
Daniel benar-benar menggendong Medina dan membawanya ke kamar mandi.
Tubuh polos mereka saling bersentuhan membuat si ular kadut Daniel kembali bangun dan menggeliat keras dibawah sana.
Daniel Mendudukkan Medina didalam bathup yang sudah berisi air hangat dan dipenuhi busa.
"Berendamlah...ini akan mengurangi rasa perih" Daniel mengambil posisi jongkok di sisi bathup saling berhadapan dengan Medina.
"Kakak ngapain disini?....keluar dulu aku mau mandi" Pinta Medina.
Daniel menggeleng.
"Aku akan membantumu mandi. Aku adalah suami siaga" Medina mengernyit. Sejak kapan suaminya menjadi narsis.
Daniel berdiri dan membuka boxer nya didepan Medina.
"Kakkkk...!!!!!!!" Pekik Medina refleks menutup kedua matanya.
"Honey...kamu sudah beberapa kali melihatnya kan? bahkan memegangnya"
"I_iya....tapi...Aaaaaaa" Pekik Medina karena Daniel sudah berada didalam bathup dan menarik tubuh Medina. Kini tubuh mereka saling menempel satu sama lain.
Alih-alih ingin membantu istrinya membersihkan diri, pada akhirnya mereka melakukan kembali penyatuan kenikmatan dalam hangatnya air dalam bathup dengan berselimut busa nan melimpah.
***
"Rai...sepertinya rencana sore ini kita lakukan besok pagi saja. Istriku kurang enak badan" Daniel melakukan panggilan telepon dengan Raihan.
Daniel melirik Medina yang sedang duduk disisi ranjang.
"Baik bos..." sahut Raihan diseberang telepon. Suaranya terdengar pelan. Namun sebenarnya ia sedikit kesal karena ia harus mengcancel semua rencana yang sudah dibuatnya sedemikian rupa.
"Kalo bukan bos...udah gue tinggalin" gerutu Raihan dalam hati.
"Saya menginap dikamar bawah, jika anda butuh sesuatu bisa langsung menghubungi saya bos" Ucap Raihan sebelum Daniel mengakhiri panggilan.
Daniel menghampiri Medina yang sedang membereskan peralatan sholat. Daniel berjongkok dihadapan Medina.
"Apa masih sakit?" Medina menatap suaminya.
"Hei...tuan suami tampan. Pertanyaan apa itu? Tentu saja masih sakit bahkan semakin sakit. Sampai diriku harus sholat dengan posisi duduk dikursi sekarang" Gerutu Medina dalam hati.
Medina tidak menjawab pertanyaan konyol suaminya.
Kalo bukan karena aktifitas mandi bersama yang menghabiskan waktu berjam-jam, mungkin saat ini mereka sudah berada di kampung halaman Medina.
"Kita kemari bukan untuk berbulan madu kan? Kenapa jadinya seperti ini. Meski aku menikmatinya tapi harusnya dia tahu diri kan??" Medina mendengus kesal.
Daniel masih memperhatikan wajah istrinya yang kali ini tidak memberinya senyum.
"Maafkan aku...Honey" Ucap Danu lirih. Ia menarik kedua jemari Medina dan menggenggamnya.
"Kita ke dokter ya...kalo masih sakit?" Ajak Daniel.
Medina menggeleng.
"Aku janji..besok selepas sholat subuh kita langsung jalan. oke??!!!" Medina menoleh suaminya.
__ADS_1
"Tapi kondisiku seperti ini" Jawab Medina datar.
"Makanya malam ini aku mengajakmu ke dokter. Kita akan konsultasikan"
Medina kembali menggeleng.
"Aku malu, kak..."
"Ya kalo tidak diobati, nanti aku ga bisa minta jatah dong" Medina melotot. Sementara Daniel tertawa lebar.
"Iiiihhh...kamu sekarang mesum tahu kak" Medina memukul bahu Daniel. Ia menahan tawanya.
Sebenarnya ia tidak sepenuhnya marah kepada suaminya. Hal itu sangat Medina maklumi karena mereka adalah pengantin baru. Tapi setidaknya Daniel tidak terus menggoda dan meminta jatah. Karena Medina tidak bisa menolak karena takut berdosa dan mengecewakan suaminya.
"Kalo mesumnya sama kamu, aku rela seminggu tidak keluar kamar" Mulut Medina menganga tidak percaya. Ucapan suaminya sangat absurb, membuat tubuh Medina merinding.
"Dalam hitungan jam saja aku sudah seperti ini, apalagi seminggu.." Celetuk Medina polos. Membuat Daniel tertawa terbahak-bahak.
"Iiihhhh...kok malah ketawa sih kak!!?? Medina pun akhirnya ikut tertawa karena tidak bisa menahannya sejak tadi.
***
Sementara dirumah mama Safira, Danu, Mama dan Rani dan tentu saja Syifa sedang berada diruang keluarga menonton televisi setelah makan malam.
"Nak..kamu sudah menghubungi Daniel?"
"Belum ma..." Jawab Danu.
Sebenarnya Danu sudah mengetahui jika Daniel batal pergi sore tadi karena satu hal. Raihan terus melaporkan hal apapun yang dilakukan Daniel selama disana.
Namun dia belum berkomunikasi langsung dengan sang adik semenjak mereka tiba dikota S.
"Jadi mereka masih dihotel sekarang?" Manik sang mama terbelalak.
"Anak itu... seharusnya mereka lakukan itu nanti setelah pulang dari sana. Kalo seperti ini, mama yakin Medina sedang tidak baik-baik saja" sesal mama Safira.
"Mama akan menelpon Daniel nanti" Lanjut mama.
"Mereka mencuri start, ma" Celetuk Rani. Kemuadia disusul kekehan dari mulutnya.
"Eehhh...tapi dari mana papa tahu kalo mereka sedang buka segel?" Tanya Rani penasaran.
"Mama inget Raihan? Orang kepercayaan kita yang ditugaskan mengelola cabang di kota S?"
"Tentu saja mama ingat...Almarhum Ayahnya Raihan adalah adalah salah satu asisten kepercayaan papamu saat itu. Apa Raihan sekarang yang membantu Daniel selama disana?" Tanya mama Safira.
"Iya ma...Dia mengabari Danu tadi. Jika hari ini Daniel menunda rencananya"
"Dan...." Danu ragu untuk mengatakannya.
"Apa???" Sang mama menunggu.
"Daniel berencana mendatangi dokter kandungan, malam ini..." Danu menahan diri untuk tidak terlihat kesal dihadapan sang mama.
"Apa????" Pekik Mama dan Rani bersamaan. Mereka saling pandang.
"Pantas saja...Medina tidak menghubungi mama" Mama Safira menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kid...kamu mengacaukan segalanya" Kesal Danu dalam hati.
Bagaimana tidak kesal, rencana yang sudah dirancang sedemikian rupa akhirnya harus tertunda dan mau tidak mau Danu harus berpikir keras untuk menyusun rencana baru jika rencana Daniel benar-benar gagal.
"Ma...sepertinya Danu akan menyusul Daniel dan Medina" Ucap Danu setelah berpikir beberapa saat.
"Sebaiknya begitu. Mama khawatir keadaan Medina sekarang" Ucap Mama sendu.
Danu memeluk sang mama.
"Danu pastikan semuanya akan berjalan dengan baik. Doakan ya ma" Ucap Danu lirih.
"Sayang...tolong packing baju-baju aku ya. Aku akan berangkat dipenerbangan pertama" Pinta Danu kepada istrinya.
Rani mengangguk mengerti dan segera berjalan ke paviliun. Sementara Syifa masih sibuk bermain dengan babysitter.
"Mama ingin istirahat"
Danu mengantar sang mama masuk kedalam kamar. Dan kembali ke ruang tengah setelah sang mama terlelap.
"Sayang...sudah malam. Ayo bobo sama papa" Ajak Danu. Ia menggendong Syifa yang sudah menguap karena mengantuk.
"Sari...tolong bereskan mainan Syifa ya. Setelah itu kamu bisa istirahat"
"Baik pak..." Jawab babysitter yang bernama Sari.
Danu berjalan menuju kamar Syifa. Dan menidurkan putri semata wayangnya diranjang dengan seprei motif unicorn.
"Papa besok mau pergi ya?" Tanya Syifa.
"Iya sayang..papa mau jemput mama Niel"
"Beneran pa?????" Syifa selalu sangat antusias jika mendengar nama Medina.
"Iya..sayang" Danu mencubit kecil hidung putrinya.
"Ifa ikut ya pa?" Rengek Syifa. Alamat akan panjang urusan, pikir Danu.
"Syifa mau bantu papa ga?"
"Bantu apa pa?"
"Selama papa jemput mama Niel, Syifa jagain nenek ya? Kita bagi tugas, gimana?" Dalam hati Danu berdoa semoga idenya ini bisa membuat Syifa berhenti merengek.
"Hemmmm...Oke. Ifa mau" Danu terkejut jawaban putri kecilnya.
"Beneran?" Tanya Danu penasaran.
"Iya...Papa pergi aja jemput mama Niel sama papa Niel. Ifa yang jagain nenek dirumah"
"Oke...Ayo sekarang kita tos" Papa dan anak akhirnya bertos ria.
"Sekarang Syifa tidur ya. Oh iya...besok papa perginya pagi-pagi...jadi Syifa jangan nangis kalo pagi-pagi ga lihat papa, ya" Pinta Danu kepada putrinya yang memiliki kebiasaan mencari dirinya jika bangun tidur pagi.
"Iya papa. Be carrefull pap" Syifa mencium pipi papanya.
"Thank you baby girl"
__ADS_1
"Noooooo....Syifa udah besar papa. Syifa udah bisa jaga nenek" Protes Syifa.
"Hahahaha..oke..oke. Anak papa sudah besar dan sudah bisa jaga nenek" Danu menciumi pipi gembul Syifa yang menggemaskan.