
Acara resepsi pernikahan Daniel dan Medina telah usai. Tamu undangan sudah meninggalkan acara dan kerabat mama Safira telah kembali ke kamar masing-masing.
Daniel juga membawa istrinya kedalam kamar. Karena Medina terlihat sangat kelelahan.
"Mandi lalu beristirahat lah. Aku akan menemani yang lain sebentar. Tidak apa-apa bukan?" Daniel mencium kening Medina.
Sebelum Daniel mengantar Medina, Daniel menemui saudara dan sabahatnya. Dan berjanji akan kembali untuk berkumpul dengan mereka.
"Baiklah. Tapi jangan pergi minum" Medina mengaitkan kedua lengannya dileher Daniel.
"Aku tidak pernah minum lagi. Itu sudah sangat lama, Honey" Daniel mengecup bibir ranum istrinya.
"Baiklah...sebelum kakak pergi bantu aku membuka aksesoris ini" Ucap Medina sambil terkekeh.
Daniel membantu Medina membuka gaun dan semua aksesoris yang menempel diatas kepalanya hingga menyisakan dalaman leging dan kaos tanpa lengan.
"Mau aku bantu buka juga?" Goda Daniel dengan tangannya yang menyentuh kaos Medina.
"Bukannya kakak ditunggu dibawah?" Ucap Medina seakan menantang kalimat Daniel tadi.
"Hahahah...baiklah. Aku hanya sebentar...karena aku tidak bisa meninggalkan istriku ini sendirian" Daniel kembali mencium bibir Medina.
"Hubungi aku jika butuh sesuatu" Daniel mengecup dahi Medina sebelum keluar dari kamar mereka.
Medina mengangguk dan menatap punggung suaminya hingga menghilang dibalik pintu.
Medina mendesah pelan. Merasakan tubuhnya yang sangat lengket juga lelah.
"Kakiku pasti lecet" Medina menatap tungka kakinya yang memerah.
Medina berjalan ke lemari untuk mengambil pakaian ganti. Namun ia terkejut karena tidak menemukan kopernya. Ia hanya menemukan tas jinjing miliknya.
"Kenapa kopernya tidak ada?" Gumamnya.
Medina mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar. Namun tidak menemukan kopernya.
"Ahhh..mmungkin mereka lupa membawakannya kemari" Medina meraih ponselnya untuk menghubungi Daniel. Namun niatnya ia urungkan mengingat suaminya sedang menikmati waktu bersama kerabat dan sabahatnya.
"Aku juga tidak mungkin menghubungi kak Rani. Mereka semua pasti sangat kelelahan" Lirih Medina.
Akhirnya Medina masuk ke kamar mandi setelah mengambil kimono handuk.
Sementara itu di dalam cafe para pria muda sedang berkumpul dan bersenang-senang.
"Aku tidak menyangka, kamu bisa mencintai seorang wanita dengan sebegitu nya" Celetuk sabahat Daniel yang bernama Ferdi.
"Bahkan aku mencintai istriku lebih dari rasa cintaku pada wanita sebelumya." Daniel menambahkan kalimat yang diucapkan sahabatnya. Bahkan wajahnya terlihat sangat berbinar.
"Hei Rif...kau bahkan selama ini menutupinya dari kami" Kini giliran Gio berkomentar.
"Kalian jangan lupa...selain sahabat Daniel itu juga bosku. Aku bisa apa...jika bos sudah memberi titah pada anak buah" Sahut Arif disambut gelak tawa semua sahabatnya.
Sementara Daniel langsung menatap tajam Arif dan tersenyum menyeringai.
"Maaf bro...aku tidak bisa berlama-lama bersama kalian. Aku bukan lah pria jomblo lagi jika kalian lupa" Daniel bangkit dari duduknya dan hendak pergi.
"Kau tidak mau minum?" seseorang mencegah Daniel.
"Maaf...sudah lama aku tidak menyentuh itu. Nikmati acara kalian dan terimakasih banyak sudah datang ke acara kami" Daniel melangkahkan kakinya menuju lift yang akan mengantarnya ke tujuannya.
Daniel membuka pintu kamar dan mendapati Medina sedang duduk bersandar di sandaran ranjang yang penuh dengan bunga mawar merah. Ia sedang mengoles luka lecet dikakinya dengan lotion yang selalu ia bawa didalam tas jinjingnya.
Medina menoleh saat suara pintu kamar terbuka.
"Sayang...kamu sudah kembali?" Tanya Medina sambil menatap suaminya yang mendekati nya.
"Ya. Aku sudah bilang aku hanya sebentar" Daniel tersenyum tampan.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa belum tidur? Apa kamu menungguku??" Medina tertawa dengan semua pertanyaan Daniel.
"Ya....aku menunggu suamiku" Medina berdiri diatas ranjang yang empuk dan menjatuhkan dirinya dipelukan Daniel yang berdiri dihadapannya.
"Kenapa menungguku?"
"Aku ingin mengucapkan terimakasih atas kejutan tadi" Ucap Medina dengan pipi merona.
"Hanya ucapan terimakasih?" Medina langsung menunduk malu. Sebenarnya ia ingin mengatakan jika dirinya ingin membalas kejutan yang Daniel berikan, dengan memberikan kepuasan kepada suaminya. Namun ia sangat malu jika harus berkata jujur.
"Kenapa pakai baju handuk? Kamu sengaja menggodaku?" Daniel menarik bagian depan handuk kimono yang dikenakan Medina hingga bagian tubuhnya terlihat.
"Aku tidak menemukan koperku" Medina memainkan rambut Daniel.
__ADS_1
"Ahhh...aku lupa memberikan gaun tidur padamu. Tunggu sebentar" Daniel mengambil paperbag yang berada diatas sofa dan memberikannya kepada Medina.
"Apa ini?"
"Bukalah"
Medina membuka Paperbag dan mengeluarkan isinya.
"Lingerie?"
"Aku bahkan sangat kedinginan berada dikamar ini. Bagaimana aku memakainya?" Medina menelan ludahnya susah payah.
"Kamu suka?"
Medina mengangguk dan tersenyum tipis.
"Ganti pakaian mu dan aku juga harus mandi" Daniel meninggalkan Medina yang masih berdiri mematung ditempatnya.
Ia ingin menolak memakai baju seksi itu, tapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, akan menyenangkan hati suaminya.
Medina turun dari ranjang dan mengganti pakaiannya.
Lingerie warna merah sangat pas ditubuhnya dan kontras dengan warna kulit Medina yang putih dan mulus.
****
Pak Radiman, Salsa dan bude Tatik berteriak dengan senang saat Billa memberitahu jika Medina melarang mereka pulang ke Kota S besok.
Hal tersebut juga sudah Billa beritahu kepada Raihan saat mereka masih berada dibawah.
"Tapi Mas Raihan seperti nya tidak suka jika kita batal pulang besok. Jadi kalian jangan senang dulu, siapa tahu tiba-tiba mas Raihan mengajak kita pulang mendadak" Ucap Billa dengan tatapan tajamnya ke arah Salsa.
"Kamu itu ya....makin hari makin Ndak tahu diri ya, Bil. Semakin berani kamu" Ucap Salsa sengit.
"Billa cuma menyampaikan apa yang Billa dengar dan lihat. Kalo mbak Salsa bilang Billa bicara mengada-ada....terserah!!" Sahut Billa tidak kalah sengit.
"Sudah...sudah!! Kenapa kalian jadi berdebat?" Potong Bude Tatik saat Salsa akan kembali mengomel.
Keduanya akhirnya memilih diam dan merekapun akhirnya tertidur karena malam sudah sangt larut.
****
Daniel telah selesai mandi. Ia kelur dari kamar mandi hanya melilitkan handuknya.
"Honey....." Panggil Daniel.
Ia berjalan mendekati ranjang untuk menemui istrinya. Namun tidak ada.
"Jangan berbalik" Tiba-tiba tangan Medina memeluk dari belakang tubuh Daniel yang terbuka.
"Kenapa aku tidak boleh berbalik? Dan...kenapa lampunya dimatikan?" Tanya Daniel sengaja. Ia tersenyum karena ia tahu jika saat ini istrinya sudah memakai gaun tidur minimalis itu.
"Hhhmmm...itu...." Medina terbata.
Perlahan Daniel memutar tubuhnya hingga bisa berhadapan dengan Medina. Daniel tersenyum puas melihat istrinya yang menggoda dengan balutan gaun tidur seksi.
"Kenapa harus mematikan lampu?" Daniel menarik pinggang Medina hingga tubuh mereka saling menempel.
"A_aku malu" lirih Medina dengan semburat rona merah dipipinya.
Daniel tertawa gemas mendengar kalimat istrinya.
"Memang sebaiknya tidak perlu memakai gaun tidur itu. Karena kita tidak membutuhkannya" Daniel membenamkan bibirnya pada bibir Medina. Dan Medina menyambutnya.
Keduanya larut dalam panasnya ciuman. Hingga berakhir dengan gulat yang saling memberi kenikmatan dan kepuasan satu sama lain.
****
Pagi hari seluruh keluarga yang menginap di hotel itu sudah berkumpul untuk sarapan. Namun tidak untuk pasangan pengantin.
"Mereka belum turun?" Tanya mama Safira kepada Danu.
"Biarkan saja mama" Sahut Danu dengan tawa kecilnya.
"Mama khawatir mereka melewatkan sarapan" Ucap Mama Safira.
Sementara itu didalam kamar, Daniel mengerjakan matanya. Sinar matahari yang masuk melalui celah gorden membuat ruang itu terang menyilaukan.
Daniel melirik wanita yang berada dipelukannya. Daniel mencium kening istrinya dengan mesra.
Ia tersenyum bahagia mengingat kegiatan mereka semalam dan dilanjutkan tadi pagi setelah sholat subuh. Bahkan tubuh mereka hanya berbalut selimut tebal.
__ADS_1
Daniel mulai menggerakkan badannya dengan perlahan. karena tidka ingin membangun kan istrinya yang sepertinya sangat kelelahan.
Daniel kembali mencium dahi Medina sebelum berlalu menuju bathroom.
Setelah beberapa menit Daniel selesai dengan ritualnya dan melihat istrinya masih meringkuk dibawah selimut.
Daniel meraih ponsel diatas nakas dan menghubungi seseorang.
"Rai....tolong ambilkan koperku dikamar 405 dan bawa segera kemari" Titah Daniel pada Raihan.
"........."
"Terimakasih" Daniel menutup ponselnya.
Ia mendekati istrinya dan duduk disisi ranjang.
"Tidurmu saja sangat menggemaskan" Daniel mengecupi bahu Medina yang tidak tertutup selimut.
Membuat Medina menggeliat karena merasakan geli pada tubuhnya.
"Eeemmmhhhh" Medina melenguh karena tidurnya yang nyanyak merasa terganggu.
Bukannya terbangun, Medina justru merubah posisi tidurnya menjadi telentang hingga menampakkan kedua bukit kembarnya.
Daniel terkekeh dan semakin ingin menggoda istrinya.
Daniel kembali menunduk. Kini area yang dituju bibirnya adalah kedua bukit kembar Medina yang sangat disukai.
"Aaahhhhh....." Desahan Medina lolos begitu saja dari bibirnya. Padahal matanya masih tertutup rapat.
Daniel semakin menyesap kedua ujung bukit kembar favoritnya dengan lebih rakus. Ia tidak bisa menolak gairah yang selalu datang ketika berada disisi istrinya.
Medina mulai merasakan tubuhnya yang mengalami perubahan. Kemudian perlahan ia membuka matanya.
"Sayang...." Suara Medina ibarat minyak yang memercik api.
Daniel mendongak dan menatap istrinya dengan tatapan gairah.
"Sayang...jam berapa sekarang?" Tanya Medina masih setengh sadar.
"Hampir jam 9" Jawab Daniel tenang.
"Apa???" Medina yang terkejut langsung mendudukkan tubuhnya.
"Kenapa tidak membangunkan aku?" Medina merapikan rambutnya dan menggulung asal. Membuat leher jenjangnya semakin terekspos dengan indah.
"Jangan menggodaku terus" Bibir Daniel mendekat dan mengecup leher Medina yang sudah banyak terdapat kissmark dimana-mana.
"Aku sangat lapar, kak" Rengek Medina dengan manja.
"Apa koper kita belum diantar?" Medina mengalihkan perhatian Daniel.
"Raihan akan mengantarnya kemari" Jawab Daniel masih dengan tatapan penuh gairah dan Medina menyadari itu.
Daniel terus menyusuri leher dan pundak Medina dengan bibirnya. Ia tidak akan merasa bosan.
"Aku mau mandi" Medina mencoba menahan gairah dalam dirinya akibat sentuhan Daniel.
"Semua orang pasti menunggu kita" Medina terus berusaha agar bisa lepas dari kungkungan suaminya.
"Mereka paham dengan situasi kita, Honey. Jadi tidak perlu khawatir" Sanggah Daniel.
"Gendong aku ke kamar mandi" Medina mengalungkan kedua tangannya dileher Daniel.
Medina pun akhirnya menyerah setelah usahanya mengalihkan perhatian Daniel selalu gagal. Ia tahu hal yang tidak bisa ditolaknya ketika bersama dengan suami mesumnya adalah pergulatan panasnya.
"Baiklah...kita mandi bersama" Daniel membawa Medina dalam gendongannya menuju kamar mandi.
_
_
_TBC
_
_
_
Terima kasih yang sudah mampir. Tinggalkan jejak kebaikan kalian ya...Like ,vote dan koment.
__ADS_1
Thank you all 🤗💞🌷