Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 142


__ADS_3

Daniel mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Rencananya ia akan mampir sebentar kerumah Tante Latifah sebelum ke kantor.


Semenjak pulang dari kota B, Daniel belum menyempatkan diri untuk berkunjung kesana karena langsung menyibukkan diri dengan banyaknya pekerjaan. Sampai-sampai Tante Latifah harus menelepon dan memarahi keponakan kesayangan nya karena tidak pernah hadir dalam serangkaian acara pranikah Rhenata.


Mobil Daniel memasuki rumah Tante Latifah setelah melewati gerbang tinggi didepan rumah yang sangat luas.


Daniel merapikan pakaiannya sebelum turun dari mobil dan menyambar satu buket bunga untuk diberikan kepada tantenya. Berharap kekesalan tantenya mereda setelah Daniel memberikan bunga kesukaan wanita yang sudah seperti ibu kedua baginya.


"Akhirnya kau datang juga, anak nakal!!" suara Tante Latifah mengejutkan Daniel yang masuk kedalam rumah dengan tanpa suara. Awalnya ia ingin mengejutkan Tante Latifah tapi justru dirinya yang terkejut. Semua orang tertawa mendengar Omelan Tante Latifah.


"Hai, Mamiku tercantik sedunia." Daniel tersenyum sempurna menghampiri Tante Latifah yang duduk diantara keluarga nya.


"Jangan merayuku. Kamu pikir mami tidak tahu kamu masuk dengan cara mengendap-endap? Bahkan suara langkahmu, bau tubuhmu, mami sangat hapal." omelnya lagi menunjukkan kekesalannya.


"Pukul dan jewer dia sekalian, Mam." Gio menimpali membuat Daniel mendelik kearahnya.


"Dia melupakan kita, mam." Timpal Rhenata yang baru saja bergabung disana.


"Aku minta maaf." Daniel memberikan bunga lalu memeluk Tante Latifah. Meski sang Tante meronta namun Daniel tidak melepaskan pelukannya.


"Ish...kau ini!! Kau sudah menikah kenapa memelukku seperti anak kecil." omel Tante Latifah lagi. Memukul punggung keponakan kesayangannya.


Tante Latifah membalas pelukan Daniel. Sebenarnya ia tidak benar-benar kesal. Karena Tante Latifah sudah tahu apa yang membuat Daniel jarang menemuinya. Siapa lagi jika bukan mama Safira yang mengatakan kebenaran menantu kesayangannya.


"Bagaimana kabar istrimu?" Tanya Tante Latifah disela pelukannya.


"Dia ingin sekali datang. Dia sedih karena tidak bisa hadir." Bisik Daniel.


"Mami akan menyusulnya dan membawanya pulang." Keduanya tertawa.


"Dia memiliki hati yang lebih luas dari samudera. Kau sangat beruntung, sayang." Keduanya melepas pelukan.


"Rasanya sudah lama sekali tidak bertemu dengannya. Aku sangat merindukan nya." mata Tante Latifah berkaca-kaca.


"Hei...kalian tidak boleh berbisik-bisik didepan kami?" Ucap Mama Safira membuat semua orang tertawa. Begitulah keluarga jika sudah berkumpul pasti suara tawa riuh menggema di seluruh rumah.


****


Sementara itu di kota S, seorang laki-laki dengan wajah dinginnya duduk berhadapan dengan seorang laki-laki yang tersenyum tipis. Sesekali ia menyeruput kopi yang berada diatas meja.


"Aku minta satu bulan kedepan kamu tidak menampakkan wajahmu dihadapan Billa."


"Kau egosi." Ejek Reza membuat Raihan mengepalkan tangannya.


"Aku akan merelakan nya jika usahaku tidak membuahkan hasil." Ucap Raihan dengan tataoan tajamnya.


"Kau pikir Billa apa?" Reza tidak terima dengan pemikiran Raihan.


"Ayo kita bersaing dengan sehat." Tantang Reza tanpa takut.


"Aku menyukainya sejak masuk universitas. Dan aku akan memilikinya." Reza berdiri lalu meninggalkan Raihan. Jangan tanyakan bagaimana perasaan Raihan saat ini. Dia sangat kesal bercampur cemburu.


"Kau terlalu percaya diri." Raihan mengepalkan tangannya sambil menatap punggung Reza yang semakin menjauh.


Raihan mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jas lalu menghubungi seseorang. "Kamu dimana?"


"......."


"Diam disana. Aku akan menjemputmu." Raihan memasukkan kembali ponselnya setelah selesai bicara dengan seseorang. Dengan langkah tergesa ia meninggalkan cafe setelah membayar.


Mobil Raihan melaju dengan kecepatan penuh. Ingin segera sampai ditempat tujuan. Sebelum orang lain mengambil kesempatan.


"Apa aku lama?" Tanya Raihan saat mobilnya berhenti tepat didepan gadis pujaannya. Dan gadis itu menggeleng cepat.


"Jam segini biasanya mas Rai sibuk. Kenapa harus repot-repot menjemputku?" cicit Billa setelah duduk dimobil samping Raihan.

__ADS_1


"Apa kamu lupa? Jika aku sedang berusaha?" Raihan tetaplah Raihan dengan sikapnya yang dingin.


"Aku ingat tapi jangan mengorbankan pekerjaanmu. Nanti kalo sesuatu terjadi dengan perusahaan, aku tidak mau disalahkan." Ucapan Billa membuat Raihan menoleh.


"Kamu tidak suka aku jemput? Atau kamu lebih suka dijemput pria kemarin?" Raihan tersulut ucapan Billa.


"Namanya Reza, Mas. Dia punya nama." Billa menatap Raihan yang juga masih menatapnya.


"Jangan sebut namanya jika kita sedang berdua. Aku tidak suka." Raihan memalingkan wajahnya. Berlama-lama menatap gadis dihadapannya membuat nya gugup.


"Mas...."


"Kamu tidak mau melihat dan menghargai usahaku?" Raihan mengembuskan napasnya.


Billa langsung terdiam, membuang pandangannya ke samping jendela mobil yang dikendarai Raihan. Hatinya mulai goyah terhadap perasaan yang selama ini dipendam untuk Raihan. Karena sosok Reza saat ini berada diantara hubungan yang belum jelas.


Raihan menghentikan laju mobilnya membuat Billa seketika menoleh. "Mengapa berhenti disini?"


Raihan mengambil jemari Billa lalu menautkan dengan jemarinya. Pandangannya lurus penuh cinta pada gadis yang duduk disebelahnya.


"Aku mencintaimu." Raihan mengecup lembut jemari Billa yang tertaut erat dijemarinya.


"Mas....aku tidak bisa." Lirih Billa dengan manik berkaca-kaca.


Ucapan Billa bagaikan belati yang menancap tepat di jantung Raihan. Membuat nafasnya sesak seketika. Jemari yang bertaut perlahan terlepas dari genggaman.


Jemari yang terlepas membuat Billa mengadahkan wajahnya. Terkejut dengan aksi laki-laki yang namanya sudah sejak lama berada didalam hatinya.


"Maafkan Billa, Mas. Billa tidak bisa menyakiti Mas Reza." Billa menunduk setelah mengatakan itu. Hatinya sangat sakit seolah ditusuk ribuan jarum. Bukan karena gadis itu tidak mencintai laki-laki dihadapannya. Namun Billa mengingat hubungannya dengan Reza.


Reza bahkan sudah lama mengejar Billa saat gadis itu menjadi mahasiswa baru di kampus nya. Reza laki-laki yang baik dan gigih berusaha untuk bisa mendapatkan hati dan perhatian Billa. hingga akhirnya Billa menyerah dan menerimanya.


"Aku berpikir perhatian dan sikapmu selama ini adalah ungkapan bahwa dirimu mencintaiku. Tapi rupanya aku salah." Ucap Raihan sengaja dengan senyum tipis.


"Aku tidak ingin menyakiti Mas Reza." cicit Billa.


"A_aku....." Billa tidak bisa berkata-kata. Ia terus menunduk sambil memeluk tas yang berada dipangkuan nya.


Raihan tersenyum penuh arti. Ia membuka sabuk pengaman yang melilit tubuhnya, lalu menarik Billa kedalam pelukannya. Tangisan gadisnya baginya adalah jawaban. Raihan tidak memerlukan kata-kata atau pernyataan cinta apapun dari Billa. Tangisnya menjawab semua kegelisahan nya.


"Aku akan mengantarmu pulang." Raihan melepas pelukan nya. Billa menyeka air matanya. Keduanya kembali duduk di kursinya. Dan mobil melaju dengan tenang tanpa ada pembicaraan apapun didalamnya.


****


Malam harinya, semua keluarga Tante Latifah berangkat ke hotel tempat berlangsungnya acara pernikahan Rhenata dan Raka. Mereka memilih menginap satu hari dihotel sebelum serangkaian acara pernikahan dimulai untuk memudahkan persiapan dan lain sebagainya.


Tak terkecuali Daniel yang baru saja datang setelah selesai dengan pekerjaannya. Ia datang bersama Arif dan teman-teman satu angkatan saat mereka kuliah. Rencananya mereka akan mengadakan pesta kecil-kecilan sebelum Rhenata dipersunting Calon suaminya. Jangan tanyakan ide siapa, karena sudah pasti Gio lah yang berada dibalik rencana ini. Dia mengenal semua teman dekat Rhenata.


Sebuah ruangan yang sudah didesain untuk acara reuni mini tak kalah glamour dengan dekorasi pernikahannya. "Abang...kau terbaik. Terimakasih." Rhenata sangat terharu saat memasuki ruangan dan semua temannya menyambutnya dengn riuh.


"Ini terakhir bagimu menjadi gadis bar-bar. Besok kamu telah bersuami dan jadilah istri yang baik untuk suamimu dan jalanilah rumah tangga mu dengan bahagia." Ucap Gio kepada adiknya. Ia tahu bagaimana Rhenata menerima Raka sebagai calon suaminya. Dan semuanya tidak lepas dari dukungan Gio yang notabene adalah sahabat Raka.


"Aku akan mengingat pesanmu, bang." Rhenata tersenyum manis.


Keduanya berhambur dengan tamu yang lain. Banyak yang memberi selamat dan pelukan hangat untuk Rhenata.


"Terimakasih sudah datang." Ucap Rhenata pada teman-teman nya.


Rhenata melihat Daniel yang sedang duduk memainkan ponselnya. Ia menghampiri Daniel dan ikut duduk disofa setelah mengambil minuman dimeja.


"Selamat untukmu, Ta." Ucap Daniel saat menyadari Rhenata sudah berada dihadapannya.


"Terimakasih, bang." Daniel tersenyum. Sudah lama ia tidak mendengar Rhenata memanggil nya dengan sebutan itu.


"Jadi Medina saat ini ada di Kota B?" Tanya Rhenata.

__ADS_1


"Iya."


"Kapan dia melahirkan? Aku sudah tidak sabar ingin menggendong anakmu." Rhenata tidak salah mengambil topik pembicaraan. Karena Daniel begitu antusias dan bahagia jika membicarakan tentang Medina dan calon anak mereka yang akan lahir.


"Sekitar bulan Desember. Kamu akan jadi aunty pertama yang menggendong nya nanti." Kelakar Daniel.


"Halo, selamat malam semuanya." Suara seorang gadis membuat keduanya menoleh ke arah suara.


"Farah?" Pekik Rhenata dan Daniel bersamaan. Mereka terkejut dengan kehadiran Farah disana.


"Kenapa kalian terkejut sekali melihatku disini?" Farah mendudukkan dirinya disofa yang masih kosong.


"Bu_bukan begitu maksudku." Rhenata tidak enak hati.


"Aku yang mengundangnya." Gio menyodorkan minuman ke Farah dan gadis itu menerima.


"Oh." Rhenata melirik Daniel yang terlihat enggan menanggapi kehadiran Farah. Tatapannya berlsih pada sang kakak yanv terlihat santai.


Rhenata dan Farah adalah sahabat baik saat kuliah. Mereka sudah seperti adik dan kakak perempuannya. Hingga tanpa disadari Rhenata pun memiliki perasaan lain selain adik sepupu. Saat Daniel melebuhkan hatinya kepada Farah, hubungan Rhenata dan Farah menjadi renggang.


"Daniel...ini jus buah naga kesukaan mu." Farah menyodorkan gelas berisi jus buah naga kepada Daniel saat seorang pramusaji mengantarkan minuman ke meja mereka.


"Aku sudah minum tadi. Terimakasih." Tolak Daniel.


"Hei...itu hanya jus. Tidak akan membuatmu mabuk." Canda Gio membuat wajah Farah menegang seketika.


"Terimakasih." Daniel akhirnya menerimanya.


Rhenata menatap tajam sang kakak. Berkata lewat matanya bahwa dirinya tidak menyukai kehadiran Farah disana. Walaupun keadaan telah berbeda namun Rhenata tetap tidak suka.


"Nikmati pestanya, aku akan menemani yang lain." Rhenata meninggalkan ketiganya dan bergabung dengan teman-teman nya yang lain.


Dan tinggallah mereka bertiga. Gio menatap Farah dengan tatapan tak terbaca. Sementara yang ditatap justru sedang menatap penuh cinta ke arah Daniel yang asyik berkirim pesan dengan istri yang dirindukannya.


"Bagaimana kabar sepupuku?" Tanya Farah basa basi.


"Hah?" Daniel mendongak. Ia tidak mendengar pertanyaan Farah.


"Bagaimana kabar sepupuku?" Farah mengulangi pertanyaannya.


"Kabarnya sangat baik. Terimakasih sudah menanyakan kabarnya." Jawab Daniel ramah.


"Sepupu? Maksud kalian Medina adalah sepupu kamu, Far?" Gio yang sedikit tahu tentang kehidupan Medina tidak menyangka jika keduanya ada keluarga dekat.


"Hemm." Daniel malas untuk menjawab.


"Takdir macam apa seperti ini?" Farah tersenyum mengejek membuat Daniel jengah dengan sikap Farah yang seolah-olah dialah wanita tertindas.


Gio terus memperhatikan setiap gerakan yang dibuat Farah dengan senyum yang hampir tidak terlihat.


"Aku akan menghubungi istriku. Dia tidak bisa tidur jika belum mendengar suaraku." Daniel berdiri mengabaikan ucapan Farah yang sebenarnya memancing amarahnya.


Gio tertawa sambil melambaikan tangan kepada Daniel. Tanpa menoleh Farah, Daniel meninggalkan keduanya.


"Ada apa dengan diriku?" Tanya Farah dalam hati. Farah merasakan tubuhnya yang mulai memanas. Ia terus bergerak mencari posisi duduk yang nyaman untuk menetralkan suhu tubuhnya.


"Kamu baik-baik saja?" Gio berdiri menghampiri Farah yang semakin tidak bisa menahan hawa panas yang menjalar ditubuh nya.


_


_


_


_

__ADS_1


_


__ADS_2