Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 116


__ADS_3

"Honey....nanti malam temanku mengundangku ke rumahnya." Ucap Daniel setelah mereka sarapan pagi.


"Acara bisnis?" Tanya Medina menatap suaminya.


"bukan...ini acara makan malam biasa". A


Jawab Daniel.


"Lalu?" Medina membawa piring kotor mereka ke dapur.


"Dia ingin aku mengajakmu" Daniel mengikuti Medina hingga keduanya berhadapan.


"Baiklah...aku akan ikut. Apa aku harus menyiapkan hadiah untuk temanmu?" Medina mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya dengan manja.


Daniel memggeleng pelan dan tersenyum. "Aku akan pulang lebih awal untuk membeli hadiah dan menjemputmu." Daniel mencium bibir Medina.


"Baiklah...pergilah bersiap. Aku sudah menyiapkan pakaian kakak ditempat biasa."


"Terimakasih, Cintaku." Daniel kembali mencium bibir istrinya dan ********** sebentar.


"Ahhh....rasanya aku tidak ingin pergi bekerja." Ucap Daniel sambil berlalu ke kamar.


Medina terkekeh lalu melanjutkan pekerjaannya. Setelah selesai ia menyusul suaminya ke kamar.


"Sayang...kenapa belum siap?" Medina menghampiri suaminya yang masih duduk santai diranjang.


"Ada masalah dikantor cabang. Aku harus mengeceknya kesana."


"Kenapa belum bersiap?" Medina ikut duduk disamping suaminya.


"Mungkin aku akan terlambat datang menghadiri jamuan makan malam temanku."


"Honey...." Daniel menatap istrinya penuh harap.


"Bisakah kamu datang lebih dulu kesana? Aku sungguh tidak enak jika datang terlambat? Dia teman baikku." Daniel memohon.


"A_aku tidak kenal mereka, sayang." Tolak Medina halus. Ia juga bingung, jika harus datang sendiri ke sana tanpa ditemani suaminya.


"Kamu benar, Honey." Daniel mengusap wajahnya.


Melihat kekecewaan diwajah suaminya membuat Medina merasa bersalah.


"Sayang...aku akan datang. Tapi bisakah mang Jaka menemani ku?"


"Benarkah?" Wajah Daniel yang sendu kini berubah bahagia.


"Aku akan menelepon mang Jaka agar mengantarmu kesana. Kebetulan mang Jaka sudah mengenal temanku itu." Ucap Daniel dengan senyum penuh arti.


Daniel beranjak mengambil pakaian yang sudah disiapkan istrinya.


"Siapa nama temanmu?" Tanya Medina sambil membantu suaminya memakai kemeja.


"Hhhmmm...Namanya Rumada." Jawab Daniel.


"Rumada? Nama yang unik." Sahut Medina yang tengah memasangkan dasi.


"Sudah siap." Medina menatap suaminya yang juga sedang menatap nya.


"Ada apa?" Tanya Medina heran.


Daniel menggeleng dan langsung memeluk Medina dengan erat. Dalam hati ia berharap kejutan malam ini akan menjadi kejutan istimewa untuk istrinya yang tengah berulang tahun.


"Terimakasih banyak, Honey." Daniel mencium bibir Medina dengan lembut.


"Kak...kamu membuatku bergairah." Medina mendorong wajah suaminya dengan wajah merona.


Daniel tertawa lebar. Kemudian kembali memeluk Medina.


"Aku janji, nanti malam aku akan memuaskan mu diatas ranjang hingga pagi." Bisik Daniel membuat Medina refleks mencubit perut Daniel.


"Aww...." Daniel mengaduh bukan karena sakit tapi karena terkejut.


"Sudah sana. Jangan menggangguku." Medina mendorong tubuh kekar suaminya.


"Hei...aku belum menyapa anak kita." Daniel menarik tangan Medina dan berlutut dihadapannya.


"Sayang...papa berangkat kerja dulu ya. Jangan rewel dan membuat mama kesulitan. Papa janji akan mengunjungimu setelah urusan papa selesai." Daniel mencium perut Medina yang terbuka.


Medina memejamkan matanya saat bibir Daniel mengecupi permukaan perutnya secara bertubi-tubi. Dengan sekuat tenaga Medina menahan gairah yang timbul akibat sentuhan suaminya.

__ADS_1


"Sayang...sudah. Kamu akan terlambat ke kantor." Medina menurunkan bajunya.


"Baiklah...aku berangkat." Daniel mencium kening Medina dengan lembut.


"Aku akan menelepon mu." Medina mengangguk lalu keduanya berjalan keluar.


"Jaga diri baik-baik ya. Jika ada apa-apa segera hubungi aku." Pesan Daniel sebelum keluar pintu apartemen nya.


"Iya, suamiku." Medina tersenyum bahagia mendengar perhatian suaminya.


Medina menatap punggung suaminya yang terus menjauh hingga menghilang dibalik lift. Medina segera kembali masuk kedalam apartemen nya, saat mual mulai melanda dirinya.


Meski berusaha untuk berlari menuju dapur, namun rasa mual itu tidak bisa ditahan lagi. Sampai akhirnya Medina memuntahkan isi perutnya diruang tengah.


Medina berjongkok sambil menahan tubuhnya. Ia terus tertunduk hingga muntahan terakhir menyisakan rasa pahit dalam mulutnya.


Setelah merasa lebih baik, Medina mengadahkan kepalanya. Menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Medina meraba belakang sofa untuk dijadikan tumpuan saat ia hendak berdiri. Pelan namun pasti, Medina mampu menyeimbangkan tubuhnya hingga kini bisa berdiri.


"Honey...." Medina menoleh terkejut saat suara suaminya memanggilnya.


Daniel menghambur memeluk istrinya, maniknya melirik muntahan yang mengotori lantai.


"Apa sudah lebih baik?" Tanya Daniel, Medina hanya mengangguk pelan.


"Apa ada yang tertinggal?" Tanya Medina pelan. Ia heran suaminya kembali ke apartemen dan menemukan dirinya sedang tidak berdaya karena gejala morning sickness.


"Aku melupakan file ku." Jawab Daniel singkat.


"Sekarang istirahat saja, tidak perlu memikirkan apapun. Kamu pasti belum minum obat mualnya kan?" Daniel membawa istrinya kedalam kamar.


"Buka bajumu." Pinta Daniel setelah membaringkan Medina diatas ranjang.


Tanpa membantah Medina menuruti perintah suaminya. Setelah membuka baju, Daniel membalur perut Medina dengan minyak aromaterapi yang disarankan dokter Meyri.


Setelah selesai, Daniel mengambil pakaian baru untuk dipakai isttinya.


"Aku akan mengambil minum." Ucap Daniel setelah memakai kan baju pada Medina.


Daniel keluar kamar untuk mengambil air minum hangat. Saat hendak kembali ke kamar, Daniel kembali melihat lantai. Daniel merasa tidak tega untuk meninggalkan istrinya dalam kondisi seperti ini.


"Honey...Minum obat mualnya dan istirahat saja." Daniel menyuapkan obat mual kedalam mulut Medina.


"Seharusnya sebelum aku berangkat, aku memastikan dirimu dalam keadaan baik. Maafkan aku." Daniel mencium tangan Medina.


"Terimakasih, kak." Medina memeluk Daniel. Merebahkan kepala didada bidang suaminya adalah hal ternyaman bagi untuk Medina.


"Kamu tahu aku tidak menerima ucapan terimakasih, Honey." Keduanya tertawa.


Daniel kembali berpikir keras. Pesta kejutan untuk Medina sepertinya harus merubah skenario.


"Sayang... bagaimana kantor cabang? bukankah kamu harus kesana?" Medina melepaskan pelukannya ketika mengingat pekerjaan suaminya.


"Tidak apa-apa. Jangan pikirkan itu. Banyak pekerja yang menangani. Kamu priotitasku." Daniel merangkum wajah Medina lalu kedua bibir mereka bertemu.


Daniel tersenyum saat bibir Medina enggan melepas bibirnya. Hingga pada akhirnya keduanya bergumul dalam pergulatan yang membawa nikmat.


****


Sementara itu dirumah mama Safira sudah nampak sibuk dan heboh mempersiapkan pesta kejutan untuk Medina. Meski dekorasi pesta sudah diserahkan kepada tim EO tapi mama Safira kekeh untuk membuat dekorasi sendiri yang akan dipasang di kamar Medina.


Mama Safira juga membuat beberapa kue dan masakan kesukaan menantu kesayangan nya.


Daniel yang seharusnya datang pagi tadi, untuk membantu mempersiapkan kejutan ini belum juga terlihat batang hidungnya.


"Kemana anak itu?" Tanya Mama Safira kepada Danu dengan wajah khawatir.


"Danu belum bisa menghubungi Daniel, ma. Ponselnya dinonaktifkan." Jawab Danu.


"Beritahu mama jika sudah ada kabar." Mama beranjak meninggalkan Danu menuju Dapur untuk melihat kue yang dibuatnya tadi.


"Apa belum matang, bi?" Tanya Mama Safira.


"Sebentar lagi, Nyonya. Sebaiknya anda duduk dan beristirahat. Tidak baik jika terlalu lelah karena pesta tidak akan meriah tanpa Nyonya." Mama Safira tertawa mendengar kalimat dari Bi Inang.


"Aku mengkhawatirkan nya. Daniel seharusnya sudah disini. Tapi tidak ada kabar sama sekali. Apa terjadi sesuatu dengan putriku?" Mama Safira menghela nafasnya.


"Mungkin Den Daniel ada urusan lain. Makanya dia terlambat." Ucap Bi Inang menenangkan.

__ADS_1


"Nyonya sebaiknya istirahat dan menyiapkan hadiah untuk Nona." Lanjut Bi Inang memberi ide.


"Rasanya semuanya ingin aku lakukan sendiri. Putriku harus bahagia." Mama Safira tersenyum cantik. Lalu meninggalkan bi Inang didapur.


"Sudah ada kabar?" Tanya Mama Safira saat bertemu Danu.


"Daniel bilang Medina tidak bisa ditinggal karena gejala morning sickness nya." Jawab Danu.


"Ya Allah...putriku. Apa kita perlu kesana?" Mama tampak khawatir.


"Tidak perlu, Daniel merubah rencana. Jadi kita ikuti saja. Tenanglah...ada Daniel bersama Medina." Dani menvoba menenangkan mamanya.


"Mama istirahat saja. Bagaimana kita akan memberikan kejutan jika mama dan Medina sakit nanti?" Gurau Danu membuat


"Kau ini...Baiklah Mama akan menelepon mereka nanti." Mama Safira berjalan ke kamar meninggalkan Danu.


Danu kembali ke paviliun untuk mengecek surprise yang akan diberikan istri dan anaknya untuk Medina.


"Sayang....apa yang siapkan untuk Mama Niel?" Tanya Danu saat melihat putrinya sedang memasukkan banyak manik-manik kedalam sebuah box.


"Ini Rahasia." Jawab gadis kecil itu membuat Danu tertawa lebar.


"Kamu sudah berani main rahasia sama papa ya!" Danu mengangkat tubuh putrinya ke pangkuannya.


"Papa....jangan ganggu Ifa." Rengek Syifa saat papanya mulai usil menciumi dan menggelitik nya.


"Oh...Ya Ampun. putriku benar-benar sudah besar." Danu berdecak tidak percaya.


Danu beralih kepada istrinya yang juga sedang membungkus hadiah untuk Medina.


"Sayang..."Danu merebahkan kepalanya dipangkuan Rani.


"Jangan ganggu aku, Sayang." Ucap Rani tanpa menoleh suaminya.


"Ya Tuhan. Ada apa dengan dua wanitaku?" Danu kembali duduk dan menatap istrinya.


Merasa ditatap aneh oleh suaminya, Rani menoleh dan tersenyum.


"Maafkan aku sayang..." Rani mengecup bibir suaminya sekilas dan kembali menyelesaikan pekerjaannya.


"Sebaiknya aku mengecek persiapan dirumah Daniel." Danu bangkit dan keluar dari rumahnya.


Rumah Daniel memang tidak begitu jauh dari rumah mama Safira. Masih berada dilingkungan yang sama, Hanya sepuluh menit perjalanan dengan mobil.


Sesampainya dirumah Daniel, Danu melihat dekorasi pesta yang sangat mewah meski minimalis.


"Selamat siang, pak." Sapa seseorang diantaara para pekerja yang mendekor.


"Siang."


"Apa Pak Daniel akan kemari?" Tanyanya.


"Mungkin dia tidak kemari." Jawab Danu.


"Ada aang ingin disampaikan? Katakan saja padaku, aku kakaknya." Ucap Danu.


"Tidak ada pak. Hanya ada perubahan kecil dari dekorasi, kami khawatir pak Daniel kurang setuju." Ucap wania berbaju putih itu.


"Tidak apa. Lakukan sebaik mungkin agar tidak terlalu telihat." Sahut Danu.


"Baik, pak. Terimakasih." Wanita itu kembali kepada pekerja dan menyelesaikan pekerjaannya.


"Ah...Daniel bilang, orangtua kandung Medina juga membeli rumah sekitar sini. Aku akan melihat-lihat." Danu meninggalkan rumah Daniel dengan menaiki mobilnya.


Setelah sempat beberapa kali berputar-putar area kompleks, Danu melihat sosok Pak Sanjaya yang sedang memerintah anak buahnya membawa hadiah dan ratusan goodie bag kedalam mobil box.


Menurut informasi yang Danu dapatkan dari Daniel, Pak Sanjaya dan istrinya akan membagikan ha kepada anak-anak lansia ke beberapa panti asuhan.


Dalam hati Danu membatin, ia mengingat malam dimana Medina tertidur di lobby rumah sakit setelah pertemuan mereka.


"Kita tidak tahu nasib baik seseorang. Aku harap Medina bisa menerima semua kebenaran ini dengan mudah." Batin Danu.


Setelah memperhatikan cukup lama, Danu menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan tempat itu. Ia kembali kerumahnya.


_


_


_

__ADS_1


_Terimakasih sudah mampir dan maaf tidak bisa update sesuai janji. 🙏❤️.


__ADS_2