
"Mohon maaf karena meminta anda datang lebih awal dari jadwal seharusnya." Dokter Helda langsung mengatakan permintaan maaf saat pasangan suami istri itu masuk kedalam ruangan pemeriksaan.
"Tidak apa, Dok." Sahut Medina dengan senyum dibibirnya. Daniel hanya ikut mengangguk sambil terus menuntun istrinya. Mereka sudah dikabari jika dokter Helda akan mengambil cuti karena ada acara keluarga diluar kota.
"Baiklah...mari kita lihat calon bayi kalian." Dokter Helda langsung meminta perawat untuk menyiapkan peralatan untuk mengecek bayi Medina dengan alat USG.
Dokter berhijab itu dengan teliti dan detail menggerakkan alat diatas perut Medina.
"Dia sangat aktif." Ucap Dokter Helda melihat layar monitor yang memperlihatkan janin yang terus bergerak.
"Iya, dia sangat aktif." Medina mengangguk dengan cepat. Senyumnya terus menghiasi wajahnya. Hingga aura bahagia itu menular pada sang suami. Sepanjang pemeriksaan psangan muda itu senantiasa tersenyum apalagi dokter Helda menyatakan jika semua kondisi kandungan Medina sangat baik dan bagus.
Daniel bahkan mengambil foto calon anaknya yang berada dilayar monitor dengan kamera ponselnya. Begitu sangat menggemaskan terlihat jelas karena menggunakan pemeriksaan 4D.
"Matanya bulat seperti mata kamu." Daniel memperlihatkan foto yang baru saja diambilnya pada Medina.
"Tapi hidungnya mancung seperti kamu, kak." Medina pun memberikan komentarnya.
"Dia akan jadi bayi yang tampan." Timpal Dokter Helda memberi pujian.
"Apa pernah terjadi kontraksi?" Tanya dokter itu lembut.
"Hanya sesekali kram setelah berhubungan." Jawab Medina sambil menutup mulutnya. Ia keceplosan dan membuatnya menoleh ke arah sang suami yang juga terkejut. Selama hamil, Medina jarang mengeluh apapun kepada suaminya. Dan hari ini, ia justru keceplosan tentang kram perutnya apalagi itu terjadi setelah selesai mereka berhubungan intim.
"Kamu tidak pernah?" Daniel yang terkejut menatap istrinya dengan bingung. Karena sepanjang kehamilan istrinya tidak pernah mengeluh apapun. Dan jika Daniel bertanya, pasti Medina menjawab baik-baik saja.
"Sayang...hanya kram biasa dan hanya sesekali saja tidak sering." Elak Medina saat tatapan tajam suaminya seolah meminta penjelasan.
"Berapa lama mbak Medina merasakan kram?" Tanya dokter Helda.
"Saya tidak tahu pasti berapa lamanya, mungkin sekitar lima sampai sepuluh menit." Jawab Medina dan lagi-lagi mendapat tatapan tajam dari suaminya. Daniel tidak habis pikir mengapa istrinya tidak berkata jujur padanya.
"Kram perut setelah berhubungan intim saat istri sedang hamil masih bisa dianggap wajar. Namun harus tetap diperhatikan posisi ibu hamil ketika sedang bercinta. Agar tidak terjadi kram yang lebih parah dan pendarahan dini." Jelas sang dokter menahan senyumnya.
"Namun kram perut juga bisa datang karena gerakan si bayi yang terlalu aktif. Sehingga menekan dinding rahim dan menyebabkan kram. Dan bisa jadi, itu salah satunya karena bayi anda sangat aktif sekali gerakan. Lihat!! Bahkan sepanjang pemeriksaan dia terus bergerak." Dokter Helda menunjuk monitor yang masih memperlihatkan gambar calon bayi Daniel dan Medina. Seolah tahu jika suami pasiennya itu sedang menahan kesal karena kurangnya keterbukaan istri kepada suami.
"Aku selalu ingin keduanya dalam kondisi baik, dok." Daniel mengungkapkan alasan ia terlihat kesal.
"Mereka sehat dan dalam kondisi sangat baik." Tegas dokter Helda.
"Maaf dokter, kedepannya saya akan lebih memperhatikan mereka." Ucap Daniel
.
"Apa vitaminnya sudah habis?" Dokter Helda mengalihkan pertanyaan agar suasana mencair.
"Masih, dok." Jawab Medina.
"Vitaminnya tetap dilanjutkan dan apakah ibu mau saya jadwalkan senam hamil?"
"Apa bisa memanggil instruktur datang kerumah, Dok?" Daniel dengan cepat menyela sebelum Medina menjawab. Medina sadar jika suaminya kini sedang menahan kesal karena ketidak jujurannya.
__ADS_1
"Tentu saja. Saya akan jadwalkan dan asisten saya akan mengabari anda."
"Terimakasih banyak, dokter." Daniel mengalami Dokter Helda.
"Ada yang ingin ditanyakan, Ibu Medina?" Pertanyaan dokter Helda membuat Medina yang melamun
"Tidak ada, Dokter. Untuk hari ini sudah cukup, Terimakasih banyak." Keduanya berpamitan lalu meninggalkan ruangan.
Daniel berjalan cepat hingga membuat Medina terengah karena berusaha menyamai langkah suaminya.
"Sayang..." Medina menarik lengan suaminya. Namun Daniel lebih dulu membuka pintu mobil untuk Medina.
"Kenapa tidak pernah bilang?" Todong Daniel saat mereka sudah didalam mobil.
"Maaf kak. Tapi aku memang baik-baik saja....hanya kram biasa dan itu berlangsung hanya sebentar." Jelas Medina.
"Kita melakukannya sering. Berarti kamu juga sering merasakan kram perut." Ada penyesalan dalam nada bicara Daniel kali ini.
"Tidak sering...hanya jika posisi ku yang kurang nyaman baru aku akan mengalami kram." Lanjut Medina lagi membuat Daniel melengos.
"Sayang...aku menginginkannya, aku menikmatinya, dan lagipula kita selalu melakukannya dengan perlahan dan hati-hati. Kamu suami dan ayah yang sangat menjaga dengan baik." Medina mencoba menenangkan suaminya.
"Hasil pemeriksaan tadi juga baik dan bagus. Jadi...jangan panik dan berlebihan." Medina mengambil nafas. Karena berbicara banyak membuatnya sedikit tersengal.
"Aku dan bayi kita baik-baik saja." Medina mengambil tangan Daniel lalu mengusapkannya keatas perutnya.
"Hai baby....katakan pada Papa bahwa kamu sehat dan baik-baik saja disana. Papa kamu khawatir berlebihan, dan sekarang mama kena marah papa." Ucap Medina pada bayi dalam perutnya dengan manja. Membuat sudut bibir Daniel tertarik karena merasa lucu dan gemas dengan istrinya.
Dan tanpa diduga keduanya, tendangan dari dalam perut Medina seolah merespon perkataan Medina. Meyakinkan sang papa jika dirinya didalam sana baik-baik saja. Membuat calon orangtua itu tertawa kemudian.
****
Beberapa pegawai dan tamu hotel terlihat terheran-heran bahkan ada yang sampai menegur Pak Sanjaya.
"Kamu membuat semua orang melihat dengan heran, Mas. Bisakah tenang sedikit?" Ibu Melani menghampiri suaminya.
"Aku tidak bisa tenang. Putriku sudah pergi hampir tiga jam lalu dan belum mengabari apa-apa." Ibu Melani terkekeh dengan sikap suaminya.
"Medina pergi dengan suaminya. Dan kita semua tahu bagaimana Daniel." Ucap Ibu Melani menenangkan suaminya.
"Duduklah...semua orang melihatmu, Mas." Ibu Melani menarik tangan Pak Sanjaya.
"Apa terjadi sesuatu dengan putri kita?"
"Tadi pagi kamu lihat kakinya bengkak. Itu pertanda tidak baik untuk ibu hamil bukan? Ya ampun...aku takut sekali." Gumam Pak Sanjaya cemas dan ibu Melani hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Mobil yang ditumpangi Medina dan Daniel tiba didepan lobby. Dan langsung menyita perhatian semua orang disana karena pak Sanjaya langsung berlari ke arah mereka.
"Bagaimana hasil pemeriksaanya?" Pak Sanjaya tampak antusias saat menyambut Daniel dan Medina di lobby hotel. Pria paruh baya itu masih tampak khawatir.
"Berkat doa Ayah dan Ibu...calon cucu kalian sehat." Jawab Daniel dengan senyum bahagia. Tidak menyangka jika sang Ayah akan antusias seperti ini.
__ADS_1
"Ayahmu sejak tadi menunggu disini." Ibu Melani tergelak mengingat suaminya yang gelisah menanti kedatangan Medina.
"Dia membuat seisi hotel heran dan juga bingung." Tawa Ibu Melani kembali terdengar.
"Ayah....kami berdua dalam keadaan sehat. Doakan kami terus sampai proses melahirkan nanti." Medina memeluk ayahnya. Dan itu berhasil mengurai rasa cemas dan khawatir yang sejak tadi menghantui pria berusia 56 tahun itu.
"Tentu saja...ayah terus mendoakanmu. Ayah sudah tidak sabar menanti calon cucu ayah." Keempatnya berjalan ke arah lift khusus hingga membawa mereka ke ballroom tempat berlangsungnya acara resepsi.
"Kalian istirahat saja dulu. Nanti jam tiga ibu akan ke kamarmu untuk bersiap-siap." Ibu Melani mengusap pundak putrinya.
"Iya, Bu." Keempatnya berpisah didepan kamar Medina. Karena Pak Sanjaya dan Ibu Melani akan melakukan pengecekan persiapan acara resepsi Fian dan Donita yang akan berlangsung malam nanti.
****
Saat memasuki kamar, Daniel melewati Medina begitu saja. Membuat Medina berhenti berjalan dan menatap punggung lebar suaminya dengan perasaan sedih. Nyatanya..Daniel masih kesal meski sudah diberi penjelasan panjang lebar. Namun ia menyadari jika ia salah karena sudah menyembunyikan sesuatu yang bisa berdampak buruk bagi nyawa janinnya..
Medina melanjutkan langkahnya dengan menunduk. Ia memasuki kamar dan mengedarkan pandangan mencari sosok yang juga baru saja masuk kedalam kamar.
Medina hampir menangis, namun saat mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, Medina bernafas lega.
Karena tubuhnya yang lelah iapun merebahkan tubuhnya di ranjang bahkan tidak membuka hijab ya lebih dulu. Medina langsung tertidur saat merasakan nyaman disekelilingnya.
Daniel yang telah selesai mandi, tersenyum melihat istrinya yang tertidur pulas diatas ranjang. Ia mendekat dan berjongkok disamping ranjang hingga posisi mereka saling berhadapan.
"Maafkan aku...tapi aku benar-benar mencemaskan kalian. Aku terkejut dan takut waktu kamu mengatakan sering merasakan kram. Aku merasa tidak bisa menjaga kalian dengan baik." Daniel mengusap pipi Medina dengan punggung tangannya.
"Maafkan aku, kak." Medina yang tidak benar-benar tidur membuka matanya saat merasakan usapan tangan yang terasa dingin dipipinya. Maniknya mulai berembun karena Daniel mengabaikannya.
"Aku hanya ingin yang terbaik untuk kalian." Daniel mendekatkan wajahnya hingga kedua kening dan hidung mereka bersentuhan.
"Aku tahu." Medina mencium hidung Daniel.
"Kamu sangat harum." Medina mengendus aroma sabun yang menguar pada indera penciumannya.
"Mau aku mandikan?" Daniel menjauhkan wajahnya untuk bisa menjangkau tatapannya pada Medina.
"Ya."
Daniel membawa Medina kedalam bathroom dan memandikan istrinya seperti yang sering ia lakukan. Hanya mandi saja, tidak ada adegan lebih.
Setelah selesai mandi, keduanya memutuskan untuk beristirahat sebentar. Keduanya saling memeluk diatas ranjang dengan mata terpejam. Masih ada waktu 1 jam untuk memulai persiapan pesta resepsi kakak iparnya.
_
_
_
_
_
__ADS_1
_
_