Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 163


__ADS_3

2 Minggu kemudian...


Pagi ini sesuai rencana Daniel dan Medina akan pergi ke dokter kandungan untuk memeriksakan rutin kandungannya.


Menjelang persalinan, Daniel tampak gusar dan cemas. Berbanding terbalik dengan istrinya yang terlihat tenang.


"Tidak perlu lahir dengan proses normal, aku ingin kamu menerima saranku untuk proses Caesar saat melahirkan nanti." Oceh Daniel saat keduanya berada didalam mobil menuju rumah sakit.


Medina hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir, mengapa sang suami menginginkan dirinya operasi caesar.


"Aku takut sekali membayangkan kamu kesakitan." Lanjutnya melirik sang istri yang masih tersenyum.


"Semua ibu hamil yang melahirkan buah hatinya akan merasakan kesakitan." Lirih Medina menatap suaminya yang fokus dengan jalanan.


"Hon...maksudku..." Daniel menatap sekilas istrinya dan kembali fokus ke jalanan.


"Sayang.. operasi Caesar pada ibu hamil itu bukan karena takut melahirkan normal. Karena memang murni ada kelainan atau keaadan si ibu atau calon bayi yang mengharuskan opearsi Caesar adalah jalan satu-satunya untuk melahirkan. Mungkin sebagian orang melakukan itu karena ingin anaknya lahir tepat dengan hari moment spesial." Medina merasa gemas sendiri dengan pemikiran sang suami.


"Seharusnya kakak memberi aku support dan semangat supaya aku bisa melewati semua proses melahirkan normal."


"Lagipula, dokter mengatakan jika kondisiku dan janin dalam kandungan ku sehat dan normal. Sembilan puluh persen insya Allah... aku bisa melahirkan secara normal. Dan aku sudah mengikuti semua treatment yang diberikan dikelas kehamilan." Medina terkekeh lalu mengambil satu tangan Daniel dan menggenggam nya dengan erat.


"Aku butuh doa kamu dan semua orang. Aku...butuh ridho mu, kak." Daniel membuang nafasnya. Jika sudah begini Daniel hanya bisa pasrah. Meski hatinya masih diliputi kegelisahan.


"Baiklah...tapi berjanjilah...jika kamu tidak kuat mengejan...kamu harus menurut." Ucap Daniel pada akhirnya. Ia sudah banyak belajar tentang proses melahirkan dari kelas senam kehamilan yang istrinya ikuti. Tetap saja membuat dirinya takut dengan membayangkan semua yang akan dirasakan istrinya.


Mobil sampai di depan parkiran rumah sakit. Keduanya langsung turun dan masuk kedalam rumah sakit. Sehari sebelumnya, seperti biasa Daniel sudah melakukan registrasi dan hari ini hanya menyerahkan buku laporan kehamilan kepada suster yang bertugas di poli kandungan.


"Selamat pagi, Ibu Medina. Bagaimana kabarnya hari ini?" Sapa perawat ramah.


"Alhamdulillah baik, suster." Sahut Medina.


"Apa ada keluhan?" Tanya perawat sambil memasangkan alat pengukur tensi pada lengan Medina.


"Semakin susah tidur, sus." Jawab Medina lalu melirik suaminya.


"Apa ada pusing?"


"Tidak ada."


"Tensinya cukup lumayan tinggi. Dimohon untuk menjaga istirahat ya Bu. Nanti detailnya langsung dengan dokternya, ya." Ucap Sang perawat membuat Daniel memejamkan matanya seketika.


"HPL nya sekitar dua Minggu lagi, ya. Sudah mengurangi makanan yang dilarang dokter kan?" Perawat tersenyum ke arah Medina yang mengangguk menanggapi pertanyaan snag perawat.


"Tensi istri saya tinggi, apa berbahaya untuk istri dan anak saya?" Suara Daniel sedikit bergetar. Ketakutannya kembali menguasai dirinya.


"Nanti bisa konsultasikan dengan dokternya ya, Pak.


"Silahkan...sudah bisa masuk." Perawat itu bangkit lalu membuka pintu ruang praktik dokter.


Keduanya mengikuti perawat dan disambut hangat dan senyum ramah dokter langganan Medina.

__ADS_1


"Halo...Ibu hamil semakin cantik saja." Sapa dokter membuat Medina terkekeh.


"Dokter bisa saja." Medina tersipu.


Kedua pasangan itu duduk didepan meja. berhadapan dengan dokter yang tengah membaca buku rekam medis pasien.


"Hemm....tumben tensinya naik. Ada yang membuat tidak nyaman, Ibu Medina?" Manik sang dokter menatap keduanya secara bergantian. Karena selama memeriksa Medina hampir sembilan bulan, tidak pernah sekali pun tensi ibu hamil itu tinggi.


"Suami saya tidak percaya jika saya bisa melahirkan secara normal. Dan itu... membuat saya menjadi kepikiran dan sedikit sulit berisitirahat, Dok." Ucap Medina jujur.


Ia menoleh suaminya yang tampak syok dengan ucapan istrinya. Karena sejauh yang Daniel tahu, Medina selalu meyakinkan dirinya. Namun nyatanya, Medina memikirkannya.


"Honey..." Desis Daniel dengan wajah terkejut. Tidak menyangka jika istrinya akan mengatakan itu pada dokternya.


"Saya... Saya membayangkan bagaimana dia kesakitan saat kontraksi dan mengejan. Saya takut sesuatu terjadi pada istri saya." Jelas Daniel seraya menggenggam jemari Medina.


"Hemm....begitu ya?" Dokter berhijab itu tersenyum lebar. Merasa kekhawatiran suami pasiennya terlalu berlebihan.


"Baiklah...kita akan periksa dengan detail sejauh mana kesiapan kondisi rahim dan bayi kalian bisa dilahirkan dengan proses normal." Ketiganya berdiri lalu berjalan menuju ranjang yang disampingnya terdapat peralatan canggih untuk yang biasa digunakan para dokter kandungan.


Medina berbaring dibantu Daniel dan asisten dokter.


"Bismillahirrahmanirrahim..." Dokter menggerakkan alat diatas perut Medina yang telah dibaluri cairan dan langsung menampilkan gambar calon bayi mereka.


"Lihat....dia terlihat sangat sehat. Dan detak jantungnya bagus.


"Air ketubannya bagus dan cukup. Semua organ si bayi juga lengkap."


Dokter terus menjelaskan hingga Daniel benar-benar merasa puas dan tidak khawatir berlebihan. Ada kelegaan dihati Daniel setelah mendengar semua penjelasan dari dokter yang menangani istrinya.


"Aku yakin bisa kok, asal suamiku juga ikut mendukung. Bukan malah panik dan takut berlebihan." Kekeh Medina membuat Daniel tersenyum malu karena mereka masih berada diruangan pemeriksaan.


"Betul, dokter?" Medina menatap sang dokter dengan terkekeh yang juga tersenyum kearah keduanya.


"Untuk beberapa hal yang sudah saya jelaskan tadi...harap terus diperhatikan hingga tanda-tanda melahirkan tiba. Yang penting tidak perlu panik." Ucap dokter mengingatkan kembali yang dia jelaskan tadi kepada calon orangtua dihadapannya.


"Baik, dokter. Saya akan selalu siaga." Sahut Daniel. Tangannya membelai perut buncit istrinya.


"Terimakasih banyak, dokter. Kami permisi." Keduanya berpamitan dan keluar untuk mengambil vitamin yang diresepkan dokter.


Setelah mendapatkan vitamin, keduanya langsung menuju mobil. Namun saat akan membukakan pintu mobil untuk sang istri, ponsel Daniel berdering.


Seraya membantu istrinya masuk kedalam mobil dan duduk dengan nyaman, Daniel mengangkat panggilan di ponselnya.


"Halo."


"Bos...tiga puluh menit lagi rapat dimulai. Rekanan bisnis sudah datang beberapa menit yang lalu."


"Aku akan sampai sebelum tiga puluh menit. Jamu mereka lebih dulu sebelum aku sampai dikantor. Kamu sudah menyiapkan semuanya?" Daniel mengitari mobil dan duduk dibalik kemudi masih dengan ponsel ditelinganya.


"Sudah semuanya, Bos."

__ADS_1


"Baiklah. Terimakasih." Daniel memutuskan panggilan.


"Dari kantor?" Tanya wanita dengan perut buncit disamping Daniel.


"Iya. Kamu tidak keberatan jika ikut kekantor dan menunggu suamimu selesai rapat?" Tanya Daniel sedikit ragu. Ia khawatir snag istri merasa tidak nyaman berada dikantor dan harus menungguinya selesai rapat.


"Kakak ada rapat? Kenapa tidak bilang? Aku bisa meminta ibu mengantarkan aku ke rumah sakit jika tahu kakak sibuk." Bukannya menjawab pertanyaan sang suami, Medina justru mengomel karena lagi-lagi dirinya menyita waktu kerja sang suami.


"Honey...rapat ini tidak lebih penting dari pemeriksaan rutin kamu dan anak kita. Lagipula aku masih bisa menyempatkan datang, tenanglah...masih ada waktu." Kekeh Daniel melihat istrinya yang memberengut.


"Kamu tidak keberatan menunggu suamimu selesai bekerja, kan?" Daniel memajukan tubuhnya hingga wajahnya tak berjarak dengan wajah Medina.


"Atau setelah sampai di kantor, aku akan meminta Ujang menjemputmu." Daniel menghidupkan mesin mobil dan siap melajukan kendaraannya.


"Kenapa kakak selalu seperti ini?" Lirih Medina diikuti isakan. Daniel seketika menoleh kesamping. Ia urung menjalankan laju kendaraannya.


"Sejak awal menikah, kakak selalu mengesampingkan pekerjaan demi aku." Medina menunduk terisak.


"A..ku...." Air matanya semakin deras. Medina menangis. Perasaan bersalah kembali menderanya.


"Honey..." Daniel menghela nafas.


"Bagaimana jika kolega kakak membatalkan kerjasama? Itu akan merugikan perusahaan.


"Belum lagi...jika orang-orang berpikiran aku istri yang manja dan selalu menyita waktu kerja suami. Huhuhuhu...." Medina semakin menangis membuat Daniel semakin bingung.


"Honey...dengarkan aku." Daniel meraih tubuh Medina lalu memeluknya.


"Perusahaan tidak pernah rugi...dan aku berharap jangan sampai itu terjadi. Perusahaan bahkan mengalami keuntungan selama aku menikah denganmu. Artinya keberadaan kamu dan pernikahan kita membawa keberkahan untukku dan semua orang." Jelas Daniel sambil mengusap punggung istrinya. Ia sadar, pengaruh hormon kehamilan membuat istrinya semakin sensitif dalam beberapa hal.


"Dan jika perusahaan mengalami kerugian, aku akan meminta istriku menjadi investor diperusahaanku." Kekeh Daniel membuat Medina memukul dada suaminya. Daniel melepaskan pelukan dan menatap wanitanya dengan lekat.


"Kalian adalah prioritas ku. Keluargaku adalah yang utama untukku. Jadi...jangan pernah merasa bersalah karena merasa kamu menyita banyak waktuku. Aku justru bahagia, saat kamu bergantung padaku. Selalu membutuhkan ku...dan aku bahagia menjalani nya. Paham?" Ucap Daniel dengan lembut. Ia ingin mengembalikan mood ibu hamil dihadapan nya yang kadang berubah-ubah.


Medina mengangguk dengan mata yang basah. Tatapan teduh dan penuh cinta lelaki dihadapan nya seolah mengusir semua gundah dan rasa bersalahnya.


"Terimakasih, Kak." Lirih Medina. Air matanya semakin deras mengguyur pipi yang terlihat chubby karena kenaikan berat badannya selama kehamilan.


"Mungkin...aku akan berada di kantor sampai sore. Kamu tidak keberatan, Hon? Jika kamu lelah, kita bisa pulang dan menginap di apartemen. Bagaimana?" Daniel memberitahu istrinya yang kemudian tersenyum penuh binar.


"Baiklah. Aku akan menunggui suamiku bekerja lalu kita pulang ke apartemen dan menginap disana. Ah...aku jadi ingin makan wafle dan pasta restoran italia disana." Medina mengusap bibirnya dengan membayangkan makanan favorit suaminya. Moodnya kembali baik terlihat dari suaranya yang ceria.


Daniel melajukan mobilnya ke kantor. Hari ini ia ada rapat kerjasama dengan sebuah lembaga pemerintahan yang membutuhkan jasa perusahaannya. Daniel bersyukur, karena perusahaannya semakin berkembang dengan terus menjalin kerja sama dengan pihak pemerintah dan swasta. Ia pun berencana akan melebarkan sayap bisnisnya hingga manca negara. Tentu saja hal ini tidak mudah, karena ia perlu banyak persiapan dan juga relasi yang baik.


_


_


_


_

__ADS_1


_


_


__ADS_2