
Rani dan baby boy nya telah kembali ke rumah setelah tiga hari dirawat dirawat sakit. Suasana rumah kini menjadi ramai karena semua keluarga berkumpul disana. Termasuk keluarga Rani yang datang dari luar kota.
"Sudah hamil berapa bulan?" Hampir semua keluarga yang bertemu Medina pasti menanyakan hal demikian. Dengan ramah Medina menjawab dan membaur dengan mereka. Kebanyakan mereka juga mendoakan kehamilan Medina agar dipermudah dan dilancarkan saat persalinan nanti. Medina terus mengamini setiap doa yang terucap dari semua orang.
Mama Safira tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Semua keluarga besarnya berkumpul. Bahkan adik kandungnya, Tante Tika dan keluarganya pun turut datang. Kebahagiaan mereka berkali lipat.
Semua orang membuat kelompok sendiri seolah ada yang mengatur. Para pria dan wanita membentuk kelompok sesuai dengan usia. Mereka tampak asyik mengobrol.
Rhenata menghampiri Medina yang duduk mengobrol bersama Rani, Karin dan para wanita muda lainnya.
"Halo semuanya." Sapa Rhenata yang baru datang bersama suaminya.
"Halo...pengantin baru." Sambut Rani langsung memeluk sepupu suaminya.
"Selamat ya, Kak." Kata Rhenata kepada Rani.
"Terimakasih, semoga kamu menyusul." Bisik Rani dan langsung membuat pengantin baru itu tertawa.
"Hai baby boy...kamu tampan sekali." Puji Rhenata saat melihat bayi yang digendong Rani.
"Telimakacih aunty." Jawab Rani menirukan suara anak kecil mewakili anaknya.
"Halo...lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu? Sudah berapa bulan usia kandunganmu?" Kali ini Rhenata menyapa Medina. Bahkan ia tidak sungkan mengusap perut Medina yang buncit.
"Alhamdulillah aku baik. Insya Allah sudah delapan bulan, kak." Jawab Medina dengan senyumnya.
"Wah...sebentar lagi akan launching Daniel Junior." Canda Rhenata membuat semua orang tertawa.
"Bagaimana denganmu? Apakah sudah ada tanda-tanda?" Tanya seseorang dari mereka.
"Belum. Kami masih menikmati waktu berdua dulu." Kata Rhenata menjawab salah satu pertanyaan keluarganya.
"Kamu benar. Jangan seperti aku saat awal menikah, langsung hamil dan punya anak. Jadi langsung sibuk dengan urusan anak. Kadang harus curi-curi waktu saat berdua dengan suami." Keluh seseorang lagi membuat semua orang tertawa.
"Lalu kalian yang jomblo kapan akan menikah?" Rani menatap satu persatu para wanita yang masih belum memiliki pasangan. Termasuk Karin sekretaris Daniel.
"Pacarku belum berani datang menemui orangtuaku."
"Aku belum punya komitmen serius untuk menikah. Jadi masih santai."
"Aku tidak memusingkan hubungan. Jalani saja dulu."
Begitu kira-kira jawaban para gadis jomblo disana. Membuat suasana semakin hangat karena Rani selalu punya jawaban dari keluh kesah saudara-saudaranya.
"Ah...kalian beruntung. Sementara aku, sampai detik ini tidak ada yang mengajakku berkencan." Cicit Karin dengan wajah sedihnya. Membuat beberapa gadis disana terkejut dan langsung mengolok-olok Karin dengan berbagai candaan.
"Kamu harus lebih agresif." Kata Rhenata membuat Karin menggelengkan kepalanya.
"Jodoh memang ditangan Tuhan. Tapi tetep harus dicari dan dikejar. Iya kan?" Imbuh Rani.
"Benar sekali. Kamu cantik, cerdas dan punya jabatan bagus. Mana mungkin tidak ada pria yang terpesona dengan mu." Karin hanya tersenyum mendengar komentar para wanita disana.
Medina tidak memberi komentar apapun. Ia hanya duduk dan tersenyum mengikuti obrolan para wanita. Hingga Rhenata melihat Daniel menghampiri mereka dengan tersenyum tampan.
"Permisi...apa aku boleh bicara dengan istriku?" Daniel mencium puncak kepala Medina yang tertutup hijab. Membuat Medina terkejut dengan ulah suaminya. Dan tentu saja membuat semua mata iri melihat kemesraan Daniel kepada istrinya.
"Uwww....kalian romantis sekali."
"Sayang ada apa?" Tanya Medina pelan.
"Tidak ada..Aku hanya merindukan istriku." Bisiknya membuat pipi Medina merona.
"Pergilah...bawa istrimu ke kamar dan kurung dia." Usir Rani dengan nada bercanda dan semua orang tertawa.
"Baiklah. Mari...tuan putri." Daniel sudah menggandeng tangan Medina.
__ADS_1
"Maaf semuanya...aku permisi duluan." Medina mengikuti Daniel yang berjalan kedalam rumah Danu.
"Sayang....ada apa? Kamu perlu sesuatu?" Tanya Medina saat mereka sudah menjauh.
"Ada yang ingin bertemu." Jawab Daniel membuat degup jantung istrinya semakin cepat.
"Sayang...kamu membuat aku takut." Daniel tersenyum tapi tidak menghiraukan ucapan istrinya. Dia terus membawa Medina ke rumah Danu yang tampak sepi karena semua orang berkumpul dirumah besar.
Saat masuk kedalam rumah Danu, Medina terkejut saat melihat Gio, Tante Latifah dan suaminya sudah duduk berjejer disana. Otak Medina masih belum bisa berpikir, maksud dan tujuan suaminya mengajak dirinya ke tengah-tengah keluarga Gio.
"Sayang..." Medina mengeratkan tautan jemarinya saat Daniel membimbingnya duduk di sofa dihadapan mereka.
"Duduk dulu. Nanti akan aku jelaskan." Daniel mengusap punggung istrinya yang gugup.
Medina menatap satu persatu orang disana. Dan senyuman semuanya membuat Medina semakin gugup dan bingung.
"Tante...ada apa ini?" Medina memberanikan dirinya untuk menatap dan bertanya wanita paruh baya yang duduk diantara dua laki-laki beda usia itu.
"Sayang....tenangkan dirimu. Tidak apa-apa___hanya obrolan biasa." Tante Latifah menyadari raut wajah tegang Medina.
"Kak Gio, bagaimana kabarmu?" Manik Medina beralih pada sosok pria muda dan tampan disamping Tante Latifah. Setelah kejadian di apartemen tempo hari Medina tidak pernah lagi bertemu dengan Gio. Dan tidak dipungkiri, permasalahan yang terjadi antar suami dan sepupunya sedikit menganggu pikirannya.
"A_aku baik-baik saja." Gio tergagap menjawab pertanyaan istri sepupunya.
"Kak..." Daniel menoleh saat suara istrinya memanggil.
"Begini sayang__emmhhh maaf jika sudah membuatmu harus terlibat dalam permasalahan ini." Tante Latifah mengambil nafas panjang lalu mengeluarkannya dengan kasar.
"Tapi...Maukah kamu menyembunyikan yang kamu ketahui perihal Gio dan Farah dari semua orang?" Manik Tante Latifah menatap lurus ke arah Medina.
"Hah?"
"Kami sudah membuat keputusan, kami akan melamar Farah untuk Gio." Raut wajah Tante Latifah terlihat tidak bahagia. Ia sadar jika akan banyak pertanyaan yang datang kepada mereka perihal pernikahan Gio dan Farah yang notabene adalah mantan tunangan sepupunya sendiri, Daniel.
"Tante....Maaf sebelumnya. Tapi sungguh Medina tidak pernah berpikir negatif tentang permasalahan ini. Medina akan menutup rapat masalah ini. Selain karena Kak Gio adalah sepupu kak Daniel, juga__" Medina berhenti sejenak lalu melirik suaminya.
"Karena sekarang__Kak Farah adalah sepupu Medina." Lanjut Medina membuat Ketiganya itu membulatkan maniknya karena terkejut.
"Apa?" Ketiganya terkejut.
"Iya, Mama nya Farah ternyata adik kandung Ayahnya Medina. Kami juga belum lama mengetahui kebenaran ini." Daniel ikut menimpali.
"Oh My God." Gio menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Kebenaran tentang Medina putri Sanjaya memang hanya keluarga Daniel yang mengetahuinya. Pantas saja, Daniel begitu emosi ketika mengetahui kebenaran dirinya dan Farah, bathin Gio.
"Kalian sepupu dekat seperti Daniel dan putraku?" Tanya Tante Latifah meyakinkan apa yang baru didengarnya dan Daniel mengangguk. Membuat Tante Latifah menjatuhkan tubuhnya lemas disandaran sofa.
"Bro, maaf atas kejadian malam itu. Tapi aku bertindak seperti karena aku punya alasan."
"Setelah mengetahui jika Medina adalah putri dari Ayah Sanjaya, keluarga Farah terus saja menganggu Medina. Bahkan__mereka menyewa orang-orang bayaran untuk melukai Medina." Manik Daniel memerah menahan emosi jika mengingat bagaimana keluarga Farah begitu membenci Medina.
"Tunggu!! Maksudmu....Medina putri Sanjaya? Sanjaya__" Papi Gio menatap Daniel.
"Sanjaya Group. Sanjaya Hadiyoningrat." Tegas Daniel.
"Ya Tuhan!! Med_kamu?" Tante Latifah menutup mulutnya.
"Kebenaran macam apa ini, Tuhan." Papi Gio menatap Medina dengan lekat. Ia tidak menyangka jika wanita dihadapannya adalah putri kandung pengusaha terkenal di Indonesia dan tentu saja partner bisnisnya selama ini.
Mendadak suasana disana menjadi hening. Semua orang terdiam dengan jalan pemikiran masing-masing.
"Ketika Daniel berusaha bangkit dari keterpurukannya, aku begitu bahagia. Melihat kebahagiaan kak Safira saat Medina hadir dalam hidup kalian adalah keajaiban yang selalu aku harapkan. Tapi..kenapa justru putra ku___" Manik Tante Latifah berkaca-kaca.
"Om, Tante., Medina mohon jangan menghakimi kak Gio dan Kak Farah. Lagipula...kak Gio berbuat seperti itu karena__"
__ADS_1
"Aku mencintainya. Dan__kami mabuk saat itu." Potong Gio dengan cepat sambil menatap Medina. Ia tidak ingin sampai semua orang tau alasan utama Gio sampai harus merelakan tubuhnya menjadi tameng untuk keutuhan rumah tangga Daniel dan Medina. Bisa-bisa semua orang akan semakin membenci Farah.
"Kak...." Medina menatap Gio yang juga menatapnya. Gio menggeleng samar memberi kode agar Medina tidak menceritakan kebenaran lainnya. Gio beralih menatap Daniel seolah meminta untuk menghentikan istrinya.
"Apa??" Kedua orangtua Gio terkejut dengan pengakuan putra sulung mereka.
"Kau bilang__mencintainya?" Papi Gio memijit pangkal hidungnya. Kepalanya mendadak pusing.
"I_iya, Pi." Jawab Gio menunduk. Kali ini ia tidak berbohong. Dia memang mencintai Farah dengan semua keadaannya.
"Cinta? Cinta darimana, Gio?! Bahkan gadis itu pergi jauh entah kemana setelah meninggalkan sepupumu!" Hardik Papi Gio kesal. Tidak habis pikir putranya mempunyai perasaan kepada haid yang bahkan tidak pernah dengannya.
"Pi, maksudku__aku__mencintainya sejak malam itu." Bohong Gio membuat Daniel dan Medina saling pandang. Tidak habis pikir dengan jawaban yang diberikan Gio kepada kedua orangtuanya. Namun lagi-lagi keduanya tidak bisa berkata kebenaran apapun.
"Sudah, cukup!! Cukup__jangan diteruskan lagi." Tante Latifah tampak syok. Awalnya tujuan mereka mengumpulkan anak dan keponakannya untuk menyembunyikan perihal hubungan Gio dan Farah dari semua orang, justru Tante Safira malah mendapatkan kenyataan lainnya jika putra sulungnya mencintai gadis mantan tunangan sepupunya sendiri.
"Tante..." Daniel menghampiri tantenya lalu memeluknya.
"Aku akan bicara dengan keluarga gadis itu." Ucap Papi Gio dengan tegas. Keputusan sudah dibuat, Gio tidak bisa lagi membantah.
****
Medina menatap langit malam dari teras belakang rumahnya. Rumah yang telah lama ditinggalkannya. Setelah semua orang membubarkan diri dari rumah mama Safira, Medina juga meminta ijin pulang kerumahnya. Karena ia tidak ingin mama Safira melihat wajah murungnya dan pastinya mama mertuanya itu pasti akan mengorek alasan wajah sendunya. Dan Medina tidak bisa berbohong dihadapan Mama Safira. Jadi Medina memutuskan untuk mengajak suaminya pulang kerumah mereka dengan alasan sudah begitu lama meninggalkan rumah.
"Honey...." Lengan kekar itu melingkar sempurna pada tubuh mungil dengan perut membuncit.
"Apa yang kamu pikirkan?" Bisik Daniel setelah mengecup puncak kepala istrinya dengan mesra. Mengusap perut Medina yang langsung mendapat respon dari si jabang bayi.
"Aku kasihan dengan kak Gio dan Kak Farah." Lirih Medina.
"Kasihan? Dengan Farah?" Kekeh Daniel.
"Kamu lupa apa yang sudah mereka lakukan padamu?"
"Sayang....bagaimanapun dia sekarang saudaraku. Mau kamu sebenci apapun kepadanya, dia tetap sepupuku. Takdir tidak akan mengubah itu hanya karena masa lalunya. Darah akan tetap kental daripada air." Medina melepaskan kedua tangan Daniel dari perutnya. Ia berbalik menghadap suaminya.
"Honey...aku menyayangkan Gio harus hidup bersama dengan gadis seperti dia. Aku tidak rela jika Farah sampai mengecewakan Gio dan menyakiti hati Tante Latifah seperti yang pernah dia lakukan padaku dan mama__juga padamu." Daniel mengusap pipi istrinya dengan lembut.
"Sayang...kita tidak pernah tahu bagaimana takdir bisa mengubah seseorang. Kita doakan agar kak Farah bisa berubah dan menjadi pribadi yang lebih baik." Medina menatap manik coklat suaminya.
"Ya. Aku berharap Gio mendapatkan kebahagiaanya." Daniel menyadari jika yang diucapkan istrinya benar adanya. Takdir, jodoh, maut, rezeki semua sudah Allah atur sedemikian rupa.
Yang menurut kita baik, belum tentu menurut Allah itu baik bagi hambanya. Begitu juga sebaliknya, Sesuatu yang tidak kita sukai namun bagi Allah itulah yang terbaik bagi kita maka tugas manusia menerima dan menjalaninya dengan ridho segala takdir baikNya.
"Sudah malam...ayo masuk." Daniel menggamit jemari Medina berjalan masuk kedalam rumah dan membawa istrinya kedalam kamar.
"Sayang....aku belum melihat kamar si kecil." Medina teringat belum melihat dekorasi kamar khusus untuk calon anak mereka.
"Masih banyak waktu, Hon. Kamu harus segera istirahat, seharian ini kamu sibuk dan pasti lelah." Daniel mencium pelipis istrinya.
"Sebentar saja." Medina mulai merengek dan Daniel tidak menyukai itu karena ia akan kalah.
"Sayang...."
"Besok, Honey. Kamu bisa sepuasnya berada dikamar si kecil." Daniel merangkum wajah istrinya lalu menghujaninya dengan ciuman bertubu-tubi.
"Iya..iya! Baiklah." Medina tertawa geli dan akhirnya menurut.
_
_
_
_
__ADS_1
_
Bab ini hampir 2000 kata lho...lempar bunga atau kasih kopi boleh dong. kopi gula aren 2000 dapet 3🤣 bukan endorse/ngiklan ya.