
Farah duduk menenagis sembari memeluk lututnya. Membenamkan wajahnya diantara kedua pahanya. Bahkan is sudah berjam-jam lamanya dengan posisi seperti itu. Meratapi nasibnya yang kini semakin kacau. Ingatannys kembali pada malam kemarin saat menghadiri acara untuk Rhenata.
"Mengapa harus dengannya?"
"Mengapa semua berbalik padaku?"
"Apa dia tahu aku___" Farah mengangkat kepalannya.
"Oh shitt!!" Farah memukul lantai dengan kepalan tangganya hingga ia mengaduh sakit.
"Tapi tidak mungkin..."Farah menggelengkan kepalanya berkali-kali. Mencoba mengusir pikiran-pikiran yang datang ke kepalanya.
Farah terus berbicara dengan dirinya sendiri. Hingga ia tidak menyadari seseorang sudah masuk kedalam kamar dan duduk disofa dengan menaikkan satu kakinya.
"Apa yang kau pikirkan?"
Suara bariton itu membuat Farah terkejut dan langsung menolehkan kepalannya ke arah sumber suara.
"Kamu? Se_sejak kapan kamu disini?" Tanya Farah dengan tatapan penuh amarah.
"Sejak kapan kamu berubah menjadi wanita jahat?" Alih-alih menjawab pertanyaan Farah, lelaki itu justru membalik Pertanyaan itu kepada dirinya. Bahkan Pertanyaan pemilik suara bariton membuat Farah mendelik.
"Sejak kapan kamu menjadi wanita licik? Ingin merebut suami dari sepupu kamu sendiri dengan cara yang kotor?" Sindir Gio dengan tatapan tajamnya.
"Apa maksudmu?" Farah berusaha menutupi ketakutannya.
"Jangan berkilah dan berlagak sok suci." Lagi-lagi suara bariton itu membungkam mulut Farah. Hanya tubuhnya yang terlihat gemetar dengan tangan mengepal menahan amarah.
"Kenapa kamu ingin menjebak Daniel?" Tatapan tajam Gio terus mengintimidasi
"Itu bukan urusanmu!" Teriak Farah dengan penuh kebencian karena usahanya yang gagal dan justru terperangkap dengan jebakan yang ia buat sendiri.
"Tentu saja menjadi urusanku karena Daniel adalah saudaraku."
"Bukankah Medina juga kini menjadi saudaramu?"
"Tutup mulutmu!! Aku tidak Sudi menganggapnya keluarga." Farah menatap Gio.
"Ya. Aku harus tutup mulut bagaimana ganasnya dirimu semalam." Ucap Gio dengan senyum tipisnya.
"Keterlaluan kau, Gio!!!" Amarah yang kian memuncak membuat Farah nekat berdiri lalu dengan langkah lebar menghampiri Gio yang masih duduk santai di sofa.
Namun sebelum jemari lentik itu menyentuh tubuh kekarnya, Gio lebih dulu bangkit dan menangkap tubuh tinggi Farah. Mendorongnya ke arah ranjang hingga keduanya terjatuh dengan posisi Gio berada diatas Farah.
Tenaga Gio yang kuat membuat pergerakan Farah terkunci meskipun gadis itu meronta dengan sekuat tenaga.
"Lepaskan aku!!! Kau brengsek, Gionardo!! Aku benci dirimu....aku membencimu!!!" Teriak Farah dengan derai airmatanya. Meluapkan kemarahannya kepada pria yang kini menindihnya.
"Tapi aku mencintaimu...." Gio menatap lurus wajah gadis yang ada dibawahnya.
"Aku mencintaimu, Far. Sejak dulu hingga detik ini...aku masih mencintaimu." Ucap Gio lirih dalam hatinya. Ada kekecewaan yang mendalam dalam ucapan dan tatapan Gio.
"Lepaskan aku, Brengsek!!" Maki Farah dengan mata memerah. Ia terus meluapkan kekesalan juga kekecewaannya atas sikap Gio yang dianggap sudah melebihi batasan.
"Jika aku tidak melihatmu sedang berkomplot dengan pelayan itu....entah apa yang terjadi dengan Medina saat ini. Dia sedang mengandung keponakanmu, apa kamu Setega itu padanya? ingin menghancurkan rumah tangganya?" Suara Gio penuh penekanan. Membuat Farah tidak berkutik.
"K_kamu......" Kedua mata mereka bertemu dan saling terdiam untuk beberapa saat. Hingga suara ketukan pintu yang terdengar sangat keras membuat keduanya langsung menjauhkan tubuh.
"Awalnya aku berniat untuk bertanggung jawab atas kejadian tadi malam. Tapi aku berpikir dua kali bahkan puluhan kali." Gio merapikan jasnya yang berantakan juga tidak lupa menyugar rambutnya yang terlihat sedikit acak-acakan.
"Apa saat diluar negeri kamu menjual diri untuk membiayai S2 mu?" Pertanyaan Gio menohok jantung Farah. membuat gadis itu seolah berhenti bernafas.
"A_apa?" Farah membelalakkan matanya.
"Hahahaha...Reaksimu seperti gadis perawan. Tapi nasib sial untuk diriku harus mendapatkan 'bekas'." Ucap Gio penuh penekanan.
Gio langsung meninggalkan Farah yang masih dengan rasa keterkejutannya. Tidak menyangka jika jalan hidupnya akan berakhir seperti saat ini.
__ADS_1
Farah terkulai lemas di pinggir ranjang. Lagi-lagi Farah terbungkam. Perasaannya kini berkecamuk. Antara malu, marah dan juga sedih menyatu dalam hatinya. Ia menangis sejadi-jadinya, meratapi nasib baik yang tidak pernah berpihak padanya.
****
Kejadian malam itu tidak ada yang tahu kecuali Gio dan Farah juga kedua orangtua Gio sendiri. Karena Gio telah menceritakan kemana ia pergi malam itu hingga semua keluarganya sibuk mencari.
"Sayang....bagaimana jika Farah hamil?" Suara Tante Latifah membuat Papi Ronald yang sedang menyesap kopi langsung menoleh. Beruntung rumah mereka terlihat lengang karena beberapa kerabatnya masih tinggal hotel setelah acara pernikahan Rhenata.
"Tapi Gio terlihat santai." Sahut papi Ronald tak perduli. Keluarga Tante Latifah sudah mengenal Farah dan sepak terjangnya. Jadi tidak begitu terkejut saat Gio menceritakan kebenaran yang juga sebuah aib untuk keluarganya.
"Ish....tapi anakmu sudah melakukan dosa besar." Wajah Tante Latifah seketika sendu.
"Gio tidak sepenuhnya bersalah." Jawaban papi Ronald membuat Tante Latifah hanya bisa menggelenggengkan kepalanya.
"Jadi papi membenarkan sikap dan perbuatan Gio?" Tante Latifah tidak habis fikir dengan pemikiran para pria nya.
"Selain dosa, itu juga tindak kriminal." Ucap Tante Latifah.
"Kamu mau kemana?" Tanya Papi Ronald saat melihat istrinya melenggang pergi.
"Aku akan menemui gadis itu." Jawab Tante Latifah tanpa menoleh lagi.
****
Disebuah restoran mewah Tante Latifah mengajak Farah untuk bertemu. Ia bahkan memesan ruang private agar pembicaraannya dengan Farah tidak didengar pengunjung restoran.
Tante Latifah yang sudah sangat mengenal Farah tidak sulit baginya untuk menghubungi Farah dan memintanya datang untuk bertemu.
"Maaf Tante terlambat." Ucap Tante Latifah saat masuk ke restoran dan melihat Farah sudah duduk menunggunya.
"Tidak apa-apa Tante. Aku juga baru sampai." Farah tersenyum tipis menyambut kedatangan Tante Latifah.
"Terima kasih sudah mau datang." Ucap Tante Latifah basa basi.
Tante Latifah menatap lekat wajah gadis dihadapannya. Ia menghembuskan nafasnya denga kasar. Tante Latifah tidak mengerti dengan jalan takdir yang Tuhan atur untuk anak-anaknya. Farah yang sebelumnya adalah mantan tunangan dari keponakannya kini harus terikat hubungan rumit dengan putranya karena sebuah kesalahan fatal.
"Gio sudah menceritakan semuanya. Kalian...." Tante Latifah melihat raut wajah Farah yang berubah hingga tidak melanjutkan ucapannya.
"Maafkan anak Tante, ya!? Hal ini tidak sepantasnya terjadi di antara kalian berdua. Tapi nasi sudah menjadi bubur, tidak bisa lagi menghindar apalagi menolak takdir." Tante Latifah mendesah pelan.
"Maaf jika Tante lancang. Tapi hal ini harus Tante katakan padamu dan juga Gio." Tante Latifah memegang punggung tahan Farah.
"A_apa yang ingin Tante katakan?" Farah takut jika Tante Latifah tahu kejadian yang sebenarnya. Bahwa dirinya sebenarnya ingin menjebak Daniel namun ketahuan oleh Gio.
"Menikahlah dengan putraku." Ucap Tante Latifah tanpa ragu.
"A_apa?" Farah yang terkejut langsung menarik tangannya.
"Farah...kalian telah melakukannya. Bagaimana jika__kamu hamil?" Farah membulatkan matanya. Ia tidak menyangka jika Tante Latifah akan berpikir sangat jauh.
Farah menjadi gugup dan bingung. Ia juga membenarkan ucapan ibu dari sahabatnya. Tapi sungguh...ia sendiri tidak berpikir sampai ke sana.
"Ha__hamil?" Farah memegangi perutnya yang rata. Otaknya seketika langsung mengingat bagaimana malam itu mereka lewati dengan sangat panas hingga berkali-kali mereka terbang melayang diatas hasrat yang sulit dipadamkan.
"Tapi itu karena obat perangsang sialan itu!!" Maki Farah dalam hati.
"A__aku sama sekali tidak berpikir sampai kesana, Tante." Cicit Farah dengan tertunduk.
"Ya Tuhan...sudah aku menduga kalian akan berpikiran sama." Tante latifah memijit batang hidungnya. Kepalanya mendadak pusing.
"Farah....Meskipun kamu tidak hamil, tetap saja kalian harus menikah. Kami akan terseret dosa jika sebagai orangtua kami hanya duduk diam saja tanpa berbuat sesuatu." Ucap Tante Latifah dengan nada yang lembut.
"Pikirkanlah dengan hatimu. Tante akan menunggu jawabanmu." Farah hanya mengangguk dengan senyum yang dipaksakan.
"Jika aku menikah dan hamil anaknya...aku akan terjebak seumur hidupku dengan dia." Gerutu Farah dalam hati. Ia belum siap jika dalam waktu dekat harus memiliki komitmen apapun dengan pria yang merupakan kakak kelasnya jaman kuliah.
"Baiklah....Tante hanya ingin mengatakan itu. Jika kamu sudah memiliki jawaban, segera hubungi Tante ya." Farah lagi-lagi hanya bisa mengangguk dengan senyuman terbaik di bibirnya. Senyuman yang penuh misteri.
__ADS_1
****
Didalam kamarnya Rani tengah membereskan keperluan dirinya yang akan dibawa ke Rumah sakit. Rani harus menjalani operasi Caesar oleh dokter yang menanganinya. Karena posisi bayi yang sungsang tidak memungkinkan untuk Rani bisa melahirkan secara normal. Jadwal operasi yang sudah ditentukan dokter, membuat ia tidak bisa ikut bersama dengan ibu mertua dan adik iparnya ke pulau B untuk menghadiri acara yang diadakan Medina dan keluarganya. Ia harus segera membereskan semua perlengkapan karena jadwal persalinan yang maju dari prediksi.
"Biar aku saja." Danu mengambil pakaian yang dilipat istrinya.
"Terima kasih, sayang." Rani mencium pipi suaminya.
"Kamu sudah menelepon Mama dan papa kamu?" Tanya Danu.
"Iya, sudah. Mereka akan datang besok." Jawab Rani.
"Sayang...apa Medina akan melahirkan disana?" Tanya Rani sambil mengusap perutnya yang sudah besar.
"Aku tidak tahu, sayang." Jawab Danu.
"Dimana pun yang penting bayinya lahir selamat dan ibunya sehat." Lanjut Danu.
"Aku akan membawa ini ke mobil." Danu menurunkan koper milik istrinya dan keluar dari kamar mereka.
Rani merebahkan tubuhnya diatas ranjang, perut yang sudah membesar membuatnya semakin susah untuk bergerak bebas.
"Aku akan meneleponnya." Rani mengambil ponsel diatas meja lalu menghubungi Medina.
"Halo..."
"Kakak....."
"Aku sudah dengar dari mama jika kak Rani akan menjalani operasi Caesar. Kakak...maafkan aku tidak bisa menemanimu disana." Medina nyerocos dengan tangisnya membuat Rani terkekeh.
"Apa sebaiknya mama tidak ikut saja? Biar bisa menemani Syifa dirumah." Medina memberi ide.
"Tidak perlu. Keluargaku akan datang untuk menemani kami. Jangan mengkhawtairkan apapun." Ucap Rani.
"Kakak...." Medina semakin menangis.
"Kamu harus menjaga kandunganmu dengan baik. Dan semoga acaranya lancar." Lanjut Rani.
"Kakak juga, semoga kalian sehat dan segera kabari aku setelah baby nya lahir."
"Baiklah...sampai bertemu nanti. Dan hati-hati dengan serigala jantan yang akan datang menemuimu." Rani Menahan tawanya.
"Serigala jantan?"
"Serigala jantan sudah seminggu tidak makan, jadi kamu harus waspada." Tawa Rani meledak. Ia tidak tahan karena adik iparnya masih saja polos.
"Ish....kakak...." Medina pun meledakkan tawanya saat menyadari arah ucapan kakak ipar.
"Ya sudah...mama dan Daniel akan segera berangkat. Aku tutup dulu ya. Sampai bertemu nanti."
"Rasanya aku ingin membeli pintu Doraemon. Bisa ada dimana saja tanpa harus lelah menempuh perjalanan jauh." Ucap Medina berhalu. Ia ingin menemani gadis kecilnya dan juga kakak iparnya melewati proses persalinan.
"Hahahaha....aku akan pesankan dionline shop." Keduanya tertawa sebelum akhirnya menutup sambungan telepon.
Medina menatap wallpapers ponselnya. Foto dirinya dan suami yang setiap hari memenuhi hati dan pikirannya, juga yang senantiasa ia sebut dalam doa dan sujudnya.
Sambil mengusap perutnya yang terus bergerak, Medina menggumamkan nama sang ayah dari calon bayinya. "Aku sangat merindukanmu,"
_
_
_
_
_Pasti pada penasaran dengan apa yang terjadi antara Gio dan Farah kan? Insya Allah novel mereka akan dimulai bulan depan ya. Mudah-mudahan saya sehat dan ga ada drama males nulis. wkwkwkwk.
__ADS_1