
Saat ini pukul 6 pagi. Medina dan Rani sudah berada salon terkenal langgannya. Tentu saja Rani sebelumnya membuat janji dengan pemilik salon bahwa dirinya akan datang pagi-pagi untuk melakukan perawatan untuk calon adik iparnya.
"Apa ini calon pengantinnya, jeng?"
"Iya, mbak..."
"Oke...kamu ikut saya" pemilik salon menggiring Medina masuk kedalam sebuah ruangan yang penuh dengan alat-alat kedokteran.
Medina menoleh Rani dan Rani membalas tatapan Medina dengan anggukan.
"ga papa, aku diruangan sebelah" ucap Rani.
***
Dirumah Daniel tampak mondar-mandir di taman belakang. Tangannya menggenggam ponsel dan sesekali ia melihat layar ponselnya dan mengutak-atik nya. Dia pasti sibuk menghubungi Medina yang sengaja menonaktifkan ponselnya karena perintah dan desakan Rani. Hahaha.
Bahkan sang mama ikut bersengkokol dengan Rani untuk sedikit mengerjai putra bungsunya itu. Sang mama mengatakan jika dirinya tidak melihat Medina dari selesai sholat subuh tadi.
Daniel semakin terlihat khawatir. Tidak biasanya. Medina seperti ini. Dan hari ini, mereka akan menikah.
"apa Medina kabur meninggalkan ku?" Daniel mulai berpikir yang bukan-bukan. Itu semakin membuat dirinya tidak bisa tenang.
Melihat perubahan pada putranya, membuat sang mama tidak tega melihatnya.
"Sayang...jangan cemas. Rani membawa Medina melakukan perawatan" Mama akhirnya berkata jujur.
Daniel menutup wajahnya tidak percaya.
"Maaaa" Pekik Daniel.
Mama menahan tawanya.
"Kalian bersengkokol?" Tanya Daniel kesal.
Daniel berdecak tidak percaya. Mamanya ikut-ikutan mengerjainya.
"Mama tahu, Daniel sudah berpikir yang bukan-bukan tentang Medina. Daniel pikir, dia per__" Daniel tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
Daniel mengatur nafasnya karena ia merasa dadanya terasa sesak karena panik.
"Gadismu hanya pergi ke salon, kenapa kamu terlihat sangat kacau, hahaha" ledek sang mama dengan tawanya yang khas.
Ia hampir kesal kepada sang Mama karena telah mengerjainya. Namun melihat sang mama tertawa dengan lepas, membuat hati Daniel menghangat.
Mama Safira mengulurkan tangannya ke arah Daniel yang berdiri menyender pada tiang rumah dan dengan segera Daniel menyambutnya.
"kemarilah" pinta mama menarik tangan Daniel.
Daniel menurut, ia duduk disamping mama Safira dan mencium punggung tangan Sang mama.
"Semalam..Medina sempat meminta mama untuk memintamu membatalkan rencana kalian pergi ke kampung halaman Medina"
"apa?" Daniel terkejut.
"Dia takut dan sedikit trauma. Dia bahkan takut, bagaimana jika dirinya tidak bisa kembali lagi ke rumah ini" Kini suara mama terdengar berat. Bulir bening kini sudah keluar dari sudut mata berkacamata itu tanpa komando.
__ADS_1
"Mama mungkin akan tiada jika Medina pergi dan tidak kembali lagi" Suara mama bergetar.
Ucapan sang mama seperti anak panah yang menghujam jantungnya. Daniel memeluk sang mama dari samping.
"Berjanjilah, kamu akan menjaganya dan membawanya kembali pulang"
"insyaAllah, Daniel janji akan terus menjaganya bahkan dengan nyawa Daniel" Ucap Daniel.
"Awas saja...jika sampai kamu menyakiti Medina. Akan mama coret kamu dari daftar ahli waris" Ucap Mama dengan nada bercanda.
"Mama akan melakukan itu?" Tanya Daniel tidak percaya. Ia bahkan menegakkan tubuhnya dan melepas pelukan sang mama.
"Kamu takut?" Tanya mama Safira.
Tanpa Daniel duga, Mama Safira tergelak kencang. Hingga membuat Danu yang berada di paviliun keluar karena penasaran.
Danu membulatkan matanya saat maniknya menangkap rona kebahagiaan dan kehangatan dihadapannya.
"Ma..."
"Apa mama menang arisan?" Cicit Danu.
"iya...mama menang arisan menantu" Jawab mama Safira enteng.
Ekspresi kedua kakak beradik itu sungguh berlebihan. Mereka berdua berteriak tidak percaya dengan jawaban sang mama.
Mereka bertiga akhirnya tertawa bersama. Bahkan semua pegawai dirumah itu ikut tersenyum dan tampak terharu dengan pemandangan pagi dirumah itu. Karena pemandangan seperti ini, sudah lama tidak mereka saksikan. Lebih tepatnya setelah kegagalan hari pertunangan Daniel dan kekasihnya Farah. Tapi hari ini, wajah-wajah bahagia itu kembali. Dan semua berkat kehadiran seorang gadis yang akan menjadi menantu rumah ini.
Bi Inang yang sedari tadi berdiri diambang pintu belakang menyaksikan majikannya, enggan mengganggu kebersamaan majikannya. Namun apa boleh buat, hidangan sarapan telah tersedia di meja dan ia harus memanggil semua majikannya untuk segera menyantap sarapan buatannya.
Seketika Ketiga majikannya menoleh dan menagngguk bersamaan.
"Perutku hampir kenyang karena tertawa, bi" Celetuk Danu dan ia kembali tertawa.
"Sudah..sudah jangan tertawa lagi. Ayo sarapan. Entah mengapa perut mama mudah lapar sekarang" Ucap mama yang sudah beranjak dari duduknya.
"Hei..dimana cucuku?" Tiba-tiba Mama menanyakan keberadaan Syifa yang tidak terlihat sejak pagi.
"Dia bersama babysitter dikamar" Jawab Danu.
Setelah sarapan, Danu mengumpulkan semua pegawai dirumahnya. Sementara Daniel membantu mamanya untuk bersiap-siap.
"Hanya orang-orang yang berada dirumah ini yang menghadiri pernikahan Daniel. Jadi, saya minta dengan kerelaan hati, agar berita ini tidak sampai bocor keluar. Dan karena hari ini sangat spesial buat keluarga kami, mama akan memberi bonus kepada kalian semuanya. Jadi semuanya, bersiaplah..pakai pakaian terbaik kalian dan kita akan berangkat jam 11 nanti. Oke? Terimakasih" Ucap Danu panjang lebar.
Semuanya mengangguk dan membubarkan diri untuk beriap.
"Dia gadis yang beruntung" Gumam Risma. Ada rasa menyesal dalam hatinya ketika saat pertama Medina masuk kerumah majikannya.
"Kamu harus minta maaf sama Medina. Karena tingkah kamu sering menyakitinya" Ucap Bi Inang ketus.
"Iya bi" Risma tidak menyangkal nya.
"Contohlah Medina, sikap lembut dan pemaafnya membuat banyak orang menyayangi dan mencinta nya. Bahkan Den Daniel sangat mencintai nya dan akhirnya bisa melupakan masalalunya" Bi Inang terus mengoceh memberi nasehat kepada Risma. Risma mulai jengah mendengar nya dan segera masuk kedalam kamar mandi.
"oalahhh anak wedhok, dikandani bener malah lungo ora sopan" gerutu Bi Inang.
__ADS_1
***
"Kamu bersiaplah nak...Mama hampir selesai" Ucap Mama Safira yang sedang memakai kerudung.
Daniel yang tengah duduk disofa dan memainkan ponsel akhirnya mendongak. Tadi dia menghubungi Rani namun tidak ada jawaban. Dengan hati kecewa, ia hanya bisa mengirim pesan kepada kakak iparnya untuk menanyakan kabar Medina.
"baiklah...Daniel akan panggil bi Inang untuk membantu mama"
"Tidak usah, Medina sudah mempersiapkan keperluan mama dari semalam. Semuanya ada ditas merah itu. Mama tinggal menyelesaikan memakai ini" Ucapnya menunjuk kerudung yang dipakai.
"Dia sangat peka dan peduli" Gumam Daniel pelan.
Daniel berjalan keluar kamar mamanya dan masuk ke kamar pribadinya.
"Aku tidak mungkin membawanya pulang kerumah atau ke apartemen setelah menikah, mereka pasti akan bersengkokol untuk menggangguku dan Medina. Tidak..tidak aku akan membawanya ke hotel" Daniel tersenyum menyeringai.
Ia mengambil ponsel dari dalam saku celananya. Membuka sebuah aplikasi dan memesan hotel mewah agar bisa berduaan dengan Medina. Tentu saja setelah pernikahan nya.
Klik..
Daniel telah selesai membooking hotel pilihannya. Beranjak ke kamar mandi setelah meletakkan ponselnya diatas meja. Dan tidak lama kemudian Daniel sudah keluar dari kamar mandi.
Daniel sudah rapi dengan setelan jas berwarna biru Dongker. Kemudian ia Mengambil beberapa potong pakaian untuk ia bawa ke hotel dan memasukkannya kedalam koper kecil.
"Bagaimana dengan pakaian istriku? Dia bahkan sedang datang bulan saat ini" Daniel menepuk keningnya. Ia hampir saja melupakan itu. Tidak lama senyum Daniel terbit, ia ingat kantong belanjaan yang kemarin ia beli untuk Medina masih berada didalam mobilnya.
Daniel bergegas keluar menuju garasi dengan menentang koper nya. Kemudian ia membuka cup bagasi dan senyumnya mengembang ketika menemukan kantong plastik dan paper bag berisi baju.
Daniel langsung membuka kopernya dan memasukkan baju, pembalut dan celana dalam dengan size M.
"istriku sangat kurus" Gumamnya saat memasukkan celana dalam wanita.
Daniel menutup koper dan menyimpannya di bagasi. Sementara beberapa belanjaan yang tersisa dibiarkan menjadi penghuni bagasi mobilnya.
Saat akan kembali ke dalam rumah, ia sudah melihat para pegawainya sudah bersiap dan berkumpul di ruang tengah.
"Masyaa Allah..Den Daniel makin ganteng aja. Aura penganten nya bikin penampilannya jadi beda" Puji Jaka.
"Ah..kamu jek bisa aja"
"Bener lho den..yang dibilang Jaka" Sahut bi Inang.
"Makasih bi"
Daniel memeluk para pegawainya sebagai ungkapan terimakasih.
"Maaf selama ini selalu merepotkan kalian" Ucap Daniel tulus.
"Ngga kok Den" Jawab mereka bersamaan.
"Jek...kalian masuk duluan ke mobil ya. Bi Inang ikut mobilku ya nemenin mama" Ucapnya sebelum berlalu masuk ke dalam kamar mama Safira.
"Iya Den..."
Mereka berjalan menuju mobil yang terparkir didepan rumah. Satu Mobil khusus untuk para pegawai yang berjumlah 6 orang.
__ADS_1