Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 48


__ADS_3

Danu baru saja keluar dari ruang rapat diikuti Arif dibelakangnya. Mereka masuk ke dalam ruang kerja Daniel.


"Maaf pak...hari masih ada satu pertemuan penting lagi yang tiba-tiba dimajukan secara mendadak oleh klien. Mereka menunggu kabar persetujuan kita" Arif menyodorkan tablet kepada Danu setelah Danu menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


Danu menegakkan punggungnya dan menerima tab dari tangan Arif.


"Baiklah...aku akan datang. Persiapkan semuanya" Ucap Danu sesaaat setelah membaca jadwalnya.


"Baik, pak" Sahut Arif.


Danu kembali menyandarkan punggungnya.


Sepertinya rencana dirinya menyusul Daniel tidak bisa ia lakukan. Setidaknya ia harus menyelesaikan pekerjaan Daniel sebelum adiknya mengambil cuti kembali untuk menyiapkan resepsi pernikahan dan rencana bulan madu.


Tok..tok..tok


"Maaf permisi...pak" Sekretaris Daniel masuk ke dalam ruangan.


"Bapak mau makan siang diluar atau dikantor?" tanya sekretaris yang bernama Karin kepada atasannya.


"Hhhhmmm..sebaiknya kita makan siang diluar pak. Tempat pertemuan di Hotel XY cukup jauh dari sini" Arif memberi saran kepada Danu.


Danu berpikir sejenak kemudian menyetujui saran Arif.


"Baiklah...sebaiknya begitu" Danu berdiri kemudian beranjak keluar ruangan disusul Arif.


Setelah berada didalam mobil, Danu menelepon sang mama..namun ponselnya sibuk. Ia beralih menelepon istrinya dan akhirnya berbicara dengan Rani.


***


Dirumah Mama Safira, Syifa nampak kegirangan setelah mendapat telepon dan berbicara dengan Medina. Begitu juga dengan sang Nenek. Mama Safira merasa lega karena kabar yang disampaikan Daniel padanya.


Medina juga sempat menangis saat menelepon mama mertuanya karena begitu merindukannya.


Begitu juga sebaliknya, Mama Safira juga sangat merindukan Medina. Namun mama Safira berusaha untuk tidak terbawa perasaan agar Medina tenang dan tidak mengkhawatirkan dirinya.


"Nenek...Ayo makan lagi buahnya" Syifa menyodorkan piring berisi buah potong.


"Masyaa Allah sayang...terimakasih. Cucu Nenek semakin pintar" Puji Mama Safira.


"Ifa udah janji sama papa buat jagain Nenek. Dan Ifa udah bisa...karena Ifa udah besar" Ucap Syifa penuh semangat.


"Terimakasih sayang" Ucap Mama Safira kembali.


"Sama-sama Nenek" Sahut Syifa dengan raut wajah yang selalu menggemaskan.


Mereka berdua asik makan buah sementara Rani masih menerima telepon dari Danu diteras belakang.

__ADS_1


****


"Aku sangat merindukan mama dan orang-orang dirumah" Ucap Medina lirih setelah menelepon Mama Safira.


Daniel mengusap kepala Medina yang tertutup hijab dan mengecup pelipisnya.


"Honey...Kamu yakin tidak mau mengunjungi tempat lain atau temanmu yang ada disini?" Tanya Daniel sebelum dirinya menghidupkan mesin mobil.


Medina menoleh suaminya dan tersenyum.


"Sebenarnya ada tempat yang ingin aku kunjungi. Tapi...." Ucap Medina ragu.


"Aku akan mengantar mu, Honey" Ucap Daniel meyakinkan.


Medina tersenyum lalu mengutarakan keinginannya.


Daniel melajukan mobilnya ke tempat yang disebutkan istrinya. Dan saat telah sampai, Daniel menatap istrinya bingung.


"Honey...tempat apa ini?" Daniel mengedarkan pandangannya. Menyapu setiap sudut area yang ternyata tidak jauh dari pemakaman kedua orang tua Medina.


Padang rumput yang sangat hijau dan luas.


Medina turun dari mobilnya dan berjalan menjauh dari Daniel.


Medina menatap jauh pandangannya. Memori akan tempat yang sedang ia singgahi saat ini kembali dan membuat air matanya jatuh.


Medina terus melangkah dan terus menatap ke depan tanpa mempedulikan pertanyaan Daniel.


Medina masih bertahan dengan lamunan dan memori yang sedang memenuhi pikirannya.


Lagi-lagi air mata berseluncur bebas. Kini kakinya tidak mampu melangkah. Terasa berat dan lemah. Kemudian ia berjongkok dan menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya yang ditekuk.


Medina menangis tersedu. Menumpahkan segala beban yang selama ini dipikulnya. Ia hanya ingin menangis, agar hatinya tidak selalu merasa nelangsa jika memori masa lalunya datang menghampiri.


Melihat keadaan istrinya, membuat hati Daniel terasa sakit. Daniel menghampiri dan memeluk Medina dengan erat. Lengan kekarnya bahkan mampu merengkuh seluruh tubuh Medina yang mungil. Menenggelamkan tubuh Medina kedalam pelukannya. Membuat Medina semakin terisak kencang.


Daniel mengecup puncak kepala Medina yang tertutup hijab tanpa henti.


Mereka berpelukan hingga Medina berhenti menangis dan nafasnya yang mulai teratur.


Daniel menangkup wajah Medina dengan kedua tangannya. Mengusap sisa cairan bening dipipi Medina dengan buku jarinya kemudian mengecupi wajah istrinya dengan lembut.


"Hari ini..kamu melanggar laranganku" Ucap Daniel setelah selesai mengecupi seluruh wajah istrinya.


"Hah?" Medina menatap sendu suaminya.


"Kamu lupa?" Tanya Daniel dengan memasang wajah sedikit kesal dibuat-buat.

__ADS_1


Medina menggeleng pelan. Ia memang lupa larangan apa yang sudah dilanggar dirinya hingga membuat suaminya menanyakan hal demikian.


"Baiklah...bisa ceritakan padaku. Ini tempat pasti sangat spesial bagimu, iya Honey?" Tanya Daniel yang sedari sangat penasaran.


Medina mengangguk pelan. Kini air matanya sudah tidak keluar lagi.


"Saat itu bapak sakit keras...dan butuh uang untuk berobat. Dari rumah aku berpura-pura berangkat ke sekolah tapi sebenarnya aku kemari untuk bekerja menggembala kambing dan sapi milik warga disini agar aku bisa mendapat uang untuk bapak agar bisa berobat ke dokter" Kenang Medina.


"Sambil menggembala aku juga mengumpulkan rumput dan memasukkannya ke dalam karung. Tempat ini juga sudah seperti teman dekat bagiku. Aku selalu menumpahkan kesedihan ku disini. Berteriak dan menangis sekeras-kerasnya. Bukan untuk menangisi nasib kami, saat itu aku tidak tega melihat bapak dan ibuku terus dirundung sakit. Sementara aku tidak bisa berbuat apa-apa" Mata Medina berkaca-kaca mengingat kejadian itu.


Medina terus menceritakan kisah hidup masa lalunya karena Daniel memintanya.


"Hanya tempat ini yang selaku menerima diriku. Bersama hewan gembalaku, yang tidak pernah protes atas semua keluh kesahku" Medina tertawa hambar. Hatinya benar-benar terasa sakit mengingat kisah hidupnya.


Saat keluarganya dalam kesakitan dan kesempitan, tidak ada seorang pun membantu. Bahkan Keluarga Pakde nya justru menjual rumah yang pernah mereka tinggali setelah sepeninggal kedua orangtuanya.


Daniel menatap Medina sendu. Sungguh ia tidak menyangka perjalanan hidup gadis yang ia cintai sangat mengharukan.


"Dan pada saat aku bertemu mama dengan keadaan mama tidak sadarkan diri ditoko


waktu itu, aku teringat ibuku dan tidak tega meninggalkannya sendirian dirumah sakit sebelum kakak datang"


Daniel meraih tangan Medina dan mengecupi punggung tangan istrinya dengan lembut dan mesra. Setelah tangan, Daniel beralih mengecupi wajah Medina mulai dari kening, mata, hidung, pipi, dan bibir.


"Honey, kamu adalah wanita yang luar biasa" Daniel kembali mengecup bibir Medina sekilas.


"Aku wanita yang sangat beruntung bisa bertemu dan menjadi bagian dari keluarga kalian" Medina kembali terisak.


"Kalian menyayangiku dengan tulus. Dan itu adalah anugerah indah dari Allah" Medina meraih tangan Daniel dan menciumnya.


"Terimakasih, Tuan suami yang baik hati. Aku mencintaimu, Sayang" Ucap Medina dengan tatapan dalam.


"I love you more, Honey" Daniel mencium bibir Medina dengan durasi lama.


"Sebaiknya kita kembali ke Hotel. Aku sudah tidak tahan ingin memakanmu, Honey" Daniel mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum nakal.


"Dasar mesum" Medina melotot kemudian tertawa lebar.


"Baiklah...Ayo. Aku juga sudah sangat tidak sabar" Sahut Medina yang kini sudah bangkit berdiri.


"Apa?? Ooohhhhh aku tidak percaya ini. Istriku juga merindukan belaianku"


"Hahaha...Jangan ge-er dulu Tuan Suami. Aku sangat tidak sabar ingin bertemu Pakde Radiman" Elak Medina saat mendengar kenarsisan suaminya.


Medina meninggalkan suaminya yang masih duduk diantara rerumputan hijau.


"Ck...aku tidak percaya. Awas saja...suami tampanmu ini akan memakanmu dan tidak akan melepaskan mu" Gumam Daniel dengan tawa kecilnya.

__ADS_1


Kemudian ia berlari kecil untuk menyusul Medina yang sudah masuk kedalam mobil.


Mobil yang dikemudikan Daniel kemudian melaju kencang untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap.


__ADS_2