Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 161


__ADS_3

Acara pesta resepsi pernikahan Fian dan Donita digelar dengan mewah. Semua tamu undangan telah memenuhi ballroom hotel yang mampu menampung sekitar 2000 orang itu.


Kedua pengantin tampak sangat bahagia duduk diatas pelaminan. Apalagi setelah percintaan panas mereka yang berakhir dengan senyum sumringah yang saat ini mereka tampilkan kepada keluarga dan tamu undangan.


Padahal Donita sempat merasa tubuhnya sulit bergerak apalagi berjalan setelah percintaan mereka yang berlangsung berjam-jam sebelum akhirnya mereka bisa duduk dengan wajah bahagia. Bahkan keduanya telah mypakan pertengkaran mereka yang hampir membuat keduanya merenggang jarak.


Pasangan pengantin itu bahkan tidak malu untuk saling menatap penuh damba seolah mengungkapkan bahwa keduanya masih menginginkan penyatuan yang membawa mereka melayang dalam kenikmatan.


"Malam ini aku akan membuatmu benar-benar tidak bisa berjalan." Bisik Fian dengan suara menggoda membuat sang wanita tersenyum merona.


Sementara itu kedua orangtua kedua mempelai duduk di meja VVIP yang berada di sisi kanan pelaminan untuk memudahkan mereka menyambut tamu undangan. Mereka tidak berada di pelaminan mengapit kedua mempelai.


Suasana semakin meriah karena artis ibukota sengaja diundang untuk memeriahkan acara.


Keluarga Daniel pun datang dan duduk satu meja dengan Medina. Dua hari tidak bertemu dengan mama mertuanya, membuat Medina terus menempeli Mama Safira karena kerinduannya. Begitu juga dengan Syifa yang ikut menempel dengan Medina. Sementara Kak Rani tidak ikut karena baby Syakir masih berusia satu bulan lebih dan belum diperbolehkan oleh kak Danu untuk datang ke acara-acara besar seperti ini.


"Baby di perut mama kapan keluar?" Tanya gadis kecil itu penasaran. Karena ia tidak sabaran untuk menanti kelahiran adik kecil dari mama Danielnya.


"Sebentar lagi, Sayang. Doakan mama dan adik bayi sehat ya." Medina mencium pipi Syifa dengan gemas.


"Ifa sudah ingin gendong baby El." Ucap Syifa yang memang sudah diberitahu jenis kelamin dan calon nama anak Daniel dan Medina.


"Tentu saja...kamu akan menggendong adik Syakir dan baby El bergantian. Kamu akan menjadi kakak yang paling baik untuk adik-adikmu nanti." Gumam Daniel dan berbalas anggukan dari Syifa.


Acarapun berlangsung dengan meriah hingga usai. Semua tamu sudah meninggalkan tempat dan tersisa keluarga Medina dan besannya. Sementara mama Safira dan Danu telah berpamitan lebih dulu bersama tamu-tamu lainnya.


"Apa kamu lelah?" Tanya Daniel khawatir.


"Sedikit." Jawab Medina tersenyum.


"Ayo kembali ke kamar." Daniel beranjak dari kursinya dan membantu Medina bangun.


Dan saat keduanya hendak pergi dari sana, terdengar keributan kecil didepan pintu masuk Ballroom. Beberapa orang berpakaian berseragam hitam dengan tubuh tegap sedang menghalau sekitar empat orang masuk kedalam ruangan. Mereka tampak meringsek petugas dengan kondisi marah hingga menari perhatian orang disana.


Medina dan Daniel pun menoleh ke arah pintu, begitu juga orang-orang yang masih berada didalam ballrroom. "Kenapa ramai sekali?" Pak Sanjaya melangkahkan kakinya menuju pintu. Namun belum sampai dirinya disana, beberapa orang masuk menerobos penjagaan dan membuat orang-orang disana terkejut kecuali pak Sanjaya.


"Sudah ku duga kalian akan kesini." Pak Sanjaya tidak terkejut dengan kedatangan keluarganya.


"Kamu sudah merencanakan semua ini? Hah?"


"Aku sangat tahu watak orang-orang yang mengaku bagian dari keluarga Sanjaya. Tapi sikap dan perangainya sama sekali tidak sedikitpun mencerminkan sikap pria paruh baya yang seharusnya berjiwa bijak." Sindir pak Sanjaya.


"Aku datang bukan untuk mendengar ocehanmu, San." Teriak sang paman dengan wajah memerah.


"Kami tidak akan pernah terima perempuan itu menjadi pewaris kamu! Tidak akan pernah!!....Kami lebih berhak!!" Teriak paman Pak Sanjaya menggelegar. Tangannya menunjuk lurus pada sosok Medina yang berdiri dibelakang Pak Sanjaya.

__ADS_1


"Aku menyesal telah mengeluarkan kalian dari penjara." Gumam Pak Sanjaya dengan tatapan penuh amarah. Ia tidak menyangka keluarganya masih menyimpan dendam untuk Medina. Padahal bebasnya mereka, adalah karena atas kebaikan hati dan permintaan Medina.


"Ayah...Eyang...sebaiknya kita duduk dan membahas ini dengan cara kekeluargaan." Fian mencoba menengahi.


"Siapa dirimu berbicara seperti itu?" Elak sang kakek dengan sengit.


"Dia putraku, Om!" Sahut Pak Sanjaya tak kalah sengit.


"Hah? Putramu? Ya...ya...aku lupa jika dia putra mu. Anak yang dibesarkan namun tidak ada ikatan darah apapun dengan kita." Fian mencoba menulikan pendengarannya. Hatinya selalu berdenyut sakit jika diungkit asal usul dirinya.


"Cukup, Om!" Teriak pak Sanjaya.


"Aku pikir dinginnya dinding dan lantai penjara akan membuat om sadar. Aku pikir maaf kami sudah lebih dari cukup untuk om menyadari kesalahan yang sudah om lakukan.


"Dan saat ini...meneriaki anak-anakku terlebih kepada putriku yang sudah mengeluarkan kalian dari dalam jeruji besi yang dingin itu!!" Nafas pak Sanjaya tampak memburu menahan emosi.


Melihat Ayahnya terlihat tidak berdaya, Medina melangkahkan kakinya menghampiri sang ayah. "Ayah....Medina mohon jangan seperti ini. Kita masih bisa berbicara dengan kepala dingin. Aku takut penyakit ayah akan kambuh." Bisik Medina tanpa bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.


"Medina benar, Yah." Timpal Ibu Melani yang juga mer?ngsek mendekat suaminya.


Pak Sanjaya mengambil nafas dalam dan mengembuskan ya dengan perlahan.


"Kakek...bisakah kita duduk dan membicarakan ini dengan kekeluargaan?" Medina menatap pria tua yang masih terlihat gagah dan sedikit garang itu.


"Baiklah...jika bukan keluarga, berarti anda tamu disini. Jadi bersikaplah sebagaimana seseorang yang bertamu." Semua orang terkejut dengan apa yang barusan dikatakan Medina.


"Honey..."


"Sayang..."


Daniel dan Ibu Melani memanggil Medina bersamaan. Terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihat dan didengar oleh telinga mereka. Hampir semua orang disana melongo karena untuk pertama kalinya Medina bersikap kurang sopan kepada orang yang lebih tua.


"Jika anda ingin diterima dengan baik, maka bersikaplah sesuai usia anda." Raut wajah Medina yang biasa tersenyum kini terlihat tegas. Ia sudah muak dengan perilaku keluarga sang Ayah yang selalu memberikan teror bahkan saat Medina masih didalam kandungan ibunya.


"Kau pikir siapa dirimu? hah?" Sang kakek masih belum terima dengan sikap Medina.


Dua orang yang berada di belakang Om Bastian terlihat meringsek maju kedepan hingga posisinya sejajar dengan tempat berdirinya pria berusia tujuh puluh tiga tahun itu.


"Kami mengajukan tuntutan klien kami atas pembagian harta keluarga Sanjaya." Ucap salah satu dari mereka yang memang merupakan seoarang pengacara.


"Sudah ada tiga persen bagian beliau." Tegas Medina yang langsung menjawab.


"Tapi klien kami keberatan." Sahut pengacara satunya lagi.


"Bagaimana anda bisa mengutarakan keberatan? Jika selama menjadi bagian dari pewaris kerajaan bisnis Sanjaya, anda tidak pernah sekalipun duduk diperusahaan? bahkan untuk duduk dikursi tamu pun klien anda tidak pernah lakukan? Apalagi untuk memegang pena dan membaca berkas-berkas?" Om Bastian membelalakkan matanya. terkejut dengan sindiran Medina yang tersenyum mengejek.

__ADS_1


Medina sedikit banyak sudah tahu mengenai om dari Ayahnya. Semua cerita itu ia dapatkan dari sang ibu.


"Bahkan anda menghabiskan banyak uang perusahaan tanpa ada kontribusi membangun perusahan." lanjut Medina sengit.


"Semuanya dilakukan Ayahku hingga perusahaan itu seperti saat ini." Medina mendekati kedua orang pengacara.


"Aku bisa membuka kembali kasus percobaan pembunuhan yang melibatkan klien anda. Pak Pengacara." Manik Medina memanas mengingat rencana keluarga ayahnya yang ingin melenyapkannya beberapa waktu lalu.


Daniel mendekati Medina dan merangkulnya. Ia tahu jika istrinya hanya sedang berusaha kuat dihadapan kedua orangtuanya dan orang-orang disana. Terlebih dihadapan Om Bastian yang masih dengan sikap serakahnya.


"Honey..." Bisik Daniel menyadarkan Medina.


"Silahkan bawa pergi klien anda, sebelum kami mengambil tindakan tegas." Ucap Daniel seolah ingin menyudahi perdebatan istrinya.


Om Bastian menatap Medina dan pak Sanjaya bergantian. Pancaran rasa bencinya seolah semakin bertambah mengingat hari ini ia gagal dengan aksinya.


"Aku akan terus menuntut hakku hingga kalian menyesal telah berurusan denganku." Ancam om Bastian sebelum meninggalkan gedung diikiuti kedua pengacaranya.


Medina hampir ambruk setelah kepergian orang-orang jahat itu. "Honey..." Dengan cepat Daniel mengangkat tubuh istrinya lalu mendekapnya. Memberikan ketenangan dan kenyamanan.


"Sayang..." Ibu Melani dan pak Sanjaya panik.


"Fian ambilkan kursi roda." Teriak pak Sanjaya melihat kondisi putrinya yang terlihat pucat.


"Seharusnya kamu tidak perlu meladeni mereka." Omel ibu Melani sambil mengelap peluh dikening Medina.


"Kamu itu sedang mengandung dan..."


"Ibu...aku tidak apa-apa." Potong Medina dengan cepat menjawab sang ibu dengan menampilkan senyum diwajahnya.


Fian datang dengan kursi roda yang memang sejak awal disiapkan untuk Medina. Namun Medina tidak ingin memakainya saat pesta tadi. Dan kini kursi roda itu benar-benar terpakai olehnya.


"Aku akan melakukan tindakan tegas kepada mereka. Aku tidak akan mendengarkan kalian untuk mengampuni mereka." Ucap Pak Sanjaya dengan wajah sangarnya.


"Ayah..."


"Sayang...cukup! Sejak awal seharusnya priabtua itu dihukum sesuai perbuatannya." Elak Pak Sanjaya saat Medina hendak mengutarakan pendapatnya.


"Aku akan menghubungi pengacara kita. Dan Daniel...bawa putriku ke kamar kalian. Sudah waktunya kita semua istirahat." Pak Sanjaya meninggalkan semua orang.


"Ibu..." Medina menatap punggung ayahnya yang menjauh dengan mata berair.


"Ibu akan bicara pelan-pelan dengan ayahmu. Kamu istirahatlah." Ibu Melani mencium kening Medina lalu menyusul suaminya yang sudah menghilang dari balik pintu ruangan ballroom.


Semua orang akhirnya membubarkan diri dan kembali ke kamar masing-masing. Mengistirahatkan tubuh dan pikiran yang lelah setelah acara resepsi dan kejadian tidak terduga malam ini. Meski untuk beberapa dari mereka pasti akan sulit meski hanya sekedar memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2