Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 130


__ADS_3

Medina menatap rumah megah dan mewah yang telah ditinggalkannya.


Setelah hampir dua Minggu berada divilla, kini dirinya kembali kerumah.


"Aku merindukan kamarku." Medina berjalan masuk kedalam rumah dan disambut oleh pegawai drumahnya.


"Selamat datang, Nona."


"Apa kabar bi? Ah...aku merindukan kalian semua." Medina memeluk para pegawainya tanpa risih.


"Aku merindukan kamarku. Aku masuk dulu, ya." Medina menarik tangan suaminya dengan manja.


"Kamu merindukan kamar kita atau adegan yang selalu kita buat didalam kamar?" Goda Daniel dan berhasil membuat pipi Medina Semerah tomat. Ia merasa malu dengan pertanyaan suaminya.


Daniel tergelak melihat reaksi Medina. Ia menarik tubuh mungil itu kedalam dekapannya.


"Aku merindukanmu." bisik Daniel membuat Medina mendongak menatap suaminya dengan perasaan bersalah. Selama di villa, suaminya tidak menuntut lebih dari sekedar ciuman.


"Maaf." Medina membenamkan wajahnya pada dada bidang suaminya.


"Apa malam ini kita bisa melakukannya?" Daniel menatap lekat wajah istrinya.


Medina tersenyum lalu mengangguk pelan. Ia tidak ingin suaminya kecewa padanya. Daniel sudah melakukan banyak hal untuknya.


"Aku akan melayani suami ku dengan baik." Bisik Medina ditelinga Daniel membuat Daniel kembali tergelak.


"Aku akan menagih janjimu, Honey." Daniel mencium bibir Medina cukup lama dan intens.


Hingga sebuah ketukan pintu harus menyudahi permainan bibir mereka berdua.


"Nona...makan siang sudah siap." Ucap bibi saat Medina menyembulkan kepalanya.


"Kami akan segera keluar." sahut Medina dengan senyuman cantiknya. Ia kembali menutup pintu dan berjalan menuju lemari dan mengambil baju santai untuk dirinya dan suaminya.


"Sayang...ganti bajumu. Kita akan sholat lalu makan siang." Medina memberikan pakaian ganti ke atas tangan Daniel.


"Ayo bersihkan diri bersama-sama." Daniel menggendong Medina didepan membuat tubuh yang melayang itu menjerit karena terkejut.


Medina memukul bahu Daniel lalu melingkar kan tangannya dengan kuat. Canda dan tawa menghiasi bibir keduanya hingga selesai mengganti pakaian. Keduanya lalu sholat berjamaah dan makan siang dengan wajah bahagia.


****


"Tante....tolong katakan pada om untuk menarik tuntutan nya." Farah sedang memohon kepada ibu Melani untuk Mama nya yang berada dalam penjara karena tuntutan hukum yang menjeratnya.


"Tante tidak bisa, Farah. Maafkan Tante." Ibu Melani merasa bersalah.


Farah menarik nafasnya panjang. Ia masih tidak mengerti mengapa Pak Sanjaya yang notabene adalah kakak dari mamanya, sampai tega menuntutnya.


Bahkan sang papa tidak dapat berbuat apa-apa karena Pak Sanjaya mengancam akan mengambil asetnya yang berada di perusahaan papa Farah.


"Sial!" Maki Farah dalam hati. Ia sungguh emosi tidak dapat berbuat apa-apa untuk mamanya.


Tapi bukan Farah namanya jika ia hanya berpangku tangan dan membiarkan mamanya mendekam dalam penjara. "Aku akan lakukan apapun agar mama bisa bebas." tekadnya kuat.


Farah yang tidak berhasil membujuk tantenya hanya bisa menghela nafasnya dengan berat. Padahal ia sudah jauh-jauh datang ke pulau B untuk bertemu pamannya itu. Namun sang paman justru menolak untuk bertemu karena tahu maksud tujuan Farah menemuinya.


Farah keluar dari rumah utama dan mengendarai mobil nya. Ingin rasanya ia menemui mamanya dipenjara, namun saat ini pikiran nya sedang buntu. Ia bahkan tidak dapat berpikir jernih.


"Maafkan Farah, Ma. Tapi Farah akan berusaha terus apapun caranya agar mama keluar dari sana." Lirih Farah dengan tatapannya tetap fokus pada jalanan.


"Mungkin Daniel bisa membantu." Farah menghentikan laju mobilnya. Tangannya segera meraih tas dan mengeluarkan ponselnya dari sana.


"Halo." Sapa Daniel dari seberang. Suaranya terdengar malas.


"Halo."


"Daniel...aku butuh bantuanmu." Farah langsung to the point. Ia tidak mungkin bisa basi lagi.

__ADS_1


"Hemmm?" Daniel masih belum mencerna kata-kata mantan pacarnya.


"Bisakah kita bertemu nanti malam?" Tanya Farah sedikit ragu.


"Aku...." Daniel terdengar sedang berpikir.


"Aku mohon. Aku benar-benar butuh bantuanmu." Suara Farah terdengar tercekat.


"Aku akan bicara dengan istriku. Akan kukabari lagi nanti." Daniel menutup ponselnya setelah mengatakan itu.


"Dasar!! Mengapa harus meminta ijin wanita kampungan itu?" Farah menggeram kesal. Ia melempar ponselnya ke kursi disampingnya.


Ia kembali menjalankan mobilnya menuju bandara. Meski ia belum mendapat persetujuan dari Daniel, namun ia yakin, Daniel akan menemui nya. Oleh karenanya ia akan terbang ke ibu kota.


"Siapa, sayang?" Medina berjalan mendekati Daniel yang sedang berdiri di atas balkon kamarnya.


"Farah." Jawab Daniel singkat. Maniknya menatap dalam ke arah Medina.


"Kalian ada janji?" Medina mengalihkan pandangannya.


"Dia mengajakku bertemu. Apa istri cantikku mengijinkan suaminya bertemu wanita asing diluar?" Daniel tahu istrinya sedang cemburu. Oleh karenanya ia merayu nya.


"Aku sudah pernah bilang. Kalian butuh waktu berdua untuk bicara. Jadi pergilah." Medina mencoba tersenyum meski hatinya bergemuruh.


"Kamu yakin?"


"Ya." Medina menunduk dalam. Ada rasa bersalah dalam dirinya kepada wanita bernama Farah. Ia seolah telah merebut hati pria dihadapannya.


Daniel mengangkat dagu istrinya. "Aku tidak akan pergi jika kamu tidak ingin aku pergi."


"Bukan seperti itu. Aku hanya merasa sudah mengambil kebahagiaan wanita lain."


"Hei...apa yang kamu katakan, Hon?" Daniel menarik tubuh Medina ke dalam pelukannya.


"Dia bilang butuh bantuanku." Daniel mengusap kepala istrinya dengan sayang.


"Aku tidak tahu dia sedang dalam masalah atau kesulitan apa. Aku akan tahu setelah bertemu dengannya. Kamu mengijinkan aku menemuinya?" Tanya Daniel bohong. Padahal ia sudah tahu jika mama Farah yang merupakan adik Pak Sanjaya telah dijebloskan ke dalam penjara bersama Paman mereka di pulau B.


"Pergilah. Bantu dia." Ucap Medina dalam pelukan suaminya.


"Bagaimana aku membantu orang yang sudah berniat jahat padamu? Aku pasti akan dipecat jadi menantu Ayah Sanjaya." Daniel bermonolog sendiri.


"Honey...." Daniel terlihat berpikir untuk menyampaikan sesuatu pada Medina.


"Ya..." Medina menatap wajah suaminya.


"Ada apa?" Medina seolah tahu jika suaminya ingin mengatakan sesuatu.


"Honey....sebenarnya Farah___"


"Aku tahu." Potong Medina.


"Kau tahu?" Tanya Daniel penasaran.


"Aku tahu kalian perlu bicara berdua saja." Jawab Medina.


"Hah?" Daniel menatap istrinya.


"Honey....ada yang harus aku katakan." Daniel merasa tidak perlu lagi menutupi kebenaran yang lainnya.


Daniel mengambil nafas panjang. Kedua tangannya menangkup pipi istrinya. "Farah adalah sepupu kamu." Ucap Daniel tanpa jeda.


"Apa?" Medina menutup mulutnya terkejut.


"A_apa maksud kamu, kak?" Airmata Medina mulai menggenang di pelupuk matanya.


"Mama Farah adalah adik kandung Ayah Sanjaya yang saat ini berada dipenjara." Jelas Daniel membuat Medina semakin terkejut.

__ADS_1


Medina menepi tangan Daniel yang berada di pipinya. Ia terduduk disisi ranjang dan seketika tubuhnya bergetar karena menangis.


"Mereka menyewa orang untuk mencelakakan dirimu. Namun usaha itu tidak berhasil karena Ayah Sanjaya sudah mengendus rencana mereka lebih dulu. Dan memintaku untuk menyembunyikan mu sementara waktu." Lanjut Daniel panjang lebar.


"Apa kesalahan ku? Aku bahkan belum tahu mereka adalah keluargaku?" Medina memeluk perutnya.


"Mereka menginginkan harta kekayaan Ayah Sanjaya dan tidak merelakan sebagian harta itu jatuh ke tanganmu."


"Apa?"


"Ayah Sanjaya sudah melimpahkan setengah dari harta kekayaannya atas namamu, Honey."


"Apa?" Medina menatap Daniel tidak percaya.


"Ayah Sanjaya dan Ibu Melani sangat menyayangi kamu, Hon. Mereka tidak ingin sesuatu terjadi padamu." Ucap Daniel penuh kasih.


Medina semakin terisak. Ia tidak menyangka jika Ayah Sanjaya dan Ibu Melani sudah jauh memikirkan dirinya.


"Kakak tahu semuanya, kenapa tidak memberitahuku? Kamu jahat!" Medina memukul bahu Daniel yang duduk dihadapan Medina.


"Maafkan aku, Honey." Daniel menarik tubuh Medina kedalam dekapannya. Mengelus punggung istrinya dengan sayang. Mengalirkan rasa cinta dan ketenangan.


"Kondisi kamu yang sedang rentan membuat kami menyembunyikan semuanya." Ucap Daniel.


"Kami?" Medina mengernyit heran.


"Mama, kak Danu dan Kak Rani." Jawab Daniel santai.


"Huaaa...kalian jahat sekali." Tangis Medina semakin menjadi-jadi.


"Kamu sangat berharga bagi kami. Aku hanya memilih waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya." Daniel mengusap airmata dipipi Medina.


"Aku mohon jangan menangis lagi." Daniel mencium kedua punggung tangan Medina.


"Aku mencintaimu. Kami semua mencintaimu." Daniel kembali mencium punggung tangan Medina.


"Terimakasih." Lirih Medina.


"Maaf karena aku terus menyusahkan kalian semua." Medina menunduk dalam.


"Sssttt. Tidak ada seperti itu." Daniel mengunci bibir istrinya dengan telunjuknya lalu memeluk Medina dengan erat.


****


Tepat pukul tujuh malam, Farah telah berada di sebuah restoran mewah. Ia memesan meja untuk bertemu dengan Daniel. Ia mengambil ponselnya lalu mengirim pesan kepada Daniel jika dirinya sudah sampai.


Daniel mengambil ponsel nya yang berkedip. Sebuah pesan masuk terbuka otomatis ketika ia membuka kunci layar ponselnya.


"Aku akan datang setelah makan malam bersama istriku." Begitulah Daniel membalas pesan Farah. Tidak ingin membuat wanita itu menunggu dan berharap lebih padanya.


Daniel kembali meletakkan ponselnya diatas meja. Dan beranjak keluar kamar menemui istrinya yang lebih dulu berada di meja makan.


Keduanya makan malam bersama tanpa ada suara hingga selesai. Medina menatap punggung Daniel yang berjalan keluar pintu hingga masuk ke dalam mobil.


Setelah makan malam, Medina telah menguatkan hatinya. Bagaimanapun takdir ini tidak bisa ditawar apalagi ditolak. Ia harus bisa menerima kenyataan dan berdamai dengan keadaan. Agar hatinya ikhlas dan tidak menimbulkan kebencian yang berkepanjangan.


Medina melambaikan tangan saat Daniel menoleh ke arahnya. Sebuah senyuman mengantarkan kepergian suaminya. Rasa percayanya tumbuh berlipat-lipat. Juga rasa cintanya pada pria yang mencintainya tanpa syarat.


_


_


_


_


_

__ADS_1


*TBC*


__ADS_2