
Medina menyantap makan malamnya tanpa berselera. Sejak siang tadi ia terus memikirkan ibu Melani.
"Honey...kenapa? Kamu tidak suka menunya?" Suara Daniel membuyarkan lamunan Medina.
Medina tersenyum dan menggeleng pelan.
"Ini enak...hanya saja aku merasa sedikit lelah" Medina melanjutkan makan malamnya yang sempat tertunda.
"Kamu yakin?" Daniel tahu jika istrinya sedang merasa gelisah.
"Iya...jangan khawatir, sayang" Medina menyuapkan makanannya kedalam mulut Daniel.
"Sayang...kapan kita pulang?" Medina menyudahi makannya karena merasa sudah kenyang.
"Aku bilang kita akan berkeliling dan menikmati waktu berdua ke tempat-tempat yang indah" Daniel tersenyum tampan.
"Aku sangat merindukan mama" Wajahnya berubah sendu.
"Kamu tidak menikmati waktu bersama suamimu?" Tanya Daniel sengaja.
"Iya...aku merasa bosan bersama pria mesum didepanku" Medina tertawa geli.
"Oh ya??...." Daniel beranjak dari duduknya.
Medina semakin tertawa lebar saat suaminya mendekati nya dan memberikan sentuhan-sentuhan lembut nan menggoda.
"Kamu bosan dengan sentuhan ini? ini? dan ini?" Daniel menyeringai saat tubuh Medina merespon sentuhan ditempat-tempat sensitifnya.
"Sayang...mmmmhhhh.....hentikan" Medina mulai terbawa arus gairah yang ditimbulkan suaminya.
"Aku tidak akan berhenti, Honey" Daniel mengangkat tubuh Medina dan membawanya ke dalam kamar.
****
"Bunda....kapan mama Niel pulang" Rengek Syifa kepada bundanya.
Hampir setiap hari ia merengek menanyakan Medina dan meminta melakukan video call.
"Bunda tidak tahu kapan mereka pulang, sayang. Tapi bunda akan meminta papa dan mama Niel pulang jika kamu sudah tidak merengek terus dan mulai mendengarkan bunda" Ucap Rani sedikit mengancam karena sejak tadi ia sudah mencoba menenangkan putrinya tapi tetap saja Syifa masih merengek.
"Tapi Syifa kangen, bunda" Sahut Syifa pelan.
"Semua orang sangat merindukan mama Niel, Sayang. Sekarang sudah malam, Kita akan video call besok pagi. Oke??" Ucap Rani sambil mengelus rambut putrinya.
"Benarkah?" Wajah sedih gadis kecil itu langsung terlihat senang.
"Princes papa belum tidur?" Danu masuk kedalam putrinya.
"Papa....." Gadis kecil itu langsung berdiri dan berlari memeluk Danu.
Danu menatap wajah istrinya lalu tersenyum lebar.
"Sekarang tidurlah...Papa akan menemanimu" Ucap Danu sambil menarik selimut menutupi tubuh putrinya.
"Bunda akan melihat nenek sebentar" Rani mencium kening putrinya dan beranjak keluar kamar Syifa.
"Sekarang waktunya kamu tidur" Danu memeluk putri semata wayangnya.
"Ma...." Panggil Rani saat masuk kedalam kamar mama Safira.
"Syifa sudah tidur?" Tanya Mama Safira yang saat itu sedang membaca buku.
"Danu sedang menidurkannya, dia terus menanyakan Medina" Rani menghela nafasnya.
"Lepaskan buku itu dan berisitirahatlah ma"
"Ck....kenapa semua orang mirip Medina sekarang?" Rani tertawa mendengar keluhan mamanya.
__ADS_1
"Karena kami semua akan dihukum Medina dan tidak mendapat hadiah jika tidak memperhatikan mama" Gurau Rani membuat mama Safira juga tertawa.
"Kalian ini....." Mama Safira meletakkan buku dan kacamatanya diatas meja.
"Mama perlu sesuatu?" Tanya Rani.
"Tidak sayang, terimakasih. Kalian juga harus istirahat" Jawab Mama sambil membenarkan selimutnya.
"Selamat malam, ma" Rani mencium kening mama Safira dan berjalan keluar kamar.
Rani masuk kedalam kamar Syifa dan melihat putriya sudah terlelap.
"Selamat malam, sayang" Rani mencium kening putrinya dan meninggalkan kamar.
Kini Rani masuk kedalam kamarnya. Ia ingin segera mandi karena tubuhnya terasa lengket.
"Sayang...kamu?" Rani terkejut saat masuk kedalam kamar mandi dan melihat suaminya sedang duduk diatas kloset.
"Aku menunggumu, Sayang" Danu menarik lembut tangan Rani hingga terduduk di atas pangkuannya.
"Bayi besar juga butuh perhatianmu" Ucap Danu membuat Rani tertawa lebar.
"Sudah lama kita tidak manndi bersama" Ucap Danu sambil menciumi leher Rani.
"Jangan bilang, kamu iri dengan pengantin baru Daniel dan Medina" Rani mencium pipi Danu.
"Ahh aku punya ide. Setelah mereka pulang honeymoon, kita bisa menitipkan Syifa dan kita bisa pergi liburan berdua" Danu memberi ide sambil membuka baju istrinya.
"Aku tidak menolaknya, sayang" Keduanya lalu berciuman dengan panas dan rakus.
Membuat suasana dinginnya kamar mandi menjadi panas karena gairah yang memuncak dan mengakhiri kegiatan dengan merengkuh kenikmatan bersama-sama.
****
Setelah yakin Medina terlelap dengan nyenyak, Daniel beranjak dari ranjang dan berjalan keluar kamar. Menutup pintu kamar dengan sangat pelan agar tidak membangunkan Medina.
Daniel duduk disofa dan mengeluarkan ponselnya dari kantong celana yang dipakainya.
"Rai...maaf menelepon mu malam-malam begini." Ucap Daniel saat ponselnya tersambung.
"Tidak apa-apa bos" sahut Raihan.
"Aku minta penjelasan tentang informasi yang kamu sampaikan tadi pagi" Daniel to the point.
"Bos...Pak Sanjaya adalah orangtua kandung Nona Medina," Ucap Raihan tanpa basa-basi.
"Apa??" Daniel menahan suaranya agar tidak mengejutkan dan membangunkan Istrinya.
"Benar bos... aku sendiri yang telah memastikan kabar ini dari Bidan Nurul. Bidan itu menceritakan segalanya tentang masa lalu keluarga pak Sanjaya juga istrinya yang baru diketahuinya....."
Raihan terus menceritakan kepada Daniel tentang pertemuannya dengan Bidan Nurul setelah pak Sanjaya pergi dari klinik bersalinnya.
"Aku tidak menyangka hal ini" Daniel membuang nafasnya. Ia masih tidak percaya jika orang yang sedang mereka cari selama ini ternyata sangat dekat dengan lingkup pekerjaan Daniel.
"Kita semua tahu jika kuasa pak Sanjaya cukup besar. Dia langsung menyebar anak buahnya setelah melihat Nona mengenakan kalung itu saat pesta resepsi pernikahan anda"
"Anda akan pulang, bos?" Tanya Raihan membuat Daniel terdiam.
"Sepertinya mereka akan segera menemui anda jika bos sudah kembali" Ucap Raihan lagi.
"Aku belum memikirkannya, akan aku kabari jika kami pulang" Jawab Daniel.
"Baik bos...selamat malam"
"Selamat malam" Daniel menutup sambungan ponselnya kemudian memijat keningnya yang sedikit terasa pusing karena terkejut.
"Aku mencarinya selama beberapa bulan ini dan ketika mengetahui kebenarannya, kenapa aku menjadi bingung harus memukai darimana untuk mengatakannya kepada Medina" Ucap Daniel pelan.
__ADS_1
Daniel melirik arlojinya, tepat pukul 11 malam. Kemudian ia beranjak menuju mini bar dan mengambil minuman ringan didalam kulkas.
Daniel menenggak habis minumannya dan membuang botol kosong kedalam tong sampah.
Kakinya sedikit berat untuk melangkah masuk kembali ke dalam kamar. Ia belum tahu apa yang harus dilakukan besok ketika menatap wajah Medina.
Melakukan perjalanan seperti yang ia rencanakan sangatlah tidak mungkin. Karena inilah kebenaran yang dinantikan.
Tapi membatalkan perjalanan yang sudah direncanakan, pasti menimbulkan pertanyaan dari Medina dan ia harus siap dengan jawabannya.
Saat ini ia sangat ingin mendengar alasan dan penjelasan langsung dari mulut Pak Sanjaya dan Ibu Melani sendiri.
Daniel menarik rambutnya dengan frustasi. Ia tidak akan bertindak ceroboh hingga membuat Medina tersakiti karena mengetahui kebenaran ini. Ia akan mencari cara untuk memberitahukannya kepada Medina.
"Aku akan meminta pendapat kakak" Daniel langsung menghubungi Danu.
"Sayang ponselmu berbunyi" Ucap Rani saat mereka baru saja menyelesaikan olah raga malamnya.
"Siapa tengah malam begini meneleponku" Daniel mengambil ponselnya dengan kesal.
"Daniel?" Danu langsung menekan tombol hijau saat tahu jika Daniel yang menelepon.
"Halo, Kid?" Sapa Danu dengan nafas yang masih memburu.
"Kalian sedang melakukan ritual malam?" Tanya Daniel dari seberang telepon.
"Tidak...kami baru selesai ronde ke tiga" Jawab Danu dengan tawanya yang khas.
"Kakak masih diatas ranjang?"
"Detail sekali pertanyaan mu" Danu semakin teratwa lebar.
"Aku ingin bicara serius, bisa pindah dari tempat kakak sekarang?"
Danu melirik Rani yang tengah berada dipelukannya.
"Baiklah...Beri aku lima menit" Danu menutup teleponnya dan beranjak dari ranjang untuk memakai pakaiannya. Membuat Rani kebingungan dengan sikap suaminya.
"Sayang...ada apa?" Tanya Rani penasaran.
"Ada yang harus aku bicarakan dengan Daniel, aku ke ruang baca sebentar. Istirahatlah lebih dulu" Danu meninggalkan Rani setelah memberi kecupan selamat tidur.
Rani mengangguk sambil menatap punggung suaminya. Perasaannya menjadi tidak karuan. Ia khawatir terjadi sesuatu dengan Medina. Namun karena rasa kantuk dan tubuh yang sudah sangat lelah, ia memutuskan untuk memejamkan matanya.
Sementara itu, Danu tengah berbicara dengan Daniel. diruang baca. Wajah Danu terlihat serius mendengarkan semua yang diceritakan Daniel.
"Apa?? Kau serius, Kid?" Danu nampak terkejut dengan apa yang disampaikan adiknya.
"Kakak tahu rencana perjalanan ku, kan? menurutmu aku harus bagaimana?"
"Lebih baik kalian pulang dan selesaikan permasalahan ini. Hal inilah yang selalu dinantikan oleh Medina, bukan? Jadi saranku, kalian pulang lebih dulu. Aku yakin mereka juga sudah menantikan bertemu dengan Medina. Jadi jangan menundanya" Saran Daniel panjang lebar kepada Daniel.
"Baiklah...aku akan mencari cara bicara dengan Medina. Dia sangat rapuh jika menyangkut keluarganya. Aku sangat khawatir dia...."
"Kau harus bisa menjadi kekuatan untuknya" Potong Danu sebelum Daniel menyelesaikan kalimatnya.
"Terimakasih banyak, kak" Keduanya mengakhiri sambungan telepon.
"Medina putri kandung pemilik Sanjaya Group?" Gumam Danu.
Danu kembali ke kamarnya, ia tidak sabar menunggu besok pagi untuk menceritakan hal ini kepada mamanya.
_
_
_*TBC*
__ADS_1
_
_*JANGAN LUPA SELALU TINGGALKAN JEJAK KEBAIKAN SETELAH MEMBACA KARYA INI. VOTE, LIKE, KOMENT YANG BANYAK YAAA. THANKS AND LOVE YOU ALLππ€π*