
Pukul 3 dini hari dikamar Syifa, Medina mengerjapkan matanya. Ia merasakan kepalanya sedikit berat dan pusing. Medina mengingat ia menangis dalam pelukan Daniel.
"memalukan sekali...mengapa aku sangat cengeng dan mudah menangis jika dihadapannya?" Batin Medina.
Tangannya terangkat memijit kepala. Medina beringsut dari ranjang dengan pelan dan hati-hati.l setelah sebelumnya menoleh ke Syifa disampingnya. Mengecup puncak kepala Syifa yang tidur dengan menggemaskan.
Medina menuju ke kamar mandi membersihkan diri sebelum ia keluar kamar Syifa. Ia berpikir Rani dan Danu pasti sudah kembali dari Rumah Sakit. Jadi ia bisa meninggalkan Syifa sendiri dikamarnya. Medina menutup pintu dengan pelan agar Syifa tidak bangun.
Medina berjalan dari paviliun Danu menuju rumah Utama yang terhubung langsung dengan pintu kaca besar disamping taman belakang.
Medina masuk ke dalam kamar ibu Safira. Ia terkejut ketika maniknya tidak mendapati ibu Safira diatas ranjang.
"ibu..." pekik Medina. Ia berlari kecil menuju kamar mandi.
"ibu..."
"ibu didalam?" Panggil Medina lagi. Kali ini dengan mengetuk pintu kamar mandi dengan sedikit keras.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi. Wajah Medina benar-benar panik. Keringat dingin keluar bercucuran. Tangannya terangkat memegang handle pintu kamar mandi.
Ceklek!!
"ibu..."Medina terus memanggil. Ia tidak menemukan sosok yang ia cari. Medina terisak menangis hingga sesegukan. Tubuhnya kini lemas tak berdaya karena berpikir sesuatu telah terjadi dengan ibu Safira. Ia merasa sangat bersalah, karena malam ini tidak menemaninya dan ketiduran dikamar Syifa.
Sesaat pikirannya tersadar dan ia segera berdiri dan melangkah keluar. Saat hendak membuka pintu kamar, justru pintu sudah terbuka dari depan.
"i..ibuuuuu..." Medina berteriak sambil sesegukan.
Ia menghambur memeluk ibu Safira dengan erat. Bahkan ia tidak menghiraukan Daniel yang berada disebelah mamanya.
"nak...ada apa?" Ibu Safira membalas pelukan Medina dengan wajah bingung. Terlebih Daniel.
"Ib...ibu..ma..af" Ucap Medina lirih.
"Honey...kamu kenapa?" Daniel mengelus hijab yang dipakai Medina.
Medina menggeleng dalam pelukan ibu Safira. Ia sungguh tidak bisa memaafkan dirinya jika sampai terjadi sesuatu dengan calon ibu Mertuanya itu.
"sudah...sudah..." Ibu Safira membawa Medina duduk disisi ranjang. Diikuti Daniel yang duduk disebelahnya. Mengapit Medina.
"ada apa nak?" Tanya ibu Safira lembut. Tangannya meraih kedua pipi Medina yang basah. Mengusapnya lembut.
"Tadi Medina masuk kamar... ibu ga ada...Medina...cari di kamar mandi...juga ga ada....hiks...hiks" Ucap Medina terbata.
"Medina pikir....ibu sakit lagi...dan Medina ga jagain ibu malam ini" Lanjut Medina. lalu kembali memeluk Ibu Safira.
"Masyaa Allah nak...ibu tadi ke dapur ambil minum" Ucap Ibu Safira sambil tersenyum.
__ADS_1
Daniel ikut tersenyum dan ikut memeluk dua wanita yang sangat ia sayangi dan cintai.
"lepas...kamu belum mahram sama Medina" Ibu Safira menepuk lengan Daniel. Medina segera melepas pelukannya.
Daniel terkekeh dan menatap gadisnya dengan tatapan sayang.
"aaahhh...aku bisa mati cemburu kalo tiap hari harus begini" Goda Daniel dengan wajah cemberut.
Ibu Safira memukul bahu Daniel.
"kau ini...suka sekali menggoda menantu mama" Ucap Ibu Safira.
"Honey...." Daniel belum sempat meneruskan kata-katanya namun sudah dipotong Omelan Medina.
"ini semua salah kakak...Semalam ngajak ngobrol Medina trus bikin Medina nangis sampe akhirnya ketiduran dikamar Syifa...Bukannya dibangunin malah ditinggalin. Upss!!" Medina menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Menyadari bahwa ibu Safira mendengar ucapannya, tidak omelannya.
Ibu Safira dan Daniel terkekeh.
"kalian diam-diam suka curi-curi waktu buat berduaan? hhh?" ibu Safira menatap tajam Daniel dan Medina secara bergantian.
"bukan Bu..bukan seperti yang ibu pikir" Kilah Medina mengibas-ibaskan kedua telapak tangannya. Wajahnya berubah merah merona karena mereka berdua terus menggodanya.
"nak...kenapa kamu masih panggil ibu sih. Mulai sekarang Panggil mama ya?" Pinta ibu Safira.
Medina mengangguk pelan dan kembali memeluk ibu Safira.
"terimakasih ma..." Ucap Medina. Air matanya kembali menetes dikedua mata cantiknya. Ia tidak menduga takdir membawanya kepada keluarga yang amat sangat mencintai dan menyayangi nya dengan tulus.
"sabar....Setelah menikah kamu boleh lakukan apapun" Larang mama Safira saat Daniel akan mencium kepala Medina yang masih dalam pelukannya.
Tubuh Daniel melorot dan menjauh. Bukan menjauh...hanya mundur beberapa centi. Diam sejenak dan menegakkan tubuhnya disisi Ranjang.
Saat Daniel hendak melangkah menjauh, tangan Medina menahan lengan Daniel. Sontak Daniel kaget tapi senang luar biasa. Bahkan Jantungnya hampir melompat keluar.
"kakak mau kemana?" Tanya Medina yang telah melepaskan pelukannya. Ia sedikit mendongak saat menatap Daniel.
"ke kamar" jawab Daniel dengan wajah mengulas senyum manis semanis buah sawo.
"sebentar lagi waktu subuh kita sholat berjamaah ya. Kakak jadi imam" Ucap Medina dengan satu tarikan nafas.
Sontak Daniel menoleh dengan cepat. Ia tidak menyangka akan permintaan Medina.
Bukan karena Daniel tidak bisa menjadi seorang imam, tapi lebih karena ini adalah permintaan calon istrinya untuk memimpinnya sholat berjamaah.
"Apapun untukmu Honey..." Jawab Daniel dengan manik yang terus menatap Medina.
****
__ADS_1
Setelah sarapan, keluarga Daniel pergi untuk melakukan aktifitas nya masing-masing. Danu pergi ke kantor setelah menantar Rani Dan Syifa ke sekolah. Sementara Daniel mengantar Medina ke sekolah penyetaraan.
"kak...pokoknya Medina ga mau kalo Medina harus homeschooling" Rengek Medina didalam perjalanan menuju sekolahnya.
"ini untuk kebaikan kamu honey..." ucap Daniel dengan menahan senyum.
Medina tidak menanggapi perkataan Daniel. Ia sangat kesal karena Daniel akan memindahkan sekolah penyetaraan nya ke sistem homeschooling. Ia akan mendapatkan pelajaran dirumah dengan seorang guru yang akan datang setiap hari ke rumah mamanya.
"aku ga suka, kamu diantar pulang sama laki-laki lain" Ucap Daniel akhirnya jujur. Ia teringat perkataan kakaknya bahwa Medina sering diantar pulang sama laki-laki yang merupakan teman atau guru sekolah Medina.
Medina menatap Daniel tidak percaya.
"kakak cemburu?" Tanya Medina
Daniel mengangguk.
"iyalah aku cemburu...honey. Apalagi Kamu sekarang adalah calon istri aku. Ga boleh ada yang deket-deket sama kamu apalagi sampe nganterin pulang" Ucap Daniel dengan keposesifan nya.
Medina menahan senyumnya. Dalam hatinya ia bersyukur dan sangat bahagia, mendengar kejujuran Daniel.
"Kak..."
"hhmm..." Daniel masih fokus menyetir.
Mendengar tanggapan Daniel seperti itu, membuat Medina merasa kesal.
"Ga jadi deh.." Medina mengurungkan niatnya untuk mengatakan sesuatu karena ia khawatir membuat mood calon suaminya itu semakin buruk.
Mendengar Itu, Daniel lngsung menepikan mobilnya.
"lho...kenapa berhenti disini kak?" Tanya Medina bingung.
Daniel mengambil nafas dalam dan panjang.
"Honey...Aku mau kita menikah secara agama lebih dulu sebelum melakukan perjalanan ke kampung halamanmu" Ucap Daniel tanpa ragu sedikitpun.
"apa?" Medina sangat terkejut dengan ucapan Daniel.
"Dengar...Saat mama dan kak Danu menceritakan masa lalu mu, aku tidak menjamin saat kita datang ke rumah pakde, mereka tidak akan memaksamu lagi untuk melakukan apa yang dulu belum pernah terlaksana. Aku khawatir aku tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan mu dari mereka. Honey...sejak kehadiran mu dalam kehidupan kami, setiap apapun yang berkaitan dengan dirimu akan berpengaruh besar terhadap mama. Aku ingin melindungi dan membahagiakan kalian berdua dengan segenap jiwa raga. Honey...aku sangat mencintaimu dan aku tidak ingin kehilanganmu" Ucap Daniel lirih.
Jemarinya saling terpaut dengan jemari Medina. Mengalirkan perasaan cinta dan juga kekhawatiran.
"kamu mau honey...?" Tanya Daniel dengan tatapan memohon.
Medina kembali tersenyum dan mengangguk beberapa kali.
"Alhamdulillah...terimakasih honey. Mama dan kak Danu pasti akan senang mendengar kabar ini" Ucap Daniel senang. Ia refleks mengecup punggung tangan Medina.
__ADS_1
"Terimakasih kak" Balas Medina dengan manik berkaca-kaca.
Daniel kembali melajukan mobilnya dengan perasaan yang sangat bahagia. Ia tidak menyangka, permintaannya akan diterima dengan mudah oleh Medina. Ia berjanji akan memberi hadiah kepada sang Mama karena telah memberi ide brilian itu dinihari tadi.