
Setelah makan malam, keluarga Daniel berkumpul diruang tengah. Kali ini rumah mereka kedatangan tamu Gio, jadi suasana semakin ramai.
"Mama dengar dari Daniel, kamu dapat hadiah dari rekan bisnisnya, benar sayang?" Tanya Mama Safira ditengah obrolan santai mereka.
"Iya" Jawab Medina singkat. Ia melirik suaminya yang duduk tidak jauh darinya.
"Selain mobil, Medina juga mendapat kartu khusus untuk menginap dihotel Xxx sesuka hati dan gratis" Timpal Daniel membuat semua yang mendengarnya terkejut. Namun satu orang yang terlihat biasa, dia adalah Danu.
Sebenarnya siang tadi saat dikantor, rapat hanya berjalan 1 jam saja. Setelah rapat bubar, Daniel menceritakan pertemuannya dengan pak Sanjaya dan istrinya kepada Danu. Itulah mengapa Daniel berada dituang rapat hingga 2 jam. Bukan rapat sebenarnya, tapi menceritakan kebeneran tenang kelurga Medina kepada kakaknya.
"Benarkah?" Rani mengangkat kedua alisnya
"Waaahhhh....kita bisa menginap disana sepuasnya dong?" Lanjut Rani dengan wajah sumringah.
"Bunda mau menginap dimana?" Tanya si kecil Syifa.
"Mama Niel akan mengajak kita menginap dihotel bintang 5, apa kamu mau?"
"Benar ma?" Tanya Syifa dengan wajah lucunya.
"insyaAllah sayang...jika kamu sudah libur sekolah. Oke?" Medina tersenyum dan mencium pipi Syifa yang berada dipangkuannya.
"Besok Ifa libur aja ya Bun?" Ucap Syifa polos membuat semua orang tertawa.
"Tunggu waktu liburan dong sayang...jika besok kamu libur amanya meliburkan diri" Timpal Danu.
"Uncle Gio boleh ikut?" Syifa mendongak menatap Medina.
"Uncle tidak bisa ikut, sayang" Potong Gio sebelum Medina menjwab pertanyaan keponakan nya.
"Kenapa?"
"Karena uncle sibuk mencari aunty untuk Syifa" Celetuk Rani sambil terkekeh.
"Benar, uncle?" Tanya gadis kecil yang akan genap berusia 6 tahun itu.
Gio melirik Danu yang berada disampingnya. Danu memberi kode pada Gio untuk mengiyakan karena akan panjang urusan jika banyak pertanyaan yang keluar dari putrinya. Dan akhirnya Gio tak bisa mengelak.
"Iya sayang"
Gadis kecil itu langsung turun dari pangkuan Medina dan berlari memeluk Gio. Memberi kecupan dipipi Uncle nya.
"Kamu sangat senang sekali sayang" Ucap Daniel.
"Ifa senang, akhirnya semua orang punya pasangan" celetuknya sambil tertawa.
"Oh my God" Gio mengangkat tubuh Syifa ke pangkuannya dan memberinya kecupan bertubi-tubi.
Suasana malam yang dingin terasa hangat. Tawa bahagia dan keriuhan suasana menjadi pelengkap di akhir hari mereka yang melelahkan.
Semua telah kembali ke kamar masing-masing setelah mengantar kepulangan Gio.
Medina yang merasa lelah, langsung naik ke atas ranjang setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Sementara Daniel masih berada didalam kamar mandi.
Saat Daniel keluar, ia melihat istrinya sudah terlelap. Daniel berjalan ke arah lemari dan memakai kaos dan celana pendek.
Daniel naik ke atas ranjang, lalu menarik tubuh istrinya agar masuk kedalam dekapannya.
Merasakan nyaman dan hangat Medina semakin membenamkan kepalanya didada Daniel.
"Kamu seperti anak kucing yang kedinginan" Gumam Daniel terkekeh dengan tingkah Medina.
Medina yang mendengar samar ucapan suaminya langsung membuka matanya.
"Kakak mengataiku kucing?" Tanya Medina.
"Kamu belum tidur?" Daniel balik bertanya.
"Hmmm" Jawab Medina dengan mata yang kembali terpejam.
"Honey... boleh aku bertanya sesuatu?" Daniel mengusap pipi istrinya dengan lembut.
Mendengar pernyataan suaminya Medina kembali membuka matanya. Medina mengadah menatap suaminya.
"Apa yang ingin kakak tanyakan?" Tanya Medina.
"Apa yang akan kamu lakukan jika kamu bertemu orangtua kandungmu?" Tanya Daniel hati-hati. Matanya menatap dalam wajah istrinya untuk menanti reaksi istrinya.
"Aku tidak tahu, karena aku belum bertemu dengan mereka" Jawab Medina asal.
Kening Daniel berkerut dalam dan tatapan matanya menajam.
"Honey...aku serius bertanya" Daniel mengecup rambut Medina.
"Aku tidak tahu. Apa kakak punya saran?" Medina menatap wajah suaminya.
"Honey...kamu akan mendengarkan saranku?" Daniel menjauhkan wajahnya dan sedikit menegakkan tubuhnya.
"Aku juga akan meminta saran mama, kak Danu atau kak Rani"
__ADS_1
"Bagaimana jika saran mereka semua menjerumuskan istriku kepada hal yang tidak baik. Mereka menghasut agar kamu tidak pernah memaafkan oragtuamu?" Pancing Daniel.
"Sayang...mereka semua orang-orang baik. Tidak akan menjerumuskan aku kepada hal-hal yang tidak baik" Medina mengerucutkan bibirnya.
Daniel terdiam membenarkan ucapan istrinya. Keluarganya tidak akan menjerumuskan Medina untuk membenci kedua orangtuanya.
"Jadi....apa saran suamiku?" Medina mengusap rahang Daniel dengan lembut.
"Maafkan mereka. Yaa...setidaknya kamu mendengarkan penjelasan mereka mengapa mereka sampai memberikan mu kepada oranglain" Daniel menatap mata istrinya dalam.
"Akan aku coba" Medina mengalihkan pandangannya.
"Hei...lihat aku". Daniel menarik dagu istrinya hingga kedua manik mereka bertemu.
"Aku tahu kamu terluka, sedih dan ingin egois melampiaskan kemarahan dan kekecewaan mu. Tapi semua itu justru akan lebih menyakitimu. Dan aku tidak ingin melihat istriku merasakan kesedihan yang panjang" Daniel melihat sorot mata Medina yang nampak mulai berair.
"Apa kakak sudah menemukan mereka?" Pertanyaan Medina membuat Daniel tersenyum.
"Meskipun aku menemukan mereka malam ini, aku tidak akan mempertemukan mu dengan mereka hingga kamu merasa siap" Daniel mengecup bibir Medina.
"Atau kamu ingin segera bertemu dengan mereka?" Tanya Daniel menggoda.
"Aku belum siap bertemu mereka" Medina membenamkan wajahnya di dada Daniel dan mulai terisak.
Daniel mengeratkan pelukannya dan mengelus punggung Medina dengan lembut mengalirkan rasa nyaman dan hangat.
"Aku tahu. Sekarang tidurlah" Daniel menarik selimut agar menutupi tubuh mereka. Lalu mendaratkan kecupan bertubi-tubi dari kepala hingga wajah Medina.
"Sayang...." Rengek Medina merasa sesak karena ulah suaminya.
"Tidurlah" Daniel menghentikan aksinya.
"Hhhmmm" Medina mengangguk namun tidak dapat memejamkan matanya kembali. Rasa kantuk yang menggelayuti matanya hilang begitu saja.
"Aku akan meminta saran mama" Lirih Medina dalam hati.
****
Keesokan paginya, setelah Medina selesai membantu menyiapkan sarapan, Medina kembali ke kamar untuk membantu suaminya bersiap ke kantor seperti biasanya.
"Sayang....kamu tidak bekerja?" Tanya Medina saat melihat suaminya memakai baju santai.
"Aku ingin mengajak istriku jalan-jalan" Daniel memeluk pinggang Medina.
Daniel menatap wajah istrinya dalam. Memperhatikan setiap detail wajah Medina yang sedikit pucat.
Daniel tahu, jika semalam istrinya tidak tidur dengan nyenyak. Itu karena obrolan mereka tentang keluarga kandung Medina.
"Semua orang akan protes. Daniel semakin menjadi pemalas"
"oh iya.... sore nanti kita akan pulang" Ucap Daniel.
"Oke" Jawab Medina singkat.
"Kamu tidak suka kembali kesana?" Daniel menangkup wajah Medina.
"Kita sudah pernah membahas ini, bukan?" Medina tersenyum cantik.
"Kamu masih ingin tinggal disini?" Daniel menundukkan kepalanya agar sejajar dengan wajah istrinya.
"Sayang...jujur aku tidak nyaman tinggal di apartemen. Maaf..." Medina menatap wajah Daniel lalu memeluknya.
"Makanya aku akan mengajakmu jalan-jalan sebelum kita pulang. Bagaimana?"
"Aku akan pergi bersama suamiku" Medina melepaskan pelukannya.
"Hei...tunggu mau kemana?" Daniel menahan tubuh Medina.
"Waktunya sarapan, Sayang"
"Beri aku makanan pembukanya dulu" Wajah Medina seketika merona mengerti maksud perkataan suaminya.
Meski sudah biasa namun masih rasa malu dalam diri Medina apalagi untuk memulainya lebih dulu.
"Aku menunggumu, Honey" Daniel merengkuh pinggang Medina hingga keduanya tidak berjarak.
"Menunduklah...." pinta Medina karena tinggi tubuhnya yang hanya sebatas bahu Daniel hingga ia kesulitan untuk menjangkau bibir suaminya.
Daniel yang sudah tidak bisa menahan hasratnya, langsung mengangkat tubuh Medina dan menyambar bibir ranum Medina.
Keduanya saling memagut bibir dengan lembut dan berirama akibat suara yang ditimbulkan kedua bibir.
"Sudah...Hhhhmmmmpttt"
Daniel belum ingin melepas ciumannya, membuat Medina mendorong tubuh kekar Daniel.
"Mama dan yang lainnya menunggu kita turun" Ucap Medina setelah bibirnya terlepas.
Lagipula, Medina khawatir jika diteruskan akan menjadi adegan ranjang yang memakan waktu lebih lama.
__ADS_1
"Ya sudah...ayo" Daniel menggamit Jemari Medina dan melangkah keluar dari kamar.
Saat menuruni tangga, terdengar suara Syifa yang berada di gendongan babbysitter sedang menangis histeris.
"Sayang...kenapa kamu menangis?" Medina langsung mengambil alih tubuh gadis kecilnya.
Medina menatap Mama Safira yang tadi juga ikut menenangkan Syifa.
"Ma...Syifa kenapa?" Medina mulai bingung karena Syifa tidak berhenti menangis.
"Bunda ga sayang ifa..." ucap Syifa ditengah isaknya.
"Kenapa bilang begitu?" Tanya Medina penasaran.
Daniel bertanya tanpa bersuara kepada mamanya yang duduk sambil tersenyum.
Sementara itu, Danu baru saja keluar dari paviliun memapah Rani yang terlihat seperti sedang sakit.
"Kak...ada apa? Kenapa Syifa menangis?" Todong Daniel.
"Dari semalam Rani muntah dan demam. Aku akan membawanya ke dokter. Kemungkinan Syifa akan punya adik" Jawab Danu.
Mendengar perkataan papanya, Syifa kembali menangis histeris.
"Papa....lihat Syifa menangis lagi" Ucap Rani melirik suaminya.
"Sayang..." Medina yang mulai memahami situasi hati putrinya langsung membawa Syifa ke taman belakang.
"Wahhh...selamat untuk kalian" Daniel memeluk kakaknya.
"Belum tentu aku hamil" Bantah Rani.
"Ayo duduk sarapan dulu, lalu antar Rani ke dokter" Ajak mama Safira.
"Aku akan melihat Syifa, kalian duluan saja" Daniel berjalan ke teras belakang dan melihat Medina tengah memeluk Syifa dipangkuannya.
Daniel sengaja tidak mendekati istri dan keponakannya. Ia hanya berdiri sambil mendengar Medina menasehati keponakannya,
"Papa dan mama Niel akan pergi jalan-jalan, apa Syifa mau ikut?"
Gadis kecil itu mengangguk pelan.
"Tapi Syifa harus habiskan sarapannya dulu. Mama akan suapi, mau?" Bujuk Medina.
"Syifa mau makan burger" Pinta Syifa yang sudah berhenti menangis.
"Tapi ini masih pagi sayang...restoran nya belum buka"
"Mama buatkan sandwich keju, mau?" Tawar Medina.
Gadis kecil itu mengadah lalu mengangguk cepat.
"Sandwich nya 2 ya, ma?" Syifa mengangkat dua jarinya ke udara.
"Mama akan buatkan 3 untuk Syifa. Tunggu disini ya" Medina meninggalkan Syifa bersama baby sitter. Sementara dirinya pergi ke dapur untuk membuatkan sandwich untuk Syifa.
"Mau kemana?" Tanya Daniel melihat istrinya meninggalkan Syifa.
"Syifa minta dibuatkan 2 sandwich keju" Jawab Medina sambil menirukan gerakan Syifa tadi.
Daniel dan Medina tertawa geli. "Buatkan aku 2 sandwich juga" Daniel mengangkat dua jarinya ke udara. Keduanya kembali tertawa.
"Temani Syifa, aku ke dapur dulu" Medina meninggalkan Daniel dan berjalan menuju dapur.
Setelah selesai sarapan, Danu mengantar istrinya ke dokter, sementara Daniel mengajak Syifa dan mama nya jalan-jalan ke mall bersama Medina hingga sore hari.
Padahal niat awal Daniel mengajak Medina jalan-jalan keluar adalah untuk menunjukkan rumah baru mereka yang baru saja selesai dibangun. Namun karena drama pagi ini, Daniel mengurung kan niatnya dan berencana memberi kejutan itu saat ulang tahun Medina yang tinggal beberapa hari lagi.
Medina turun dari mobil lebih dulu denagn menggendong Syifa yang tertidur akibat kelelahan setelah seharian bermain.
Sementara Daniel menggandeng tangan mama Safira masuk kedalam rumah.
"Aku dan Medina akan pulang" Daniel memberitahu mamanya.
"Sekarang kau sangat menguasai putriku" Sindir mama Safira.
"Dia istriku, ma"
"Ck...." Mama berdecak.
"Pulanglah setelah makan malam. Ada yang ingin mama bicarakan dengan putri mama" Ucap Mama Safira.
"Sesuai titah ibu ratuku" Daniel mencium tangan mamanya.
_
_
Terimakasih sudah mampir.
__ADS_1
_
_