
Brakkkk!!!
Daniel menutup pintu mobil dengan sangat keras. Hingga membuat Medina terlonjak kaget. Ia menoleh dan menatap Daniel dengan bingung. Daniel berubah seketika setelah bertemu dengan pria bernama Alfian itu. Meski ia tidak mengerti entah ada perihal apa antara keduanya, namun ia faham calon suaminya kini sedang marah dan dalam keadaan mood yang tidak baik.
"Kak..." Tangan Medina meraih pundak Daniel dan mengelusnya. Mencoba untuk menenangkan Daniel.
Daniel yang sedari tadi menunduk dengan kedua tangan memegang kemudi pun menoleh. Ia belum menstarter mobilnya.
Ia mengambil nafas panjang dan menghempaskannya dengan kasar.
"Maaf..." Daniel mencoba untuk tersenyum saat maniknya menatap Medina dengan wajah sendu dan penuh kekhawatiran.
"Ada apa?" Tanya Medina lembut. Kini tangan Medina mengelus punggung Daniel.
Daniel menatap Medina lekat. Ingin ia menceritakan tapi Daniel memilih bungkam. Baginya tidak ada yang lebih penting saat ini, selain merencanakan pernikahannya dengan cepat.
"Sebaiknya kita mencari gaun untukmu. Kamu harus mempersiapkan diri untuk pernikahan kita besok" Ucap Daniel mengalihkan perhatian.
"Hah? Besok?" Medina menutup mulutnya yang terbuka karena kaget.
"Aku sudah bilang tadi pagi, kita akan menikah secara agama dulu. Setelah pakde bersedia menjadi wali mu, kita akan menikah lagi didepan penghulu dan acara yang sangat mewah tentu saja" Ucap Daniel
"Bagaimana, jika pakde menolak dan memaksaku mengikuti kemauan nya yang sempat tertunda dulu?" Medina menatap Daniel.
"aku akan membuat pakde mu tidak menolak"
"Apa yang akan kakak lakukan" Tanya Medina penasaran.
"Tidak perlu cemas Honey. Yang perlu kamu pikirkan adalah bagaimana akan melayaniku saat malam pertama kita nanti" Daniel mengedip kan matanya.
Medina menunduk seketika. Pipinya terasa panas. Medina mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil yang dikendarai Daniel. Menatap jalanan ibukota yang ramai dan macet di jam makan siang seperti saat ini. Hingga sebuah suara deringan ponsel Medina membuyarkan lamunan Medina dan juga Daniel.
Medina menatap layar ponselnya dan segera menekan tombol hijau.
"Assalamualaikum, ma"
Mendengar itu, refleks Daniel langsung menoleh.
"Kalian dimana? Daniel tidak membawa kamu kawin lari kan?"
Medina tertawa kecil. Ia menoleh Daniel yang masih fokus didepan kemudi.
"Kami dalam perjalanan ma, mau cari gau__"
"Baiklah, cepat kembali. Ada yang ingin mama bicarakan dengan kalian"
"Mama sudah makan dan minum obat?"
"sudah sayang, jangan khawatir. Bi Inang melakukan perintahmu dengan tuntas dan baik"
Terdengar kekehan mama diseberang sana. Medina tersenyum mendengarnya.
"hati-hati dijalan.. Assalamualaikum"
"iya ma. Wa'alaikum salam"
Medina kembali menyimpan ponselnya kedalam tas.
"mama meminta kita pulang?" tanya Daniel.
Medina mengangguk.
"baiklah..tapi setelah urusan kita selesai"
__ADS_1
Setelah beberapa lama mengemudi, Daniel Memarkirkan kendaraannya di depan sebuah butik muslimah ternama.
"Ayo turun, Honey" Daniel membantu membukakan sabuk pengaman yang melilit tubuh Medina.
Setelah turun dari mobil, mereka segera masuk ke dalam butik.
"Selamat sore Tuan dan Nona. Ada yang bisa kami bantu" Seorang pegawai wanita menyapa mereka.
"Tolong perlihatkan semua koleksi baju muslimah terbaru butik ini" Perintah Daniel.
"Baik Tuan, silahkan ikut saya Nona" Ajak pegawai itu.
Medina menatap Daniel, dan membalas mengangguk.
Medina mengikuti langkah pegawai wanita itu ke salah satu raungan didalam butik. Medina mencoba beberapa set gamis dan hijab yang diberikan pegawai tadi. Semuanya sangat indah dan cantik ditubuh langsing Medina. Namun karena melihat bandrol harga yang tertera didalam gantungan baju, Medina jelas tidak mungkin ia meminta Daniel membeli semuanya untuk dirinya.
Setelah mencoba nya Medina hanya mengambil 2 set saja dan segera menunjukan pada Daniel.
"Kak.." Panggil Medina setelah keluar.
Daniel yang sedang membaca chat diponselnya pun menoleh.
"Sudah?" Tanya Daniel dan ia bangkit dari duduknya.
Medina memperlihatkan baju yang sudah ia pilih.
"Hanya ini?" tanya Daniel heran.
Medina mengangguk pelan. Daniel yakin, dari puluhan baju yang diperlihatkan pegawai itu semuanya cocok ditubuh Medina. Hanya saja, Medina pasti akan menolaknya jika Daniel meminta pegawai itu membungkus semuanya dihadapan Medina saat ini. Jadi ia berencana untuk membeli semuanya tanpa sepengetahuan Medina.
"Baiklah, berikan baju itu padanya. Aku akan ke kasir" Daniel menunjuk pegawai yang menemani Medina dan melangkah ke arah kasir.
"Bungkus semua baju yang calon istriku coba didalam tadi. Kirim ke alamat ini sekarang juga" titah Daniel dengan sedikit berbisik kepada pegawai dan kasir disana. Daniel memberikan kartu sakti dan sebuah alamat kepada kasir.
"Terimakasih"
"kamu lelah, Honey?" Daniel menghampiri Medina yang duduk menyandar disofa butik.
Medina mengulum senyum.
"sedikit" jawab Medina sambil menegakkan tubuhnya.
"Kak..sudah hampir jam 3. Kita belum sholat Dzuhur" Medina menerima paperbag yang diberikan Daniel.
Daniel melirik arlojinya. Ia berpikir sejenak, jika kembali ke rumah mamanya akan memakan waktu lama. Dan opsi tercepat saat ini adalah kembali ke apartemen nya yang tidak jauh dari butik.
Mereka masuk ke dalam mobil. Daniel segera menjalankan nya menuju apartemen.
"loh? kenapa kita ke apartemen?" Medina melihat sekeliling saat Daniel membelokkan mobilnya ke dalam parkiran apartemen nya.
"Honey..ga akan kekejar waktu sholat dzuhurnya kalo kita balik kerumah mama" Daniel memberi penjelasan.
"Setelah sholat ashar, kita baru kerumah mama, oke??" lanjut Daniel.
Medina menghela nafas. Kemudian mengekori Daniel yang berjalan menuju lift.
Medina diam. Mencoba untuk membuat dirinya nyaman dan tidak gugup. Karena Medina masih mengingat betul terakhir kali dirinya bersama Daniel di apartemen.
Daniel menahan senyumnya memperhatikan tingkah gadisnya yang terlihat menggemaskan. Bahkan Daniel sudah berencana ingin sekali menggoda Medina.
Daniel mendekati Medina yang berdiri agak berjauhan dengannya di dalam lift.
Seketika Medina mendorong Daniel dengan sisa tenaga yang ia miliki.
__ADS_1
"Kakak jangan macam-macam ya" Ucap Medina dengan nada kesal.
"Aku ga macam-macam. Aku satu macam aja, Honey" Daniel menahan tawanya melihat reaksi Medina yang sedikit berbeda dari biasanya.
"lagipula..aku itu kan calon suami kamu. Besok kita menikah dan___" Daniel menggantung ucapannya karena dentingan lift terdengar lalu terbuka.
Medina bernafas lega dan segera berlari keluar lift mendahului Daniel.
Daniel tertawa kecil dan menyusul Medina yang sudah lebih dulu masuk kedalam apartemen nya.
"Honey..." Panggil Daniel ketika dirinya sudah berada diruang tengah apartemen.
Daniel melangkah terus menuju kamarnya dan mencari keberadaan Medina. Namun nihil.
"Honey!" Daniel mulai khawatir.
"Honey...oke aku minta soal tadi. Aku cuma bercanda, Honey" Daniel berlari kecil ke ruang kerjanya lalu ke balkon dan terakhir ke dapur. Namun sosok yang dicarinya tidak tampak apalagi menyahut panggilannya.
"Medina..." Kali ini Daniel sedikit berteriak. Maniknya melirik Tas ransel yang tergeletak diatas meja dapur.
"Honey...kamu didalam?" Tanya Daniel dengan tangan mengetuk pintu.
"iya kak" sahut Medina.
"Kamu baik-baik aja kan?" Tanya Daniel lagi dengan nada khawatir.
"I_iya" Sahut Medina dari dalam kamar mandi.
"Beneran kamu ga papa?" Kali ini Daniel mendekat kan mulutnya ke pintu.
"I_iya kak. Medina ga papa"
Daniel tersenyum. Ia berpikir jika Medina hanya ingin bersembunyi dari dirinya. Akibat perlakuannya saat dilift tadi.
Medina mendengar langkah kaki Daniel menjauh dari dapur. Ia memberanikan diri membuka sedikit pintu kamar mandi dan mengintip keluar. Dirasa suasana aman, Medina keluar dari kamar mandi untuk mengambil ransel yang ia letakkan diatas meja Dapur. Dengan gerakan cepat iapun kembali ke dalam kamar mandi dan menguncinya.
"Hufftt" Medina mendudukkan dirinya diatas closet. Medina lalu merogoh tas ranselnya, dan berharap menemukan sesuatu yang ia selalu bawa dan sangat ia butuhkan saat ini.
"Hah? kok ga ada sih..." Tangan Medina masih terus meraba isi ranselnya.
Penasaran dengan apa yang ia cari tidak juga ketemu. Akhirnya Medina menumpahkan semua isi ranselnya kedalam westafel.
Seketika tubuh Medina menjadi lemas seperti tidak bertulang. Keringat dingin kini mengucur diseluruh tubuhnya hingga membuat gamis dan hijabnya terdampak.
Ia terus berpikir dan mendapatkan ide. Dengan tangan yang masih gemetar, Ia mencari dan mengambil ponsel dari tumpukan barang yang ia tumpahkan ke westafel tadi untuk menghubungi seseorang. Ia butuh bantuan Rani saat ini.
"Tidaaakkk, jangan sekarang please...please... please" Medina menahan rasa kesalnya saat ponsel yang ia pegang tiba-tiba mati karena kehabisan baterai. Medina menggenggam kesal ponselnya. Dan menjatuhkan diri diatas closet.
"sekarang harus gimana..hiks...hiks.." gumam Medina sedih meratapi nasibnya saat ini.
"ibu...hiks...hiks..." Medina menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.
_
_
_
_
_
_
__ADS_1