
Daniel menatap penuh arti wajah cantik istri dan mertuanya yang memancarkan rona bahagia. Ketiganya asyik saling menyuapi makan siang di dalam ruang rawat pak Sanjaya.
Medina begitu lahap disuapi oleh tangan Ibu kandungnya. Pak Sanjaya tidak lepas dari keisengan dari Medina dan Ibu Melani saat akan menyuapi Pak Sanjaya. Daniel melihat istrinya tidak merasa canggung lagi. karena memang sebelumnya ketiganya sudah sangat dekat. Mereka benar-benar mencurahkan kerinduan dan kasih sayang yang selama ini tidak diterima Medina.
"Ayo tambah lagi makannya." Ibu Melani menyeka sudut bibir Medina yang terkena makanan.
Medina hanya menggeleng kuat karena mulutnya masih penuh dengan makanan, membuat Ibu Melani dan Pak Sanjaya tertawa terbahak-bahak melihat wajah lucu putrinya.
"Sayang...kamu harus banyak makan supaya putri dan cucu Ayah tumbuh dengan sehat." Pak Sanjaya mengusap kepala Medina dan dibalas anggukan Medina.
"Ayah juga harus banyak makan. Supaya segera sehat dan pulang kerumah." Ucap Medina.
"Ibu juga harus sehat." Medina mengulurkan tangannya masih menyuapi sang ibu yang tersenyum haru.
"Terimakasih." Ibu Melani mencium tangan Medina.
"Jangan ucapkan itu lagi. Kita sudah berjanji akan memulai semuanya tanpa ada yang membahas masa lalu." Medina mencium pipi Ibu Melani lalu memeluk Pak Sanjaya.
"Pulanglah ke rumah Ayah. Kalian bisa istirahat disana." Pandangan ayah Sanjaya beralih pada Daniel yang duduk disofa.
"Ayah sudah lama menyiapkan kamar untuk putri ayah persis disamping kamar kami." Ucap Pak Sanjaya lembut.
"Medina masih ingin disini." Medina mempererat pelukannya.
"Suamimu akan cemburu." Pak Sanjaya melirik Daniel yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya. Ia sedang mengecek beberapa pekerjaan yang dikirimkan Asisten dan sekretaris nya.
"Aku belum pernah melihat kakak cemburu. Tapi dia sangat posesif." Medina melihat sekilas ke arah suaminya. Sudut bibirnya melengkung manis.
"Itu sama saja." Ibu Melani terkekeh dengan pengakuan polos putrinya.
"Terimakasih sudah menerima Medina." Manik Medina berkaca-kaca.
"Kami yang harus berterima kasih. Karena kamu memberikan kesempatan kedua kepada kami." Pak Sanjaya mengusap kepala Medina.
"Kalian akan kembali ke hotel?" Tanya Ibu Melani dan Medina mengangguk dengan senyuman yang hampir persis seperti sang ibu.
"Anakku benar-benar duplikat kamu." Pak Sanjaya menatap intens ibu Melani yang juga sedang tersenyum.
"Tentu saja. Dan kami sangat menawan dengan senyuman ini, bukan?" Canda ibu Melani yang langsung membuat ketiganya tertawa.
"Kalian akan menginap lagi dihotel?" Tanya ibu Melani kepada Daniel setelah beranjak dan menghampiri menantunya.
"Iya Bu. Aku hanya membooking hingga tiga hari kedepan. Kenapa?" Jawab Daniel.
"Kalian akan pulang secepat itu?" Ibu Melani terkejut karena Daniel dan Medina akan kembali pulang ke kota J setelah tiga hari.
"Sepupuku akan menikah. Jadi aku harus berada disana sebelum acara berlangsung." Daniel tersenyum menjawab alasan ia harus kembali dengan cepat.
"Tapi kami baru saja bertemu." Tatapan Ibu Melani beralih pada sosok Medina yang sedang bercengkrama dengan suaminya.
"Jika Medina setuju, aku akan pulang sendiri dan meninggalkannya bersama kalian." Ucap Daniel.
"Apa Jeng Safira tidak apa-apa?" Ibu Melani merasa tidak enak hati jika harus menahan Medina sementara keluarga suaminya sedang mempunyai acara penting. Apalagi ia tahu jika Medina sangat disayangi keluarga mertuanya.
"Tidak apa-apa, Bu. Aku tahu, kalian butuh waktu bersama." Daniel meyakinkan ibu mertuanya.
"Terimakasih sudah menjaga putriku dengan sangat baik." Ucapan Ibu Melani terdengar sangat tulus.
"Dia belahan jiwaku." Daniel menatap istrinya penuh cinta.
"Maafkan ayah." Ucap Ayah Sanjaya lirih. Ia menatap putrinya dengan intens.
"Berhenti mengucapkan itu, Ayah." Medina kesal karena sejak tadi kata-kata maaf terus terlontar dari bibir sang ayah.
"Maukah kamu tinggal sebentar bersama kami?" Tanya Ayah Sanjaya dengan tatapan sendu. Penuh harap agar putri semaya wayangnya bisa menemaninya.
__ADS_1
"Medina akan meminta ijin kakak." sahut Medina, Pak Sanjaya tersenyum dan mengangguk.
****
Medina dan Daniel kembali ke hotel saat sore hari. Jarak yang lebih dekat dengan Rumah sakit, membuat Medina menolak saat Pak Sanjaya memintanya untuk beristirahat dirumah mereka.
"Aku mau ke kamar mandi lebih dulu." Ucap Medina sudah masuk kedalam kamar.
"Baiklah." Daniel duduk disofa dan membuka ponselnya. Memeriksa beberapa pekerjaan yang asistennya.
Saat memeriksa pekerjaan nya, ponsel Daniel berdering. "Raihan." Gumam Daniel saat melihat layar ponselnya.
"Halo, Rai." Sapa Daniel.
"Selamat sore, Bos."
"Ada apa?" Daniel sangat paham jika Raihan tidak akan membuat panggilan jika tidak ada masalah di kantor cabang yang berada di kota S.
"Apa anda bisa datang kemari?"
"Apa ada masalah dikantor cabang?"
"Atau keluarga pakde Radiman?" Sudah lama sekali Daniel tidak mendengar kabar dari orang yang mengaku paman dari istrinya itu.
"Maaf bos, saya tidak bisa membicarakan hal ini di sini. Kita perlu bertemu."
Jawaban Raihan membuat Daniel mengerutkan dahi. Raihan bukan tipe orang yang bertele-tele.
"Katakan saja disini." Tegas Daniel. Namun Daniel belum mendengar apapun lagi dari seberang telepon.
"Baiklah...aku segera kesana." Jawab Daniel dengan raut wajah kesal.
"Ada apa?" Suara lembut Medina membuat Daniel menoleh. Medina baru saja keluar dari kamar mandi saat mendengar suaminya bergumam kesal. Mendapati wanitanya yang terlihat segar dan menggoda, senyum Daniel langsung terbit. Seketika kekesalannya hilang begitu saja.
"Siapa yang menelepon?" Tanya Medina.
"Hm...." Bukannya menjawab pertanyaan sang istri, Daniel justru asyik menghirup aroma manis tubuh Medina.
"Sayang, itu menggelikan." Medina menahan diri untuk tidak terbawa oleh sengatan yang ditimbulkan sentuhan suaminya.
"Sayang..." Medina hampir saja mendesah jika saja ia tidak segera menutup mulutnya.
"Biarkan aku memakai baju lebih dulu, Aku kedinginan." cicit Medina membuat lengan kekar seketika mengendur.
"Baiklah...aku akan mandi." Daniel langsung berjalan ke arah kamar mandi tanpa menatap istrinya.
"Apa dia marah?" Medina melihat punggung suaminya yang telah menghilang dibalik pintu.
****
"Apa ada hubungannya dengan pakde?" Entah sudah berapa pertanyaan yang dilontarka Medina kepada suaminya. Ia benar-benar penasaran karena Daniel tidak kunjung menjawab.
Daniel baru saja memberitahu Medina jika Raihan menelepon dan meminta dirinya pergi ke kota S sesegera mungkin.
"Sayang...." Medina yang mulai kesal menangkup wajah suaminya.
"Sudah aku bilang, Raihan tidak mengatakan apapun." Daniel mengecup bibir istrinya sekilas. Gemas dengan ekspresi kesal istrinya.
"Kamu akan pergi?" Ada nada kecewa disana meski Medina mengatakan nya dengan wajah yang biasa saja.
"Kamu ingin aku tidak pergi?" Daniel menatap lekat wanitanya.
"Atau kamu ingin ikut pergi denganku?" Tanya Daniel.
Medina terlihat berpikir. "Kabari saja aku setelah kakak sudah bertemu Raihan." Ucap Medina akhirnya.
__ADS_1
"Tapi...."
"Kenapa?" Medina menunggu.
"Besok ada hal penting yang harus aku kerjakan bersama Fian." Ucap Daniel.
"Sudahlah...akan aku pikirkan nanti. Sekarang katakan padaku, bagaimana perasaanmu saat ini?" Daniel merengkuh tubuh Medina masuk kedalam dekapannya.
"Aku sangat sangat bahagia. Terimakasih, sayang." Medina mencium bibir suaminya.
"Aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata." Manik Medina mulai menggenang bulir-bulir bening.
"Terimakasih atas semua yang sudah kamu lakukan dan berikan padaku." Dahi keduanya saling menempel.
"Aku mencintaimu." Medina mencium hidung mancung Daniel.
"Terima kasih karena tangan ini tidak berhenti memeluk dan menggenggamku hingga detik ini." Medina mengambil tangan Daniel dan membawanya ke depan bibirnya lalu menciuminya bertubi-tubi. Sementara Daniel masih terdiam mendengarkan istrinya dengan senyuman menawan.
"Aku akan membayar nya dengan terus setia berada disampingmu. Melewati suka dan duka bersama-sama. Aku berjanji dengan seluruh jiwa dan ragaku." Medina menangis bahagia.
"Kalian adalah prioritas ku. Aku mencintaimu dan semua yang ada dalam dirimu. Terimakasih sudah hadir dan memebri warna indah dalam hidupku." Kali ini Daniel berbicara.
Keduanya saling menatap penuh cinta. Dibawah langit senja kedua anak manusia yang saling mencintai saling memagut bibir dengan mesra. Bertukar Saliva hingga waktu yang cukup lama.
"Apa kamu lelah, Honey?" Daniel mengusap lembut pipi Medina dengan punggung tangannya.
"Sedikit." Jawabnya dengan suara manja. Medina menggeser tubuhnya lebih dekat bahkan semakin menempel dengan tubuh kekar dan keras suaminya. Membenamkan wajahnya pada dada bidang yang selalu memberikan kenyamanan. Menghirup wangi maskulin yang selalu membuatnya berlama-lama berada disana.
"Kita belum mengabari mama." Medina mendongak melihat suaminya.
"Kamu benar." Daniel mendorong pelan tubuh istrinya untuk mengambil ponselnya yang berada diatas meja.
"Apa tidak diangkat?" Tanya Medina setelah satu panggilan Daniel ke ponsel mamanya tidak terjawab.
"Mungkin saja ponsel mama kehabisan daya." Medina tahu persis jika ibu mertuanya itu selalu meninggalkan ponselnya begitu saja dalam keadaan mati.
"Aku akan menghubungi kak Danu." Jemari Daniel bergerak diatas layar ponselnya.
Ponsel Danu dan Rani pun tidak bisa dihubungi. "Kemana semua orang?" Daniel mulai kesal dan khawatir bersamaan karena semua orang sulit dihubungi.
"Apa terjadi sesuatu dengan mama?" Medina mulai khawatir. Ia turun dari ranjang dengan terburu-buru dan menghampiri suaminya.
"Honey... tenangkan dirimu." Daniel memeluk Medina yang sudah menangis karena memikirkan mama Safira.
"Aku takut sesuatu terjadi." Isaknya.
"Jangan berpikir macam-macam." Daniel menenangkan Medina.
Karena kesal dan panik, mereka sampai tidak menyadari untuk mencoba menghubungi telepon rumah.
Sementara itu, dirumah mama Safira semua orang sedang tergelak tawa. "Permainan macam apa ini?" Gerutu mama Safira karena terus kalah dalam permainan yang dibuat anak dan cucunya.
"Nenek belum bisa mengambil ponsel nenek sebelum nenek memenangkan permainan ini. Jadi nenek harus terus mencobanya." Seru gadis kecil itu dengan tawa kecilnya. Membuat suasana semakin seru dan ramai.
_
_
_
_
_
Terimakasih yang selalu setia dengan novel ini. Mohon maaf kalo jarang up karena kesibukan di dunia nyata yang menyita waktu. Semoga cerita masih menghibur pembaca yang Budiman. 🤗ðŸ¤ðŸŒ¹
__ADS_1