Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 102


__ADS_3

Daniel memarkirkan mobilnya dihalaman rumah mama Safira. Dari luar rumah tampak sepi karena hanya ada mang Eros yang terlihat menjaga pintu gerbang.


Saat hendak turun dari mobil, Daniel mencegah tangan Medina.


"Ada apa?" Tanya Medina heran dengan tingkah suaminya.


"Aku benar-benar minta maaf, Honey" Daniel menggenggam kedua kemari Medina. Daniel merasa sangat bersalah karena sudah mengingatkan istrinya kepada masa lalunya yang sulit.


"Sayang..." Medina membawa tangan Daniel ke depan bibir nya lalu mengecupnya.


"Aku akan menghapus semua kenangan masa lalu mu yang menyakitkan" Ucap Daniel.


"Masa lalu adalah bagian dari perjalanan hidup seseorang. Mungkin suatu saat aku perlu mengingatnya sedikit untuk mengingatkanku bahwa aku pernah berada dititik itu dan mampu melewatinya. Dan menjadikanku seseorang yang lebih baik lagi" Tangan Medina mengelus rahang kokoh Daniel.


"I love you" Daniel menciumi tangan Medina yang berada dipipinya.


"I love you too" Sahut Medina dengan senyum teduhnya.


"Ayo..." Medina keluar dari mobil lebih dulu dan disusul Daniel.


"Sepi sekali" Gumam Daniel memerhatikan sekeliling nya.


Dan saat Daniel membuka pintu utama, tiba-tiba suara riuh dan tembakan party poopers mengarah ke tubuh mereka.


"Welcome home" Teriak Danu dan Rani bersamaan.


Medina dan Daniel nampak terkejut dengan suprise yang keluarganya berikan.


Medina yang seumur hidupnya tidak pernah mendapat perhatian sebesar ini pun langsung memeluk suaminya dan menangis tersedu karena bahagia.


"Mama kenapa menangis?" Syifa memeluk kaki Medina.


"Mama tidak apa-apa, Sayang. Mama bahagia dengan kejutannya" Jawab Daniel menggantikan istrinya.


Medina yang sudah bisa mengontrol diri mulai melepaskan pelukan dan menatap semua orang yang berada disana.


"Terimakasih"


Medina menggendong Syifa dan memeluknya dengan erat. Ia sangat merindukan semua orang.


"Apa kabar ma?" Medina memeluk mamanya dan kembali menangis.


"Sudah mama katakan, kejutan ini pasti akan membuatmu menangis. Tapi mereka tetap membuatnya" Celetuk mama Safira membuat Medina dan yang lainnya tertawa.


"Aku merindukan mama" Bisik Medina pelan.


"Mama juga sangat merindukanmu" Balas mama Safira. Setelah puas melepas rindu keduanya melepas pelukan.


"Kakak..." Medina berlari kecil menghampiri Rani. Keduanya larut dalam pelukan hangat karena rasa rindu.


"Bagaimana rasanya?" Tanya Rani dengan senyum menggoda.


"Alhamdulillah aku sangat bahagia, kak" Jawab Medina tersenyum cantik.


"Baiklah...kamu harus menceritakannya padaku" Rani menarik tangan Medina masuk kedalam ruang tengah.


Sementara yang lain menyusul sambil menggelengkan kepala dengan tingkah Kakak dan adik ipar.


****


"Istirahatlah...kalian pasti lelah" Mama Safira menatap wajah menantunya terlihat pucat.


Setelah makan siang yang sedikit terlewat, Medina Daniel dan mama Safira kini sedang bersantai dihalaman belakang. Sementara Rani sedang mengganti baju Syifa setelah menumpahkan es krim di bajunya. Dan Danu sedang menerima telepon dari sekretaris nya.


"Aku akan beristirahat dikamar mama" Medina melirik Daniel yang duduk disampingnya. Seolah meminta ijin.


"Mandi dan beristirahatlah, aku ingin mengobrol sebentar dengan kakak" Daniel mencium bibir Medina sekilas lalu berdiri dan beranjak meninggalkan istri dan mamanya.


"Hei...dasar anak tidak tahu malu!" Pekik mama Safira setelah melihat perbuatan anaknya.


Medina yang mendapat ciuman secara tiba-tiba hanya bisa terdiam dan menutup wajahnya karena malu.

__ADS_1


Daniel menanggapinya dengan santai. Ia bahkan tertawa lebar tanpa memperdulikan teriakan mamanya.


"Apa selama bulan madu, dia menjadi suami hipersex?" Tanya mama tanpa Tedeng aling-aling.


"Mama...????" Medina menutup mulutnya tidak percaya dengan ungkapan absurb sang mama Mertua.


"Tidak usah malu. Mama juga pernah merasakan menjadi pengantin baru" Sahut mama dengan gelak tawanya yang khas.


Medina yang tadinya sangat malu, kini ikut tertawa bersama mama Mertuanya. Suara tawa renyah keduanya menghiasi keheningan rumah.


****


"Apa mereka sudah sampai di Indonesia?" Pak Sanjaya sedang berbicara dengan seseorang di ponselnya.


"Sudah, pak. Mereka baru saja keluar dari bandara" Jawab seorang diseberang telepon.


"Baiklah...terimakasih. Awasi terus mereka dan laporkan kepadaku" Titah Pak Sanjaya sebelum mengakhiri sambungan teleponnya.


"Mereka sudah pulang?" Tanya Ibu Melani yang sedari tadi berdiri di belakang suaminya hingga membuat pak Sanjaya sedikit terkejut.


"Iya...mereka sudah pulang" Jawab pak Sanjaya sangat antusias.


"Mas....aku ingin segera menemui mereka" Ucap Ibu Melani.


"Aku akan mencari cara agar bisa bertemu Medina tanpa membuatnya membenci kita" Pak Sanjaya memeluk istrinya.


"Dia gadis yang baik, aku rasa dia tidak akan menolak kita, Mas" Bantah Ibu Melani.


"Kau lupa... bagaimana kau meninggalkannya bersama pembantu yang kekurangan segala-galanya" Pak Sanjaya mengingatkan istrinya.


"Tapi setidaknya Agus dan Rahmi adlh orang-orang baik. Mereka pasti mendidik putri kita dengan baik" Jawab Ibu Melani sambil terisak. Ia tidak akan pernah lupa bagaimana ia meninggalkan putri semata wayang mereka kepada orang lain.


"Dia bahkan hanya lulus SMP" Rahang Pak Sanjaya mengeras.


Ibu Melani terdiam. Tubuhnya bergetar hebat karena tangisnya semakin kencang.


"Aku mohon bersabarlah, aku yakin Daniel sudah mengetahui ini. Dia juga pasti sama seperti kita, sedang mencari cara untuk memberitahu Medina" Pak Sanjaya menenangkan istrinya yang terus menangis.


"Fian...kamu sudah pulang nak?" Ibu Melani segera menghapus air matanya.


"Ada apa ini?" Tanya Fian yang melihat ibu dan ayahnya terlihat bersedih.


"Tidak apa-apa. Mandi dan istirahatlah, kamu pasti lelah" Ibu Melani mengalihkan perhatian Fian.


"Bagaimana pekerjaan mu?" Tanya pak Sanjaya.


"Semuanya sesuai keinginan kita, Yah" Jawab Fian antusias. Ia merasa senang bisa menyelesaikan pekerjaan yang telah ayahnya tugaskan kepadanya.


"Terima kasih, nak" Pak Sanjaya sebenarnya sudah tahu hasil kerja putranya dari Putu. Namun ia tetap ingin mendengar sendiri dari putranya.


"Tidak perlu sungkan, Yah. Sudah menjdi kewajiban Fian membantu pekerjaan Ayah" Fian tersenyum tampan.


"Nak...ada yang ingin Ayah dan Ibu sampaikan padamu" Pak Sanjaya menatap istrinya dan Fian bergantian.


"Mas..." Ibu Melani memegang tangan pak Sanjaya seolah tidak mengijinkan suaminya.


Pak Sanjaya tidak menghiraukan istrinya, ia tetap ingin menyampaikan kebenaran ini kepada putra angkatnya. Karena cepat atau lambat Fian harus mengetahui kebenarannya.


"Katakan Ayah...aku akan mendengarkan" Fian yang merasa yakin jika apa yang akan dibicarakan ayahnya adalah sesuatu yang beberapa hari ini melanda keluarganya.


"Mas..." Ibu Melani menatap suaminya dan menggeleng pelan.


"Cepat atau lambat Fian harus tahu kebenarannya. Dia sudah dewasa dan akan mendukung kita" Pak Sanjaya menghela nafasnya.


"Apa ini tentang statusku di keluarga ini?" Suara Fian membuyarkan pikiran kedua orangtua angkatnya.


Fian yang sejak remaja mengetahui jika dirinya bukanlah putra kandung kedua orangtuanya, sudah siap dengan apa yang akan dikatakan orangtuanya.


"Bukan begitu nak. Tolong dengarkan kami lebih dulu" Bantah ibu Melani menatap wajah putranya.


"Kami baru mengetahui kebenarannya ini beberapa hari yang lalu" Pak Sanjaya menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Bahwa bayi yang dilahirkan ibumu masih hidup dan kami sudah mengetahui identitasnya. Kau tahu, saat kami mengadopsimu dari panti, kami telah berjanji untuk bisa menganggapmu sebagai putra kandung kami. Dan itu kami lakukan hingga saat ini" Lanjut Pak Sanjaya.


"Ayah harap kamu bisa menerimanya karena bagaimanapun kalian adalah saudara. Putra dan putri Sanjaya, yang akan menggantikan dan meneruskan perjalanan kami" Ucap Pak Sanjaya bijak.


"Saudaraku perempuan?" Tanya Fian penasaran.


"Iya...dan kita baru saja menghadiri resepsi pernikahannya beberapa hari lalu" Tegas pak Sanjaya.


Fian mengerutkan dahinya, mengingat-ingat pesta resepsi siapa yang baru mereka hadiri.


"Daniel?" Tebak Fian.


Pak Sanjaya dan Ibu Melani mengangguk bersamaan.


"Medina adalah putri kami. Putri yang Ayah tolak karena keegoisan dan kebodohan Ayah dimasa lalu" Suara pak Sanjaya terdengar tercekat.


Fian melihat kedua orangtuanya terlihat sangat rapuh dan sedih.


"Ayah harap...."


"Ayah...Ibu...Fian akan melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan kalian. Fian akan membawa Medina ke rumah ini" Potong Fian cepat.


"Tidak, Nak. Medina belum mengetahui kebenaran ini. Memang selama beberapa bulan ini mereka mencari keberadaan orang tua kandung Medina, tapi Medina belum tahu jika yang mereka cari adalah kami" ucap ibu Melani.


"Apa??" Fian terkejut.


"Ayah akan menemui Daniel dan bicara dengannya sebelum memberitahu Medina" Pak Sanjaya berkata sambil menepuk pundak Fian.


"Fian akan mendukung kalian seperti kalian mendukung Fian selama ini" Fian memeluk ibunya yang masih menangis.


"Terimakasih, nak" Ucap Ibu Melani pelan. Sementara Pak Sanjaya pergi meninggalkan keduanya. Ia akan menghubungi Daniel dan meminta bertemu dengan nya.


****


Setelah makan malam, Medina memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya. Entah mengapa perasaannya tiba-tiba tidak karuan dan selalu mengingat Ibu Melani.


Medina mengambil kalung yang menjadi satu-satunya barang peninggalan ibu kandungnya.


Perasaannya semakin sedih karena hingga saat ini, Daniel belum memberikan informasi terbaru kepadanya. Medina juga enggan bertanya kepada suaminya karena ia tahu suaminya juga sedang melakukan yang terbaik.


Asyik melamun sendiri, Medina tidak menyadari jika Daniel sudah masuk kedalam kamar dan menghampirinya dibalkon kamar.


"Apa yang kamu lakukan disini?" Daniel memeluk tubuh Medina dari belakang membuat Medina terkenjit kaget.


"Sayang..."


"Ada apa?" Daniel tahu istrinya memikirkan sesuatu.


Medina membalik tubuhnya dan memeluk Daniel dengan erat. Berada dalam pelukan suaminya Medina merasa tenang dan nyaman.


"Ayo masuk" Ajak Daniel.


"Sebentar lagi..." Medina semakin mengeratkan pelukannya dan membuat Daniel tersenyum.


"Seharusnya kita pulang bulan madu setelah puas menikmati waktu berdua disana" Goda Daniel membuat Medina mendongak.


"Ah tidak..aku tidak akan merasa puas jika sedang berdua bersama istriku" Daniel mencium wajah Medina bertubi-tubi.


Dan pada saat bibir Daniel berhenti di bibir Medina dan ********** lembut, Medina menyambutnya dengan penuh semangat.


Meski sedikit terkejut dengan reaksi istrinya, namun Daniel merasa senang. Ia membiarkan Medina menguasai penyatuan bibir, dan Daniel sebagi penyeimbang.


Dan saat Medina akan mengakhiri kegiatannya, justru Daniel menahan tengkuk leher Medina dan ******* panas kembali terjadi. Dan pada akhirnya pemanasan itu berbuah manis dengan penyatuan dua tubuh pasangan halal yang saling mencintai.


_


_


_Terima kasih atas semua dukungan kalian. Dan Selamat tahun baru 2021...Semoga semua harapan dan cita-cita kita yang belum tercapai di tahun sebelumnya, dapat kita raih ditahun ini. Aamiin.


_

__ADS_1


_


__ADS_2