Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 166


__ADS_3

Kedua keluarga besar menikmati pesta dengan saling mengobrol banyak hal. Mulai dari hal-hal sederhana hingga urusan bisnis. Mereka larut dalam suasana pesta yang sangat hangat dan menyenangkan.


Para pria bahkan semakin asyik berbincang ditaman belakang sambil menyiapkan pesta barbeque. Sementara para wanita, lebih memilih mengobrol digazebo yang terdapat dipinggir kolam renang.


Saat semua asyik mengobrol dengan lawan bicaranya, Medina melihat Farah yang sejak tadi menyendiri. Seolah sengaja menghindari obrolan dengan yang lainnya. Hatinya tergerak untuk menghampiri wanita yang tengah hamil muda itu.


"Lama tidak berjumpa, Kak. Bagaimana kabarmu?" Sapa Medina saat mendekat.


"Oh, hai Medina. Emm..aku baik." Jawab Farah dengan canggung.


"Bagaimana kabarmu?" Farah mencoba untuk bersikap biasa dan tenang. Menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya. Hatinya masih diliputi rasa sakit hati dan juga rasa bersalah. Entahlah...perempuan berambut panjang itu beberapa kali mengatur nafas. Suasana ini sangat canggung dan ia belum terbiasa.


"Alhamdulillah baik."


"Kenapa kak Farah tidak bergabung dengan yang lainnya?" Tanya Medina menatap yang kini menjadi saudara sepupunya.


"A_aku, entahlah...semenjak hamil aku lebih suka menyendiri dan suasana tenang." Farah menunduk dan memainkan jari-jarinya.


"Apa hubungan kalian baik-baik saja?" Medina mengusap bahu Farah.


"Ya?"


"Hubungan kakak dengan Kak Gio. Apa baik-baik saja?" Tanya Medina lagi.


"I_iya, tentu saja. Kami akan segera memiliki anak. Tentu saja semuanya harus membaik." Ucap Farah dengan senyum dipaksakan. Ia tidak ingin orang lain mengasihani dirinya dengan nasib yang ia jalani saat ini.


"Apa Gio sering bercerita tentang hubungan kami?" Medina menggeleng saat mendapati pertanyaan sepupunya.


"Kami bahkan sudah lama tidak bertemu."


"Oh."


"Jangan menutup diri dari keluarga. Bergabunglah dengan yang lain. Aku yakin mereka akan menerimamu." Ucap Medina membuat Farah terdiam.


"Semua sudah berlalu, kak. Tidak perlu memikirkan masalalu. Yang perlu kita pikirkan adalah masa depan. Merencanakan hal indah dengan keluarga baru kita." Ucap Medina menatap Farah yang menoleh padanya.


"Kamu berhak bahagia, meskipun bukan dengan apa yang kita inginkan dimasalalu. Karena takdir Tuhan pasti yang terbaik untuk kita. Tinggal kita menjalaninya penuh rasa syukur." lanjutnya dengan tersenyum.


"Maaf...bukan bermaksud menggurui atau sok tahu. Tapi... sekarang kita adalah keluarga. Aku ingin semua anggota keluargaku bahagia dengan kehidupannya." Medina tersenyum lalu menggenggam tangan Farah.


"Berbahagialah dengan kak Gio. Dia sangat mencintaimu. Dia pria yang sangat baik."


"Apa aku pantas bahagia? Setelah apa yang aku lakukan pada kalian?" Manik Farah berkaca-kaca menatap kosong kedepan.


"Jangan menghakimi diri sendiri, kak. Gunakan kesempatan ini untuk memperbaiki diri agar kak Farah pantas bersanding dengan kak Gio." Medina membelai pundak Farah yang kini menangis namun dengan cekatan Farah menghapus airmatanya.


"Maafkan aku." Isak Farah menunduk. Lalu mengangkat wajahnya dan menatap Medina.


"Aku sudah lama memaafkan kalian. Maka dari itu jangan kecewakan saudaramu ini. Berjuanglah, kak." Medina menggenggam erat tangan Farah.


"Kini aku tahu, mengapa semua orang mencintamu.


"Kamu sangat tulus, Medina." Air mata Farah tak terbendung. Ia pun menangis.

__ADS_1


"Mari kita berteman dan menjadi keluarga. Kita akan menyambut anak ini dengan perasaan bahagia." Medina mengusap perut Farah yang terlihat sedikit membuncit karena gaun yang dikenakan Farah sedikit ketat. Jadi terlihat perutnya yang menyembul dibalik baju yang dikenakan.


"Terimakasih." Farah mengeratkan pelukannya.


Pemandangan ini tentu membuat semua mata tertuju pada mereka. Terlebih Gio yang menatap istrinya dengan sendu.


"Berikan dia kesempatan, demi anak kalian." Danu menepuk pundak Gio yang duduk disampingnya.


"Iya, kak." Gio tersenyum dan mengangguk.


"Rencananya aku akan memboyongnya ke singapura minggu depan." Ucap Gio membuat semua orang terkejut.


"Aku punya bisnis sendiri disana yang baru aku bangun bersama temanku saat kuliah dulu. Dan...aku juga ingin belajar berumah tangga." Gio tersenyum menatap semua orang.


"Semoga yang terbaik untuk rumah tangga kalian." Ucap Daniel menyemangati sepupunya. Ia tidak ingin terlalu dalam mencampuri urusan rumah tangga Gio. Biarlah sepupu nya itu menjalani biduk rumah tangganya yang baik.


"Medina selalu bisa mengambil hati siapapun. Termasuk orang yang kita anggap musuh selama ini." Kekeh Gio menatap lurus sang istri yang sudah ikut duduk bergabung dengan para wanita.


"Hei...itu masalalu. Saat ini dan dimasa depan kita adalah keluarga."


Semua orang mengangguk termasuk pak Sanjaya dan Papi Gio.


"Kami turut mendoakan yang terbaik untuk kalian." Ucap Papi Gio.


"Aku tidak menyangka akan menjadi keluarga dengan para rekan dan rival bisnisku." Kekeh pak Sanjaya menatap Papi Gio yang ikut terkekeh.


"Kamu menganggapku saingan bisnis?" Ledek Papi Gio.


"Ayah pernah ditolak kerja sama bisnis?" Tanya Daniel tidak percaya. Ia pikir nama besar Sanjaya Group akan mulus-mulus saja dalam dunia bisnis.


"Makanya aku mulai tertarik dengan perusahaan keponakannya dan kita akhirnya teken kontrak kerja untuk beberapa proyek." Ungkap pak Sanjaya lagi.


Semua orang tertawa kecuali Papi Gio. "Tapi usahamu tidak hanya membuahkan keuntungan. Tapi kalian bertemu putri kalian. Inilah jalan Tuhan yang tidak pernah kita menduganya."


"Kamu benar, aku mendapatkan harta terbesarku." Ucap Pak Sanjaya menatap Medina dari kejauhan.


Waktu pun bergulir dengan cepat. Malam semakin larut, dan semua orang kini telah meninggalkan pesta untuk kembali kerumah masing-masing. Hanya tersisa keluarga Daniel dan keluarga Medina yang rencananya akan menginap.


"Sudah malam, sebaiknya kita juga beristirahat." Ucap Daniel kepada semua orang.


"Sampai berjumpa besok pagi." Danu pamit lebih dulu membawa Mama Safira naik ke lantai dua. Karena kamar bawah akan digunakan untuk Pak Sanjaya dan ibu Melani.


Sementara Rani sudah masuk kamar dulu karena harus menidurkan Syifa dan Baby Syakir.


"Kau juga harus segera istirahat, sayang. Jangan tidur terlalu larut." Ucap ibu Melani sebelum masuk kamar.


Daniel dan Medina pun akhirnya yang terkahir masuk kamar setelah memastikan semua anggota keluarganya masuk kamar masing-masing.


"Terimakasih, aku sangat bahagia hari ini." Medina langsung memeluk suaminya setelah masuk kedalam kamar.


"Jadi selama ini kamu tidak bahagia?"


"Ish...bukan begitu. Aku selalu bahagia dengan apapun yang kakak lakukan untukku. Tapi kali ini, aku sangat sangat sangat bahagia. Hatiku lega seolah tidak ada lagi beban."

__ADS_1


"Aku banyak mengobrol dengan kak Farah tadi."


"Ya kami melihatnya."


"Apa yang kalian bicarakan?" Daniel mengeratkan pelukannya.


"Rahasia." Kekeh Medina memggida sang suami.


"Aku hanya ingin dia bahagia bersama kak Gio. Apa itu mungkin?" Medina menatap manik suaminya. Tatapannya berubah sendu.


"Kita doakan yang terbaik untuk mereka." Ucap Daniel.


"Tidurlah." Daniel menarik bantal agar Medina nyaman dengan posisi tidurnya.


"Terimakasih, Papa." Cicitnya menirukan suara anak kecil.


"Ah, aku tidak sabar bertemu dengan putraku." Daniel memundurkan tubuhnya agar sejajar dengan perut Medina. Seperti kebiasaannya, sebelum tidur ia akan mengajak calon bayi nya berbicara.


"Sayang, setelah baby El lahir dan sudah agak besar, bagaimana jika kita ikut program kehamilan bayi kembar?"


Daniel terkekeh, dan langsung menghujani Medina dengan ciuman diwajahnya.


"Jawab dulu." Medina menahan bibir suaminya.


"Jawab apa?"


"Yang aku katakan barusan." Medina memainkan kaos yang di pakai suaminya.


"Program anak kembar?"


"Iya, kamu tidak ingin punya anak kembar?" Tatap Medina.


"Aku tidak menolaknya, Honey. Karena aku senang karena pekerjaan malamku pastinya bertambah." Daniel merapatkan bibirnya dengan bibir Medina. Saling bertukar udara dan saliva hingga waktu yang lama. Sebelum akhirnya mereka memutuskan tidur dalam hangatnya pelukan.


****


Semua orang sudah berkumpul di meja makan. Mereka akan sarapan bersama, sebelum kembali beraktifitas seperti biasanya.


Mereka mengobrol santai sambil menyantap sarapan. Suasana hangat sejak kemarin itu membuat hati Medina terharu juga bahagia sekaligus. Hingga tanpa terasa air matanya menbasahi pipi.


"Honey, apa perutmu mulas?" Tanya Daniel panik melihat istrinya menangis. Semua orang mengehentikan makan dan menatap Medina dengan cemas.


Medina menggeleng sambil tersenyum. "Aku terharu dan ini airmata bahagia, Sayang." Jawab Medina menatap suaminya. Membuat semua orang bernafas lega.


"Sayang..." Ibu Melani bangkit dan mencium kening putrinya. Lalu memeluknya dengan erat. Perasaan bersalah kadang masih menghinggapi hati Ibu Melani. Hingga ia pun kerap berusaha menemani Medina setiap saat. Berharap bisa membayar waktu yang hilang selama 24 tahun lalu.


"Ibu... terimakasih karena sudah selalu menemaniku." Ucap Medina masih memeluk ibunya.


"Tidak sayang, justru ibu yang berterimakasih karena kamu mau memberikan kesempatan kepada wanita tua ini untuk terus mendampingi mu." Ibu Melani memberikan ciuman bertubi-tubi fi wajah Medina.


"Aku ucapkan terima kasih juga untuk kalian. Kebahagiaan ini tidak akan kami peroleh tanpa dukungan kalian semua." Ibu Melani menatap keluarga Daniel satu persatu. Menyampaikan rasa terimakasih yang teramat dalam.


_

__ADS_1


__ADS_2