
Sudah satu Minggu Daniel dan Medina menginap dirumah mama Safira. Kondisi mama Safira yang sudah sangat membaik dengan cepat membuat Daniel memutuskan untuk mengajak Medina pulang ke Apartemen mereka.
Pagi ini Medina sudah berada di dapur membantu Bu Inang menyiapkan sarapan.
"Nyonya sudah terlihat lebih sehat" Ucap Bi Inang disela kegiatan masaknya.
"Iya, Bi. Karena mama sudah lebih sehat, kakak mengajak Medina pulang ke Apartemen. Padahal Medina masih ingin menemani mama disini" Wajah Medina terlihat sendu.
"Memang seharusnya begitu, Nduk. Seorang istri harus ikut dimanapun suaminya tinggal. Itu tanda bakti dan taat kita kepada suami. Saat seorang wanita sudah menikah, tanggung jawabnya adalah mengurus suami dan rumah tangganya dengan baik" Nasehat Bi Inang.
"Iya, Bi" Medina mengangguk paham.
Mereka melanjutkan memasak hingga semua hidangan sudah tertata dengan rapi dimeja makan.
"Terimakasih Bi..." Medina memeluk Bi Inang.
"Jangan cuma berterimakasih, segera berikan Nyonya cucu dari kalian" Ucap Bi Inang membuat Medina tertawa.
"Tapi Medina harus menyelesaikan sekolah paket Medina dulu, Bi" Sahutnya pelan.
"Jika Medina hamil sambil sekolah juga...pasti akan repot nantinya, Bi"
"Siapa yang repot dan direpotkan?" Celetuk Daniel yang entah sejak kapan berdiri disana.
Medina membulatkan matanya. Terkejut melihat suaminya sedang berdiri disana dan mendengar pembicaraannya dengan bi Inang.
"Sayang??" tiba-tiba Medina gugup. Ia takut Daniel salah paham dan marah kepadanya.
Daniel berjalan mendekati Medina. Sementara Bi Inang sudah beranjak pergi setelah mendapat kode dari Daniel.
"Kamu kerepotan apa, Honey?" Tanya Daniel setelah jarak mereka sangat dekat.
Medina diam sejenak memikirkan apa yang akan ia jawab atas pertanyaan suaminya.
"Hmm?" Daniel menekan tubuh Medina hingga mereka berdempet tanpa jarak.
"Emm...itu..." Medina menunduk tidak berani menatap wajah suaminya.
Daniel mengangkat dagu Medina hingga manik keduanya bertatap.
CUP! Daniel mengecup bibir Medina.
"Pangeranmu sudah sangat lapar, Tuan Puteri" bisik Daniel setelah mengecup bibir Medina.
Medina terkekeh dan mendorong tubuh Daniel menjauh.
"Baiklah...aku akan memanggil mama dan yang lainnya" Medina beranjak ke taman belakang untuk memanggil mama Safira,
Tidak lama Setelah menyelesaikan sarapan, Daniel berpamitan pulang ke apartemen.
"Papa Niel...Ifa ikut ya?" Rengek Syifa sambil menarik-narik kemejanya.
"Kamu harus sekolah sayang..." Bujuk Daniel sambil menatap Syifa kemudian Medina secara bergantian.
"Tapi aku bisa berangkat sekolah dari apartemen" Danu dan Rani mulai menggelengkan kepalanya.
"Sayang...antara Apartemen dan sekolahmu sangat jauh. Kamu akan kelelahan dan terlambat setiap masuk sekolah" Bujuk Rani.
Syifa terdiam sambil menekuk wajahnya.
"Begini saja....Bagaimana kalo Syifa pergi menginap di apartemen setiap weekend? Mau?" Tawar Medina menengahi membuat gadis kecil itu merubah sendu wajahnya menjadi sumringah.
"Apa Honey....!?" Pekik Daniel merasa tidak terima.
"Hanya weekend sayang..." Medina mencium pipi chubby Syifa dengan gemas.
"Ide bagus, Med" Sahut Danu.
__ADS_1
Danu dan Rani menahan senyumnya.
"Ma...Medina pulang ya" Pamitnya pada mama Safira. Tak lupa ia mencium punggung tangan dan kedua pipi mertuanya.
"Kalian hati-hati, ya. Daniel...jaga putri mama" Titah mama.
"Siap, ma" Daniel memberi hormat sambil terkekeh.
"Dasar bocah!!" Danu memukul pundak Daniel. Mereka berdua tertawa bersama.
Mobil Daniel melaju keluar dari pintu gerbang rumah orangtuanya menuju apartemennya.
"Sayang....gimana dengan sekolahku?" Tanya Medina memecah keheningan.
"Kamu masih mau lanjutin?" Tanya Daniel disambut anggukan antusias Medina.
"Oke...kita bahas setelah acara resepsi ya" Tukas Daniel yang masih fokus menyetir.
Membuat Medina menghela nafas.
"Kenapa?"
Medina menggeleng pelan dengan wajah yang sedikit sendu.
"Oke...nanti kita bicarakan ini setelah dirumah" Medina mengangguk paham.
Mobil mereka terus melaju hingga tanpa terasa sudah masuk kearea parkir apartemen.
"Sayang...bisa kita mampir ke supermarket sebentar?"
"Tentu, Honey. Di apartemen hanya ada ranjang besar" Goda Daniel dengan wajah tampannya.
Medina mencubit perut Daniel dengan gemas.
"Dasar, mesum!" Medina meninggalkan suaminya dan masuk ke dalam supermarket buang berada dilantai bawah apartemen.
"Sayang...mau makan siang apa nanti?" Tanya Medina yang sedang memilah daging.
"Yang mudah dan tidak membuatmu lelah" bisik nya mesra.
"Oke...kita akan masak mie instan" Jawab Medina asal membuat Daniel menggeleng cepat.
"Hei...itu tidak sehat!" larang Daniel.
"Kakak bilang ingin masakan yang mudah dan ga bikin aku lelah, kan? Yaa..mie instan"
"Awas saja, kalo sampai kamu makan mie instan seperti saat tinggal dirumah mama sebelum kita menikah, aku akan menghukummu, Honey" Ucap Daniel panjang lebar membuat Medina menutup mulutnya dengan tangannya.
"Kakak mengawasi ku?" Tanya Medina heran.
"Aku selalu mengawasi semua aktifitasmu" Ucap Daniel bangga.
"Dasar penguntit" Oceh Medina meninggalkan Daniel.
Setelah selesai berbelanja mereka kembali ke apartemen. Medina dengan cekatan memilah dan menaruh barang belanjaan ditempatnya. Sementara Daniel masuk kedalam ruang kerjanya. Ada banyak berkas yang harus ia periksa dan tandatangani.
"Hhhmmm...masak apa ya?" Gumam Medina.
Setelah berpikir sejenak, ia menemukan ide untuk makan siang mereka. Dengan lincah jemari Medina meracik bumbu dan mencuci bahan sebelum diolah menjadi masakan.
Di dalam ruang kerja yang memang tidak jauh dari dapur, Daniel mengendus aroma bumbu yang sangat harum dan menggoda indera penciumannya. Ia menutup laptop dan berkasnya. Beranjak keluar dan aroma wangi masakan semakin membuat cacing-cacing diperutnya berdemo.
"Honey....apa yang kamu masak?" Medina terkenjit kaget karena Daniel yang tiba-tiba datang dan memelukinya dari belakang.
"Astaghfirullah...."
"Ohhh...sorry...sorry..." Daniel menyadari kesalahannya yang membuat Medina terkejut.
__ADS_1
"Kenapa kesini? Masakan aku belum selesai. Kerjaan kamu sudah selesai?"
"Aroma masakan kamu membuat aku rela meninggalkan pekerjaanku" Sahut Daniel sambil terkekeh.
"Lepas kak....aku susah bergerak kalo begini" protes Medina karena Daniel terus memelukinya dan menciuminya.
Daniel melepas pelukannya.
"Mungkin aku bisa membantu?" Tawar Daniel dengan tatapan yang tidak bisa luput dari istrinya. Mungkin dengan membantu, ia bisa mengalihkan gairah yang terus bergejolak jika berada dekat dengan Medina.
Medina melirik suaminya dan tersenyum manis.
"Hei...jangan menggodaku dengan senyumanmu" Karena gemas Daniel mendekat dan mencium pipi Medina.
Medina tertawa geli saat mendengar suara perut Daniel yang keroncongan.
"Cepat selesaikan, atau aku akan memakanmu" Bisiknya ditelinga Medina.
"Kakak bisa tunggu dimeja makan. Ini sudah selesai"
"Tolong bawa ini...dan ini" Pinta Medina dengan menyerahkan satu mangkuk tongseng ayam dan piring kepada Daniel.
"Baiklah.." Daniel berjalan ke meja makan dan meletakkan hidangan sederhana itu diatas meja.
Seperti yang sudah disepakati, Medina makan sambil berada diatas pangkuan Daniel dan saling menyuapi. Meski tidak nyaman tapi Daniel menahan istrinya duduk dikursi lain.
"Apa yang akan kita lakukan setelah ini" Goda Daniel dengan tangan yang mulai jahil.
"Tentu saja sholat Dzuhur" Medina mengambil piring kotor dan membawanya ke dapur.
Setelah meja makan dan dapur bersih, Medina mengajak Daniel sholat Dzuhur berjamaah.
"Kak...Aku boleh tanya sesuatu? Tapi jangan marah ya?" Tanya Medina dengan kehati-hatian.
Mendapat pertanyaan yang tidak biasa, Daniel mendekati istrinya.
"Memang mau tanya apa? Sampai aku tidak boleh marah?" Daniel berbalik bertanya.
"Tapi harus janji dulu, kakak jangan marah setelah mendengar pertanyaanku" Pinta Medina sambil menunduk.
Daniel menatap istrinya dengan lekat. Kedua tangannya menangkup wajah Medina agar tatapan mereka bertemu.
"Apa yang mau kamu tanyakan? Jika aku punya jawabannya, aku akan jawab" Daniel mengecup kening Medina kemudian memeluknya .
"Bagaimana hubungan kakak dengan Farah?" Pertanyaan itu kemudian lolos dengan satu kali tarikan nafas dari bibir Medina.
Daniel sedikit terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan istrinya. Bahkan ia merenggangkan pelukannya.
"Tidak perlu dijawab jika kakak tidak punya jawabannya" Ucap Medina dengan wajah tersenyum.
"Maafkan Medina" Ucap Medina lagi saat kembali tidak ada respon dari suaminya atas pertanyaannya.
Daniel menahan tubuh Medina saat istrinya hendak berbalik menjauh.
"Maaf...Tapi aku tidak melupakan janjiku padamu" Ucap Daniel pelan namun masih bisa didengar oleh Medina.
Daniel mengingat janjinya kepada istrinya, akan meluruskan hal yang belum selesai dengan mantan tunangannya sebelum mereka menikah.
"Aku hanya menundanya, hingga semua urusan pemberkasan pasport kamu selesai. Setelah itu aku berniat membawamu menemuinya sekaligus untuk menikmati bulan madu kita" Daniel memeluki Medina dengan sangat erat setelah mengucapkan itu.
"Aku akan mengenalkan mu padanya dan dengan bangga aku akan mengatakan jika kamu adalah wanita yang kini menguasai hati dan hidupku"
"Aku ingin tahu reaskinya, saat aku membawa istri ku yang imut dan cantik ini kehadapannya"
Medina tersenyum dengan airmata yang entah sejak kapan sudah berseluncur bebas dipipinya. Ia sangat terharu mendengar ucapan suaminya.
"Terimakasih sudah mencintai Medina" Ucap Medina terisak. Medina membalas pelukan Daniel dan membenamkan wajahnya didada suaminya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menerima ucapan terimakasih" Daniel sudah menggendong tubuh Medina dan mencium bibir istrinya dengan lembut. Membawanya ke ranjang besar yang berbalut selimut putih. Mengekspresikan rasa cinta dan sayang dengan saling berbagi desahan dan kenikmatan.