
Pagi hari didalam kamar president suite, kedua orang paruh baya tengah memeriksa berkas yang diberikan sang pengacara yang sengaja diminta datang oleh Pak Sanjaya.
"Apa semua ini sudah lengkap?" Tanya ibu Melani kepada pengacaranya.
"Sudah, Bu. Tiggal tanda tangan Nona saja." Jelas sang pengacara.
Ibu Melani mengangguk dengan wajah yang sangat bahagia. Sesekali melirik suaminya yang juga sedang membaca berkas yang pengacara berikan padanya.
"Kerja bagus. Aku akan menambah bonus untukmu." Pak Sanjaya tak kalah bahagia dari istrinya.
"Terima kasih, Pak." Sang pengacara tersenyum lembar mendengar akan mendapatkan bonus besar dari bosnya atas kinerjanya mengurus perihal hal-hal penting untuk keluarga Pak Sanjaya.
Sang pengacara langsung undur diri setelah berpamitan. Sementara kedua orangtua Medina menemui beberapa orang kepercayaannya yang selama ini menjalankan bisnisnya.
****
Sementara itu dikamar lain, pasangan pengantin itu nampak sibuk dengan ponsel mereka masing-masing. Fian dengan pekerjaanya meskipun perhelatan resepsinya akan diadakan malam nanti, namun bagi Fian selagi masih ada waktu luang untuk mengerjakan pekerjaan, ia akan gunakan itu untuk menyelesaikannya tanpa menunda. Sementara istrinya sibuk dengan duniamaya dan media sosialnya. Donita sibuk mengunggah banyak foto ke laman sosialnya yang langsung dibanjiri komentar dari keluarga dan teman-temannya.
"Sayang....apa Medina tidak memiliki akun sosmed?" Tanya Donita kepada suaminya. Entah kenapa ia sangat penasaran dengan adik iparnya itu. Karena sejak kemarin ia mencari-cari nama akun Medina di semua sosial media yang ia punya, namun tidak menemukan akun yang dicarinya.
"Hm? Sepertinya tidak!" Fian menoleh sekilas lalu kembali ke komputer lipat yang berada dipangkuannya.
"Kenapa dia tidak punya?" Mendapat jawaban suaminya, rasa penasaran Donita semakin besar. Karena dijaman canggih seperti ini semua orang pasti menggunakan sosmed. Tidak hanya dikota, namun hingga pelosok desa, sosmed menjadi kebutuhan semua orang.
"Aku tidak tahu." Fian mengedikkan bahunya.
"Mungkin Daniel melarang atau mungkin Medina tidak suka kehidupan pribadinya terekspos publik atau memang dia tidak berniat untuk bermain-main tidak jelas dengan sosial media." Tandasnya cepat dan tegas.
"Kenapa?" Fian heran mengapa istrinya yang tiba-tiba membahas akun sosial media Medina.
"Oh tidak apa-apa, aku hanya penasaran. Aku pikir dia sedikit kurang pintar menggunakan gadget mahal miliknya." Celetuk Donita membuat Fian langsung menoleh dengan tatapan tajamnya.
"Kami bilang apa?" Fian sampai membelokkan badannya untuk memastikan apa yang didengarnya dari bibir wanita yang baru menjadi istrinya.
"Mmm...maksudku, dia memiliki gadget mahal kenapa tidak ia gunakan untuk__."
"Itu bukan urusanmu. Dan...itu hak semua orang ingin memiliki akun sosmed atau tidak." Suara Fian meninggi. Ia tidak suka jika orang lain mencampuri urusan pribadi adiknya.
"Sayang...maksudku__"
__ADS_1
"Jaga batasanmu." Potong Fian dengan menahan amarahnya. Semalam ia juga mendengar istrinya memojokkan adiknya, namun masih Fian tahan dan berpura-pura bodoh saja. Padahal ia tahu maksud dan tujuan setiap perkataan istrinya untuk Medina. Apa lagi saat Daniel menjawab sindiran Donita. Darisana ia tahu jika istrinya terlihat tidak menyukai Medina.
"Aku menahannya sejak semalam. Aku tahu arah dan tujuan pertanyaanmu. Jadi aku mohon, jangan memulainya jika masih ingin berada disisiku." Tegas Fian membuat Donita terdiam seribu bahasa. Ia tidak menyangka jika suaminya yang seolah diam namun memperhatikannya sejak malam kemarin.
"Kamu tahu? Bahkan aku rela hidup tanpa semua fasilitas kemewahan ini demi senyum bahagia mereka." Fian masih menatap tajam istrinya.
"Jika kamu iri pada Medina karena apa yang baru kamu lihat pada diri Medina dan kehidupannya saat ini, kamu sudah salah sasaran." Amarah Fian tak terkendali. Ia tidak terima adiknya dihina bahkan oleh istrinya sendiri. Seharusnya sebagai seorang yang terdekat dengannya, sikap Donita diharapkan menjadi orang paling mengerti dan faham dengan keadaan dan status Fian.
"Aku tidak akan ragu untuk mengakhiri pernikahan ini jika kamu masih melewati batasan." Ancam Fian tanpa ragu membuat Donita membelalakkan matanya karena saking terkejutnya dengan apa yang didengarnya.
"Sayang...." Donita tidak menyangka jika suaminya akan mati-matian membela saudara angkatnya itu.
"Jangan mengusik keluargaku, atau__" Fian benar-benar dalam keadaan marah. Ia langsung berdiri dan meninggalkan istrinya tanpa berkata sepatah katapun lagi.
"Aku tidak menyangka suamiku sangat membela kamu. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Dia benar-benar marah bahkan sebelum pesta resepsi dimulai." Donita menatap punggung suaminya yang menjauh dan keluar dari kamar mereka.
****
Medina dan Daniel tengah menikmati sarapannya didalam kamar hotel yang ia tempati. Dengan wajah yang dibuat cemberut, Medina mengabiskan sarapannya dengan cepat. Agar ia bisa keluar kamar dan bertemu keluarganya.
Entah alasan apa yang akan ia buat untuk menutupi ketidakhadirannya sarapan bersama keluarganya dan juga keluarga mertua kakaknya Fian. Tidak mungkin ia menceritakan alasan sebenarnya jika mereka asyik bercinta hingga lupa waktu.
"Bagaimana dia setenang itu? Ish...dasar suami mesum." Gerutu Medina dalam hati.
"Sayang..." Bersamaan saat Medina ingin mengatakan sesuatu kepada suaminya, suara bel berbunyi.
"Itu pasti Ayah dan ibu. Mereka pasti khawatir karena kita tidak keluar sarapan bersama dengan mereka. Kita akan membuat alasan apa?" Medina yang bingung memikirkan alasan sementara suaminya tampak santai dan hanya tersenyum.
"Kita katakan bahwa kita selesai bercinta." Jawab Daniel dengan entengnya. Membuat Medina langsung melayangkan cubitan kecil pada tangan suaminya.
"Hon...mereka pernah muda dan pasti pernah melewati moment seperti ini juga." Ucap Daniel dengan santainya. Membuat wajah Medina sekwtika merona mengingat pergulatan panasnya.
"Iya tapi tidak sopan dan memalukan pastinya." Medina menyebikkan bibirnya.
"Jadi...tidak perlu buka pintu?" Tanya Daniel yang sudah setengah bangun dari duduknya.
"Nanti mereka semakin panik. Ish!" Medina mulai kesal karena Daniel terus menggodanya.
"Aku saja yang buka." Medina bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu.
__ADS_1
"Sayang....apa kamu baik-baik saja?" Benar dugaannya, sang ibu langsung memeluknya dan hampir menangis karena terlalu khawatir.
"Ibu...Medina baik-baik saja."
"Maaf tidak bergabung sarapan dengan kalian. Semalam kami tidak bisa tidur karena aku lapar dan akhirnya keluar untuk mencari makan. Dan kami kembali ke kamar saat subuh. Setelah sholat kami tertidur dan...kami kesiangan. Maaf..." Ucap Medina pelan.
"Ibumu pikir terjadi sesuatu denganmu." Pak sanjaya mengusap kepala Medina.
"Kalian sudah sarapan?" Ibu Melani mengurai pelukannya.
"Kami sedang sarapan." Medina menggandeng kedua tangan orangtuanya masuk kedalam.
"Selamat pagi, Ayah...ibu." Sapa Daniel yang menyusul istrinya.
Daniel beruntung karena kamar hotel yang ditempatinya adalah kamar mewah sehingga bagian kamar dan ruang tengah terpisah. Jika tidak...ia akan bingung menjawab apa jika mertuanya melihat ranjang mereka yang sangat berantakan.
"Selamat pagi. Maaf kami mengganggu sarapan kalian. Lanjutkan saja, tidak apa-apa." Pak Sanjaya melirik meja yang masih penuh dengan hidangan.
"Sayang...kaki kamu mulai bengkak. Kamu harus mulai mengurangi garam." ucap ibu Melani saat melihat kaki putrinya terlihat bengkak karena kehamilan di trimester terakhir.
"Apa sakit?" Pak Sanjaya terlihat khawatir.
"Tidak Ayah, hanya sedikit berat." Jawab Medina.
"Harus sering direndam air hangat. Nanti ibu akan membantumu. Kamu mau?" Medina mengangguk dengan saran ibunya.
Keempatnya berbincang dikamar Medina hingga dua jam lamanya. Banyak hal yang disampaikan pak Sanjaya dan Ibu Melani kepada putri dan menantunya. Termasuk rencana pengesahan nama Medina atas semua aset milik kedua orangtuanya.
Medina yang awalnya menolak dengan berbagai alasan, tetap saja tidak mampu merubah keputusan ayah dan ibunya. Ini bukan hanya sekedar pemberian hak kepada anak kandung mereka, namun keduanya merasa inilah saat yang tepat untuk menyerahkannya kepada putri semata wayangnya. Meski kedepannya, semua proses bergeraknya Mega bisnis Sanjaya Group tetap akan dijalankan oleh Pak Sanjaya sendiri dengan bantuan Fian dan orang+orang yang sudah menjadi tangan kanan dan kepercayaannya selama puluhan tahun.
_
_
_
_
_
__ADS_1
Review bab ini dua kali ditolak pdhl sudah hampir 2000 kata. Mohon maaf kalo lama karna harus mengulang nulis bab ini.