...kamu menyiapkan ini semua?" Tanya Medina dengan wajah yang tidak berhenti tersenyum.
"Tentu saja aku yang menyiapkan nya sendiri dengan waktu yang sangat singkat. Maaf jika tidak sesuai impianmu" Bisik Daniel lagi kemudian mengecup pipi Medina.
__ADS_1
"Ini sangat indah. Terimakasih sayang" Medina melingkarkan kedua tangannya dileher Daniel.
Daniel menunduk dan langsung mencium bibir istrinya dan ********** dengan lembut.
"Apa meja makan makan itu hanya untuk pajangan?" Sindir Medina setelah selesai berciuman dan Daniel belum mengajaknya duduk.
"Ahhh...maafkan aku Tuan Putri" Daniel membungkuk seperti seorang pelayan memberi hormat kepada putri raja.
"Silahkan, Tuan Putri" Daniel mengulurkan tangannya dan langsung disambut Medina.
Medina tertawa lebar. Ia sangat senang dan tersanjung mendapatkan kejutan dari semuaninya meski harus melawati drama.
"Terimakasih, Tuan suami tampan yang baik hati" Ucap Medina saat Daniel menarik kursi untuk dirinya.
"Aku tidak menerima ucapan terimakasih, Tuan Putri" Sahut Daniel cepat.
"Lalu?"
"Akan aku beritahu nanti. Sekarang nikmati makan malam kita" Medina mengangguk setuju karena ia juga sangat lapar.
"Sayang...mengapa restoran ini sangat sepi. Pengunjungnya hanya kita berdua?" Tanya Medina penasaran karena sedari tadi tidak melihat pengunjung datang ke restoran.
"Restoran ini milik Raihan. Aku meminjamnya selama beberapa jam"
"Apa? Mi_milik Raihan?" Tanya Medina terkejut.
"Hei...mengapa kamu terkejut?"
Medina menggeleng menyembunyikan rasa malunya karena sudah berteriak dan memukul Raihan.
"Jika dia punya usaha, mengapa dia masih bekerja menjadi asisten suamiku?" Medina bicara dengan dirinya sendiri.
Mereka makan malam romantis dengan saling menyuapi satu sama lain.
Medina manatap suaminya yang juga menatapnya dengan lembut.
"Sayang...Apapun yang terjadi..maukah kamu berjanji untuk tidak pernah meninggalkanku seperti tadi?" Medina menundukkan wajahnya mengingat dirinya yang ditinggalkan Daniel dan bahkan tidak bisa menghubunginya.
"Berjanjilah untuk tetap menggenggam tanganku, meskipun aku bukan wanita hebat dan tidak mampu membanggakanmu dihadapan dunia" Lanjut Medina lirih.
Tangan Daniel mengangkat dagu Medina.
"Hei...Apa yang kamu katakan, cinta? Aku minta maaf...aku berjanji tidak akan melakukannya lagi" Daniel meraih tangan Medina dan mengecupnya.
"Kamu adalah wanita hebat dimataku" Daniel menahan tengkuk Medina dan menyatukan bibirnya dengan bibir Medina.
Ciuman yang awalnya lembut dan mesra berubah menjadi ciuman panas dan menuntut.
"Sayang...." Ucap Medina saat melepas ciumannya.
"Sayang...nanti ada yang lihat"
"Tidak akan ada yang lihat. Restoran ini hanya kita berdua dan beberapa pelayan restoran"
Daniel terkekeh dan mengecup bibir Medina kembali yang selalu membuatnya bergairah.
"Sayang..Apa ada kejutan lain?" Tanya Medina dengan manja.
"Tentu saja" Daniel mencolek hidung kecil Istrinya.
__ADS_1
"Benarkah?? Apa itu??" Teriak Medina kegirangan.
"Apa kamu benar-benar ingin segera mendapatkan kejutan lainnya, Tuan Putri?" Medina mengangguk cepat karena sudah tidak sabar.
"Hahahaha...Kamu lucu dan menggemaskan" Daniel mencubit pipi Medina.
"Baiklah...aku akan berikan kejutan lainnya tapi dengan satu syarat" Tawar Daniel.
"Syarat? surprise dengan syarat, apa ada sayang?" Protes Medina.
"Ada" jawab Daniel singkat.
"Baiklah..aku setuju. apa syaratmu Tuan suami tampan?" Medina enggan berdebat dan ingin segera mendapatkan kejutan lainnya.
"Buatkan aku satu pantun yang menyatakan perasaan cintamu padaku" Sahut Daniel narsis.
"Pantun cinta??"
Daniel mengangguk cepat dengan senyumnya yang tidak pernah luntur.
Medina nampak berpikir sejenak untuk mencari ide. Bahkan bola matanya bergerak-gerak karena mencari ide dan membuat Daniel semakin tertawa.
"Oke...aku sudah dapat. Dengarkan baik-baik" Pekik Medina senang setelah ia mendapatkan ide.
Daniel menegakkan tubuhnya menatap wanitanya dengan intens.
"Beli baju tengahnya bolong, Rusak baju karena jahitan, Sungguh aku tidak berkata bohong, Cintaku padamu seluas lautan" Medina langsung menutup wajahnya karena malu.
"Wow...wow...wow...Pantun yang luar biasa, Tuan Putri" Keduanya tertawa dengan keras.
"Sekarang berikan kejutan lainnya yang kau janjikan, Tuan" Todong Medina membuat Daniel membelalakkan maniknya.
"Honey,,,aku baru tahu sisi tidak sabaran dirimu" Ledek Daniel dengan tawanya.
"Maka dari itu...Tuan suami tampan yang baik hati, kamu harus segera memberikannya, sebelum aku kehilangan kesabaran" Sahut Medina sombong.
Jemari lentik Medina bahkan sudah merayap diwajah pria dihadapannya. Daniel menikmati itu dan membiarkan istrinya berulah karena itu membuat api gairah terus memercik dalam dirinya dan ia menyukainya.
"Kamu sungguh ingin kejutannya sekarang, Honey?"
"Mengapa masih bertanya? Aku sudah melakukan apa yang kakak minta" Cebik Medina mulai merasa kesal karena suaminya mengerjainya lagi.
"Ayo ikut aku" Ajak Daniel yang sudah berdiri.
"Kita mau kemana?" Medina menengadahkan kepalanya untuk menatap suaminya yang sudah berdiri.
"Menemukan kejutan lainnya" Ucap Daniel singkat.
"Oke" Sahut Medina bersemangat. Membuat Daniel tersenyum menyeringai.
Medina melangkah dengan wajah yang berbinar senang. Ia belum tahu kejutan apa yang akan diberikan suaminya namun ia merasa kejutan itu akan sangat membuatnya semakin bahagia.
Medina mengedarkan pandangannya saat mobil yang mereka naiki masuk ke pintu lobby hotel tempat mereka menginap.
"Kenapa kita pulang ke hotel kak?" Tanya Medina yang sedikit bingung.
"Karena kejutannya ada disini" Jawab Daniel dengan senyum manis nya.
"Ohhh.." Medina hanya ber oh ria. Karena ia memang tidak tahu. Namanya juga kejutan.
Mereka segera turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam hotel.
__ADS_1
Dilobby hotel sebelum masuk kedalam lift Medina bertemu dengan Raihan dan supir yang membawanya tadi.
Medina sengaja menyembunyikan wajahnya dibelakang lengan suaminya karena malu sudah meneriaki dan memukul Raihan. Itu sunghuh sangat tidak sopan menurut Medina. Tapi itu adalah kesalahan Raihan karena selalu membuatnya kesal. Jika Raihan bisa bekerjasama dengan baik, mungkin hal itu tidak pernah terjadi.