
Setelah acara malam lamaran Raihan yang penuh drama, Siang harinya Daniel kembali ke kota J setelah mengecek beberapa laporan yang diberikan Raihan di pagi harinya.
Raihan benar-benar mengunci rapat mulutnya sejak pulang dari rumah pakde Radiman. Bahkan saat Daniel bertanya bagaimana jawaban atas lamarannya kepada Billa, Raihan tidak menjawab.
Daniel memaklumi dengan sikap Raihan yang tidak ingin menceritakan detail kejadian saat dirinya keluar meninggalkan mereka. Ia menghormati privasi Raihan yang tidak ingin orang ketahui.
Medina yang mendengar berita lamaran Raihan dan Billa gagal, ia merasa sangat bersedih. Ia tidak menyangka kisah Raihan dan Billa tidak semulus yang dibayangkannya.
"Kamu masih sedih karena kabar kemarin?" Tanya Ayah Sanjaya kepada Medina.
"Jangan terlalu dipikirkan. Cinta akan menemukan hati untuk berlabuh. Doakan yang terbaik untuk hubungan mereka." Ibu Melani ikut menimpali. Ia tidak tega melihat Medina menjadi murung.
"Iya Ibu." Jawab Medina lesu.
"Sayang...ada makanan yang ingin kamu makan?" tanya pak Sanjaya.
"Tidak ada ayah." jawab Medina.
"Putrimu sedang merindukan suaminya." Medina terkekeh mendengar ucapan ibu Melani.
"Ibu...."
"Ayah sangat bersyukur. Daniel pria yang sangat baik." Ucap Ayah Sanjaya.
"Itu karena putri kita sangat baik. Jadi dia mendapatkan laki-laki baik." Ucap Ibu Melani.
"Dia suami sempurna." Medina ikut menimpali. Wajah sendunya seketika hilang saat membicarakan suami yang amat sangat dirindukannya.
"Apa kalian tidak pernah bertengkar?" Tanya Ibu Melani yang penasaran dengan rumah tangga putrinya. Karena sejauh yang dirinya lihat, Daniel sangat memanjakan Medina.
"Em..." Medina terlihat berpikir. Mengingat-ingat apa mereka pernah bertengkar.
"Aku sering merajuk untuk hal-hal kecil." Medina menutup wajahnya malu atas pengakuannya.
"Kamu seperti ibumu." Ayah Sanjaya melirik Ibu Melani yang sedang melayani sarapan.
"Benarkah?" Medina melirik i bunya degan senyuman.
"Lalu apa yang akan ayah lakukan untuk membujuk ibu?" Medina selalu antusias dengan kisah rumah tangga kedua orangtuanya.
"Merelakan kartu sakti Ayah." Jawab Ayah Sanjaya tanpa rasa bersalah.
"Dan ibu menerima?" Wajah Medina terlihat terkejut.
"Tentu saja. Karena tidak ada pilihan lain selain menerima itu?" Ibu Melani tertawa hambar.
"Kehidupan rumah tangga kami tidak seperti layaknya rumah tangga yang harmonis. Ayah pikir ibu mu bahagia dengan kehidupan yang kita jalani. Ibumu banyak mengalami tekanan dari ayah dan keluarga ayah dan ayah menyesal tidak pernah menyadarinya. Hingga ayah harus kehilanganmu." Ucap pak Sanjaya dengan wajah sendu. Mengingat bagaimana dirinya membina rumah tangga bersama istrinya.
"Ayah..ibu..."Medina menggenggam jemari kedua orang tuanya.
"Kita sudah melewati hari-hari yang berat dan saat ini kita telah meraih keutuhan keluarga dengan senyum kebahagiaan." Ibu Melani menimpali.
"Ibu benar. Dan kebahagiaan itu semakin bertambah jika perut yang lapar terisi dengan makanan lezat dan bergizi." Gurau Medina mencairkan suasana.
Ketiganya tertawa bahagia. Membuat suasana pagi di mansion itu menjadi lebih berwarna dengan kehadiran Medina. Tidak hanya Keluarga inti, para maid juga ikut merasakan kebahagiaan yang selama ini hilang dari rumah itu.
"Pagi semua." Sapa Fian saat turun dari lantai dua.
"Pagi kak." Medina tersenyum.
"Apa aku melewatkan sesuatu?" Fian tersenyum melihat wajah-wajah bahagia didepannya.
"Iya. Telur rebus setengah matang Tuan Muda." Medina meletakkan telur rebus kesukaan Fian diatas piring sang kakak.
"Kamu tahu?" Fian terkejut karena Medina tahu makanan kesukaan nya di pagi hari.
"Tentu saja. Tidak boleh ada yang terlewat dari perhatian ku." Jawab Medina dengan terkekeh.
"Terimakasih Nona Muda. Ini telur spesial sepanjang hidupku." Ucap Fian bahagia.
"Ah...benarkah? Aku tersanjung tuan muda. Terimakasih." Medina tertawa geli dengan dramanya.
"Jadi buatan ibu selama ini tidak spesial?" Pertanyaan ibu Melani membuat semua orang dimeja makan tertawa. Meski bukan dalam artian iri yang sebenarnya. Hanya saja Ibu Melani tidak ingin melewatkan moment kebahagiaan ini.
"Buatan ibu super...super...super spesial." Fian mengambil tangan ibunya lalu mengecupnya bertubi-tubi.
__ADS_1
Pemandangan dihadapannya membuat Pak Sanjaya tersenyum penuh haru. Untuk pertama kalinya ia merasakan moment pagi hari dimeja makan yang sangat hangat.
"Ayah dan ibu harus banyak mengkonsumsi buah dan sayuran. Agar tetap awet muda dan kuat saat menggendong cucu-cucunya. Benarkan kan, kak?" Medina melirik Fian yang berada disebelah nya.
"Betul sekali bumil." Fian mencubit pipi Medina dengan gemas.
"Apa mamu berencana punya banyak anak?" Tanya Kak Fian sebelum menyantap sarapannya.
"Aku baru merencanakannya. Heeemmm...setelah kebingungan dengan aset yang diberikan ayah atas namaku." Semua orang tergelak tawa dengan lebar mendengar jawaban Medina.
Semenjak ada Medina, Fian merasakan kehangatan yang luar biasa terlebih Ayah dan Ibunya. Bahkan senyuman yang hampir tidak pernah dilihatnya, kini terus menghiasi wajah kedua orangtuanya. Fian ingin keadaan ini dapat dirasakan oleh keluarganya selamanya.
****
"Mas...kamu akan pergi?" Tanya Ibu Melani saat masuk ke dalam kamar dan melihat suaminya telah rapih dengan pakaian kerja.
"Aku akan ke kantor bertemu pengacara." Jawab pak Sanjaya.
"Ada berkas yang harus aku tanda tangani. Aku akan mencabut laporanku sebelum laporan berubah menjadi BAP. Semoga semuanya dipermudah." Ibu Melani tersenyum mendengar ucapan suaminya.
"Kamu akan menemui mereka dipenjara?" Ibu Melani berdiri dihadapan suaminya.
Pak Sanjaya terdiam. Sebenarnya ia akan pergi ke kantor polisi bersama pengacara. Tapi Pak Sanjaya memilih tidak memberitahu istrinya.
"Aku belum memikirkannya." Jawab pak Sanjaya.
"Jangan membohongiku lagi. Aku tahu kamu akan kesana." Ibu Melani memakaikan jas pada tubuh suaminya.
"Kondisi Mas masih belum benar-benar fit. Ajaklah Fian untuk menemamimu." Ucap Melani.
"Baiklah nyonya." Pak Sanjaya mencium dahi ibu Melani.
"Mulai saat ini jangan bertindak gegabah apalagi membahayakan kesehatan mu. Keluarga kita baru saja berkumpul, aku tidak ingin kesedihan menghampiri keluarga kita lagi." Ibu Melani menatap suaminya dengan intens.
"Aku akan ingat pesanmu, Nyonya Sanjaya." Pak Sanjaya terkekeh. Keduanya lalu keluar dari kamar dan senyum diwajah mereka.
****
Pak Sanjaya, Fian dan pengacara keluarga telah selesai melakukan tugasnya. Setelah menandatangani surat-surat, Pak Sanjaya mengajak Fian untuk bertemu dengan calon besan di kantornya.
"Iya. Sekarang tidak ada alasan lagi untuk menunda pernikahanmu." Pak Sanjaya tersenyum dan Fian manggut-manggut.
"Bagaimana jika akhir bulan ini?" Fian yang sedang menyetir langsung menoleh.
"Ayah baru saja sehat. Aku masih bisa menunggu." Sahut Fian.
"Hei anak muda... laki-laki bisa menunggu. Tapi pihak perempuan pasti tidak akan sabaran. Kau mau calon istrimu diambil orang?" Ledek pak Sanjaya.
"Ayah akan mengundang mereka makan malam dirumah akhir pekan nanti." Fian mengangguk dengan ide Ayahnya.
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang hingga sampai ke tujuan. Pak Sanjaya dan Fian sudah disambut hangat oleh pemilik gedung. Calon ayah mertua Fian.
Ketiganya memasuki gedung dan membicarakan banyak hal. Dan pastinya tentang pernikahan anak-anaknya.
"Aku mengundang kalian datang makan malam dirumah akhir pekan nanti. Mudah-mudahan pak Faisal tidak sibuk." Ucap Pak Sanjaya diakhir obrolannya.
Calon besan langsung mengangguk dengan senyum berbinar. "Kami akan datang." Jawab pak Faisal.
Fian dan Pak Sanjaya kembali kerumah karena waktu sudah sore. Didalam rumah mereka disambut oleh dua wanita cantik dengan senyum menawan. Medina langsung menghampiri ayahnya, memeluknya setelah mencium tangan.
"Ah...rasanya aku ingin pergi kerja setiap hari jika disambut dua bidadari seperti ini." Semua orang tertawa dengan ucapan Pak Sanjaya.
Mereka duduk santai diruang tengah hingga masuk waktu sholat Maghrib. Setelah melaksanakan kewajiban, keempatnya kembali berkumpul dimeja makan untuk menikmati makan malam.
"Akhir pekan nanti aku mengundang calon besan makan malam dirumah kita." Ucap pak Sanjaya setelah menyelesaikan makannya.
"Aku ingin pernikahan ini segera dilaksanakan." Lanjut pak Sanjaya yang langsung disambut senyum bahagia Ibu Melani dan Medina.
"Sayang...kapan perkiraan persalinan mu?" Tanya ibu Melani
"Dokter bilang sekitar awal atau pertengahan bulan Desember, Bu." jawab Medina.
"Berarti saat ini usia kandungan mu sudah tujuh bulan lebih?" Pak Sanjaya terlihat berpikir. Ia melihat istrinya.
"Kita akan membuat acara pengajian dirumah. Syukuran atas kehamilan mu dan juga untuk pernikahan Fian."
__ADS_1
"Ibu...itu tidak perlu. Ayah baru saja sehat, dan aku tidak mau jika ibu juga ikut jatuh sakit karena mengurua persiapan." Elak Medina halus. Ia tidak ingin keduanya kelelahan dan jatuh sakit.
"Ayah akan sewa EO untuk mengurus semuanya." Jawab Pak Sanjaya.
"Tetap saja ayah akan menerima tamu."
"Sebaiknya tenaga kalian disimpan untuk acara pernikahan kak Fian." lanjut Medina.
"Sayang...kami tidak akan kenapa-kenapa. Kami justru bahagia dan senang bisa melaksanakan kewajiban kami sebagai orangtua." ibu Melani memeluk Medina lalu mencium pucuk kepala Medina yang tertutup hijab.
"Baiklah aku setuju. Tapi kalian harus berjanji akan menjaga diri." Medina akhirnya setuju. Apalagi melihat wajah-wajah bahagia kedua orangtuanya. Ia tidak tega untuk menolak keinginan mereka.
****
Sementara itu di kota J Daniel masih bergelut dengan pekerjaan nya. Sering meninggalkan pekerjaan membuat Daniel harus berjibaku dengan berkas-berkas saat ini. Bahkan dua hari ini dirinya selalu pulang larut malam.
Saat sedang fokus dengan laptopnya, ponsel Daniel berdering. Daniel tersenyum melihat kontak nama dilayar ponsel dan jemarinya langsung menekan ikon hijau hingga terdengar suara merdu yang selalu dirindukannya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Kamu belum tidur?" Tanya Daniel sembari mengubah mode panggilan menjadi videocall.
"Belum."
"Tapi kamu sudah terlihat mengantuk, Honey." Daniel tersenyum melihat wajah istrinya yang sayu dan beberapa menguap.
"Kamu tidak bisa tidur karena belum mendengar suaraku?"
"Bukan aku. Tapi anakmu, kak." Medina tertawa menggoda. membuat Daniel gemas.
"Sayang...kamu masih dikantor?" Medina melihat suasana di belakang suaminya.
"Iya. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus selesai hari ini."
"Aku sering meninggalkan pekerjaan. Jadi harus aku kejar." Jawab Daniel tidak mau istrinya salah paham
"Maafkan aku." Lirih Medina.
"Hei, kenapa harus minta maaf?" Daniel meletakkan ponselnya diatas meja tanpa mematikannya. Ia berdiri untuk mengambil minum yang ada didalam lemari pendingin diruangan itu.
"Karena aku terus mengganggu pekerjaan mu." Sahut Medina membuat Daniel tertawa.
"Justru kamu membuat membawa dampak yang luar biasa untuk pekerjaanku." Daniel tersenyum sambil memegang kaleng minuman.
"Kenapa minum itu? Apa kakak setiap malam minum itu?." Medina mengomeli suaminya karena ketahuan minum minuman bersoda dimalam hari.
"Baru kali ini, Hon."
"Cepat buang! Jangan diminum lagi. Besok aku akan meminta sekretaris mu untuk mengeluarkan isi lemari pendingin diruangan kakak dan mengganti nya dengan buah atau susu." Daniel masih tertawa namun ia mengikuti perkataan istrinya.
"Sudah." Daniel membuang kaleng minuman kedalam tong sampah disana.
"Kakak tidak pulang?"
"Sebentar lagi." Daniel menggulung kemejanya hingga siku.
"Istirahat lah dan jangan mandi terlalu malam." Pesan Medina dan sang suami hanya mengangguk mengiyakan titah sang tuan putri.
Keduanya memutuskan sambungan telepon karena malam sudah hampir larut. Daniel segera beranjak dari ruangannya dan pulang kerumah mama Safira. Sementara Medina masih menatap layar ponselnya. Memandangi wajah tampan suaminya yang sangat dirindukannya. Meski hampir setiap saat mereka bertukar suara dan video tapi tetap saja Medina ingin bertemu suaminya, mengendus bau tubuhnya, bermanja dan masih banyak lagi.
"Aku sangat merindukanmu." Lirih Medina sambil mengusap perutnya yang semakin membuncit. Gerakan dari dalam perutnya membuat Medina semakin intens mengusap perutnya. Mengajaknya bicara bahkan tidak jarang Medina bercerita bagaimana mama dan papanya melakukan aktifitas harian mereka.
"Apa kamu lapar, sayang?" Kantuk Medina hilang dan berganti lapar yang kini dirasakan perutnya.
"Baiklah. Kita akan keluar dan mencari sesuatu yang bisa kita makan." Medina terkekeh sendiri dengan respon sang jabang bayi ketika ditanya makan. Padahal mereka sudah makan malam dan bahkan ibunya masih menyuguhkan cemilan untuk Medina ketika selesai makan. Dan sekarang perutnya sudah meronta-ronta ingin diisi lagi.
_
_
_
_
_Terima kasih sudah mampir. tinggalkan jejak kebaikan kalian ya🤗
__ADS_1