Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 138


__ADS_3

Danu tertawa terbahak-bahak mendengar suara kesal adiknya dari seberang telepon. Danu tidak bisa membayangkan bagaimana bodohnya kedua adik dan adik iparnya ketika sedang panik sampai-sampai mereka tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Kalian bahagia sekali sudah membuat kami khawatir dan panik." masih gerutu Daniel.


"Hei...itu salah kalian yang terlalu berlebihan." Elak Danu dari seberang telepon.


Daniel mendengus kesal, bisa-bisanya keluarganya asyik bermain sementara mereka berdua khawatir bukan main karena tidak yang menjawab panggilan.


"Sudahlah...kau menelepon hanya untuk marah-marah?" Danu tidak tahan menahan sakit perutnya yang sedari tadi tertawa.


"Bagaimana kabar Medina?" Suara lembut sang mama membuat kesal Daniel lenyap seketika.


"Ma...kami pikir terjadi sesuatu." Daniel menatap Medina yang duduk disampingnya.


"Tidak akan terjadi apa-apa. Karena mama bahagia melihat anak-anak dan menantu mama juga bahagia." Tukas mama Safira.


Setelah bertukar suara dan kabar gembira, Daniel mengakhiri panggilan. Ia menatap Medina yang tersenyum sambil memeluknya.


"Kenapa kita tidak berpikir untuk menghubungi nomor telepon rumah ya?" Medina terkekeh sendiri.


"Karena kita sudah panik." Daniel mengecup pipi istrinya.


"Mau kemana?" Tanya Daniel saat melihat Medina beranjak Ndari pelukannya.


"Aku lapar." cicit Medina.


"Apa? Tapi kita baru saja makan malam." Ucap Daniel tanpa sadar ucapannya membuat ibu hamil itu langsung cemberut.


"Aku akan memesan sendiri." Medina hampir saja menangis.


"Honey....bukan maksudku begitu." Daniel menyadari ucapan nya salah.


"Anak papa mau makan apa?" Daniel mengelus perut Medina.


"Kebab kambing ukuran jumbo dengan saus sambal dan mayonaise yang meleleh dimulut." Wajah Medina berbinar saat mengatakan itu. Ia menenggak ludahnya berkali-kali membayangkan gigitan demi gigitan kulit tortila yang membalut isian kebab. Membuat Daniel tidak tega.


"Aku akan pesan.".


"Terimakasih, sayang." Ibu hamil itu mencium bibir suaminya membuat sang suami tertawa bahagia.


****


"Sayang...apa kita akan ke rumah sakit lagi?" Tanya Medina yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia melihat waktu di arlojinyabg tergeletak di atas meja. Menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Kamu ingin kesana?" Daniel berdiri dan berjalan menghampiri Medina.


"Apa boleh?" Medina balik bertanya dengan senyuman menggoda.


"Jangan tersenyum seperti itu. Karena aku tidak akan tahan." Daniel mencubit pipi Medina yang mulai chubby.


"Sebaiknya besok pagi saja. Lagipula, Ayah sudah diperbolehkan pulang oleh dokter malam ini." Daniel menunjukkan satu pesan dari Fian kepada Daniel.


"Benarkah?" Manik Medina berbinar. Wajah bahagianya sangat terlihat.


"Alhamdulilah." Medina memeluk Daniel. Ia sangat bersyukur kondisi sang Ayah sudah jauh lebih baik.

__ADS_1


"Ah...ya. Ibu pasti menelepon ke ponselku." Medina melepaskan diri dan berjalan menuju ranjang untuk mengambil ponselnya.


"Ah benar saja." Medina melihat panggilan tidak terjawab sebanyak lima kali dilayar ponselnya.


"Assalamu'alaikum ibu."


"Wa'alaikumsalam, Sayang. Maaf menganggu istirahatmu." Suara lembut yang selalu Medina rindukan.


"Ayah sudah diperbolehkan pulang?" Suara Medina terdengar riang. Membuat Daniel langsung mendekat dan memeluk istrinya dari belakang sambil mengusap perut buncit Medina yang sesekali mendapat respons dari dalam.


"Iya... sekarang kami dalam perjalanan pulang. Datanglah kerumah besok pagi, kita sarapan bersama."


"Baiklah. Sampai jumpa besok pagi." Medina mendongak setelah menutup ponselnya. Posisi yang sangat pas ketika bibir Daniel langsung bertemu bibir Medina. ******* dan mengisap nya dengan lembut.


"Kamu bahagia?" Tanya Daniel setelah melepas bibirnya. Tangannya mengusap yang basah dan sedikit bengkak karena ciuman yang lama.


"Sangat. Aku sangat bahagia. Bahkan ribuan ucapan terima kasih rasanya tidak cukup untuk membalas semua yang sudah suamiku lakukan." Ucap Medina dengan manik berkaca-kaca. Tangan Daniel yang masih berada di pipi nya, menjadi sasaran kebahagiaan nya.


Keduanya saling menatap penuh cinta dan mendamba. Satu tangan Daniel bergerak membuka kancing piyama istrinya. "Aku akan melakukan apapun, asalkan kamu bahagia. Aku mencintaimu, Honey." bisiknya membuat Medina melayang.


Kedua tubuh yang masih saling menempel kini mulai terpercik api hasrat. Ciuman, sentuhan, ******* menjadi kegiatan pembuka hingga penyatuan kedua insan yang saling mencinta dalam ikatan halal. Malam indah untuk kedua anak manusia yang sedang berbahagia.


****


"Kau sudah siapkan semua yang aku minta?" Tanya pak Sanjaya kepada seorang pria yang duduk dihadapannya.


"Sudah, Tuan." Jawab pria berjas hitam. Seulas senyuman terbit di bibir Pak Sanjaya. Membuat pria dihadapannya terkejut dengan situasi didepannya.


"Baru kali ini, aku melihat Tuan Sanjaya tersenyum dengan tulus dan memancarkan kebahagiaan." Pria berjas yang merupakan seorang pengacara hanya bisa berkata dalam hati.


"Mereka belum sampai?" Suara bass pak Sanjaya mengagetkan ibu Melani.


"Belum. Aku khawatir sesuatu terjadi dengan Medina." Ibu Melani tidak dapat menyembunyikan kekhawatirannya dihadapan suaminya.


"Tenanglah sayang. Mereka akan datang sebentar lagi." Pak Sanjaya mengusap punggung istrinya.


Tidak lama berselang, sebuah mobil putih keluaran merk terkenal memasuki pintu gerbang yang terbuka otomatis. Wajah keduanya langsung berbinar dan jangan lupakan senyuman kebahagiaan.


Daniel turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk istrinya.


"Terimakasih sayang." Daniel mengangguk dengan senyum menawan.


Keduanya berjalan bersama menghampiri Pak Sanjaya dan Ibu Melani yang menyambutnya dengan senyuman.


"Kenapa kalian lama sekali? Apa sesuatu terjadi? Apa kalian baik-baik saja?" Pak Sanjaya hanya menggelengkan kepalanya saat istrinya memberikan banyak pertanyaan kepada anak menantunya.


"Ibu....mereka baru saja datang. Sambut mereka dengan pelukan bukan dengan banyak pertanyaan." Semua orang tertawa.


"Maaf."


"Tapi kalian benar-benar membuatku khawatir." Ibu Melani memeluk Medina yang berada dihadapannya.


"Aku baik-baik saja, Bu. Dan bagaimana kabar kalian? Ayah....bagaimana kondisi ayah sekarang?" Kali ini semua orang menatap Medina. Lalu tertawa terbahak-bahak.


"Aku semakin yakin jika dia putri kita. Karena sama seperti dirimu. Khawatir berlebihan." Ucap Pak Sanjaya membuat suasana kembali ramai.

__ADS_1


"Ayo masuk. Kita mengobrol didalam." Ajak Pak Sanjaya.


Keempatnya berjalan masuk kedalam rumah besar nan mewah. Namun terlihat sangat asri karena banyak sekali jenis tanaman yang terdapat disana.


"Rumah yang indah." Gumam Medina tanpa sadar. Namun bisa didengar oleh ibu Melani yang berjalan berdampingan dengannya.


"Kamu bisa berkeliling nanti. Ini adalah rumahmu." Bisik ibu Melani.


Setelah menyantap sarapan yang sedikit terlambat, Pak Sanjaya mengajak Medina dan Daniel berbicara diruang kerjanya.


"Kak Fian kemana?" Tanya Meidna yang sejak tadi tidak melihat batang hidung kakaknya.


"Dia sedang menjemput tunangan nya dan akan membawanya kemari. Hari ini kita hanya akan berkumpul dirumah." Jawab Ibu Melani dan Medina mengangguk.


"Selamat pagi." Sapa pengacara yang sejak pagi sudah berada disana.


"Ayah....ibu....." Medina terlihat bingung melihat beberapa berkas yang telah siap diatas meja sang ayah.


"Kemarilah." Pak Sanjaya mengulurkan tangannya dan Medina langsung menyambut nya.


"Kamu hanya perlu membubuhkan tanda tanganmu dan tujuh puluh persen aset ayah dan ibumu akan menjadi milikmu seutuhnya." Ucap Pak Sanjaya.


"Ayah...." Medina menggeleng pelan dengan manik berkaca-kaca.


"Ayah mohon jangan menolak semua ini. Kebahagiaan kami adalah dirimu, harta paling berharga adalah kehadiran mu. Maafkan atas kesalahan kami diwaktu lampau. Dan semua ini tidak sepadan dengan apa yang kamu jalani tanpa adanya kami. Tapi kamu tumbuh menjadi wanita yang baik dan tangguh. Ayah sangat bersyukur Agus dan Rahmi mendidik kamu dengan sangat baik. Aku berhutang nyawa dan Budi kepada mereka."


Medina menoleh ke arah suami dan ibunya bergantian. "Ibu....Medina hanya ingin bersama kalian." Medina mulai menangis.


"Kita akan terus bersama. Kami hanya melaksanakan kewajiban orang tua. Membagikan hak kepada anak-anaknya." Ibu Melani mengusap pipi Medina yang berurai airmata.


"Ayah....ini terlalu cepat untuk Medina. Bisakah kita membahas ini nanti?" Tawar Medina. Sungguh ia tidak berharap semua terjadi begitu cepat. Dibenaknya hanya ada satu keinginan yaitu bisa bersama kedua orangtua kandungnya. Melakukan hal bersama-sama dan menikmati setiap momentnya.


"Tidak sayang. Kami sudah menyiapkannya sejak lama. Saat kami mengetahui kenyataan bahwa Ayah memiliki seorang putri." Tatapan pak Sanjaya tampak sendu. Tatap. penuh penyesalan.


"Kamu bisa perlahan mempelajari nya. Sekarang....kamu hanya perlu tanda tangan." Pak Sanjaya menyerahkan bulpoin kepada Medina.


Medina melihat ke arah suaminya. Bahasa tubuhnya seolah meminta pendapat suaminya. Daniel tersenyum penuh arti. Dan Medina mengerti arti senyuman menawan suaminya.


"Baiklah....tapi dengan satu syarat." Semua orang terkejut dan menatap wajah tenang Medina.


"Apapun syaratnya... ayah akan lakukan." Pak Sanjaya tidak ingin pertemuan pertamanya dengan Medina menghasilkan kekecewaan bagi putrinya. Toh iya yakin , Putrinya tidak akan meminta syarat yang melebihi kekuasaannya.


"Bebaskan keluarga ayah yang dipenjara." Suara Medina sontak membuat semua mata disana membulat. Termasuk Daniel yang tidak menyangka istrinya akan meminta syarat itu kepada ayahnya.


"Honey....." Medina menoleh ke arah suaminya.


_


_


_


_


_Terima kasih....jangan lupa berikan dukungan dengan lempar bunga atau kopi dan vote trs ya. Biar author semangat nulisnya 😂

__ADS_1


__ADS_2