Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 124


__ADS_3

Diruang rawat VVIP, semua orang tampak menggilingi Medina yang terbaring lemah diatas brankar. Selang infus masih terpasang dipergelangan nya.


Setelah Daniel mengabari keluarganya, Mama Safira, Kak Danu dan Ranu langsung datang ke rumah sakit. Namun tidak dengan keluarga pak Sanjaya. Daniel sengaja tidak memberitahunya karena ia pasti didesak pak Sanjaya atas kondisi istrinya saat ini. Dan itu akan menimbulkan kecurigaan Medina.


"Aku sudah kenyang, ma." Medina menolak suapan mama Safira yang tengah menyuapinya sarapan.


"Kamu baru memakannya sedikit, bahkan ini belum separuhnya, sayang."


"Tapi perut Medina mual, sayang kalo nanti dimuntahkan." Medina tersenyum.


"Baiklah...mama akan menyimpannya. Makanlah lagi jika perutmu mulai enakan." Ucap Mama Safira disambut meanggukan oleh Medina.


Mama Safira menyimpan makanan diatas meja samping ranjang lalu mengambil air minum dan obat serta vitamin yang harus diminum Medina.


"Sebaiknya sementara waktu, kamu tinggal dirumah mama." Ucap Mama Safira membuat Kak Danu, Rani dan Daniel menoleh seketika.


"Kenapa?" Tanya mama Safira saat semua orang menatapnya.


"Putraku tidak bisa menjaga istri dan calon anaknya, mama harus berbuat sesuatu." Mama Safira menatap tajam Daniel.


Medina hanya terdiam. Sementara Danu dan Rani tampak tersenyum penuh arti.


"Ma..." Daniel hendak memprotes keputusan sang mama namun Medina lebih dulu berbicara.


"Bagaimana jika mama yang tinggal dirumah kita?" Usul Medina menatap mama mertuanya dan suaminya bergantian.


"Ahhh...benar Honey. Itu ide yang sangat bagus." Timpal Daniel.


"Mereka benar, ma. Jika Medina dirumah, dia tidak akan bisa beristirahat karena pasti Syifa tidak akan bisa jauh dari mamanya." Danu ikut bersuara ketika mendapat tatapan memohon dari adiknya.


"Kalian sama saja." Dengus mama Safira menahan kesal.


Daniel memeluk mamanya, "Kakak benar, jadi mama yang akan tinggal dirumah kita."


"Mama akan membawa Medina jika kamu tidak bisa menjaganya dengan baik." Ancam Mama Safira.


"Siap, ibu ratuku." Daniel mencium dahi mama Safira.


****


Daniel baru saja menyelesaikan meetingnya yang ia lakukan disudut kamar inap istrinya. Ia benar-benar tidak meninggalkan Medina meski ia sendiri saat ini sibuk.


"Sebaiknya kakak ke kantor. Aku sudah lebih baik." Ucap Medina saat Daniel beranjak mendekati nya.


"Hei...aku tidak akan kemanapun. Apalagi ibu ratu sudah memberi ancaman." Sahut Daniel terkekeh.


"Jadi suamiku takut ancaman mamanya?" Sindir Medina.


"Tidak, Honey. Aku tidak mau kamu kesepian dan merindukanku." Daniel mengecup dahi Medina.


"Tuan....anda sedang menggombal?" Medina manatap suaminya tidak percaya membuat Daniel tertawa.


"Aku tahu kamu mulai bosan. Dan...suamimu ini akan membawamu berkeliling." Daniel menarik kursi roda yang telah tersedia dikamar.


"Sayang.....kamu seperti peramal." Puji Medina membuat Daniel kembali tertawa.


Daniel mengangkat tubuh Medina dari ranjang lalu mendudukkan nya di kursi roda.


"Kita kemana?"


"Menghirup udara segar." Daniel mendorong kursi roda keluar kamar.


"Ternayata ada taman seindah ini dirumah sakit?" Medina tampak takjub dengan pemandangan taman yang berada ditengah-tengah rumah sakit itu.


"Bagiamana kamu tahu, sayang?" Daniel menelan ludahnya saat pertanyaan istrinya terlontar.


Daniel sangat tahu taman indah dirumah sakit ini karena Daniel pernah mengunjunginya bersama Farah saat mereka masih bersama.


"Aku juga baru tahu." Bohong Daniel. Ia mencium dahi Medina dengan mesra.


Dan saat mereka masih menikmati suasana taman, ponsel Daniel berdering.


"Sebentar." Daniel beranjak menjauh dari Medina saat melihat nama dilayar ponsel nya.


"Halo." Sapa Daniel.


"Daniel...."


Daniel terdiam saat menerima panggilan diponselnya dan hanya mendengarkan suara dari seberang sana.


"Baiklah....aku akan datang." Ucap Daniel setelah beberapa lama mengobrol dengan seseorang.


"Siapa?" Tanya Medina penasaran karena Daniel menghindari dirinya saat menerima telepon.


"Klien." Jawab Daniel singkat. Ia tersenyum tampan menatap istrinya lekat.


"Pergilah...aku baik-baik saja." Ucap Medina mendapat tatapan tajam dari Daniel.


"Kamu mengusirku, Honey?" Wajah Daniel mendekat dan menempelkan hidung mereka.

__ADS_1


"Aku tidak bisa mengusirmu dari hidupku, bahkan dalam mimpi sekalipun. Hidupku sangat bergantung pdamu." Lirih Medina membuat Daniel terdiam membeku.


"I love you." Daniel mencium pipi Medina lalu membawa kembali masuk ke kamar.


"Mama....." Sebuah teriakan dari arah pintu membuat keduanya menoleh.


"Sayang...." Daniel merentangkan tangan dan menggendong Syifa. Memeluknya erat karena Syifa menangis.


"Mama dan adik bayi baik-baik saja, kan?" Tanya nya dalam isakan.


"Dia terus menangis sepanjang sekolah dan perjalanan pulang." Rani meletakkan tas diatas sofa.


"Princes...mama Niel dan adik bayi sudah baik-baik saja. Jadi...jangan menangis lagi." Daniel mencium kepala gadis kecil itu dengan sayang.


Syifa mengangkat wajahnya dan menatap Medina. Ia sangat sedih saat mengetahui jika Medina sakit dan dirawat dirumah sakit.


"Maaf...Syifa tidak bisa jaga mama Niel dan adik bayi dengan benar." Ucapnya lirih.


"Oohhh sayang....kemarilah." Medina merasa gemas dan mengulurkan tangannya.


Gadis kecil itu turun dari gendongan Daniel dan merebahkan dirinya memeluk Medina diatas ranjang dengan hati-hati.


Keduanya saling berpelukan dan Syifa kembali menangis. Ia sangat menyayangi Medina.


"Mama cepat sehat ya." Ucapnya dengan terbata.


"Iya sayang." Medina menciumi wajah Syifa bertubi-tubi. Ia benar-benar gemas dan terharu dengan perhatian hadis kecil itu padanya.


"Terimakasih, Sayang." Ucap Medina memeluk erat tubuh Syifa.


"Kebetulan, kak Rani datang. Aku harus pergi karena ada urusan. Aku...titip Medina ya." Daniel terlihat tidak rela meninggalkan Medina.


"Pergilah...aku akan disini sampai kamu kembali." Rani merasakan kekhawatiran adik iparnya.


"Terimakasih, kak" ucapnya sedikit lega.


"Sudah mau pergi? Tanya Medina saat Daniel memakai jasnya.


"Honey...aku akan segera kembali." Daniel mencium kening Medina dan kepala Syifa yang mulai terlelap.


"Dia lelah karena hampir menangis seharian." Medina mencium pipi Syifa.


"Baiklah...aku pergi dulu. Jika ada apa-ap__"


"Aku baik-baik saja, kak." Medina memotong ucapan suaminya.


"Aku pergi..."


Daniel mengecup bibir Medina sekilas sebelum beranjak keluar kamar.


"Kak...aku pergi." Pamit Daniel sambil berlalu.


****


Mobil Daniel melaju dengan cepat ke Hotel Pak Sanjaya. Ya.. seseorang yang menelpon dan mengajak Daniel bertemu adalah ayah mertuanya.


Daniel melewati meja resepsionis karena didepan lobby sudah dijemput asisten pribadi pak Sanjaya.


"Tuan Besar sudah menunggu, Tuan." Ucap Asisten itu ramah.


"Ya." Daniel tersenyum dan mengikuti langkah asisten mertuanya.


"Assalamualaikum." Sapa Daniel saat masuk ke dalam ruangan pak Sanjaya.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Ibu Melani dan Pak Sanjaya berbarengan.


"Daniel...masuklah." Ucap Pak Sanjaya lalu memberi isyarat kepada asistennya agar meninggalkan mereka.


"Kenapa tidak memberitahu kami keadaan putriku?" Todong Pak Sanjaya dengan tatapan kecewa.


"Maafkan aku." Daniel membalas tatapan ayah mertuanya.


"Bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Ibu Melani dengan air mata yang sudah basah.


"Jangan khawatir bu, putrimu gadis yang kuat." Jawab Daniel.


"Jika kalian khawatir, kenapa tidak langsung ke Rumah sakit?" Tanya Daniel.


Mereka bertiga saling diam dengan pikiran masing-masing. Pak Sanjaya ingin mengatakan kepada Daniel kenapa dia memanggilnya kemari. Namun entah mengapa lidahnya terasa Kelu dan susah untuk mengeluarkan suara.


"Setelah keluar dari rumah sakit, aku akan mengatakan semuanya kepada Medina."


Ucapan Daniel sontak membuat Pak Sanjaya dan Ibu Melani menatap nya.


"Ada apa?"


"Medina seperti ini karena ia terus memikirkan kalian."


"Jangan memberitahunya." Tegas pak Sanjaya.

__ADS_1


"Apa? Kalian...?" Ucapan Daniel terhenti karena tiba-tiba ia merasa kesal.


"Kalian menantikan hal ini, bukan? Jangan mempermainkan aku."


"Kenapa kalian tiba-tiba begini?" Tanya Daniel menahan amarahnya.


"Untuk melindunginya." Jawab Ibu Melani.


"Apa?" Daniel mengerutkan dahinya.


Pak Sanjaya menghela nafasnya dalam dan mendekati Daniel. Kemudian ia menceritakan alasan kenapa kini ia dan istrinya menunda untuk memberitahu Medina bahwa mereka adalah kedua orangtuanya. Karena saat ini, paman dan adiknya sedang mencari keberadaan Medina. Mereka tidak rela jika sebagian aset dan harta kekayaan Sanjaya Grup jatuh pada Medina.


"Itulah kenapa kami tidak langsung ke rumah sakit saat tahu Medina dirawat."


"Sementara waktu ini, kami tidak akan berada didekat Medina sampai masalah paman dan adikku selesai."


"Kami tidak ingin membahayakan keselamatan putri kami. Apalagi saat ini dia sedang hamil." Ucap Pak Sanjaya dengan tataapn sendunya.


power


Daniel terdiam membisu. Ini diluar dugaannya.


"Dan ini...." Pak Sanjaya menghentikan ucapannya.


"Sementara waktu, bawa dia pergi dari kota ini. Sampai masalah ini selesai. Aku janji secepatnya, karena kami juga tidak bisa berada jauh dari putri Kami."


"A_apa?" Daniel terkejut.


"Pesawatku sudah siap dan kalian bisa langsung berangkat malam ini juga." Ucap Pak Sanjaya seolah tak ingin dibantah lagi.


"Tapi keadaan Medina?"


"Aku sudah bicara dengan dokternya. Dia bisa melakukan penerbangan tidak lebih dari 5 jam." Pak Sanjaya terus menekan Daniel agar tak menolak.


"Tapi...."


"Keselamatannya jauh lebih penting, Daniel. Ayah mohon padamu." Pak Sanjaya menatap dengan tatapan sendunya. Menyiratkan betapa kali ini pria paruh baya yang memiliki kekuasan itu sedang memerlukan bantuannya.


"Apa yang harus aku katakan pada Medina dan keluargaku?" Daniel mengalihkan pandangannya kini menatap Ibu Melani yang sedari tadi menangis hingga membuat matanya sembab.


"Maaf....Aku sudah bicara dengan kakakmu. Dan dia menyetujuinya." Ucap Pak Sanjaya kembali membuat Daniel melongo.


Ia benar-benar seperti pria bodoh. Karena semuanya berjalan tanpa sepengetahuannya.


"Tidak apa jika aku tidak mendapat pengakuan dari putriku, asalkan dia bisa hidup tanpa tekanan." Kini suara ibu Melani meluncur dari bibirnya.


"Ibu..."


"Kami hanya percaya padamu, Daniel." perkataan ibu Melani terdengar pelan namun sangat menusuk relung sanubari Daniel.


"Akan ada orang-orang ku yang menyiapkan segalanya. Kalian harus keluar dari Indonesia malam ini juga." Tegas Pak Sanjaya dan kali ini Daniel mengangguk.


Sebenarnya Daniel bingung dan ingin banyak bertanya. Namun melihat kedua pasangan suami istri terlihat cemas, ia mengiyakan semua rencana mertuanya.


"Baiklah. Akan kupikirkan alasannya dan berangkat malam ini juga." Ucap Daniel pada akhirnya.


Ibu Melani beranjak dari duduknya dan langsung memeluk Daniel. "Ibu mohon jaga putriku." Ucapnya lirih.


"Aku pergi sekarang." Daniel hendak beranjak keluar ruangan namun suara pak Sanjaya menghentikan nya.


"Kami sangat menyayangi nya." Airmata pak Sanjaya mengalir begitu saja.


Daniel menoleh ke belakang dan mengangguk. Sebelum ia benar benar meninggalkan ruangan itu, Daniel mencoba tersenyum untuk menyemangati mertuanya. Mengatakan lewat bahasa tubuhnya, bahwa ia akan menjaga putri mereka.


_


_


_


_


Assalamualaikum Warrohmatullahai Wabarrakatuh


Taqoballahu Minna waminkum Washiyamana washiyamakum..Minal Aidzin Wal Faidzin mohon maaf lahir dan bathin πŸ™πŸ»β€οΈ


Selamat hari raya idul Fitri I Syawal 1442 H untuk semua pembaca.


Mohon maaf hampir setengah bulan ini author ga pernah up. Mungkin ada yang bertanya-tanya, atau mulai gemes karena novel ini Hiatus. Hehehehe.


Alhamdulilah author baru saja melahirkan putri ke 5 kami yang berjenis kelamin perempuan. Makanya author sangat sibuk dengan pekerjaan baruπŸ˜€πŸ˜ apalagi kakak si bayi masih berusia batita jadi bener-bener sibuk. Dan insya Allah novel ini tidak akan Hiatus hanya saja yg memerlukan waktu cukup bansk untuk bisa up satu bab saja. Maaf yaa...


Dan insya Allah beberapa bab lagi novel ini akan selesai...jd tetap pada jalur yang sama ya untuk update akhir cerita dari novel Cinta Pertama Medina ini.


Terimakasih atas segala bentuk supprort kalian mulai dari like, koment dan hadiahnya.


Tetap jaga Prokes ya kawan....Love you allβ€οΈπŸ™πŸ»


_

__ADS_1


_


_


__ADS_2